Apa yg Khadijah harapkan tak sesuai dengan kenyataan yg harus dia terima, dua bulan telah berlalu sejak pertemuannya dengan Asma. Dan selama 2 bulan ini juga, Bilal masih sama, selalu menyendiri di Musholla, berdoa dan terus berdoa. Bahkan ia mengadu pada Allah dalam doa nya, semakin hari ingatan nya pada gadis itu semakin melekat. Bahkan Bilal bertanya tanya, apakah ada yg salah dalam caranya berdoa sehingga tak juga Allah mengabulkan doa nya?
Hal itu, membuat Khadijah merasa semakin terbakar api cemburu, bahkan membuat nya tak jarang menangis, namun ia tak bisa berbuat apapun.
"Sudahlah, Khadijah. Berhenti menangis dan cobalah berbicara dengan Bilal" sahabat nya itu memberi saran karena tidak tega dengan Khadijah.
"Bicara bagaimana, Mil? Haruskah aku marah karena Mas Bilal mencintai Asma? Sedangkan selama ini Mas Bilal selalu memperlakukan ku dengan sangat baik, bahkan sampai saat ini, tak sedikitpun perilakunya atau pun kata kata nya menyakiti ku. jika aku marah, apa hak ku? Mas Bilal sendiri ingin melupakan Asma dan menghapus rasa cinta nya. Tapi seperti nya Allah berkehendak lain"
"Allah berkehendak lain...." Mila mengucapkan kata itu berkali kali sambil menyadari sesuatu. "Benar sekali Khadijah, Allah berkehendak lain, mungkin inilah jawaban dari doa doa mu selama ini "
"Apa maksud mu, Mil?" Khadijah menghapus air nya dengan ujung hijab nya.
"Bukankah kamu selalu berdoa agar Bilal selalu mendapatkan kebahagian, mendapatkan pendamping hidup yg sempurna dan bisa membahagiakan Bilal? Bahkan kamu sudah sangat siap di poligami dan berbagi suami dengan wanita lain"
Khadijah terdiam dan berusaha mencerna kata kata Mila.
"Kamu bahkan berusaha menjodohkan Bilal dengan teman mu, padahal Bilal sama sekali tak mengenal dan tak menginginkan mereka. Walaupun begitu kamu tetap membujuk Bilal untuk menemui mereka, dan kamu engga cemburu saat itu. Lalu kenapa kamu harus cemburu pada gadis itu? Padahal Bilal engga pernah berbicara dengan gadis itu apa lagi menemuinya."
Khadijah masih terdiam, memang benar apa yg dikatakan Mila. Ia baru menyadari itu, bagaimana bisa, dia rela wanita lain menjadi istri Bilal tapi tak rela saat Bilal jatuh cinta pada seorang gadis?.
Mungkinkah selama ini dia tidak benar benar siap untuk berbagi suami?
Mungkinkah tindakan nya menjodohkan Bilal dengan teman nya hanya sekedar ambisinya untuk membuat Bilal bahagia sebelum ajal menjemput nya?
Sementara ia tak pernah tahu, apakah istri yg dia pilihkan untuk Bilal nanti bisa membahagiakan nya?
Memikirkan semua itu, membuat kepala Khadijah berdenyut, ia memijit pelipisnya dengan kuat.
"Khadijah, jangan terlalu stress, nanti kamu drop lagi" Mila memberikan segelas air pada Khadijah "Minumlah
supaya kamu tenang " Khadijah mengambil gelas itu dan meneguk air nya.
"Serahkan semuanya pada Allah Khadijah, kamu mungkin merencanakan sesuatu untuk Bilal, tapi sungguh Allah lah sebaik baik perencana"
"Apa yg harus ku lakukan sekarang, Mil? Aku engga tega liat Mas Bilal seperti itu, bahkan semalam aku melihat dia meneteskan air mata saat berdoa dan memohon pada Allah agar ia bisa menghapus Asma dari hati nya"
"Bilal begitu tersiksa, ini aneh Khadijah. Kenapa Bilal begitu tersiksa hanya karena mencintai gadis itu? Kenapa Bilal berusaha melupakan nya?"
