seperti yang di katakan oleh Ferdiansyah sebelumnya, pagi ini mereka akan pulang ke rumah mereka. Suasana pagi begitu mendukung, Ara, mama dan bibi Lela membuat sarapan bersama. kali ini menunya tidak berat-berat hanya beberapa air minum seperti susu dan kopi ditambah roti.
"sarapan rang elit."batin Ara.
"biar Ara aja ma yang letak." mengangkat nampan yang berisi air minum.
"kalau gitu, mama ke kamar dulunya mau siap-siap sekalian siapkan kebutuhan bos." papa dan mama sudah mulai masuk kerja, walaupun rumah sakit milik sendiri tetapi aturan tetaplah aturan. Awalnya mama Ferdiansyah tidak ingin masuk karena ia ingin mengobrol banyak dengan Ara, tetapi Ferdiansyah mengatakan bahwa mereka kan pindah pagi ini juga sekalian berdiam sebenarnya itu adalah akal-akalan Ferdiansyah agar ia bisa bebas.
ketika sarapan mama dan papa sudah rapi dengan setelan kerjanya.
"kalau bisa besok saja pindahnya nak." ucap mama citra.
"nggak bisa ma, kan mama sudah tau alasan Ferdi tadi." melanjutkan sarapannya.
setelah meminta izin kepada kedua orang tua mereka, Ferdi dan Ara langsung menuju rumah mereka. jaraknya tidak terlalu jauh yaitu sekitar 45 menit dari rumah orang tuanya. Ketika sedang macet bisa sampai 1 jam seperempat. Begitulah kehidupan ibu kota tak luput dari kemacetan.
sepanjang jalan mereka berdua hanya diam tanpa di iringi lagu, itu semua membuat Ara menjadi bosan.
"nggak ada gitu musik pengiring." celetuk Ara.
"kalau mau dengarkan musik hidupkan saja sendiri." masih sibuk dengan menyetir.
karena mendapatkan izin walaupun tidak lembut Ara langsung menghidupkan musik. Tepat sekali musik yang keluar adalah musik K-Pop, Ara langsung menyanyikannya tanpa memperdulikan Ferdi yang berada disampingnya. Ketika rap di mulai maka di situlah adegan absurd tiba, dengan mulut yang komat Kamit dengan bahasa Korea dan gerakkan tangan seperti orang rapper pro.
setalah perjalan penuh dengan rap ala Ara sampailah mereka di rumah yang di tuju. rumahnya minimalis dan besar untuk penghuni yang berjumlah 2 orang saja. Ferdiansyah menggunakan jasa tetapi beda rumah, pembantunya berada di belakang rumah begitu pula dengan supir. Ada rumah khusus untuk pekerja di rumah utama.
"eh nak Ferdi udah datang." seorang bibi membuka pintu, ia bernama bibi Tutik.
"iya Bu." langsung masuk tanpa membantu Ara yang membawa koper.
"assalamualaikum Bu." Kata Ara yang masih berada dekat pintu utama.
"wa'alaikumussalam non..." bingung mau bilang apa.
"Ara aja Bu."
"jangan panggil Bu toh non, bibi Tutik aja." segan bibi Tutik.
"oke Bik." mengacungkan jempolnya.
"sekarang Ara boleh masuk nggak bik?" karena masih terhalang oleh bibi Tutik.
"oh maaf non Ara, biar bibi bantu non."
"nggak usah Bik, Ara bisa sendiri kok. oh ya bik bibi bisa tunjukkan aku kamar Abang Ferdi?"
"ayo non bibi tunjukkan." berjalan bersama menaiki tangga ke dua
"jangan panggil non lah bik, panggil Ara aja."
"kalau nak Ara gimana?"
"boleh bik."
sampailah mereka di depan kamar Ferdiansyah. koper Ara tidak terlalu berat tetapi ketika menaiki tangga beban koper tersebut terasa berat, jadi Ara dan bibi mengangkatnya bersama-sama.
"kalau gitu bibi permisi kebawah dulunya nak Ara."
