"Asma..."
"Asma...bangun, sudah subuh dari tadi "
"Asma..." Lita mengguncang tubuh Asma beberapa kali, hingga akhirnya gadis itu membuka mata pelan pelan, namun saat ia melihat Lita, ia terbelalak dan segera duduk, ia memperhatikan sekitar nya seolah ia berada di tempat yg asing.
"L....Lita?" ia seolah ingin meyakinkan bahwa yg ada didepan nya memanglah Lita. tentu saja sepupu nya itu keheranan dengan tingkah Asma.
"Iya, kenapa?" Asma mengusap wajahnya. Dan ia terkejut karena ada tasbih ditangan nya, seingat nya ia mengalungkan tasbih itu ke lehernya.
"Kok aku bisa genggam tasbih ini?" ia bertanya pada dirinya sendiri, namun Lita yg mendengar itu segera menjawab.
"Bukan cuma genggam, tapi kamu genggam nya erat banget, tadi aku mau liat, tapi kamu engga mau lepas. Oh ya, tasbih nya cantik banget, kamu beli dimana?" tanya Lita sembari menarik Asma agar turun dari ranjang, ia pun membereskan ranjang nya.
"Ini...ini bukan punya ku" lirih Asma namun fikiran nya masih teringat pada mimpi nya. Ia bahkan ragu apakah itu mimpi, terasa begitu nyata. Bahkan iamasih bisa mengingat aroma wangi itu, tawa anak anak itu.
"Terus punya siapa?" tanpa menjawab, Asma segera pergi ke kamar mandi, ia mengambil wudhu dan bersiap sholat subuh bersama Lita yg sudah menunggu.
"Asma, kamu dapat tasbih itu dari mana? Aku juga mau dong, cantik banget tasbih nya" seru Lita.
"Sholat dulu, Ta. Kamu yg jadi imam ya"
"Engga mau, kamu kan lebih tua"
"Kamu aja, ayolah. Nanti keburu siang nih" Lita pun mengalah dan segera memulai sholat.
.
.
.
Di rumah Asma, semuanya sudah selesai sholat subuh berjamaah tanpa Asma, mereka mengira Asma masih mengurung diri di kamar. Hingga saat matahari terbit, karena Asma belum keluar juga, Aisyah pun berniat mengecek ke kamarnya. Ia mengetuk pintu kamar Asma beberapa kali namun tak ada jawaban. Perasaan was was pun menghampiri nya, Aisyah segera mencari kunci cadangan di kamar orang tuanya, setelah di dapat, ia segera membuka pintu Asma dengan kunci itu, dan betapa terkejutnya dia tak mendapati Asma di kamarnya, ranjang nya masih rapi, dan jendela yg terbuka seolah mengkonfirmasi apa yg telah Asma lakukan.
"ABI... UMMI... ASMA KABUR LAGI..." Aisyah berteriak sembari berlari mencari kedua orang tuanya. Ummi nya yg berada di dapur, segera berlari menghampiri Aisyah.
"Asiyah, ada apa?" tanya Ummi nya panik
"Asma kabur, Ummi" Ummi nya yg mendengar itu langsung shock dan jatuh pingsan,beruntung Adil segera datang dan menangkap Ummi Kulsum sebelum tergeletak ke lantai.
"Ummi.... bangun, Ummi... " Adil menepuk nepuk pipi Ummi nya itu "Aisyah, kenapa Ummi pingsan?"
"Asma kabur, Kak" jawab Aisyah sembari membantu Adil mengangkat Ummi nya.
"Anak itu... bener bener..." Adil tampak menahan kemarahan nya. Adil dan Aisyah membaringkan Ummi nya ke ranjang, karena mendengar keributan, Aqilah pun datang bersama Khadijah dan juga Bilal.
"Ummi..." teriak Aqilah khawatir yg sudah melihat Ummi nya terbaring pucat. Tak lama ayah mereka pun juga datang dan sangat terkejut melihat istri nya yg sudah tak sadarkan diri.
