Bandara
perdebatan yang di hotel masih terjadi di bandara kali ini Ara yang memulainya.
"eh... kenapa bilang begitu sama orang tua saya? saya nggak mau nikah sama kamu." teriak Ara kesal.
"kecilkan suara anda, saya mengatakan sebenarnya dan kita akan pulang secepatnya. pertama-tama kita ke rumah anda, untuk menemui orang tua anda." Ferdiansyah dingin
"pokoknya saya nggak mau... titik"
"kalau anda tidak mau, siap-siap anda diserbu wartawan. Dan cepatlah pesawatnya akan berangkat" melenggang pergi tanpa melihat Ara dibelakangnya.
"biarin aja saya di serbu wartawan." tantang Ara. Ferdiansyah yang mendengar langsung otaknya berfikir untuk mengerjai nya.
"Anda tau, di serbu wartawan itu nggak enak, mulai dari lari-lari terkadang ada orang jahat yang berada di sana. Bisa jadi anda di bunuh atau di tembak karena anda adalah calon istri saya." menakuti Ara.
"apa benar dia psikopat." batin Ara melihat Ferdiansyah dengan intens.
"kenapa lihat saya seperti itu? saya memang ganteng tapi tidak perlu di lihat seperti itu." pede Ferdiansyah.
"kepedean."batin Ara
"Anda bisu atau tuli? Dari tadi saya ngomong terus tapi anda diam." mulai kesal.
orang-orang yang berada di sekitar mereka pasti melihat mereka dengan pandangan bahwa mereka berdua begitu romantis. Karena dari penglihatan mereka Ferdiansyah terus berbicara sedangkan Ara diam seolah-olah Ferdiansyah membujuk Ara. Dan realitanya mereka sedang bermusuhan.
"diam lah kepala saya sakit dengar anda berceloteh." mengambil minum lalu meminumnya.
"syukurlah anda berbicara juga." dengan senyum mengejek.
***
selama perjalanan terasa sunyi, Ferdiansyah tidur sedangkan Ara memikirkan kata-kata yang akan ia sampaikan kepada orang tuanya. Awalnya ia izin bekerja tetapi kenapa pulang-pulang sudah membawa calon suami. apalagi sosial media sudah menyorot wajahnya dan sudah tersebar luas. Banyak pesan dari WA masuk kedalam HPnya hanya sekedar memastikan bahwa berita tersebut benar atau tidak. Kepalanya pusing tujuh keliling sedangkan laki-laki yang ada disampingnya enak-enakan tidur tanpa beban.
"Ya Allah berikanlah petunjuk untuk Ara." memohon sambil mengadahkan tangannya.
"itulah petunjuknya, anda akan menikah dengan saya." ucap orang yang berada disampingnya masih tetap menutup mata.
"nyambung aja."batin ara
selama penerbangan Ara tidak ada tidur sedangkan artis tersebut tidur tanpa beban dan pikiran sama sekali. Ara sesekali melihat Ferdiansyah yang tertidur.
"seperti nya dia banyak masalah, atau jangan-jangan ini hanya nikah kontrak yang seperti di novel-novel?" batin Ara.
"jangan pikirkan yang tidak-tidak. Saya nikahi kamu memang dari hati saya bukan hal-hal yang kamu pikirkan." sebenarnya Ferdiansyah tidak tidur ia hanya menutup mata saja. Ara yang mendengar nya terkejut karena dia berfikir Ferdiansyah tidur.
"saya nggak mikir macam-macam kok. Cuma aneh saja tiba-tiba di lamar." jawab Ara bingung
"istirahat aja dulu, perjalanan kita cukup memakan waktu." masih menutup mata.
"perhatian kali dia."batin Ara.
"saya nggak perhatian sama kamu, cuma mengingat kan, jangan kepedean."
"saya tau, terimakasih tuan telah mengingatkan diri saya agar beristirahat." jawab Ara dengan se sopan mungkin dengan penyebutan (tuan). Ara langsung memejamkan matanya dan menolah ke arah kanan agar tidak melihat wajah Ferdiansyah yang berada di kiri.
Ferdiansyah mendengar jawaban Ara yang mengatakan bahwa ia adalah (tuan) langsung membuka mata dan menggeleng-geleng kepala mendengarnya.