"Aku juga engga tahu,Mil. Jika itu terjadi pada pria lain, aku yakin pria itu akan mengejar Asma dan berusaha mendapatkan nya, bukan melupakannya seperti yg Mas Bilal lakukan. Padahal, dia bisa mengambil kesempatan dari keinginan ku agar dia menikah lagi. Mas Bilal bisa menjadikan itu alasan untuk mendapatkan Asma dan menikahinya. Tapi nayata nya, dia engga melakukan itu"
"Cobalah berbicara dengannya Khadijah, mungkin itu bisa menghapus rasa penasaran mu dan juga meringankan perasaan Bilal "
"Kamu benar, Mil"
.
.
.
Khadijah terus terngiang ngiang saran dari Mila. mungkin ini memang saat nya dia bertanya pada Bilal. Khadijah menunggu Bilal yg sedang mandi, tak lama kemudian, suami nya itu keluar dari kamar mandi dengan rambut yg masih basah, membuat nya tampak semakin tampan, bahkan setelah 9 tahun pernikahan mereka, Khadijah selalu terpana melihat ketampanan Bilal.
"Kenapa liatin begitu?" Bilal mengibaskan rambut nya yg basah di depan wajah Khadijah membuat Khadijah memalingkan wajahnya "Aku tampan ya?" tanya Bilal dengan senyum jahil nya, membuat Khadijah memutar bola mata nya.
"Engga, Mas Bilal sudah makin tua, jadi ketampanan nya sudah pudar"
"Oh ya? Padahal aku bahkan belum 30 tahun, biasanya, pria akan terlihat sangat tampan dan macho di usia seperti ku sekarang ini" Khadijah enggan menanggapi candaan Bilal kali ini, ia berjalan ke lemari dan mengambilkan kaos serta celana untuk Bilal. Kemudian ia menyuruh Bilal duduk di depan meja rias nya, dan Khadijah mulai mengeringkan rambut Bilal dengan handuk seperti biasa.
"Emm mas..." panggil Khadijah ragu. Bilal yg sedang memainkan hp hanya menggumam. "Aku mau tanya boleh?"
"sejak kapan kamu butuh izin untuk bertanya?" Khadijah tersenyum masam.
"Ini soal....." Khadijah tak tahu harus memulainya dari mana. Tapi rasanya jika ia bertanya, maka dia tidak akan mati karena kanker nya melainkan mati penasaran dan terbakar api cemburu yg selama ini ia pendam.
"Kok malah melamun, mau tanya soal apa?"
"Aku engga tahu harus memulai nya dari mana, Mas" seru Khadijah sambil terus melakukan aktifitas nya.
"loh, Kok gitu? Kamu lagi ada masalah?"
khadijah menggeleng "Terus?"
"Mas....kenapa Mas Bilal engga jujur aja sama aku" seru Khadijah akhirnya yg langsung membuat Bilal mengerutkan kening nya tak mengerti.
"Maksud nya? Engga jujur apa, Sayang?" Bilal bertanya sangat lembut, membuat hati Khadijah menghangat mendengarnya
"Kenapa Mas Bilal engga jujur kalau mas Bilal selama ini mencintai seseorang" Bilal yg sejak tadi mengetikkan sesuatu di ponselnya langsung berhenti dan tampak terkejut, namun di detik selanjutnya ia berusaha tenang dan tersenyum seraya memandang Khadijah dari cermin.
"Mencintai siapa? Bukannya Mas sudah bilang, Mas engga tertarik sama teman teman mu itu?"
"Aku engga berbicara tentang teman teman ku, Mas"
"Terus?"
"Gadis itu, gadis yg Mas liat di restaurant kemudian Masliat lagi di butik"
Ekspresi Bilal berubah seketika namun ia tak menanggapi perkataan Khadijah.
"Mas, kamu mencintai nya kan?" Khadijah bertanya dengan suara lirih. Ia bahkan hampir tidak mendengar suara nya sendiri.
"Apa maksud mu, Khadijah?" Bilal berdiri dan mulai mengenakan pakaiannya "Aku bahkan tidak tahu siapa gadis itu" elaknya.
"Iya, tapi Mas jatuh cinta padanya kan?"
"Dari mana pemikiran konyol mu itu, Khadijah? Aku sudah punya kamu, istri ku tercinta. Bagaiamana bisa aku jatuh cinta pada gadis itu?"
"Kenapa Mas masih menutupi nya? Setiap malam Mas Bilal berdoa dan mengadu pada Allah tentang perasaan mu, Mas. Aku mendengar semua nya. Mas telah jatuh cinta kepada gadis itu" Bilal tak kuasa menatap mata Khadijah yg menatap nya penuh luka "Itu benar kan, Mas?"
"Khadijah... aku.... itu engga benar" Bilal berjalan ke arah jendela dan menatap keluar. Sementara Khadijah berusaha menahan air mata nya yg segera akan meledak keluar.
Khadijah menghampiri Bilal dan memeluknya dari Belakang.
"Pernahkah mas Bilal mencintaiku?" tanya nya dan menyenderkan kepalanya di punggung Bilal. Bilal segera berbalik badan dan menarik khadijah kedalam pelukannya.
"Tentu saja, Khadijah. Kamu istri ku, aku akan selalu mencintai mu" Khadijah menangis mendengar hal itu, ia semakin mengeratkan pelukannya pada Bilal.
"Pernah kah mas Bilal merasakan jatuh cinta pada ku? seperti seorang pria yg jatuh cinta pada seorang wanita. "
Deg
Mendengar pertanyaan itu, Bilal terdiam mematung bahkan tubuhnya menengang. Ia juga melepaskan pelukannya, ia berjalan dan mencari sesuatu di laci padahal itu hanyalah untuk menghindari khadijah. Hal itu membuat Khadijah semakin merasa sedih.
"Kenapa Mas Bilal lakukan ini padaku, Mas."
"Apa maksudmu. Aku tidak mencintai gadis itu, berhenti menanyakan hal konyol itu, lagi pula aku engga tahu siapa gadis itu, aku engga pernah bertemu lagi dengannya setelah di butik itu, khadijah" seru Bilal dengan nada tinggi.
"Tapi kenapa Mas masih mengelak dan berbohong, aku tahu semuanya" Khadijah berkata di iringi isak tangis yg langsung membuat hati Bilal luluh dan merasa bersalah karena sudah berbicara dengan nada tinggi pada istri nya itu.
"Ya Allah... maaf kan mas, Sayang. Mas engga bermaksud membentak mu" Bilal mengangkat tangannya hendak menghapus air mata Khadijah yg membasahi pipinya, namun Khadijah menepis tangan Bilal. Kedua nya terdiam untuk waktu yg lama. Bilal duduk di tepi ranjang, sementara Khadijah hanya berdiri memunggungi Bilal di dekat jendela.
Bilal tampak sangat frustasi, ia pun akhirnya angkat bicara.
"Baiklah, aku akan menikahi nya" seru nya yg langsung membuat Khadijah terkejut, bahkan seolah petir menyambar nya, Khadijah langsung menatap Bilal tak percaya.
"Bukan nya Mas Bilal engga kenal gadis itu?"
"Bukan gadis itu, tapi teman mu yg ingin kau jodoh kan dengan ku"
"Apa?" tanya Khadijah tak mengerti.
"Kenapa? Bukankah kamu ingin aku menikah lagi dengan seribu alasan mu itu?" Khadijah terdiam "Jika dengan menikah lagi itu bisa membuat mu senang, aku akan melakukan nya"
"Kenapa baru sekarang Mas setuju? bukankah dari dulu Mas selalu menolak?"
"Benar, mungkin ini memang saatnya aku mengikuti kemauan mu, selama itu bisa membuat mu bahagia. Tapi apa kamu yakin kamu mau di madu? Mungkin saat ini, ini mudah bagi mu, Khadijah. Karena kamu selalu ingin memberikan yg terbaik untuk ku, tapi apa hati mu benar benar ikhlas? Apa hati mu rela berbagi? Katakana pada ku, Khadijah?"