" Kak, ada apa?" tanya Aqilah
"Ada apa ini, Adil? Kenapa Ummi pingsan?"
"Asma kabur lagi, Abi" mendengar ucapan Aisyah, sontak semuanya terkejut terutama Bilal dan Khadijah.
"Tapi kapan? Maksud ku, semalam kami sempat berbicara" sela Khadijah yg langsung mendapatkan perhatian dari Aisyah.
"Bicara apa?" Aisyah bertanya dengan nada kesal dan menatap Khadijah dengan tatapan menuduh
"Aisyah..." Aqilah menegur nya dan itu membuat Aisyah semakin kesal.
"Sudah sudah... sebaiknya kalian cari Asma, mungkin dia ada di sekitar rumah. Biar Abi yg menjaga Ummi" perintah Abi mereka yg langsung mereka laksanakan.
Adil dan Bilal pergi ke kamar Asma, sementara Khadijah, Aisyah, dan Aqilah mencari di sekitar rumah dan area sekolah.
Bilal terkejut melihat jendela kamar Asma yg terbuka lebar, ia pun memeriksa nya. Dia berfikir pasti Asma keluar dari sana, karena jendela itu tidak terlalu tinggi.
"Menurut mu, kemana dia kabur?" tanya Bilal sembari memeriksa kamar Asma, siapa tahu dia mendapatkan petunjuk.
"Entahlah, engga ada yg bisa nebak isi kepala gadis itu" seru Adil sembari membuka lemari Asma, dan lemari nya masih penuh dengan pakaian. ia pun memeriksa meja belajarnya, ia menemukan laptop, dompet dan bahkan charger hp nya disana.
"Asma engga kabur, Bilal" ucap Adil
"Maksud nya? Aisyah bilang dia kabur"
"Dia masih ada di sekitar sini, jika dia kabur, sudah pasti dia membawa barang barang nya. Tapi charger ponselnya pun dia engga bawa"
"Mungkin dia buru buru "
"Dia engga pernah buru buru jika mau kabur, dia selalu memepersiapkan semuanya. mungkin dia pergi ke... "
"Rumah Lita. Aku lihat mereka sangat dekat " sambung Bilal.
"Tepat sekali" Bilal pun segera menghubungi ponsel Lita, namun tak ada jawaban.
"Bagaimana?" tanya Bilal
"Belum di angkat"
"Coba telepon orang tua nya"
"Percuma,Lita dan Asma selalu bekerja sama, orang tua Lita engga akan tahu Asma disana" Adil pun sekali lagi mencoba nya.
.
.
.
Sementara di rumah Lita, Lita sedang menatap layar ponsel nya yg terus berdering.
"Aku harus jawab apa, Asma?" tanya Lita antara kesal dan kasihan pada Asma. Sementara Asma malah berbaring di tengah ranjang dengan tubuh yg terbungkus selimut.
"Terserah, asal jangan kasih tahu aku ada disini" Lita hanya bisa menghela nafas dan ia pun menjawab panggilan Adil.
"Assalamualaikum, Kak Adil. Ada apa?"
"Waalaikumsalam, Lita. Asma ada disana?" dari nada bicara Adil, sudah pasti pria itu marah besar fikir Lita. Ia melirik Asma yg masih bergelut dengan selimut nya.
"Emm... engga ada, Kak Adil" Lita menjawab ragu
"Jangan coba coba bohong, Lita. kak Adil tahu Asma ada disana" mendengar itu, Lita menjauhkan ponsel dari telinga nya dan berbisik pada Asma.
"Dia tahu kamu disini kata nya. Gimana dong?"
"Tau dari mana dia?"
"Ya mana ku tahu "
"Lita....?" Adil memanggil dari seberang telpon.
"Iya kak... Asma engga ada disini kok, Kak Adil"
"Asma engga ada dirumah, dia pergi dan engga bawa apapun kecuali ponsel nya, pasti dia di sana kan? Berikan hp nya pada Asma!" Lita pun tak bisa menolak perintah Adil, tak hanya dua atau tiga kali dia kena semprot Adil gara gara Asma. Lita menyerahkan hp nya pada Asma, dan gadis itu mengambilnya dengan malas.
