Rencana Taman Hiburan

Tatapan permusuhan terlihat di wajah Ara sedangkan Ferdiansyah memperlihatkan senyuman indah di wajahnya. Mereka berdua sedang menikmati sarapan bersama di meja makan. Ferdiansyah dengan sarapan ala ke baratan dan Ara sekarang sarapan dengan nasi uduk plus sambal pedas.

"memang perempuan aneh, nggak sakit perut makan cabe pagi-pagi." batin Ferdiansyah sambil memperlihatkan senyumannya.

"kerasukan apa bapak artis ini?" batin Ara curiga dengan gelagat yang tidak biasa*.

"eem... emm, kamu ada waktu nggak?" Ferdiansyah berbicara sehalus mungkin agar Ara tidak curiga.

"akting di mulai." sorak Ara di hati.

"nggak, kenapa?mau ngajak jalan?"

"Ya, pasti kamu bosan terus di rumah. Jadi sebagai suami yang baik hati, saya ingin ngajak kamu jalan-jalan"

"yes masuk jebakan."batin Ara.

"kemana?"

"Taman hiburan."

"kapan?"

"Malam nantik, gimana bisa?"

"bisa, tenang aja. Ara bisa kapanpun itu." jawabnya dengan bangga, "jam brapa?"

"siap shalat isya saya jemput. Saya mau berangkat dulu mau kerja." berdiri dan langsung pergi.

"Ya hati-hati." jawab Ara mengejar Ferdiansyah.

flashback on

Malam itu Ferdiansyah mencari di browsing apa saja yang di takuti oleh perempuan. Mulai dari ketinggian, Hantu dan masih banyak lagi. Teman kreasi yang cocok adalah taman hiburan di sana terdapat rumah hantu juga. Dan wahana-wahana yang memacu adrenalin seseorang.

"memang nggak sia-sia aku browsing." kata Ferdiansyah dengan tertawa*.

flashback of

Mungkin yang di pikirkan oleh Ferdiansyah itu adalah hal yang menakutkan bagi perempuan yang lain tetapi itu tidak berlaku bagi Ara. Karena hal tersebut adalah hal yang menyenangkan baginya.

Setelah Ferdiansyah pergi tak lama kemudian ada seseorang memencet bel rumah. Bibi Tutik yang mendengar langsung membuka pintu dan ternyata ibu yang di samping rumah berkunjung, ia adalah ibu Gita seorang istri CEO dari sebuah perusahaan properti. Memang kawasan yang tinggal di sini termasuk orang-orang kaya yang ramah. Ia sudah berumur walaupun begitu ia masih cukup muda di umurnya sekarang.

"assalamualaikum bik."

"wa'alaikumussalam Bu Gita. Ada apanya Bu?"

"Begini ada nak Ara nggak bik?" memang ketika mengantar risoles kepada tetangga Bu Gita dan Ara sempat berkenalan.

"ada Bu, sebentar bibi panggil dulu. Kalau gitu ibu masuk dulu."

***

"assalamualaikum Bu." salam Ara kepada Bu Gita.

"wa'alaikumussalam nak Ara."

"ada apanya Bu?"duduk di hadapan Bu Gita.

"gini Lo nak Ara, ibu kan ada acara syukuran di rumah jadi ibu mau minta tolong sama nak Ara. Bisa nggak ibu pesan risoles kemaren sama nak Ara." Bu Gita berbicara segan karena ia takut Ara tersinggung dengan perkataannya. Ia takut Ara menolaknya karena ia merupakan istri dari seorang aktor terkenal.

"Maksudnya ibu mau pesan risoles sama Ara?"

"iya nak, risoles yang kamu buat kemaren enak banget jadi ibu mau risoles itu jadi hidangan pembuka di acara syukuran di rumah ibu. Sekalian promosi juga nak Ara. Gimana nak Ara bisa ya."

"Bisa Bu, acaranya untuk kapan Bu?"

"Hari Minggu besok nak. Oh ya ini Dp nya dulu nantik lebihnya bilang sama ibu." memberikan uang 100 RB 3 lembar.

"Tunggu dulu Bu, ibu mau pesan berapa buah?"

"100 buah nak. Kalau gitu ibu permisi dulu ya. Oh ya ibu lupa mau minta nomor hp kamu." Ara menyebutkan nomor hpnya.

setelah Bu Gita pergi, Ara tersenyum dengan penuh semangat saking semangatnya ia menari-nari tidak jelas, kelakuannya pun langsung terlihat jelas oleh seseorang yang baru saja masuk ke dalam rumah. Ferdiansyah melihat kelakuan anehnya Ara, Ara masih asyik dengan tarian konyolnya tanpa di sadari ada seseorang di belakangnya.

