"Gimana hari pertama kamu disini, Bilal?"
saat ini, Bilal dan Kiai Rahman sedang duduk berbincang di ruangannya sang Kiai.
"Lancar, Abi" jawab Bilal
"Sudah ketemu istri kamu?" Bilal mengangguk menahan senyum dan ia tampak merona. Menyadari hal itu, pria yg bertatus sebagai mertua nya itu tertawa geli.
"Kenapa wajahmu merona begitu? Apa kamu malu malu kucing seperti remeja?" Bilal pun ikut tertawa."Bagaimana dia? Apa dia menggoda mu? Biasanya dia selalu menggoda gurunya"
"Ya, tanpa terkecuali aku. Tapi bagaimana respon guru guru yg lain jika Zahra menggoda nya seperti itu?"
" Entahlah, Bilal. Semua orang tahu Asma itu ke kanak kanakan, aku yakin mereka tahu Asma hanya bercanda, tapi tak satupun guru nya menegur nya " Bilal terdiam dan mengingat ia telah menegur Asma. Itu artinya dia adalah orang pertama yg melakukan itu.
"Sebenarnya itu salah kami yg selalu memanjakan nya seperti anak anak"
"Ya, dia memang terlihat sangat ke kanak kanakan. Dan itu membuat ku takut"
"Takut kenapa?"
"Bagaimana respon nya saat tahu bahwa dia telah di nikahkan dengan ku, itu pun tanpa sepengetahuan nya, dan...dan menjadi istri kedua"
Sang Kiai terdiam, ia sebenarnya juga selalu memikirkan hal yg sama. Bahkan setahun yg lalu dia kabur hanya karena Abi dan Ummi nya membicarakan putra teman Kiai Rahman dan mengatakan mungkin dia akan cocok untuk Asma.
"Kita berdoa saja, Bilal. Abi yakin keputusan ini sudah tepat untuk putri Abi. Abi yakin kamu akan jadi suami yg baik untuk Asma, karena kamu sangat mencintainya"
"Semoga aku menjadi suami yg baik dan adil, Bi"
"Aamiin. Tapi kedua istri mu itu memiliki sifat yg bertolak belakang, Khadijah adalah wanita dewasa, anggun, sopan, pintar. Sementara Asma begitu ke kanak Kanakan, tengil, nakal, dan dia malas belajar"
"Tentu saja berbeda, Khadijah sudah 29 tahun sekarang, sementara Zahra bahkan belum genap 18 tahun. Seiring berjalannya waktu, Zahra juga akan seperti Khadijah"
Sang mertua menatap kagum pada menantunya ini, ia semakin yakin Bilal adalah pilihan terbaik untuk Asma. Walaupun perbedaan usia yg terpaut jauh, tapi disitulah nilai plusnya. Bilal dewasa, dan pasti bisa membimbing Asma.
"Baiklah,. Bi. Aku harus kembali ke Madrasah, masih harus mengoreksi hasil ujian"
"Iya, Nak. Oh ya malam ini makan malam bersama kami jika tugas mu sudah selesai"
"Insyaallah, Bi. Aku pergi dulu. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam "
.
.
.
.
"Bilal engga datang?" Abi nya bertanya pada Adil yg baru saja tiba di ruang makan.
"Katanya akan menyusul nanti, Bi. Dia masih membantu Farhan dan Aziz mengoreksi ujian para siswa"
"Ketiga menantu kita benar benar rajin rupanya" seru Abi.
Adil pun bergabung dan ikut makan bersama Abi dan Ummi nya.
"Menurut Adil, sebaiknya Bilal tinggal di lingkungan keluarga kita, Bi. Supaya dia bisa lebih dekat dengan Asma" Adil mengusulkan karena jika ia tinggal di lingkungan sekolah bersama guru guru yg lain, pasti akan sedikit sulit mendekati Asma.
"Ide yg bagus nak, nanti kamu bicara ya sama Bilal, tapi di kamar mana dia akan tinggal?"
"Hanya ada dua kamar yg kosong, di samping kamar Asma dan kamar Aisyah. Menurut Bilal di samping kamar Aisyah jauh lebih baik, karena se tahu Asma, Bilal hanya guru disini, dia akan menanyakan banyak hal jika dia tinggal di samping kamar Asma dan dia pasti tidak akan mau"
"Iya, itu benar"
.
.
.
Sementara itu, Bilal Farhan dan Aziz sudah selesai mengerjakan tugas nya, mereka bersiap kembali ke istri nya masing masing, dan saat itu, Adil datang dan memberi tahu Bilal keputusan Abi nya untuk menempatkan Bilal di lingkungan keluarganya, awalnya Bilal tampak ragu, dan takut dengan spekulasi guru guru yg lain jika Bilal tinggal di lingkungan keluarga Kiai Abdurrahman, sementara mereka tidak tahu bahwa Bilal adalah menantu nya. Hanya anggota keluarga saja yg tahu, kecuali Asma tentu nya.
"Engga apa apa, Bilal. Lagi pula, hanya beberapa hari, karena setelah itu Abi akan mengumumkan bahwa kamu adalah menantu Abi dan suami Asma"
"Baiklah"
"Oh ya, Farhan dan Aziz pasti saat ini sedang makan malam bersama istri istri nya, sebaiknya kamu kerumah, Bi Ida sudah siapkan makanan untuk mu"
.
.
.
"Mas Bilal mau teh?" Bi Ida bertanya sambil menuangkan air minum untuk Bilal, saat ini dia sedang makan malam di dapur dan di layani Bibi Ida.
"Air putih saja. Makasih, Bi"
Bibi Ida tersenyum dan kini ia bersiap mencuci piring setelah menyiapkan air untuk Bilal. Hingga tiba tiba teriakan Asma mengangetkan wanita paruh baya itu.
"Bibi... Asma lapar" teriak nya sambil merapikan pashmina nya asal.
"Astaghfirullah. Neng Asma, Bibi bisa jantungan kalau terus di teriakin seperti itu" seru sang Bibi yg membuat Asma tertawa kecil.
Asma yg melihat Bilal dari belakang mengira ia adalah Adil, ia pun berjalan mendekati nya namun langkah nya terhenti seketika saat sadar ia bukan Kakaknya.
"Astaghfirullah..." gumamnya dan segera merapikan pashmina nya kembali, memastikan menutupi kepala dan dada nya.
"Ustadz... Kok... Disini?"
"Kenapa?"
"Engga apa apa...cuma.... biasanya.... Ustadz itu tinggal dan makan di lingkungan sekolah"
Bilal mengangguk anggukan kepala nya tanpa berniat menjawab Asma.
"Neng Asma katanya lapar, duduk gih. Biar Bibi siapkan makanan nya" Asma tampak berfikir dan kemudian menggeleng.
"Asma makan di kamar aja" tuturnya kemudian.
"Duduk, Zahra! Kasian Bi Ida kalau masih harus nganterin makanan ke kamar mu"
"Hah?" Asma terkejut dengan nada perintah dari guru baru nya itu. Ia kemudian menoleh pada Bibi Ida dan menatap nya seolah bertanya 'apa ini?'
Bibi Ida yg sudah tahu segalanya hanya tersenyum dan kembali menyuruh Asma duduk, kemudian menyiapkan makanan nya.
"Bi, Asma engga mau rendang, mau mie instan aja" Asma mendorong piringnya dari hadapannya.
"Neng, jangan makan mie terus, tadi malam sudah makan itu"
"Tapi Bibi kan tahu Asma engga suka daging"
"Tapi bisa makan, kan?" Bilal menyela dengan cepat.
"Bisa...Tapi..."
"Ya sudah, makan. Makanan itu harus di syukuri dan jangan pilih pilih. Di luar sana banyak orang yg ingin makan daging tapi engga bisa, engga mampu beli, dan lagi pula, kasian juga Bi Ida kalau masih harus capek capek masak lagi"
Asma melongo tak percaya dengan apa yg di dengarnya, satu satunya orang yg biasa menceramahi nya panjang lebar hanyalah Umi nya, Abi dan kakak nya saja tidak pernah.
"Iya, Tapi..." Bilal menatap nya tajam seolah memerintahkan agar Asma diam dan makan. Asma pun terpaksa mengikuti nya saja.
"Baca doa dulu!" perintah Bilal tegas.
"Bismillahirrahmanirrahim"
Saat Asma hendak menyuapkan satu sendok nasi dan rendang kedalam mulutnya, Bilal kembali bersuara.
"Itu cuma bismillah, Zahra. Kamu engga hafal doa sebelum makan?" Bilal bertanya tapi menurut Asma dia menuduh dan itu membuat Asma kesal hingga membuat dia cemberut.
"Hafal lah, Allohumma barik Lanaa fima Rozaq tanaa waqinaa adzaa bannar"
Asma langsung menyuapkan makanan nya tadi sambil menatap tajam pada Bilal, namun Bilal malah dengan santai menanggapi nya dan ia makan dalam diam.
"Udah kayak rumah sendiri aja nih Ustadz" batin Asma bertanya tanya. Ia masih menatap Bilal tajam.
"Kenapa liatin seperti itu?"
"Engga apa apa" jawab Asma kemudian menunduk dan fokus pada makanan nya.
▪️▪️▪️
Tbc...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Latri Pbg
jgn glak" pk ustad
2025-03-02
0
peepeeek:^
kecewa berat🗿
2025-02-06
0
Danis Ananda
aku plg benci poligami
2024-08-20
1