"Iya kak..." ucap Asma dengan suara pelan
"Pulang, Asma!" perintah Adil marah membuat Asma menghela nafas.
"Kak, Asma cuma.."
"cuma apa? Kamu itu sampai kapan akan terus seperti anak anak, Asma? Kamu itu sudah dewasa, bersikaplah seperti orang dewasa, kamu tahu, Ummi shock karena kamu kabur lagi, dia pingsan sekarang "
"A...aapa? Ummi pingsan? Kak Adil bagaimana keadaan Ummi? " Asma bertanya dengan sangat kawatir
"Berhenti memanggil ku kakak kalau sampai terjadi apa apa sama Ummi. Pulang sekarang...!"
Air mata Asma langsung jatuh dan mengalir bebas di pipinya mendengar kata kata Adil yg sepertinya sangat marah hingga mengatakan hal menyedihkan itu, Adil memang tegas pada Asma, tapi baru kali ini ia berbicara kasar hingga membuat Asma menangis.
"Kak.l... " ia memanggil kakak nya itu dengan sangat sedih. namun tak ada jawaban.
"Halo, kak...kak Adil...." tangis nya pecah saat Adil memutuskan sambungan telepon nya begitu saja. Mental Asma semakin terguncang, dan ia semakin terpukul menghadapi cobaan yg berat ini. Asma menyembunyikan wajahnya di bantal dan terus menangis melampiaskan isi hatinya, Lita yg melihat itu menjadi tidak tega, bahkan ia pun mulai ikut menangis melihat keadaan Asma.
"Asma... udah dong nangisnya, aku juga jadi pengen nangis ini" ucap Lita dengan suara bergetar, namun itu membuat Asma semakin terisak, segitu marahnya Adil hingga mengucapkan kata kata yg menyayat hati nya. Lita membawa sepupu nya itu kedalam pelukannya, mengusap punggung nya untuk menenangkannya.
"Sabar ya, Allah pasti punya rencana yg indah buat kamu."
Sementara itu, Aisyah yg mendengar perkataan Adil pada Asma langsung membuat darahnya naik.
"Kak Adil itu bicara apa sih?" untuk pertama kalinya, Aisyah berani berkata dengan nada tinggi pada kakak tertua mereka itu "Kaka engga bisa memahami perasaan Asma walaupun sedikit....aja kak? Di saat seperti ini, dia itu butuh kita, butuh dukungan dan bimbingan kita "
"Tapi dia sudah keterlaluan, Aisyah. dulu Ummi juga pingsan saat dia kabur, dan entah kenapa itu engga membuat dia jera, atau setidaknya memikirkan perasan Ummi dan Abi, dia engga bisa memahami ke kekhawatiran Ummi sama dia."
"Aisyah ngerti Kak. Tapi dia kan cuma pergi kerumah Lita, bukan kabur. Mungkin dia hanya ingin menenangkan diri."
"Dengan melompat lewat jendela?"
"Kunci pintu depan ada sama Kak Adil, apa menurut kakak Asma akan meminta kunci itu ditengah malam dan kemudian pergi keluar? Pasti kakak engga akan ngizinin kan"
Adil tak lagi bisa berkata kata. Mungkin yg dikatakan Aisyah memang benar. Bilal yg mendengarkan perdebatan kakak beradik ini merasa sangat bersalah namun ia tak tahu harus berbuat apa, semuanya sudah terlanjur terjadi.
"Coba sekali saja Kak Adil bayangkan berada di posisi Asma, kemarin semuanya baik baik saja, dia hanya adik kecil kita yg masih menikmati masa remajanya, dan tiba tiba dia di hantam dengan kenyataan yg mungkin tak pernah sekalipun dia bayangkan"
.
.
.
