suasana malam hari cukup sejuk, keluarga Ara sudah pulang ke rumah masing-masing ada juga kembali ke kampung tadi sore. stelah shalat Maghrib keluarga Ara langsung makan malam bersama begitu pula dengan Ferdiansyah. Ara berdiam diri di dalam kamar sedangkan Ferdiansyah keluar rumah setelah shalat isya dengan alasan ada pekerjaan yang harus di selesaikan. mama, papa dan adik Ara sudah masuk ke kamar masing-masing.
"kenapa sih nggak bisa tidur? kerjaan apa pula yang di urus, katanya dia di kota dia, astaghfirullah" pusing Ara, Ara membaca buku dan melakukan hal yang bisa ia lakukan seperti menyusun alat-alat bedak, buku dan merapikan baju.
tok tok tok
"Ra, buka pintu." kata Ferdiansyah, Ferdiansyah membawa motor matic Ara, di kunci motor terdapat kunci rumah. Sebelumnya Ara mengatakan kalau kunci rumah ada di sana jadi kalau pulang telat nggak ganggu orang yang tidur.
cklek....
Ferdiansyah melihat kerjaan yang belum selesai, baju-baju di atas karpet.
"kenapa baju-baju di luar?"
"tadi siap di lipat." melanjutkan menata baju ke keranjang.
" oh ya tadi saya ada kerjaan, jadi besok kita langsung ke rumah saya." Ferdiansyah membaringkan badannya ke kasur.
"nyaman ya."batin Ferdiansyah
"kok besok, tapi lusa depan baru balek?"
"iya, kerjaannya mendadak tadi saya di telfon nggak mungkin lusa pergi yang ada saya nggak ada istirahat nya. Besok juga kita berangkat bareng mama sama papa saya juga."
"Ara disini aja." lirih Ara karena ia masih ingin di rumah nya. Tetapi perkataannya masih bisa di dengar oleh Ferdiansyah.
"ha? kamu mau lihat saya jadi suami yang tidak tanggung jawab? nantik yang ada berita muncul. * aktor Ferdiansyah menelantarkan istri yang telah di nikahi ya* nggak enak di dengar. Ingat istri harus patuh sama suami." penjelasan Ferdiansyah yang cukup membuat Ara melihatnya dengan tatapan aneh.
"kalau suaminya salah harus di turuti?"
"mana ada yang salah, saya ngajak kamu pulang ke rumah saya."
"Tapi nantik kalau di sana, Ara nggak bisa lihat cimin lagi." sedih Ara.
"siapa cimin?" Ferdiansyah langsung duduk dari tempat tidur dan menatap Ara dengan tanda tanya. Nama tersebut agak asing di telinganya kalau di bilang perempuan nggak mungkin apalagi laki-laki.
"cimin kucing Ara."
Ferdiansyah langsung berbaring lagi setelah mengetahui cimin tersebut adalah seekor kucing.
"boleh nggak Ara bawa cimin." masih duduk di lantai dengan baju lipatannya. Tetapi tidak ada respon dari Ferdiansyah.
"cepat kali tidurnya." batin Ara.
***
sore harinya Ara beserta keluarganya dan keluarga Ferdiansyah sudah berada di bandara, pagi tadi Ferdiansyah menjelaskan kepada kedua orang tua Ara bahwa ia akan membawa Ara ke rumahnya yang berada di kota J******.
"Ara baik-baik di sana, patuh dengan suami." nasehat mama Ara sedangkan papa Ara sedang mengobral dengan papa Ferdiansyah.
"ya Bu."
"tenang aja Bu, pasti Ara baik-baik di sana." timpa mama Ferdiansyah.
Ferdiansyah datang membawa 3 gelas minuman yang akan ia berikan kepada mamanya dan mama Ara. lengkap dengan pakaian tertutupnya yaitu topi, masker dan jaket.
"untuk Ara mana?" tanya mama Ferdiansyah.
"Ara minum sama mama aja, nggak papa kok Bu." mama Ara.
"jangan Bu, ibu minum aja biar Ara berdua sama Ferdi. Kamu itu peka dikit kenapa?harusnya istri kamu belikan juga minuman." mama Ferdiansyah meminum minumannya.
"what? bagi?" batin Ferdiansyah.
"nggak usah ma, Ara minum ini aja." mengeluarkan botol minum mineralnya.
"yang benar aja, mau kali lah aktor satu ini bagi minumannya."batin Ara.
"kamu bawa minum?" tanya mama Ferdiansyah.
"iya Bu, Ara kalau mau pergi-pergi pasti nggak bakal tinggal botol minumnya, kebiasaan dari dulu bu." kata mama Ara.
setelah menunggu cukup lama akhirnya keluarga Ferdiansyah dan Ara berangkat. Selama perjalanan Ara bosan karena tempat duduknya tepat bersebelahan dengan Ferdiansyah sedangkan kedua orang tua Ferdiansyah berada di depan mereka.
