Risoles Ayam 1

malam hari

setelah permasalahan mengenai risoles sore tadi. kini mereka akan makan malam, Ara yang selesai menunaikan ibadah nya langsung menuju dapur untuk membantu bibi Tutik yang menyiapkan makan malam.

"sini Bik, biar Ara bantu."

"jangan nak Ara, biar bibi aja inikan sudah tugas bibi."

"tenang aja bik, ini juga tugas Ara. Jadi sama-sama aja kita masak bik." mengambil risoles yang akan ia goreng.

"mau di goreng nak?"

"ya bik." mulai menggoreng risoles sedangkan bibi sudah menata masakan di meja makan.

Ferdiansyah yang baru turun dari lantai 2 langsung ke dapur setelah mencium wangi yang harum. Bibi Tutik yang melihatnya tersenyum dan bibi tidak kembali ke dapur karena ia tidak ingin mengganggu keromantisan pengantin baru. Niat awalnya bibi ingin ke dapur untuk membantu Ara karena tugasnya sudah selesai.

"ngapain?" kata Ferdiansyah. Ara yang sedang asyik menggoreng menoleh ketika mendengar suara yang tidak asing di telinganya.

"menggoreng." jawab Ara seadanya.

"nggak makan?" yang berada di samping Ara, Ferdiansyah mencium wangi risoles yang membuat perutnya ingin menyantap nya.

"bentar lagi, tanggung." Ara meniriskan risoles yang sudah matang ke dalam saringan dan menata nya ke dalam piring. Ferdiansyah yang melihat risoles sudah selesai ia langsung menuju ke meja makan di ikuti Ara yang membawa risoles.

"kemana bibi?" tanyanya kepada Ferdiansyah.

"palingan di belakang." duduk di kursi.

Tanpa banyak tanya Ara langsung mengambil piring dan memasukkan nasi, Ferdiansyah yang melihat bingung. Karena bukan dia yang pertama ambil nasi melainkan Ara.

"segini cukup?"

"apa?mana saya tau, itukan untuk kamu."

"siapa yang bilang untuk Ara, ini itu untuk kamu. Walaupun nggak sekamar setidaknya Ara baik mau nyiapin makan suami."

"jadi maunya sekamar sama saya." menggoda Ara dengan nada dingin.

"nggak juga." dengan cuek

"kenapa siapin makan segala? kan beda kamar."

"setidaknya hargai, usaha orang. Ini cukup atau nggak?"

"tambah sedikit lagi."

"lauknya apa?"

"semuanya aja."

"oke."

setelah piring Ferdiansyah sudah di penuhi oleh makanan, tetapi satu yang tidak di masukkan yaitu risoles.

"kenapa risoles nya nggak ada?" tanya Ferdiansyah, Ara yang ingin memasukkan makanan ke dalam mulut berhenti karena kalimat Ferdiansyah.

"tapi tadi bilang nggak suka, sekarang mau risoles. kalau mau ambil aja sendiri." melanjutkan makannya. Tanpa berkata Ferdiansyah mengambilnya dan langsung memakannya.

"kalau bilang enak, bilang enak nggak usah gengsian."

"saya nggak gengsi, biasa aja." melanjutkan makannya. " risolesnya lumayan" lanjutnya.

"bilang enak apa sih susahnya" lirih Ara.

Risoles yang di goreng Ara sudah habis, Ara hanya memakan 2 buah saja sedangkan yang di goreng oleh Ara 8 buah.

"kalau doyan bilang." batin Ara.

Tanpa berbicara Ferdiansyah meninggalkan meja makan dan langsung menuju lantai 2. Ara yang masih di meja makan membersihkan piring-piring untuk di cuci di wastafel.

ketika ingin mencuci tiba-tiba suara bibi terdengar dengan tergesa-gesa seperti habis di kejar orang.

"maaf nak Ara, bibi tadi lupa." sedikit ngos-ngosan.

"kenapa bik, lupa apa?" Ara membalikkan badannya.

"lupa cuci piring, biar bibi aja nak Ara." menuju wastafel.

"nggak perlu bik, ini sedikit kok." tolak Ara halus.

"biar bibi aja nak." segan

"gini aja bik, bibi yang cuci biar Ara yang bilas. kalau berdebat juga nantik kerjanya nggak selesai." memberikan saran yang masuk akal.

"oh iya-iya, bibi jadi ngerepotin nak Ara."

"tak masalah bik, cuma cuci piring kok."

asyik dengan mencuci piring terkadang Ara banyak menanyakan tentang hal-hal apa saja yang di lakukan di rumah ini. Mulai dari pagi sampai malam. Dari menu makanan, sampai-sampai menanyakan kesukaan tuan rumah.