"Hem.."Ferdiansyah sedikit keras agar orang yang asyik dengan dunianya sendiri itu peka. Ara yang mendengar langsung menoleh ke belakang dengan muka terkejut sambil memegang uang 300 ribu tersebut.

"aduh kok bisa ada dia sih?"batin Ara menjerit.

"se senang itukah kamu saya nggak ada di rumah?" dengan sedikit tatapan tajam milik Ferdiansyah, ia berfikir bahwa Ara senang apabila ia tidak ada di rumah.

"apa katanya?senang?itu termasuk juga." batin Ara tersenyum.

"kenapa senyum-senyum gitu?" Ferdiansyah mulai tidak nyaman dengan senyuman Ara.

"kenapa senyum kan sedekah, dosa istri senyum sama suami?"

"ya senyum sedekah tetapi nggak senyum kamu juga." dingin Ferdiansyah gengsi karena ia tidak mau melihat senyum Ara yang manis.

"ya ya ya, oh ya kenapa balek lagi?"

"itu bukan urusan kamu." langsung berlalu dan menuju lantai 2 tepatnya ke kamarnya.

"aneh, emangnya dia siapa presiden, dewan, polisi, artis pejabat? eh dia kan artis, ah sudahlah pusing kepala hadapin dia." masih berada di ruang tamu sambil berceloteh.

Tak lama Ferdiansyah turun ke bawah dan menatap Ara yang masih di situ. Dan Ferdiansyah hanya lewat saja tanpa berbicara, Ara hanya melihat kepergian Ferdiansyah dengan bingung. Setibanya di pintu Ferdiansyah berhenti tanpa berbalik.

"Besok-besok Jangan menari tidak jelas seperti itu, cukup saya saja yang melihatnya." kata Ferdiansyah tanpa berbalik dengan sedikit senyuman yang Ara tidak bisa melihatnya.

"yak.....awas aja." Ara masih kesel, Ferdiansyah sudah pergi.

Selain Ferdiansyah yang melihatnya ternyata bibi Tutik juga melihat kelakuan Ara dan bibi Tutik juga melihat perdebatan antar suami istri tersebut. Awalnya bibi ingin ke depan karena urusan karena ada suatu hal yang tidak memungkinkan untuk melewati ruangan tersebut terpaksa bibi Tutik menunggu sampai perdebatan itu selesai.

"eh bibi mau kemana?" tanya Ara melihat bik Tutik lewat.

"mau ke depan nak Ara."

"oh kalau gitu Ara mau ke dapur dulu ya bik."

"ya nak Ara." dengan tersenyum

***

Malam

setelah shalat isya, Ara bersiap-siap untuk pergi bersama Ferdiansyah ke taman hiburan. kali ini tampilan Ara terbilang biasa tetapi tetap keren dengan balutan hijabnya.

kira seperti gambar di atas gaya Ara. Dengan gaya yang santai tetapi keren. Ara tidak memakai kaca matanya.

Tok Tok Tok

"sudah siap?" tanya Ferdiansyah ketika pintu kamar Ara terbuka.

"sudah, kapan tibanya?" memperlihatkan tampilannya.

"kok beda banget kalau di rumah."batin Ara memperhatikan penampilan Ara.

"kenapa? ada yang salah ya?" merasa risih ketika Ferdiansyah memperhatikan dirinya.

"kamu mau pergi seperti ini?"

"iya kenapa? kita kan mau ke taman hiburan. kalau pakai gamis nantik nggak leluasa mainnya." jelas Ara.

Tampilan Ara ketika sedang di rumah.

"beda kali perempuan satu ini. Kalau aku ajak ke acara resmi mungkin beda banget." batin Ara.

"nggak makan dulu bang?"

"ha?" terkejut karena Ferdiansyah sedang tidak fokus.

"nggak makan dulu?"

"di luar aja sekalian. Kamu sudah makan?"

"udah siap Maghrib tadi."

"kalau gitu, ayo cepat."

Ferdiansyah menitip pesan kepada bibi bahwa mereka pulang sedikit malam. Bibi yang mendengarnya pun senang akhirnya Ara bisa juga jalan-jalan berdua.

Selama perjalanan Ferdiansyah terkadang mencuri pandang kepada Ara yang duduk di sebelahnya yang asyik dengan dunianya sendiri.

Ia berfikir apakah rencananya akan di lanjutkan atau tidak, akhirnya setelah bergulat dengan batinnya ia akan melanjutkan rencananya.

sekian dulu ceritanya

ini cerita perdana Ku jadi harap maklum kalau ada kata-kata yang salah dalam penulisannya.

gambar hanya sebagai gambaran dari pemainnya agar pembaca bisa membayangkannya.

jangan lupa vote dan follow

terimakasih 🙏🏻

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!