"Bi..."
Asma mendatangi Abi nya setelah semua jemaah keluar Musholla sehabis sholat Isya.
"Ada apa, Nak?" tanya ayahnya.
"Bi, Kenapa Ustadz Bilal tinggal sama kita?" Abi nya memandangi dinding mushola sembari mencari jawaban apa yg harus ia berikan pada Asma tanpa berbohong.
"Emm begini, Asma tahu guru Abi kan? Kiai Khalil?" Asma mengangguk, walaupun belum pernah bertemu Kiai Khalil, namun Abi nya sering sekali bercerita tentang nya "Nah, Bilal itu putra nya"
"Hah, beneran?" Asma menganga tak percaya.
"Iya"
"Jadi, Ustadz Bilal itu memang di tugaskan untuk mengajar di Madrasah ini?"
"Em sebenarnya itu hanya sementara, ada tugas lain yg harus dia lakukan disini"
"Tugas apa? Soalnya Abi kayaknya memperlakukan Ustadz Bilal secara istimewa "
"Nanti Asma akan tahu kok " Asma menatap curiga pada Abi nya.
"Jangan bilang Abi mau jodohkan Asma sama Ustadz Bilal " ucapan tiba tiba Asma itu sontak membuat Abi nya kebingungan harus menjawab apa. Bukan mau di jodohkan, sudah terlanjur di nikahkan. Fikirnya.
"Memangnya kenapa? Asma engga suka sama Ustadz Bilal? Dia itu pria yg sholeh, pintar, dewasa, dan yg pasti tampan kan?" Asma mengangguk anggukan kepalanya mendengar itu, karena memang benar, Bilal sangat tampan, tubuhnya tinggi tegap dengan kulit kecoklatan yg membuatnya benar benar terlihat maskulin. wajahnya berseri, matanya tajam, alisnya tebal dan bibirnya...
"Asma..." suara Abi nya membuyarkan khayalan Asma. "Jadi bagaimana?"
"Aduh, jangan deh, Bi. Usia kita kan terpaut jauh"
"Loh, Rasulullah dan Aisyah juga terpaut jauh usianya. Ya kan? Mereka masih bisa romantis, saling mencintai hingga akhirnya hayat nya"
"Ya kan beda, Bi. Tapi tunggu dulu, bukannya semua Putra putri Kh Khalil sudah menikah ya?. Bahkan Putri bungsu nya menikah 4 bulan lalu di Mekah, bukan nya Abi ke Mekah untuk menghadiri acara pernikahan itu "
"Hm ya sebenarnya itu salah satu alasannya "
"Salah satu? Terus alasan yg lain?" Abi nya memijat pangkal hidungnya dengan pertanyaan pertanyaan Asma yg tak ada habisnya. Untuk saat ini tidak mungkin memberi tahu yg sebenarnya.
"Asma ini kenapa banyak bertanya sih? Lebih baik fokus belajar"
"Ya kan Asma takut aja Bi"
"Takut apa?"
"Takutnya Abi beneran jodohin Asma sama Ustadz Bilal. Apa lagi ustadz sudah punya istri. Asma engga mau" Asma berkata sangat serius, bahkan Abi nya tidak pernah melihat Asma seserius ini sebelum nya.
"Asma percaya kan sama Abi?" Asma mengangguk "jadi apapun yg Abi putuskan untuk Asma, Insya Allah itu yg terbaik untuk Asma. Apa lagi soal jodoh, Abi pastikan akan mencarikan Asma suami yg baik, sholeh, yg bisa membimbing Asma selalu berada di jalan Allah" Asma menghela nafas berat, dia sudah sering mengatakan pada Abi nya dia tidak mau menikah muda.
"Ya udah, Asma ke kamar dulu " ujar nya, Abi nya pun mengusap kepala Asma sambil menyunggingkan senyum tipis.
Saat Asma keluar, ia tak sengaja berpapasan dengan Bilal, yg sebenarnya Bilal telah berada disana sejak tadi. Ia mendengar semua perbincangan Asma dan Abi nya.
Dan itu, membuat hatinya merasa gelisah. Bilal bisa melihat bahwa Asma benar benar tidak mau di jodohkan.
"Assalamualaikum, Ustadz" ucap sama dengan senyum lebar nya kemudian berlalu tanpa menunggu jawaban Bilal.
"Waalaikumsalam, istri ku" Bilal menjawab dengan suara pelan saat Asma sudah tak lagi terlihat.
Bilal kembali ke kamarnya, ia mengambil ponsel dan menghubungi istri pertama nya. Perasaan nya benar benar gundah, ia tidak tenang, takut, dan khawatir. Hanya beberapa hari lagi, Asma akan mengetahui bahwa ia adalah suami nya. Bagaimana reaksi Asma nanti? Marah? sudah pasti. Benci?.
"Ya Allah.. jangan sampai dia membenci ku"
Bilal semakin merasa resah karena Khadijah tak juga menjawab telepon nya. Ia pun segera menghubungi telepon rumahnya.
"Assalamualaikum, Khadijah?" ia berkata saat ada yg menjawab telepon disana.
"Waalaikumsalam, pak Bilal. ini Bi Mina. Ibu khadijah sedang ke pesantren untuk mengikuti pengajian " Bilal bernafas lega mendengar hal itu.
"Pantas tadi aku telepon engga di angkat. Nanti kalau sudah pulang, suruh telepon aku ya Bi"
"Nah, ini sudah pulang." seru Bi Mina dari seberang telepon. Tak lama kemudian ia mendengar suara istrinya. Hati Bilal menghangat seketika.
"Assalamualaikum, Mas"
"Waalaikumsalam, Sayang. Bisa video call?"
"Iya, aku ke kamar dulu ya." Bilal memutuskan sambungan telepon nya. Tak lama kemudian telepon kembali berdering, ia langsung menjawabnya.
"Ada apa?" Khadijah bertanya dengan sangat lembut. Membuat Bilal merasa sedikit tenang.
"Engga ada apa apa, hanya saja..." Bilal terdiam dan berfikir haruskah dia memberi tahu Khadijah tentang apa yg didengar nya. Tapi dia tidak mau membebani Khadijah.
"Hanya rindu pada istri ku yg cantik" goda nya membuat Khadijah bersemu merah.
"Masak? Bukannya disana juga ada istri Mas yg cantik, muda, lucu "
"Tapi kamu juga cantik, dan selalu bisa membuat hati ku menghangat dan tenang setiap kali mendengar suaramu dan melihat wajahmu"
"Ya tapi..."
"Tunggu sebentar, ada yg mengetuk pintu " Bilal berkata sembari berjalan menuju pintu dengan masih membawa ponsel di tangannya.
Bilal membuka pintu dan mendapati Asma berdiri disana dengan permen dimulutnya. Asma kemudian mengeluarkan permen itu dan berkata.
"Apa Asma ganggu?" Bilal hanya mampu menggeleng dan ia terpana dengan mata Asma yg berbinar dan bibir nya yg merah merekah karena permen itu.
"Sebenarnya tadi Asma cuma iseng" sekali lagi Bilal tak mampu berkata kata. Ia hanya bisa memandangi wajah Asma hingga lupa berkedip. "Soalnya Asma dengar Ustadz berbicara sendiri " lanjutnya. Kemudian Asma melirik ponsel yg ada di genggaman Bilal dan terlihat layarnya masih menyala.
"Oh, berbicara dengan seseorang di ponsel? istri Ustadz?" Asma bertanya ragu.
"Hmm ya" Bilal mengangguk pelan pada akhirnya.
"Ustadz, tolong jangan bilang soal candaan Asma waktu itu di kelas ya, nanti dia cemburu. "
"Apa?" tanya Bilal tak memahami maksud Asma.
"Ya sudah, Asma pergi dulu. Mau belajar sama Lita. Assalamualaikum Ustadz " sekali lagi Asma berlalu tanpa menunggu jawaban Bilal.
Bilal menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya perlahan, mengatur detak jantungnya yg berdegup tak karuan. Ia kemudian mengangkat ponselnya lagi dan ternyata masih tersambung video call dengan Khadijah.
"Khadijah , Maaf tadi....."
"Asma?" sekilas tampak kecemburuan di mata Khadijah, namun bibirnya segera menyunggingkan senyum seolah dia juga Sangat bahagia. "Ya udah, aku mau makan dulu, Bi Mina pasti sudah selesai masak".
"Baiklah, jaga diri ya, Sayang" Khadijah mengangguk kemudian mengucapkan salam dan langsung mematikan ponselnya.
.
.
.
Ke esokan harinya, Asma kembali lebih serius belajar, kali ini sebelum bel masuk berbunyi, Ia belajar bersama Samsul, salah satu teman kelasnya yg juga tak kalah pintar dari Isti. Samsul membantu Asma memahami materi nya hingga tiba tiba Bilal datang dengan wajah tidak suka nya.
"Kalian ngapain disini? Bukannya masuk kelas?" Bilal bertanya dengan nada sewot membuat Asma menaikan sebelah alisnya karena heran.
"Lagi belajar, Ustadz" jawab Asma seperti biasa dengan senyuman yg memperlihatkan sederetan gigi putihnya.
"Tapi engga harus berduaan, kan? Kalian tau kan kalau bukan mahrom berduaan, orang ketiga nya itu setan"
"Orang ketiga nya setan ya?" Asma bertanya dengan nada mengejek sambil tertawa kecil, Samsul yg mengerti maksudnya hanya bisa mengulum senyum sambil melirik Bilal, membuat Bilal menyadari apa maksud Asma.
"Maksud ku, setan pasti akan menggoda kalian."
"Tapi kita kan belajar di halaman sekolah, tempat terbuka, semua orang bisa melihat kita begitu pun sebaliknya" Asma menjawab panjang lebar membuat Bilal menghela nafas.
"Tapi kamu kan bisa belajar sama Lita atau Isti Zahra , kenapa harus sama laki laki?"
"Karena Samsul lebih asyik di ajak belajar, Asma lebih mudah ngerti kalau Samsul yg ngejelasin"
"Sini, belajar sama aku aja" Bilal mengambil kitab yg ada di tangan Samsul kemudian menyuruh samsul pergi. Sementara Asma menganga tak percaya dengan kelakuan Bilal yg menurut nya semakin aneh.
Hingga bel pun berbunyi, Asma segera ke kelas dan mengikuti ujian seperti biasa.
Saat ujian Selesai, Ustadz Ridho datang dan semua murid bersiap menyetorkan hafalan Alfiyah nya.
Asma mendapat giliran terakhir karena dia yg meminta.
Saat semua murid selesai, ia pun menyetorkan hafalan nya yg hanya bertambah sedikit. membuat Ustadz Ridho hanya bisa geleng geleng kepala.
"Neng Asma, Semua teman teman mu sudah hampir menyelesaikan hafalan nya, kamu malah baru setengah nya"
"Tenang aja Ustadz, sebelum waktu nya habis, Asma bisa menyelesaikan nya kok. Percaya deh sama Asma"
"Baiklah, tapi ingat, sisa waktu mu tidak banyak" Asma mengangguk. kemudian Ustadz Ridho keluar dari kelas meninggalkan Asma.
Saat Asma hendak keluar juga, ia di kagetkan dengan Bilal yg tiba tiba masuk.
"Ustadz Ridho sudah keluar tadi " Asma memberi tahu karena berfikir mungkin Bilal mencari nya.
"Aku tahu, Aku kesini untuk membantu mu menghafal Alfiyah mu"
"Hah?"
"Hah lagi, hah lagi. Apa engga bisa memberikan reaksi yg lain?" Asma mendelik mendengar kata kata Bilal. "Aku serius Zahra. Dalam seminggu, kamu harus sudah menyelesaikan setoran mu?"
"Seminggu?" Asma berteriak tak percaya "Asma masih punya waktu 2 minggu "
"Lebih tepatnya, sepuluh hari. Dua minggu lagi kan sudah wisuda"
"Oh ya ya..." Asma hanya bisa mangut mangut
"Jadi, mulai sekarang, setiap waktu mu hanya akan di isi belajar dan menghafal. Dan aku akan membimbing mu. Jangan menolak ini perintah Abi" Asma menarik nafas mendengar Bilal yg berkata benar benar tegas. Seolah dia memerintah Asma.
"Insya Allah..."
▪️▪️▪️
Tbc...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Nina Maryanie
kok aku sedih ya..ada poligami di sini..tp penasaran
2024-06-02
0
Deodoran
ah ingat cerita nenek dikampung, seorang wanita yg ikhlas dimadu tapi pas madu sama suaminya datang, dia lagi nyuci piring gak sadar yg jadi penggosok pancinya anak kucing😅 entah benar atau tidak...
2024-04-06
0
Yus Warkop
bilal serakah kali gitu yah kan sayang sama istri tapi kenapa mau membagi cintanya . alasan nya ah aku sedih
2024-03-16
1