"makanan yang nggak di sukai Artis apa bik?" membilas gelas dengan serius tanpa berpikir ucapannya membuat bibi bingung.

"artis siapa nak Ara?"

"oh maksud Ara Abang Ferdi bik."

"nak Ferdi nggak suka makan pedas nak, kalau makan pedas pasti mukanya merah. Kalau terlalu pedas kali ujung-ujungnya ke kamar mandi." terang Bik Tutik.

"gitu ya bik sampai segitunya kali. Pernah nggak bik dia di kasih makanan pedas sama temannya?"

"pernah, kalau nggak salah pas temannya lagi buat blog ke sini trus di kerjain akhirnya dia ke kamar mandi." bik Tutik cemas mengingat hal tersebut. Sedangkan Ara yang mendengar perkataan bibi Tutik tersenyum di dalam hati.

"satu kelemahan terungkap, awas macam-macam sama Ara, kamar mandi menunggu anda." batin Ara tertawa.

"dia suka risoles nggak bik?"

"setau bibi, nak Ferdi jarang beli jajanan goreng nak. Tapi bibi kurang tau kalau di luar soalnya kalau di bawa ke rumah nggak pernah bibi lihat palingan di beli nasi goreng, pizza, bakso, pecel lele, banyak sih." setelah berbicara cukup lama, kegiatan mencuci piring dan bersih-bersih dapur pun sudah selesai.

"bik, kalau sama Ara jangan sungkan-sungkan ya bik. Anggap aja Ara anak bibi, Ara udah anggap bibi kayak ibu Ara."

"ya nak Ara, bibi terharu mendengarnya." sedikit mendramatisir.

"sudahlah bik, jangan mendramatisir. pasti ketularan artis itu kan bik, kalau Ara sarankan jangan banyak nonton yang alay-alay bik." bibi yang mendengar itu tersenyum.

"bibi mau nggak temenin Ara nonton?"

"nonton apa nak?"

"drama Korea bik. males sendirian jadi mau ngajak bibi."

"kenapa nggak sama nak Ferdi?"

"malas bik, nantik nggak jadi nonton malah di omelin." alasan Ara padahal belum pernah ngajak.

"bukannya bibi nggak mau nak, pekerjaan bibi masih ada yang belum selesai di belakang." tak enak menolak keinginan Ara.

"okelah bik, kalau gitu Ara ke atas dulu ya bik." bagi Ara hal seperti itu biasa dan ia juga tidak bisa memaksa orang lain.

setibanya di kamar Ara yang melihat jam langsung mengambil wudhu dan mengerjakan shalat isya. setalah beribadah ia langsung mengambil laptop dan menonton drama Korea kesukaannya di lantai dengan alasan meja kecil dan beberapa risoles di piring yang telah di beri Ara cabe rawit pedas di dalamnya.

Di tengah-tengah drama berlanjut Ara mendengar suara pintu di ketok. Ia langsung mengambil jilbab instan yang berada di rak mukena miliknya dan langsung memakainya. Selama menikah Ara belum pernah membuka jilbab di depan Ferdiansyah sama sekali. Dan Ferdiansyah juga tidak ada menuntut nya.

"kenapa?"membuka pintu yang terlihat adalah wajah Ferdiansyah sedang menahan rasa sakit.

"lagi ngapain?"

"nonton kenapa?"

"tolong urut kan kepala saya, kepala saya sakit."melangkah ke dalam kamar Ara tanpa izin pada pemiliknya. Pemiliknya kan Ferdiansyah kenapa harus izin pula. Ferdiansyah langsung duduk di tepi kasur dan melihat laptop yang sedang menyala yang memperlihatkan wajah oppa-oppa Korea sedang menyetir bersama perempuan di sampingnya.

"bisa matikan nggak, kepala saya sakit."

"siapa suruh kesini, Ara mau nonton malah di suruh urut kepala."

"jangan banyak protes, mau jadi istri durhaka? mending urut kepala saya." mendengar perkataan Ferdiansyah dingin Ara langsung mengambil minyak urut. Dan langsung mematikan drama koreanya.

"duduk di bawah." perintah Ara yang membuat Ferdiansyah menatapnya dengan bingung.

"kalau di atas, Ara susah mengurut nya. Kalau nggak mau nggak jadi urut." Ferdiansyah langsung duduk di bawah tempat tidur sedangkan Ara duduk di tempat tidur.

"emangnya anda aja yang bisa mengancam, ara juga bisa." batin Ara.

sekian dulu ceritanya

ini cerita perdana Ku jadi harap maklum kalau ada kata-kata yang salah dalam penulisannya.

jangan lupa vote dan follow

terimakasih 🙏🏻

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!