Tibanya di tempat tujuan mereka berdua diserbu oleh wartawan, untungnya persiapan melewati wartawan sudah di ancang-ancang sebelumnya. Dan mereka selamat melewatinya, tujuannya kali ini adalah rumah Ara karena Ferdiansyah akan mengatakan niat baiknya kepada keluarga Ara.
Ketika memasuki Gang rumah Ara, tetangga banyak yang keluar tetapi bukan berkumpul mereka hanya sekedar penasaran apakah berita tersebut benar atau tidak. Secara artis terkenal akan menikahi perempuan biasa dan tinggal di kota yang jauh dengannya. ketika Ferdiansyah keluar dari mobil mata tetangga langsung terkejut ditambah Ara juga turun dari mobil yang sama. Mereka tidak akan menggangu privasi Ferdiansyah walaupun di hati mereka ingin tau, mereka masih melihat-lihat dengan jarak yang lumayan jauh.
mereka memasuki rumah minimalis, dibanding dengan rumah Ferdiansyah memang beda jauh, walaupun minimalis rumah tersebut rapi dan bersih begitu pula pekarangannya. Dan ada sebuah kedai yang kecil berada di samping rumah.
"assalamualaikum pa, ma" Ara mendahului untuk masuk, dan langsung menuju kamarnya.
"assalamualaikum pak, buk" ucap Ferdiansyah
"wa'alaikumussalam nak" mama dan papa Ara menjawab serentak dan sedikit gugup karena melihat wajah Ferdiansyah. "Duduk dulu nak, Ibuk kebelakang dulu Ambil air." mama Ara menegur Ara untuk menemani Ferdiansyah, sedangkan papa Ara sudah rileks memulai pembicaraan.
" kok Ara nya nggak didepan pa?" kembali membawa air minum
"papa nggak tau ma" mama Ara menuju kamar Ara dan melihat anaknya tidur-tiduran.
"kamu ada tamu masak dicuekin, pergi ke depan cepat." Ara mengikuti.
"Ya ya, Ara ke depan bentar lagi"
"sekarang aja cepat"
Setelah berbincang-bincang tentang mengenai lamaran mulai dari shalat, mengaji dan semuanya, kedua orang tua Ara menyetujuinya sedangkan Ara menatap kedua orang tuanya terkejut. pasalnya kedua orang tuanya tidak mendengar penjelasan Ara, semua hanya Ferdiansyah yang menjelaskan. ketika Ara akan menjelaskan kesalahpahaman pasti Ferdiansyah memotong pembicaraannya.
"karena lamaran saya sudah diterima, jadi orang tua saya akan datang besok dan insyaallah saya dan keluarga akan datang ke sini besok. Dan saya izin dulu pak, buk mau ke penginapan."
"kamu pulang dengan siapa nak?" bapak Ara bertanya.
"kalau nggak ada yang jemput biar adek nya Ara aja yang ngantar kamu" timpal ibu Ara sedangkan Ara tidak ingin ikut campur.
"nggak usah repot-repot pak, buk, saya pulang bareng asisten saya. Tadi saya suruh cari penginapan sekitar sini. jadi dia nggak ke sini dan sekarang dia sudah didepan pak."
Ferdiansyah sudah pamit pulang, ke hotel se tempat. Di perjalanan Haikal hanya melihat wajah Ferdiansyah yang begitu lelah. Ferdiansyah sendiri memejakan matanya untuk sekedar istirahat.
"gimana Lo?" tanya Haikal
"gue pusing jangan ngajak bicara." jawab Ferdiansyah dengan mata tertutup.
pembicaraan mereka berdua habis sampai di situ, Haikal berfikir bagaimana akhirnya karena Ferdiansyah memiliki hubungan dengan seseorang. Tapi ia tidak ingin membuat kepala Ferdiansyah menjadi mumet.
sesampainya di hotel Ferdiansyah langsung beristirahat begitu pula dengan Haikal.
"gue keluar bentar bro. Ada yang mau di titip?"
"nggak, gue mau istirahat." langsung tidur.
*sekian dulu ceritanya
ini cerita perdana Ku jadi harap maklum kalau ada kata-kata yang salah dalam penulisannya.
jangan lupa vote dan follow
terimakasih 🙏🏻***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments