pertemuan

"Alhamdulillah sampai juga kita pa, mama capek banget. oh ya pa, papa sudah hubungi Ferdi ?"

"besok aja ma, ini udah larut malam, mending kita istirahat aja. besok kita cari jilbab untuk mama, acara lamarannya kan malam jadi mama bisa cari-cari keinginan mama dulu sebelum ketemu besan sama calon mantu"

"malam? nggak pagi pa?" terkejut karena mama Ferdiansyah taunya acaranya pagi.

"pagi itu ketemuan aja, perkenalan saja acara lamarannya malam soalnya disini masih pakek adat, ketemu mamak gitu ma."

"berarti mama harus cari jilbab sekarang pa,"

"besok aja ma, kita kesana palingan jam 10 pagi, lagian masih sempat kok beli jilbab."

pagi

"mama, sama papa nantik bareng Haikal aja ya soalnya Ferdi ada urusan sebentar." pergi dengan mencium pipi kedua orang tuanya.

"ya kamu hati-hati" ucap papa

sesampainya dirumah Ara, mama Ferdi sudah memakai gamis beserta jilbab yang sebelumnya ia memakai kulot dengan blouse. sebelum pergi ke rumah Ara, mama Ferdi minta berhenti disebuah butik.

"gimana pa? mantap nggak penampilan mama?" kata mama Ferdi yang masih berada di dalam mobil.

"oke ma, udah keren, kamu mau masuk kal?" papa Ferdi mengangkat kedua jempolnya.

"saya ada keperluan sebentar pak, jadi saya nggak masuk pak" ucap Haikal

ketika mereka keluar dari mobil, keluarga dari Ara menyambut dengan ramah begitu pula dengan teman Ara yaitu Vivi yang dari semalam penasaran dengan wajah artis idolanya secara langsung. sedangkan Ara ada keperluan di Wc karena gugup membuatnya ingin pipis.

"assalamualaikum Bu, pak," ucap kedua orang tua Ferdi.

"wa'alaikumussalam Bu, pak" ucap kedua orang tua Ara dan juga Vivi.

"mari pak, bu silahkan masuk" papa Ara

kumpulan warga penasaran dengan kedatangan mobil mewah yang berada di dekat rumahnya pak Haris dan Bu Utami (orang tua Ara).

"maksud kedatangan kami berdua, kami ingin menyampaikan niat baik pak, buk, dan bersilaturahmi Rahmi. kami berdua orang tua Ferdiansyah saya Fendy dan ini istri saya" saling berjabat tangan, sedangkan mama Ara menangkup kedua tangannya ketika ingin bersalaman dengan papanya Ferdi.

"saya citra pak buk"

"oh ya pak Fendy, saya pak Haris dan ini istri saya"

"Utami pak buk,"

"nak Ferdiansyah sudah menyampaikan niat baiknya kemaren, dan nak Ferdiansyah juga sudah mengatakan kalau kedua orang tuanya akan kemari, sebagai orang tua Ara kami sudah menerima lamaran nak Ferdiansyah pak, buk.

selama pembicaraan kedua orang tua tersebut, Vivi selaku temannya Ara menyiapkan makanan dan minuman di dapur bersama Ara.

"kamu bohong, kemaren katanya Ferdiansyah yang datang, udah dandan cantik-cantik malah zonk." cemberut Vivi mengaduk teh.

"mungkin bentar lagi dia datang." terkesan cuek menata kue.

"ya ya ya kalau nggak datang Alhamdulillah uang 100 ribu ku nggak keluar"

"terserah, ayo Vi antar ke depan cemilan sama minumannya"

mereka menyajikan cemilan dan minuman kepada kedua orang tua Ferdiansyah. keluarga mereka sudah mulai akrab dan saling menukar cerita.

"silahkan pak, Bu diminum sama dicicip kuenya" ucap Ara

"oh ya nak Kiara" kedua orang tua Ferdiansyah

"ini kakak Ara ya? " kata mama citra kepo.

"nggak Tante, saya temannya Ara " kilah Vivi, sedangkan Ara tersenyum mengejek.

"ketuaan lah muka ku?"batin Vivi sedih.

"ehh tante kirain kakaknya Ara," ucap mama citra tak enak.

"assalamualaikum" Ferdiansyah masuk menyalami kedua orang tuanya dan orang tua Ara. Ara dan Vivi yang berada dekat meja menoleh ke arah suara tersebut. Vivi terkejut melihat wajah artis idolanya di depan nya.

"aku ikhlas uang 100 ribu ku untuk belikan Ara bakso larva" batin Vivi

"duduk nak" ucap mama Utami.

"Ara kebelakang dulu ma, mau ambil air" memberi kode ke Vivi agar mengikutinya kebelakang, selama berjalan ke dapur wajah Vivi masih melamun sambil tersenyum-senyum.

"Ra benarkan itu Ferdiansyah?" masih tidak percaya. Ara sendiri asik mengaduk minuman yang akan dia sajikan kepada Ferdiansyah.

"iya, siapkan aja uang 100 ribu aku maunya nantik malam."

****

"diminum mmmm... bang" ragu mengatakannya, karena ketika berbicara berdua mereka masih berbicara secara formal. Dan tiba-tiba saja mulutnya berkata seperti itu tanpa pertimbangan terlebih dahulu.

"terimakasih dek" ucap Ferdiansyah yang membuat Vivi dan kedua orang tua mereka terkejut.

"kalau boleh tau, umur Ara berapa nak?" mama citra penasaran.

"umur Ara 23 tahun buk"

"beda 6 tahun berarti"

perbincangan kedua orang tua tersebut berakhir ketika acara lamaran Resmi nantik malam akan diadakan, pertukaran cincin dan lainnya. Begitu pula dengan segala adat istiadat yang kedua orang tau Ara katakan.

pov Ferdiansyah

sebelum aku pergi kerumah perempuan yang akan menjadi istri ku, aku mampir terlebih dahulu kesebuah tempat perhiasan disebuah mall. Aku memilih cincin pertunangan yang akan dilaksanakan nantik malam. masalah cinta atau tidak, aku pasti bilang tidak mencintainya. karena kami bertemu dengan keadaan salah paham, kalau bukan karena reporter itu aku tidak akan mengalami nasib seperti ini. selama memilih orang-orang disekitar ku menatap diriku bahkan mereka berkerumun tetapi tidak membuat kerusuhan, mungkin mereka tau harus menjaga privasi seseorang.

"yang ini aja mbak" memilih cincin yang simple dan tampak elegan.

"di tunggu mas" sedikit gugup karena seorang artis membeli cincin ke tokonya.

" ya mbak"

selama perjalanan aku terus menatap layar handphone ku, tidak ada panggilan dari Au. aku mengingat ketika aku berkata ingin menikah dengan perempuan tersebut tanpa memikirkan akibatnya yang akan aku hadapi. seperti sekarang banyak dari reporter mengejar bahkan ada gosip simpang siur mengenai pernikahan dadakan ini. tetapi semua sudah diatasi oleh agensiku. selama kalut dalam pikiran akhirnya aku sampai disebuah rumah yang minimalis dan juga banyak rumah warga disekitarnya.

"assalamualaikum" ucapku masuk, kedua orang tua ku sudah mulai akrab dengan keluarganya. aku juga melihat dia sedang menyajikan minuman beserta cemilan kepada orang tua ku.

karena minuman kurang dia membuat minuman kembali. selang beberapa menit dia datang kembali dengan seorang perempuan yang cara berpakaian hampir sama dengan dia.

"diminum mmmm... bang" katanya sedikit ragu, karena sebelumnya kami hanya berbicara dengan formal, dan masalah nama, aku lupa namanya siapa.

"terimakasih dek" kalimat itulah yang keluar dari mulutku, ntah dari mana aku mendapatkan kata-kata seperti itu. kedua orang tuaku dan dia terkejut dengan kata yang aku lontarkan tersebut.

"kalau boleh tau, umur Ara berapa nak?" mama pasti penasaran, kalau dilihat dari wajahnya dia masih muda. aku juga penasaran dengan umurnya semoga nggak mengecewakan.

"umur Ara 23 tahun buk"

"wah.. wah.. wah.. masih muda, kayaknya baru tamat kuliah."batin

"beda 6 tahun berarti"

" jangan diperjelaslah pula mama ku tersayang". batin

*sekian dulu ceritanya

ini cerita perdana Ku jadi harap maklum kalau ada kata-kata yang salah dalam penulisannya.

jangan lupa vote dan follow

terimakasih 🙏🏻***

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!