"Karena aku ingin memberi tahu mu, aku sudah menikahimu sejak 3 bulan yg lalu. Aku dan kamu sudah sah secara agama sebagai suami istri"
"APA?????"
Asma berteriak kaget dan ia pun berdiri, memandang kedua orang tuanya dan Bilal secara bergantian, kedua mata nya melotot terkejut dan tak perfaya dengan pendengarannya.
"Itu engga mungkin.... bagaimana bisa? Aku engga tahu, engga di kasih tahu, itu_itu pasti cuma bercanda kan?"
"Itu benar, Nak. ijab kabul nya di mekkah 3 bulan lalu" Abi nya berkata hati hati, berharap Asma mau percaya dan mengerti.
"Tapi, Bi. Kenapa aku tidak di beri tahu? Ini pasti bohong kan? lagi pula ustadz itu sudah punya istri, Bi. Mbak...." Asma mengalihkan harapannya pada Khadijah "Ini pasti bohong kan? Kalian cuma bercanda kan?"
Khadijah yg hanya menggelengkan kepalanya membuat Asma terdiam lemas, ia bahkan merasakan nafasnya tercekat di tenggorokan nya. Kakinya seperti tak kuat menopang tubuhnya. Ia kembali menatap kedua orang tuanya dengan tatapan penuh kecewa dan amarah.
"Bi, jadi itu benar?" Asma bertanya lirih dan Abi nya mengangguk
"Dan tanpa sedikitpun memberi tahu ku?" Ia kembali berkata sangat lirih. "Ini pernikahan, benar benar pernikahan? dan aku tidak tahu?"
"Asma, dengarkan dulu penjelasan Abi, Nak..."
"Penjelasan apa, Bi?" untuk pertama kalinya, Asma berteriak marah didepan kedua orang tuanya, suaranya mulai bergetar dan matanya berkaca kaca "Aku...aku di nikahkan tanpa sepengetahuan ku? dengan pria yg tidak aku kenal sedikitpun? Dan ....Dan pria yg sudah beristri? kenapa Bi.....?. kenapa Abi tega sama aku?"
"Sayang, tenang dulu..." Ummi nya mencoba menggapai tangan Asma namun Asma dengan kasar menepis nya, ia tak lagi bisa membendung air matanya dan membiarkan amarahnya menguasainya.
"Ribuan kali aku bilang, aku engga mau di jodohin. Aku belum siap menikah. Aku masih 18 tahun, Abi....Ummi... Kenapa kalian engga mau ngerti sih?" di sela tanginya ia berkata penuh keputus asaan.
"Abi melakukan ini untuk kebahagiaan kamu sayang?"
"Kebahagiaan seperti apa, Bi? dengan menjadi orang ketiga? katakan padaku, apa itu yg Abi mau? Aku jadi perusak rumah tangga orang?" Asma menyeka air mata yg mengalir di pipinya dengan kasar, namun air mata sialan itu tetap mengalir tanpa henti. Asma mulai sesegukan dan tubuhnya bergetar karena tangisnya.
"Apa perasaanku sama sekali engga ada arti nya buat Abi sama Ummi? Kalian bisa memberi tahu ku lebih dulu sebelum mengambil keputusan gila itu, jika bukan untuk mendapatkan persetujuan ku, setidaknya biar aku tahu. Ini...Ini hidup ku Bi, aku yg akan menjalani nya. Aku yg tahu apa aku bisa bahagia atau engga. Kenapa Abi benar benar jahat?" tangis Asma semakin pecah, ia berjalan menjauh dari mereka, ia benar benar benci kenyataan ini.
Dengan mata yg sembab karena air mata yg tak berhenti mengalir, ia menatap marah pada Bilal.
"Dan kamu...." ia menunjuk Bilal penuh kemarahan "Apa yg membuat mu mau mendua? Bukankah istri mu sudah sangat sempurna? bukankah kalian saling mencintai? Apa kamu engga puas dengan apa yg kamu miliki?" Bilal tak tahu harus menjawab apa semua tuduhan yg Asma lontarkan padanya , dia hanya bisa menutup bibirnya rapat rapat dengan tatapan rasa bersalah dan luka.
"Zahra...maafkan aku...."
"Zahra....Zahra....Zahra...." Asma berteriak kesal dan menatap tajam pada Bilal. "Berhenti memanggil ku dengan nama itu!" teriaknya yg juga membuat Bilal terkejut, tak menyangka reaksi Asma akan semarah ini.
"Kalian semua jahat" Asma mengambil gelas yg di meja dan melemparnya ke lantai hingga pecah berkeping keping sebagai tanda kemarahannya, sontak itu membuat semua orang terkejut terutama kedua orangtua nya yg tak pernah melihat Asma se marah itu dan menjadi sangat kasar.
Asma segera berlari keluar tak peduli Ummi nya yg terus memanggil dan mengejarnya. Hingga tiba tiba ia tanpa sengaja menabrak Adil. Melihat Asma yg berlari dan berlinang air mata membuat Adil sangat khawatir. Adil menghapus air mata Asma dan bertanya
"Ada apa, Asma? Kenapa kamu nangis, Dek?"
"Kak...Abi sama Ummi jahat..." Asma segera memeluk Adil dan menumpahkan segala kesedihan dan kemarahannya.
"Maksud kamu?" bersamaan dengan itu, Ummi nya datang, ia pun berjalan pelan dan menghampiri Asma yg masih dalam pelukan Adil.
"Asma... Sayang ...." Ummi nya menyentuh pundak Asma namun Asma sekali lagi menepisnya, ia masih terisak dalam pelukan Adil. Adil yg mengerti penyebab air mata Asma, hanya bisa terdiam, ia mengelus kepala Asma penuh kasih sayang.
"Sayang, tenang lah..." Mendengar kata kata itu, Asma melepaskan pelukannya dan menatap curiga pada Adil.
"Kakak juga tahu itu?" lirih nya. Adil tak menjawab, dia hanya berusaha menarik Asma kedalam pelukan nya lagi namun Asma mendorong Adil mundur "Jadi kak Adil tahu? Apa semua orang tahu?"
"Tenang dulu Asma, biarkan kami menjelaskannya dulu" Asma menatap penuh kecewa pada Adil, ia berjalan mundur dan menjauh dari Adil dan Ummi nya. Ia juga melihat Abi nya, Bilal dan Khadijah datang. Asma segera berlari ke kamarnya dan tangis nya semakin menjadi.
Tak pernah menyangka keluarga nya akan se tega itu padanya, tak pernah berfikir hal itu akan terjadi padanya.
Bagaiamana mungkin keputusan yg sangat besar, tentang masa depan dan kehidupan nya, di putuskan begitu saja tanpa sedikitpun mereka membicarakan nya dengan Asma.
Asma mengunci pintu kamarnya, ia menjatuhkan dirinya ke ranjang dan menangis disana. Dan tanpa sengaja, ia Melihat salah satu novel yang belum selesai ia baca, Asma mengambil novel itu, merobeknya hingga tak berbentuk, ia benci novel itu, ia selalu benci cerita cinta segitiga. Ia bahkan tak habis fikir dengan penulis yg bisa membuat novel menyedihkan seperti itu, bagaimana dia menempatkan seseorang pada cinta segitiga yg sangat menyakitkan.
Dan sekarang... Takdir menempatkan nya disana. Tak puas menghancurkan novel itu, Asma berjalan dan mengambil weker yg ada di atas meja, ia melemparnya dengan kasar hingga pecah, ia mengacak ngacak ranjang nya hingga berantakan, tak puas dengan itu, ia berjalan ke arah lemari buku nya, dan melemparkan buku itu satu persatu sebagai pelampiasan amarah dalam jiwanya.
" Kenapa semua ini terjadi pada ku, kenapa? Kenapa? Kenapa engga ada yg ngerti perasaanku? Kenapa mereka semua lakukan itu pada ku?" Asma terisak dan terus mengacak acak kamarnya, sesuatu yg tak pernah ia lakukan sebelumnya, jiwanya yg kecewa dan marah pada kenyataan yg harus dia hadapi, membuat ia tak mampu menahan diri.
Hingga Asma tak menemukan apapun lagi yg bisa ia lempar dan menjadi pelampiasan kemarahannya, ia melihat boneka beruang nya yg
berwarna biru itu tergeletak di lantai, Asma mengambil nya dan hendak merusak boneka itu, namun ia mengurungkan niatnya, ia duduk di lantai dan bersandar pada kaki ranjang.
Asma masih menangis sambil memeluk boneka kesayangannya itu. Ia tak tahu sekarang bagaimana dia harus menjalankan kehidupan nya yg tak pernah ia bayangkan.
.
.
.
Sementara di kamarnya, Bilal tak bisa tidur, begitu juga dengan khadijah. Mereka saling memunggungi, sama sama sibuk dengan fikiran dan perasaan nya masing masing. Hingga tiba tiba, Bilal merasakan tangan khadijah yg melingkar di perutnya, dan Khadijah memeluknya dari belakang.
"Maafkan aku...." Khadijah berbisik, membuat Bilal segera berbalik dan menatap nya, Bilal membelai pipi Khadijah yg tampak nya semakin tirus"Dia benar benar marah "
"Dia hanya Shock, Khadijah. "
"Tapi Mas. Asma benar, ini tentang kehidupan nya dan.."
"Shhhttt" Bilal membawa Khadijah dalam pelukan nya, ia membelai rambut khadijah yg sudah di potong pendek "Tidurlah, sudah malam"
Khadijah memejamkan matanya dan memaksakan diri untuk tidur. Biasa nya, apapun masalah yg di hadapinya, ia akan tetap tertidur pulas dalam pelukan Bilal. Namun entah kenapa, saat ini ia masih merasa tak tenang dan tak bisa tidur.
Bilal menatap langit langit kamarnya, mengingat kembali saat pertama kali nya ia melihat Asma, dalam hitungan detik, Asma membuat hatinya bergetar, jantung nya berdegup kencang, ia tak bisa mengalihkan tatapan nya dari Asma saat itu, dan saat pertemuan pertama nya dengan Asma beberapa hari yg lalu, Asma yg selalu tampak ceria, bebas, dan bibirnya selalu menyunggingkan senyum manisnya, atau saat ia cemberut kesal dan menatap tajam Bilal.
Tapi apa yg dia lihat malam ini, di mata Asma hanya ada kemarahan dan kekecewaan. Bahkan saat melihat Asma menangis, Bilal seolah juga akan menangis.
"Ya Allah...Salah kah tindakanku ini?"
▪️▪️▪️
Tbc....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
sharvik
tntu sj slah bilal . . q sgt puas dg kmrahan asma . in pernikahan lo kok bisa si wanita gk tau gitu sah kah sperti it
2025-02-01
0
Magdalena Lena
Aku benci pria yang berpoligami apapun alasannya..😣
2024-12-31
0
Herta Siahaan
apapun hasil poligami itu aku sangat benci. Dan apapun kenakalan Asma seharusnya orang tua dan ustadz serta istrinya itu yg lebih paham agama dan pendidikan ilmu itu bukan ilmu agama tapi jg ilmu perasaan dan ilmu jiwa jg perlu. Jangan hnya krna janji surga tapi jiwa dan batin orang jd korban. Ada apa dengan keluarga Bilal kok harus menikahi Asma. Dan sehebat apa Khadijah mau dimadu. sudah Asma ikuti aja apa mau orang tua mu walaupun hidup mu akan tertekan krna demi Surga
2024-06-07
0