"ya Bik, makasih banyak bik sudah bantu Ara."
"sama-sama nak." langsung menuju ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya.
Tok Tok Tok
tidak ada sahutan dari dalam kamar, ketika Ara ingin memegang gagang pintu, seseorang langsung membukanya.
"kenapa?" siapa lagi kalau bukan Ferdiansyah.
"mau masuk lah." tapi Ferdiansyah masih menatap Ara.
"nggak boleh."
"trus Ara tidur di mana?" kesal Ara.
"cari aja sendiri, lagi di sini banyak yang kosong." menutup kamar.
"yak..... " dengan suara keras lalu menyeret kopernya ke setiap kamar yang berada di lantai 2. Sebenarnya itu adalah rencana Ferdiansyah agar Ara kesal, pasalnya setiap kamar yang berada di lantai 2 sudah ia kunci semuanya.
Tidak lama kemudian seseorang mengetuk pintu kamar Ferdiansyah begitu keras.
"BUKA....." mengedor-ngedor pintu. Ketika pintu di buka Ara langsung masuk tanpa memperdulikan Ferdiansyah yang hampir jatuh.
"bisa pelan-pelan nggak? kayak kesetanan aja jadi orang."
,.
" ya kamu se...." ucapannya terpotong karena itu adalah kata-kata kotor yang akan ia tujukan kepada suaminya.
"astaghfirullah, astaghfirullah mulut-mulut." menepuk-nepuk mulutnya.
"mana kelanjutannya, saya mau lihat gimana istri yang durhaka sama suaminya." goda Ferdiansyah, ntah kenapa dia suka sekali membuat Ara menjadi kesal.?-?
"nggak ada, lanjutkan aja sendiri. saya kesal, saya dari tadi bawa koper trus udah angkat koper, nyeret sana kesini, malah di kerjain." ngomel Ara.
"tadi bilang (Ara) sekarang (saya), anda tidak konsisten."
"udahlah Ara capek, mau minum." melangkah ingin keluar.
"bawakan saya juga minum dingin." teriak Ferdiansyah dari dalam kamar.
setelah sampai di dapur seseorang berteriak sangat besar.
"saya keluar." Ferdiansyah berkata dengan keras. Yang membuat Ara yang sedang mengambil air minum menjadi menggerutu.
"tadi suruh ambil air, sekarang malah pergi."
Ketika keluar dari dapur Ara berjumpa dengan bibi Tutik. Ara penasaran kemanakah Ferdiansyah pergi karena ia tidak ada ngomong secara langsung.
"bik, bang Ferdiansyah ke mana?"
"kurang tau nak Ara, biasanya kalau nggak ke tempat syuting kalau nggak ke gedung entertainment." jelas bibi memegang sapu.
"oh gitu ya bik. bik biasanya siap nyapu bibi ngapain lagi?"
"biasanya bibik, mencuci pakaian kalau nggak menyetrika baju."
"Ara boleh bantu nggak bik?"
"jangan nak Ara, itukan kerjaan bibi."
"Ara bosan bik, kalau nonton tambah pusing."
"gimana nak Ara belanja aja?"
"nggak bik, Ara malas."
bibi terus memberi saran kepada Ara tetapi saran itu semua tidak sesuai dengan Ara. Mulai dari belanja, salon, gym, berenang, dan yang bersangkutan dengan kehidupan sosialita.
"Ara pengen buat cemilan aja bik. Ada tepung, ayam, sama sayuran kan bik."
"ada nak Ara, semuanya lengkap di kulkas. Nak Ara mau buat apa, biar bibi bantu."
"jangan bik, bibi kerjakan yang lain aja. Kalau sudah selesai nantik Ara kasih tau bibi. Sekalian Ara juga mau kasih sama tetangga-tetangga di sini." tersenyum.
"oke kalau gitu nak Ara, bibi lanjut kerja yang lain." melangkah menuju tempat cuci kain.
"sip bik." mengacungkan jempolnya.
Ara mengeluarkan bahan-bahan yang ada di dalam kulkas yang sesuai dengan resep andalannya. Ara ingin membuat cemilan seperti risoles dengan isian cincang daging ayam di campur dengan sayuran. Ara melihat dapur yang sama dengan harapannya kelak ketika ia sudah memiliki rumah.

Dapur yang inginkan pun sudah terwujud, Ara menjadi lebih semangat lagi untuk memasak. Ia tidak menyangka bahwa semua ini nyata.
"semua bahan udah lengkap, waktunya mengolah." selama membuat adonan kulit dan memotong-motong ayam dan sayuran Ara kerjakan sendiri tanpa bantuan siapapun. Memang ini adalah hal yang biasa bagi Ara karena dulu ia pernah berjualan risoles ketika ada yang pesan saja tetapi isinya hanya sayuran saja, kalau di tambah ayam maka harganya akan lebih mahal lagi.
Asik dengan dunia memasaknya, akhirnya Ara selesai juga membuat risoles. Jumlahnya sekitar 65 buah, karena ia berniat mau memberi tetangga-tetangga sekitar rumahnya dan sambil bersilaturahmi.
"akhirnya selesai juga, bagusnya di kasih pakai piring atau kotaknya." Ara berpikir, bibi Tutik melihat keadaan dapur dan ia melihat begitu banyak risoles yang berada di dalam kotak besar.
"sudah selesai nak Ara? kok banyak banget? itu nak Ara sendiri yang buat?" tanya bibi Tutik bertubi-tubi.
"eh iya Bik, ini sekalian Ara mau kasih ke tetangga. Oh ya bik, ada kotak nggak kayak kertas gitu bik, untuk bungkus risol."
"setau bibi ada nak Ara, bentar bibi lihat dulu soalnya kemaren nak Ferdiansyah suruh beli karena ada syuting masak gitu sama temannya." mencari kotak plastik tersebut di lemari dapur.
"yang ini nak Ara." menunjukkan kertas tersebut yang belum di lipat.
"ya Bik, ada banyak nggak bik?"
"banyak nak."
"boleh nggak Ara minta bik?"
"ambil aja nak, lagian siapa yang mau pake lagi."
"oke Bik, makasih banyak bik." mengambil kotak tersebut lalu menyusun risoles ke dalamnya.
"bibi bantunya nak Ara."
"ya Bik, makasih banyak."
"ini mau di buat berapa kotak nak Ara?"
"buat aja 6 kotak bik." Mereka berdua menyusun risoles ke dalam kotak.

"bibi, teman kan Ara bagikan ini ya bik."
"iya nak Ara, ini mau di bagikan sekarang?"
"iya bik, kalau gitu ayo bik."
ketika sampai di pintu utama Ara dan bibi ingin keluar, tetapi seseorang dari luar membuka terlebih dahulu. Ferdiansyah kembali dengan tatapan bingung karena ada 3 kotak di tangan Ara dan 3 kotak di tangan bibi Tutik.
"bibi mau kemana?" tanya Ferdiansyah.
" ini nak Ferdi, bibi mau bantu nak Ara bagikan ini sama tetangga."
"apaan tu bik?" menunjuk kotak tersebut.
"risoles." jawab Ara sedikit sewot.
"saya ikut." Ferdiansyah tanpa mau bertanya lagi, dan perkataannya membuat bibi dan Ara heran.
"gini bik, biar Ferdi aja yang bagikan ini smaa tetangga, sekalian mau ke rumah pak RT mau minta izin." mendengar itu bibi Tutik memberikan kotak tersebut kepada Ferdi.
"ayo, jangan lupa bawa KTP." mengingatkan Ara karena mereka ingin izin kepada ketua RT setempat.
"Bentar Ara ambil dulu." meletakkan kotak tersebut di meja ruang tamu.
sekian dulu ceritanya
ini cerita perdana Ku jadi harap maklum kalau ada kata-kata yang salah dalam penulisannya.
jangan lupa vote dan follow
terimakasih 🙏🏻
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments