Bilal begitu bersungguh sungguh dengan ucapan nya. ia benar benar membimbing Asma belajar dengan sangat serius, dia bahkan tidak di ijinkan main hp. Membuat Asma berfikir, mungkin tugas lain Bilal yg di maksud Abi nya adalah menjadi guru privat Asma.
Setelah makan malam, Bilal memerintahkan Asma untuk menunggu nya di ruang keluarga untuk belajar bersama lagi, karena Bilal tak kunjung datang, Asma menyalakan TV dan menonton kartun, membuatnya tertawa terbahak bahak sendiri.
Namun tak lama kemudian, Bilal datang mengambil remote yg ada di tangan Asma dan langsung mematikan TV.
"Ya Allah....Ustadz, bikin Asma kaget aja" Asma mengusap dada nya sendiri, jantung nya berdetak kencang gara gara kedatangan Bilal yg tiba tiba itu sangat mengagetkannya.
"Seharusnya kamu sambil belajar sendiri sebelum aku datang, Zahra. Bukannya nonton kartun "
"Ya...Tadi Asma bosan "
"Engga usah banyak alasan, cepat buka kitab mu, buat rangkuman dari apa yg sudah aku jelaskan, kemudian pelajari itu" seru Bilal dengan ekspresi galaknya, Asma mengikuti perintah Ustadz nya itu, ia membuka kitab nya, membacanya kemudian menuliskan rangkumannya untuk mempermudah nya menghafal. Di tengah Asma sedang fokus, Bilal tiba tiba tertawa sembari memperhatikan tulisan Asma, membuat Asma mendongak dan menatap heran padanya
"Kenapa tiba tiba ketawa?" tanya nya judes
"Umur berapa kamu belajar nulis?" Asma memperhatikan tulisan tangannya, kemudian ia mendelik kesal dan berusaha mengabaikan Bilal yg mengejeknya.
"Tulisan tangan mu jelek banget, Zahra. Murid kelas 3 memiliki tulisan tangan yg jauh lebih bagus dan rapi dari itu" Asma menggenggam pena nya dengan erat, ia melirik tajam pada Bilal, ingin rasanya dia menusuk wajah tampan Bilal dengan pena itu. Memang dia memiliki tulisan tangan yg tidak rapi, bahkan Adil pernah mengatakan tulisan tangan Asma hampir tidak bisa dibaca. tapi tidak harus di ketawain seperti itu, kan?.
"Engga boleh menghina, Ustadz. Dosa" ucapnya kesal apa lagi Bilal yg masih tertawa. Kemudian Bilal mengambil buku Asma dan pena nya. Bilal menulis nama Asma Azzahra disana denga tulisan Arab.
"Nah, begini caranya nulis, rapi, bagus, ya kan?" Bilal kembali menyerahkan buku pada Asma membuat Asma semakin kesal.
Asma mencoret coret namanya yg ditulis Bilal dengan penuh emosi bahkan membuat bukunya hingga berlubang.
.
.
.
Menjelang akhir ujian, Asma semakin bersemangat, apa lagi dengan Bilal yg menjadi guru privat nya, mengatur jadwal Asma dan apa saja yg harus Asma pelajari, dia juga mengajarkan Asma metode belajar yg menurutnya bisa cepat faham dan hafal.
Asma merasakan bahwa bimbingan Bilal sama sekali tidak sia sia.
Walaupun Bilal terkadang membuat nya kesal apa lagi dengan nada perintah nya, tatapan tajam nya dan wajah datar nya itu.
Namun di sisi lain, ia menyayangkan kenapa Bilal tidak datang lebih cepat sebelumnya. Dengan begitu dia pasti akan selalu mendapatkan nilai yg bagus dan bisa memahami pelajaran nya.
"Sebenarnya, kalau kamu mau serius, bukannya selalu bercanda, kamu itu bisa, Zahra. tapi mungkin selama ini engga ada yg membimbing mu dengan tegas sehingga kamu tetap menjadi pemalas" Bilal berkata sembari mendengarkan hafalan Alfiyah Asma. Asma tersenyum saja mendengar pernyataan Bilal sambil terus melantunkan hafalannya.
Sebenarnya, Adil sudah berusaha membantu Asma, tapi dia tidak suka karena Adil terkesan dingin, serius, dan menjelaskan dengan kata kata yg padat dalam mengajar dan itu membuat Asma tidak nyaman, sementara Aqilah dan Aisyah terlalu lembut dan pelan. Dan bagi Asma itu membosankan.
Tapi dengan Bilal, entah kenapa dia merasa nyaman, dia bahkan mengikuti semua yg Bilal perintahkan dan tak pernah bisa menolak nya walaupun harus di jalaninya dengan sedikit kesal.
Setelah menghafal sesuai target, Asma bernafas lega dan dia hampir melompat kegirangan. Apa lagi hari ini ia telah melewati ujian terkahir nya.
"Terimakasih...terimakasih banyak sudah membantu, ternyata otak Asma bekerja dengan baik kalau Ustadz yg membimbing. Oh ya apa Ustadz memang di tugaskan Abi untuk mengajari Asma secara pribadi?"
"Ya bisa di bilang begitu" Asma tersenyum senang mendengarnya. "Apa rencana mu setelah lulus?"
"Yg pasti, Asma pengen melanjutkan pendidikan ke pesantren. Insya Allah" Bilal tersenyum manis mendengar penuturan Asma, senyum yg tak pernah Bilal tunjukan sebelum nya.
"Wow..." Asma berseru dengan tatapan kagum pada Bilal, membuat senyum Bilal hilang seketika dan raut wajahnya berubah heran.
"Apanya yg wow?".
"Ini pertama kalinya Asma liat Ustadz tersenyum manis, Ustadz tampan lho " pujian terang terangan Asma membuat Bilal ingin tertawa senang tapi dia menahannya dan menunjukkan wajah datar nya kembali seperti biasa "Loh, jangan kaku gitu lagi dong wajahnya, tampan nya jadi berkurang sedikit". goda nya di sertai tawa renyah. Membuat Bilal gemas dan senang namun ia tetap mengontrol diri agar tak mencubit pipi Asma yg menggemaskan itu.
"Apa kamu selalu mengatakan hal seperti itu pada guru mu, Zahra?" ia bertanya dengan nada tak suka. namun Asma malah menanggapinya dengan senyuman jahil.
"Kayaknya engga deh. Soalnya engga ada yg setampan Ustadz Bilal" sekali lagi, Bilal menjadi salah tingkah dengan pujian itu, ia mencoba mengalihkan tatapan nya pada dinding dinding di ruang keluarga itu dan berharap Asma tak menyadari ekspresi nya. Kemudian ia berusaha mengatur detak jantungnya yg berpacu sangat cepat seolah sedang berlomba lari. "Dan Abi Ustadz memberikan nama yg sempurna, Muhammad, Rasul dan Nabi yg paling agung, manusia mulia dan sempurna. Yusuf, sudah Nabi, tampan lagi, bahkan membuat wanita mengiris jemarinya sendiri karena tersihir dengan ketampanan nya. Dan terkahir Bilal, sahabat tercinta Nabi, punya keimanan yg kuat, pokok nya wow deh"
Bukannya berterimakasih dengan pujian Asma yg panjang lebar, Bilal malah mengetuk kepala Asma dengan pena membuat Asma meringis dan menatap Bilal dengan wajah cemberut.
"Jangan mukul kepala, Ustadz. Kepala ini keluar duluan tahu." protesnya dengan pipi yg mengembung dan bibirnya yg mengerucut kesal.
"Tapi khusus kamu engga, kamu kan lahirnya operasi, belum waktu nya keluar kamu malah mau keluar " jawaban Bilal membuat Asma menganga tak percaya, karena dia memang di lahirkan secara operasi, waktu itu usia kandungan Ummi nya baru 8 bulan, tapi Ummi nya terjatuh di kamar mandi membuat nya harus menjalankan operasi sesar untuk menyelamatkan bayinya.
"kok Ustadz tahu ?"
"Aku tahu semuanya, dan satu hal lagi, kalau kamu menemukan sesuatu yg menakjubkan, jangan bilang Wow, tapi ucapkan lah Masya Allah...."
"Hehe ya juga, lupa"
"Hal kayak gitu aja lupa, gimana dengan hafalan kitab kitab mu itu "
"Engga akan lupa kok. Sekarang kan ada Ustadz yg bantuin Asma" Bilal melirik Asma sekilas kemudian ia memalingkan wajahnya.
"Caukup untuk sekarang, karena ujian sudah selesai, bukan berarti kamu bisa enteng, sebaik nya kamu tetap fokus pada hafalan mu" Asma mengacungkan jempolnya tanda ia akan mengikuti perintah Bilal. Namun sekali lagi Bilal malah mengetuk kepala Asma dengan pena, membuat Asma melotot kesal.
"Sekarang apa lagi salah Asma?" tanya nya tak terima dengan perlakuan Bilal
"Apa mengacungkan jempol pada guru itu sopan?" Asma langsung terdiam, menatap Bilal yg saat ini juga menatap nya. namun sesaat kemudian, Bilal dengan cepat memalingkan wajahnya, membuat Asma juga menunduk malu.
"Maaf" lirih nya, meskipun ia tak tahu maaf karena mengacungkan jempol atau karena beradu tatapan dengan Bilal?
▪️▪️▪️
Tbc.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Yus Warkop
makin penasaran
2024-03-16
0
Maulana ya_Rohman
masih nyimak....
2023-11-05
0
Machda Syaily1212
dulu kayak pernah baca ini,ini tahun berapa ya realisnya
2023-08-24
0