Ferdiansyah asyik dengan dunianya sendiri yaitu mendengarkan musik sambil menutup mata. Ara menginginkan sesuatu makanan yang pedas-pedas. Ara langsung memesan melalui web dari pesawat. pesawat yang mereka gunakan adalah pesawat no 1 di negara ini dengan layanan first class.
"udah pesawat yang paling bagus, sekarang duduk di first class. kaya Kalilah aktor satu ni." batin Ara sambil melihat Ferdiansyah dengan kegiatannya.
Tidak lama kemudian, seseorang perempuan datang dengan ramah dan senyuman yang selalu terpancar di wajahnya, siapakah dia? ya dia adalah pramugari.
setelah mendapatkan keinginannya Ara mengucapkan terimakasih dan ingin langsung memakannya, tetapi tidak jadi karena sang aktor yang berada di sebelah kirinya bangun.
"apa tu?"
"mie, kenapa?"
"saya mau, kamu pesan lagi." mengambil mie Ara tanpa persetujuan dari pemilik.
"yak... kan bisa pesan sendiri itu punya Ara." jengkel Ara ketika Ferdiansyah sudah memakan mie ke dalam mulutnya. Satu kunyahan, dua kunyahan, dan tiba ketiga Ferdiansyah langsung mencari air dengan wajah yang merah.
"itu mangkanya ambil mie orang sembarangan." mengambil mienya kembali dan memakannya begitu pula dengan sumpit bekas Ferdiansyah.
Ferdiansyah tidak bisa berkata-kata karena ia merasa mulutnya tebal dan telinganya pedas. Ferdiansyah tidak suka makanan yang terlalu pedas, mie kali ini adalah mie yang pedasnya di atas rata-rata. Ferdiansyah melihat Ara yang asik makan mie tersebut tanda minum.
"kenapa nggak bilang mienya pedas?" omel Ferdiansyah sesekali minum.
"siapa nggak nanya, mangkanya kalau mau ambil tanya dulu ini pedas atau nggak." celoteh Ara sepedas mienya.
"ya itu kan salah kamu juga." Ferdiansyah tidak terima dia salah.
"bisa diam nggak, Ara makan." fokus dengan mienya.
"lain kali jangan pesan mie kayak gitu lagi, takut lambung sakit." ceramah Ferdiansyah, Ara yang sedang mengunyah mie yang berhenti dan langsung menatap Ferdiansyah yang fokus dengan hpnya dengan wajah yang masih sedikit merah.
"bukan saya perhatian sama kamu, takutnya lambung saya yang sakit." Ferdiansyah tau Ara sedang melihatnya mangkanya ia mengelak perkataan pertamanya.
"mmmm." terus menyeruput mienya sampai tandas.
"parah mie sepedas itu bisa di habisin sama cewek bar-bar ini." batin Ferdiansyah geleng-geleng kepala.
Setelah insiden mie pedas, Ara istirahat begitu pula dengan Ferdiansyah. Perjalanan mereka berjalan selama 1 jama setengah. Selama menuju rumah keluarga Ferdiansyah, Ara masih mengantuk sedangkan Ferdiansyah sibuk dengan smartphone nya.
mereka tiba di rumah setelah shalat isya, Ara yang melihat rumah keluarga Ferdiansyah kagum tetapi ia bisa menutupi kekagumannya. apabila diperlihatkan maka Ferdiansyah akan besar kepala. kedua orang tua Ferdiansyah sudah beristirahat di dalam kamar dan tinggallah mereka berdua di ruang keluarga.
"ikut saya." tanpa menolong Ara yang memegang koper.
"nggak ada gitu niat nolong."batin Ara mengikuti Ferdiansyah ke lantai 2.
Ferdiansyah memasuki kamarnya lalu di ikuti oleh Ara. Kamar Ferdiansyah sangat luas kalau di bandingkan dengan rumah Ara, luas kamarnya hampir sama dengan luas ruang keluarga di rumahnya.
"kenapa? kamu mau bandingkan kamar aku sama kamar kamu?" melihat Ara yang melihat-lihat kamarnya.
"siapa yang mikir gitu." sewot Ara meletakkan kopernya di samping lemari.
"yang ada Ara bandingkan sama ruang keluarga rumah Ara."batin Ara
"besok aja susun kainnya, soalnya kita langsung ke rumah saya." Ferdiansyah melihat Ara membuka kopernya.
"jadi kita nggak tinggal disini?" pertanyaan Ara tidak di jawab karena Ferdiansyah masuk ke kamar mandi.
"kenapa nggak langsung ke rumah aja kalau gitu? kenapa harus di sini?" kesal Ara.
Tanpa menunggu Ferdiansyah dari kamar mandi, Ara langsung tidur karena badannya merasa kecapean.
sekian dulu ceritanya
ini cerita perdana Ku jadi harap maklum kalau ada kata-kata yang salah dalam penulisannya.
jangan lupa vote dan follow
terimakasih 🙏🏻
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments