Sejak kejadian cadar itu, Asma menjaga jarak dengan Bilal, karena perasaannya mengatakan ada yg salah dengan Bilal. Asma juga menjadi lebih pendiam dari sebelumnya, lebih banyak menghabiskan waktunya sendirian di kamar, bahkan ia tak ingin pergi kerumah Lita meskipun Lita sudah menyuruhnya datang hanya sekedar mengisi waktu kosong mereka.
Asma duduk di dekat jendela sambil membaca sebuah novel karangan Asma Nadia yg berjudul Surga Yang Tak Di Rindukan . Asma bahkan tanpa sengaja meneteskan air mata Dan merasakan sesak di dadanya.
Hingga tiba tiba, tanpa sengaja ia melihat Adil dan Bilal yg sedang masuk mobil dan hendak pergi. Asma tahu, Mereka pergi ke bandara untuk menjemput istri Bilal dan sepupunya.
Dan entah kenapa, mengetahui hal itu, perasaan Asma semakin tak karuan, resah,gelisah, tidak tenang. Seperti ada yg salah dalam dirinya. berulang kali Asma berusaha menenangkan hatinya yg bergejolak, berdoa pada sang pemilik hati agar hatinya merasa tenang.
Hingga malam hari menjelang, semua melaksanakan sholat berjamaah, yg diteruskan dzikir dan membaca Al Quran.
Asma kembali ke kamar setelah rutinitasnya selesai, Ia berdzikir untuk menenangkan hatinya menggunakan tasbih yg Bilal berikan padanya. Dan tiba tiba ia mendengar keramaian dari luar, Asma yg penasaran pun segera keluar kamar dan menuju ruang tamu.
Disana ia melihat Ummi dan kakaknya sedang berbincang bincang dengan seseorang, Asma berjalan mendekat dan ia melihat wanita yg tak asing sedang bercengkrama seolah begitu dekat dengan keluarganya.
"Eh Asma, sini Nak! +" Umminya memanggil Asma kemudian ia menyuruh Asma duduk di sampingnya. Asma pun duduk tanpa sedikitpun mengalihkan tatapannya dari wanita yg duduk didepannya. Sedangkan wanita itu juga menatapnya dan ia tersenyum.
"Ini Khadijah, istrinya Bilal," ucap sang Ummi
"Oh...." Asma ber oh ria sambil terus mencoba mengingat Khadijah yang tak asing.
"Assalamualaikum, Asma. Gimana kabarmu?" Sapa Khadijah
"Waalaikumsalam, Asma Alhamdulilah baik, Mbak. Em apa kita pernah bertemu, ya? Asma kayak pernah liat Mbak tapi dimana?"
"Satu tahun yg lalu, di hotel Melati, Jakarta" Khadijah menjawab sambil tersenyum dan senyuman itu membuatnya tampak sangat cantik, benar-benar cantik bak bidadari.
"Satu tahun yg lalu,lama juga ya. Hotel Melati..." Asma mencoba memutar ingatannya kembali, dan saat ia ingat, ia tersenyum senang dengan mata yg berbinar
"Oh, Mbak yg waktu itu nganterin buku untuk Abi dari Kiai Khalil, bukan?" Khadijah tersenyum senang karena Asma mengingatnya.
"Yup, betul. Tapi bagaiamana kamu bisa lupa, Asma? Waktu itu kita sempat sedikit mengobrol dan berkenalan."
"Hehe, Asma bukan tipe orang yg memiliki ingatan kuat, apa lagi kalau cuma ketemu sekali. Jadi Mbak istrinya Ustadz Bilal. Ya ampun, Mbak cantik banget," puji Asma membuat Khadijah mengulum senyum.
"Ya sudah, mengobrolnya sudah cukup. Biar Khadijah beristirahat dia pasti lelah karena perjalanan ini." Umminya berkata.
"Ayo Khadijah, kamar Bilal ada di samping kamarku." Aisyah berkata sembari membantu Khadijah mengangkat tasnya, namun khadijah melarang nya dan mengatakan ia bisa sendiri.
Setelah Khadijah dan Aisyah pergi, Aqilah pun ikut pergi ke kamarnya, meninggalkan Asma dan Ummi nya berdua.
"Ummi... kenapa istri Ustadz Bilal datang kesini?"
"Ada sesuatu yg harus dia selesaikan disini, Asma. Ada apa?"
"Entahlah. Sejak beberapa hari yg lalu perasaan Asma engga enak."
"Mungkin kamu gugup menunggu pengumuman kelulusan. Ini sudah malam, kamu pergi tidur. Ingat! nanti bangun dan laksanakan shalat malam"
"Insya Allah "
...... ...
Saat sholat subuh, Asma tidak melihat Bilal datang, mungkin dia sholat bersama istrinya. Asma teringat kembali saat pertama kali dia sholat malam dengan Bilal, dan membayangkan Bilal bersama wanita lain, entah kenapa dia merasa ada yg aneh,namun ia segera mengusir pikirannya itu. Lagi pula, yg wanita lain itu dirinya, sementara Khadijah adalah istrinya.
Asma mulai mengkhawatirkan dirinya sendiri yg semakin lama semakin merasa ada yg tak beres.
Di pagi harinya, Asma pergi ke dapur untuk mengambil air minum, dan disana, ia dikejutkan melihat Khadijah yg sedang memasak bersama Aqilah dan Aisyah. Mereka tampak sangat akrab.
"Kok tamu di biarin masak sih,Mbak " seru Asma
"Ya karena adeknya Mbak engga bisa dan engga mau masak" Aisyah menjawab nya.
"Ya kan ada Bi Ida"
"Bi Ida lagi bersih bersih. Oh ya, hari ini ke sekolah gih. Pengumuman kelulusan sudah ada di mading tuh" ucap Aqilah yg membuat Asma kegirangan. Ia pun segera pergi ke sekolah dan sudah banyak murid murid disana yg sedang memeriksa apakah namanya ada disana.
"Kita semua lulus" ucap lita yg tiba tiba sudah ada di belakang Asma.
"Kamu yakin? Aku mau liat".
"Mau desak desakan disana? Aku sudah liat kok, semuanya lulus" Asma melihat memang masih banyak teman temannya disana, ia pun mengurungkan niatnya.
Asma dan Lita pun pergi kerumah Lita yg tak jauh dari sana, sambil sesekali membicarakan rencana setelah wisuda. Rupanya Lita sudah memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya ke pesantren Di Surabaya, Sedangkan Asma masih tidak tahu harus kemana.
"Bukannya Kiai Khalil itu punya pesantren?"
"Iya, Pesantren Al Hikmah "
"Terus, kenapa kamu engga kesana aja? Karena Kiai Khalil dan paman itu teman, pasti dia sering jenguk kamu"
"Em ya juga sih, tapi di Jakarta, Ta. Jauh "
"Aduh neng. Sekarang ada pesawat kali, sejam udah nyampek" Asma tampak memikirkan hal itu. "Tapi kamu pasti melanjutkan ke pesantren kan?"
"Pasti lah, Ta. Karena kalau engga, bisa bisa aku di jodohin sama Abi "
Lita tertawa karena entah Kenapa Asma takut sekali di jodoh kan, terkahir kali ia coba di jodoh kan, Asma sangat nekat kabur ke jawa tengah sendirian, dan menginap di sebuah hotel yg ia booking online. Asma lakukan semua itu sebagai peringatan kerasa untuk Abi nya bahwa dia tidak main main dengan penolakannya, dan sejauh ini, peringatan itu berhasil, karena tak pernah sekalipun Abi nya membicarakan perjodohan lagi.
.
.
.
Kehadiran Khadijah menambah kebahagiaan dan keramaian di keluarga Asma, Khadijah bisa mengambil hati semua orang dengan sangat mudah, tak terkecuali Asma. Ia berhasil mendekati dan akrab dengan Asma. Sering menghabiskan waktu bersama layaknya seorang teman.
Asma juga sering sekali memergoki Bilal dan Khadijah yg begitu mesra, tampak jelas betapa besar cinta yg mereka miliki, kepedulian yg Bilal tunjukkan pada Khadijah membuat Asma merasa iri, sementara tatapan Khadijah yg penuh cinta pada Bilal, semakin membuat Asma iri.
Hingga hari wisuda datang, Asma sangat bersemangat menyambut acara itu, ia terharu saat namanya dipanggil, ia menerima sertifikat kelulusannya, setelah turun dari panggung, ia berlari ke arah Ummi nya dan menunjukan serfikat kelulusannya.
"Akhirnya, Ummi. Seharusnya dua tahun yg lalu Asma menerima sertifikat kelulusan ini dan mempersembahkan nya untuk Ummi. Tapi Asma belum mengerti betapa pentingnya ini saat itu, Sehingga Asma menjadi pemalas dan tak peduli "
"Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali, tapi akan lebih baik lagi, seandainya kamu tidak pernah terlambat. karena kita hidup berpacu dengan waktu" Ummi nya mencium kening Asma dan tak lama, Bilal dan Khadijah menghampiri mereka.
"Kamu terlihat menakjubkan dengan pakaian wisuda ini, Asma" Khadijah memuji nya dengan tulus, sementara Bilal hanya diam dengan wajah datar seperti biasanya.
Setelah acara selesai, keluarga Asma berkumpul di ruang makan, untuk merayakan kelulusan Asma, tak lupa pula sepupu nya, Lita. Yang selalu membantu Asma sebagai sahabat dan saudarinya.
"Lita akan melanjutkan ke pesantren mana?" Adil bertanya di sela sela acara makan mereka
"Surabaya, Kak. Abi sama Ummi juga setuju"
"Pilihan mu sendiri?" Lita mengangguk "Kamu pintar, Lita. Sudah bisa memutuskan hal seperti itu sejak sekarang" Adil berkata begitu berniat menyindir Asma namun seperti nya tak mempan, karena Asma tetap cuek dan menikmati makanannya dengan tenang. Hingga Abi nya yg bersuara.
"Kalau Asma mau kemana? Kalau ke pesantren Al hikmah di Jakarta, mau engga?" Asma sudah membuka mulutnya untuk menjawab Abi nya namun Lita malah mendahului nya.
"Kayaknya dia memang mau kesana, Paman. beberapa hari yg lalu kita pernah bicarakan itu"
Khadijah yg mendengar itu tampak sangat senang dengan jawaban Lita, ia pun segera mengonfirmasi nya pada Asma.
"Apa itu benar, Asma? Kalau benar, aku akan sangat senang. Aku juga mengajar di pesantren "
"Emm sebenarnya hanya berfikir kesana aja, belum yakin" jawab Asma
"Loh kenapa? Disana kamu sudah mengenal Khadijah dan Bilal. Pasti mudah beradaptasi kalau sudah ada yg dikenal, kan?" Ummi nya segera menyela.
"Ya apa kata nanti aja, Ummi. Kan masih ada banyak waktu"
"Baiklah, sekarang nikmati makanan mu, tapi fikirkan itu sekali lagi ya"
Asma mengangguk sembari tersenyum pada Umminya.
.
.
.
Dua hari setelah acara wisuda, Kedua orang tua Asma, Bilal dan juga Khadijah sudah memutuskan bahwa ini saat nya untuk memberitahu Asma tentang kebenaran Bilal dan dirinya.
Walaupun Bilal sempat tak ingin melakukan nya karena dia masih tak siap dengan reaksi Asma yg tak mungkin akan menerimanya dengan senang hati. Namun Khadijah berhasil meyakinkan Bilal, semakin cepat kebenaran ini di ungkapkan, itu semakin baik.
Usai sholat Maghrib, Abi Rahman memanggil Asma ke ruangannya, setiba nya disana, Asma dikejutkan karena sudah ada Ummi nya, Bilal dan Khadijah yg seolah sedang menunggu Asma, wajah mereka tampak begitu tegang, tatapan nya menatap Asma dengan tatapan yg sangat aneh dan tak Asma mengerti.
"Masuklah, Nak. Tutup pintu nya" Asma pun mengikuti perintah ayah nya. Melihat ekspresi mereka semua, membuat Asma merasa takut dan khawatir.
"Ada apa Bi, apa ada masalah? Wajah kalian semua sangat tegang" Asma menyeruakan rasa penasaran nya.
"Sayang, Abi dan Ummi ingin mengatakan sesuatu yg sangat penting "
"Sesuatu yg sangat penting?"
"Iya" Asma menatap semua yg ada diruangan itu bergantian, dan mereka semua menatap Asma dengan tatapan sayu.
"Abi bikin Asma deg deg an. Katakana aja, Bi"
Abi nya menatap Bilal dan Khadijah, sebelum akhirnya ia berjalan dan duduk disamping Asma. ia menggenggam tangan Asma dan menatap matanya.
"Kamu percayakan sama Abi? Apapun yg Abi lakukan, Abi melakukan nya untuk kebaikan Asma" perasaan Asma semakin tak karuan, jantung nya berdebar, hatinya bergejolak dan fikiran nya sudah kemana mana menduga ke arah mana pembicaran ini.
"Abi benar benar bikin Asma merasa penasaran dan juga takut"
Abi nya menoleh dan menatap Ummi nya sebelum akhirnya kembali menatap Asma.
"Sebenarnya kamu sama Bilal itu sudah..."
"Dijodohkan?" Asma segera memotong pembicara ayahnnya. Membuat semuanya tertegun. Namun sebelum sempat Abi nya menjelaskan, Asma dengan cepat berkata.
"Aduh, Bi. Abi ini gimana sih? Ustadz kan sudah punya Mbak Khadijah. Kasian kan Mbak Khadijah. Maafin Abi ya, Mbak" Asma menatap khadijah dengan rasa bersalah, membuat Khadijah menjadi salah tingkah dan tak tahu harus berkata apa.
"Asma, dengerin dulu penjelasan Abi..."
"Aduh Bi, apapun alasannya ya engga bisa. Lagian Abi tega banget ngomong kayak gitu didepan Mbak Khadijah langsung. Apa Abi bisa bayangkan bagaiamana perasaan Mbak Khadijah sekarang?"
"Asma...."
"Abi... Coba tanya deh sama Ummi, gimana perasaan Ummi kalau Abi dijodohkan sama wanita lain. Di bicarakan didepan nya lagi" Asma benar benar tidak memberikan Abi nya kesempatan berbicara, membuat Abi nya yg tadi tegang berubah menjadi kesal.
"Nak, dengarkan kami dulu, ini hal yg penting" Ibu nya pun berusaha menjelaskan.
"Ummi... Sudah ya, jangan bicara yang engga engga lagi. Sebagai seorang wanita, Ummi pasti mengerti perasaan Mbak Khadijah sekarang, ya kan Mbak? Mbak, tolong jangan ambil hati kata kata Abi sama Ummi ya"
"Ustadz juga... kenapa diam aja?" Kali ini Asma menatap tajam Bilal yg sejak tadi hanya menjadi pendengar, ia khawatir memikirkan diamnya Bilal tanda setuju.
"Karena kita engga di jodohkan, Zahra" mendengar jawaban Bilal, Asma langsung terdiam Dan menatap Bilal penuh tanda tanya.
Asma sekali lagi menatap Abi dan Ummi nya bergantian seolah ingin mengkonfirmasi apakah yg dikatakan Bilal itu benar, namun ekspresi wajah kedua orang tuanya itu masih tak terbaca.
"Em beneran, Ustadz?" Asma berkata pelan dan sangat berharap apa yg dikatakan Bilal itu benar. namun hatinya masih ragu "Terus kenapa kalian semua berkumpul disini?"
"Karena aku ingin memberi tahu mu, aku sudah menikahimu sejak 3 bulan yg lalu. Aku dan kamu sudah sah secara agama sebagai suami istri "
"APA?????"
▪️▪️▪️
Tbc....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Yus Warkop
kwnapa aku gak srek kalo denger poligani aku gak setuju sesek dada ini
2024-03-16
9
Rinjani
Asma sdh bisa baca gelagat kok Ustadz Bilal di rumah dan ada istrinya dtg yg ada Asma cuek ya dia gak suka poligami aku juga malas aaah
2023-03-20
1
Khodijah Cyti
2x baca novel ini tetap aja gak bosen
2022-11-15
1