Khadijah tak mampu menjawabnya. Ia seperti kehilangan keyakinan pada dirinya sendiri. Khadijah menundukkan wajahnya dan mulai menangis lagi.
"Aku mengenal mu, Khadijah. Kamu sangat mencintai ku, dan kamu engga benar benar siap membagi cinta mu. hanya karena teman mu mengatakan dengan berpoligami mungkin aku bisa mendapatkan keturunan dari istri ku nanti, kamu pun mulai ber ambisi untuk itu demi memberikan apa yg ku butuhkan" menyadari kebodohan nya, tangis Khadijah semakin pecah "Jika kamu begitu sedih dan terluka saat aku jatuh cinta pada wanita lain , lalu bagaimana jika aku menikahi wanita lain, menghabiskan waktu bersama nya dan memberikan diri ku seutuhnya padanya, apa kamu bisa menanggung rasa sakit mu?"
Khadijah menutup wajahnya dengan telapak tangannya, membayangkan nya saja ia tak mampu dan rasanya begitu sakit.
"Aku memang mencintai gadis itu, maafkan aku" Bilal berbisik pelan. Khadijah mendongak seketika dan menatap Bilal dengan mata nya yg sembab.
"Lalu, kenapa Mas Bilal engga berusaha mengenal gadis itu, bukankah aku memang ingin mas Bilal menikah lagi? Mas Bilal bisa mengambil kesempatan itu kan?" Khadijah bertanya dengan suara serak nya dan masih di iringi tangis nya.
"Apa yg harus ku lakukan, Khadijah. Pada gadis yg baru 17 tahun. Saat itu, aku menyusul mu ke hotel melati karena masih ada buku yg tertinggal, tapi saat itu, aku melihat mu sedang berbicara dengan gadis itu. Aku ... aku sangat terkejut. Aku engga pernah menyangka gadis itu putri Paman Rahman. Dan dia... dia masih anak anak. Katakana pada ku, apa yg harus ku lakukan? Aku memang sangat mencintai nya. Tapi walaupun kamu mengizinkan ku menikahi nya, lalu apakah Paman Rahman dan Tante Kulsum akan mengizinkan ku menikahi putri kecil mereka? Rela kah mereka memberikan putri bungsu nya itu pada ku sebagai istri kedua ku?"
Penuturan Bilal membuat Khadijah semakin sedih. Sedih menyadari sebesar itu cinta Bilal pada wanita lain, dan lebih sedih karena Bilal tak bisa mendapatkan cintanya. Khadijah mendekati Bilal dan duduk di sampingnya, Seketika itu Bilal langsung memeluk erat Khadijah dan ia pun menangis. Menangis karena telah menyakiti istri nya, dan menangis karena cinta nya yg tak mungkin terbalas pada Asma.
"Maafkan aku Khadijah. Maafkan aku karena telah menyakiti mu dengan jatuh cinta pada nya, aku benar benar tidak sengaja melakukan nya, aku tidak sengaja. Maafkan aku sudah membuat mu menangis" air mata Bilal yg jatuh membasahi pundak khadijah, membuat Khadijah tertegun, ia tak pernah melihat Bilal terpuruk hingga menangis seperti ini. Bilal semakin mengeratkan pelukannya saat Khadijah tak membalas pelukannya itu dan hanya diam saja. Membuat Bilal semakin merasa bersalah.
"Ku mohon, maafkan aku, istri ku. Maafkan aku yg tidak bisa menjaga hati ku"
▪️▪️▪️
Tbc....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Atha 😘😘
👍👍👍👍👍
2022-10-25
0
💫R𝓮𝓪lme🦋💞
no komen ,lanjut
2022-09-22
1
Powerrenjer pink
naudzubillahi min Zalik. semoga kehidupanku d jauhkan dari hal hal yg bisa menyakitkan hatiku. . d jauhkan dari laki2 yg kurang bersyukur. apapun alasannya .. banyak cara seorang istri menuju surga.
2022-09-15
1