Lita mengantar Asma pulang, dan sesampainya dirumah, mereka langsung mendatangi Ibu Asma di kamarnya. Seketika hati Asma terasa sangat perih melihat keadaan Ummi nya yg pucat. Dan Asma mengutuk dirinya sendiri atas keadaan itu. padahal tak sedikitpun dia ada niatan kabur, dia hanya merasa butuh waktu sendiri, karena itulah ia meninggalkan rumah.
Asma dan Lita duduk disamping Ibu Asma. Seolah merasakan kehadiran putri nya, Ibu Asma langsung membuka mata, dan ia menatap Asma penuh kekhawatiran.
"Ya Allah....Asma. Kamu dari mana saja, Nak? Kenapa pergi engga bilang bilang" Asma mencium tangan Ummi nya itu dan air matanya pun membasahi tangan ibunya yg sudah mulai keriput itu.
"Maafin Asma, Ummi. Asma udah bikin Ummi sakit"
"Ummi engga sakit kok, Sayang. Ummi cuma kecapean" Asma tahu Ummi nya bohong, dan itu membuat nya semakin merasa bersalah.
"Asma engga ada niat kabur kok, Ummi. Asma cuma pengen sendiri aja"
"Iya, Ummi ngerti. Maafin Ummi dan Abi nak, jika keputusan kami membuat mu sedih. Kami tahu kami salah, seharusnya kami memberi tahu mu lebih dulu" Asma terdiam dan ia hanya bisa menggigit bibir nya untuk menahan isak tangisnyan" Kamu sudah makan, Sayang?" lanjut ibu nya. Asma mengangguk sembari menghapus sisa air mata yg membasahi pipi nya.
"Udah, Bi" Lita menyela "Udah makan nasi, ayam goreng pakek sambil, nasi dirumah Lita dia yg ngabisin" Ibu Asma tertawa mendengar ocehan Lita, sementara Asma tak lagi tertarik dengan candaan Lita, ia teringat pada kata kata kakak nya, dan ia merasa sangat sedih dengan hal itu. Entah bagaimana dia akan menghadapi kakak sulung nya itu.
Tak lama kemudian pintu terbuka, saat Asma menoleh ia melihat Adil yg datang, seketika Asma langsung membuang muka, dia memang sedih dengan perkataan Adil, tapi dia juga kesal karena Adil tidak bisa memahami nya. Adil berjalan dan berdiri di samping di sisi ranjang. Adil menatap Asma yg masih membuang muka, mata Asma bengkak, wajahnya sembab, tak pernah Adil melihat Asma dalam keadaan seperti ini dan hal itu membuat Adil semakin merasa bersalah pada Asma. Sebagai kakak, seharusnya dia tampil sebagai pelindung dan penghibur adiknya, bukan membuat nya tambah sedih.
"Kamu sudah pulang?" Adil bertanya lembut, namun Asma enggan menjawab. Adil mengerti kemarahan Asma, dia pun ikut duduk disamping Asma. ia menyeka sisa air mata di sudut mata Asma.
"Maaf, engga seharusnya kakak bicara itu "
"Kaka jahat" seru Asma dengan mata yg kembali berkaca kaca. Adil segera membawa Asma kedalam pelukan nya, Asma sempat menolak namun Adil tetap memeluknya.
"Iya, Kaka sudah jahat karena sudah membuat Asma menangis. tapi Kaka berbicara seperti itu hanya karena khawatir sama Ummi, Dek. Maafin kakak ya" Adil mengusap kepala sayang. Asma tak menjawab namun ia membalas pelukan Adil, Ibunya dan Lita tersenyum melihat itu, dan hati Adil pun merasa lebih tenang sekarang.
▪️▪️▪️
Tbc.......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Aisyah Aisyah
🥹🥹
2025-03-01
0
Wahyuni Uni
./Sob//Sob//Silent//Silent//Silent/ sedih
2025-02-15
0
Sumi Yati
lagi puasa baca novel ini nangis terus😭semoga puasaku nda batal
2024-03-22
2