sore harinya, Ara dan Ferdiansyah pergi ke rumah tetangga sebelah rumah dan depan. 5 rumah yang mendapatkan risoles buatan Ara dan 1 kotak lagi ingin ia berikan kepada pak RT. Ketika sampai di rumah yang berjarak 3 rumah dari mereka Ara melihat seorang ibu-ibu yang sedang membuang sampah. Ara menghampirinya dan ingin bersilaturahmi.
"Assalamualaikum Bu." sapa Ara dengan sopan, Ara mengucapkan salam karena ia melihat ibu tersebut memakai jilbab seperti dirinya.
"wa'alaikumussalam salam nak. Ada perlu apanya?" bingung
"gini Bu, saya mau kasih ini sama ibu. Soalnya saya baru pindah dari sini." jelas Ara karena Ferdiansyah balik ke rumah karena ada yang ketinggalan.
"oh terimakasih banyak nak, kalau boleh ibu tau nama sama rumah kamu di mana?" menerima kotak tersebut.
"nama saya Ara Bu, 3 rumah dari sini Bu, tapi yang di seberang."
"rumah nak Ferdiansyah artis itu nak?" terkejut.
"iya Bu." tersenyum
"kamu adek nya nak Ferdiansyah?"
"bukan Bu, saya istri nya." tetap dengan senyuman.
"ha? kapan nak Ferdiansyah nikah?" terkejut.
"baru Bu."
"di mana nak Ferdiansyah nya nak?"
"tadi Abang ada barang yang ketinggalan jadi ke rumah dulu." sebenarnya Ara malas memanggil Abang tapi mau gimana lagi nggak mungkin (si artis di rumah Bu)
"masuk dulu nak, kita minum-minum dulu." mengajak ke dalam rumah tetapi Ferdiansyah datang.
"udah Ra?" yang membuat gerakkan Ara yang ingin masuk tertunda.
"eh nak Ferdiansyah masuk dulu nak."
"maaf Bu, saya nggak bisa soalnya kami berdua mau langsung ke rumah pak RT untuk melapor. nantik nggak lapor malah saya yang di grebek karena bawa perempuan ke rumah." dengan nada gurauan yang membuat ibu tersebut tersenyum. Ferdiansyah terkenal ramah dengan tetangga-tetangga sekitarnya termasuk dengan ibu Lia yang sedang mengobrol dengan mereka.
"kalau gitu saya permisi Bu."
"Ara juga pamit Bu, assalamualaikum" menyalami ibu Lia, usia Bu Lia hampir sama dengan usia mama Ferdiansyah. Ibu adalah seseorang pemilik butik walaupun sudah tua ia tetap fashionable.
"wa'alaikumussalam." ia terkejut karena Ara mencium tangannya seperti anaknya dulu.
mereka berdua sudah mulai meninggalkan Bu Lia. Tiba-tiba seorang anak balita sekitar 3 tahun menghampiri sang nenek karena lama menunggu ia langsung keluar di temani oleh pengasuhnya.
"nenek" panggilnya sedikit cadel.
"kenapa cucu Oma keluar." melihat arah bawah yang menarik-narik bajunya.
"kok lama kali omakelual?"
"tadi ada kakak-kakak kasih oma ini, jadi Oma ngobrol dulu." menunjukkan kotak tersebut.
"apa tu Oma?" anak-anak pada usia ini pasti banyak tanya mulai dari apa buatnya, gimana cara buatnya, kok bisa dan lain-lainnya.
"Oma juga nggak tau, kalau mau tau kita buka di dalam aja ya."
"ayo Oma." Khanza mengikuti langkah Omanya ke dalam rumah.
Selama perjalan hanya suara angin dan suara langkah kaki saja. Ara mulai bosan karena hening.
"jauh lagi nggak?" tanya Ara tetapi tidak mendapatkan jawaban dari artis yang di sebelahnya.
Akhirnya mereka berdua sampai di rumah pak RT, yang mana memiliki halaman yang penuh dengan bermacam jenis bunga. seseorang ibu-ibu sedang menyiram bunga dan seorang bapak-bapak sedang meminum kopi.
"assalamualaikum pak RT" kata Ferdiansyah
"wa'alaikumussalam nak Ferdi, masuk dulu nak." bapak RT mengajak mereka untuk masuk ke dalam rumah.
"Begini pak, saya kan sudah nikah jadi mau melapor saja pak."
"oh ya saya juga kemaren sudah dengar di televisi." tidak lama kemudian ibu RT datang dengan tersenyum dan langsung ke arah dapur.
"Jadi yang ini istri nak Ferdi?" tanya pak RT melihat Ara yang berada di samping Ferdiansyah.
"iya pak."
setelah berbicara basa-basi dan memberikan kartu identitas mereka berdua, ibu RT datang dengan nampan berisi minuman.
"silahkan di minum nak Ferdi sama nak..."
"Ara Bu."
"iya nak Ara."
"oh ya Bu, ini tadi Ara lupa mau kasih ini." memberikan kotak tersebut.
"kok repot-repot segala sih nak Ara?"
"nggak repot kok Bu, tadi ada buat banyak."
ibu RT membawa ke dapur untuk di tata di dalam piring agar bisa di makan bersama-sama dan tak lupa ibu RT menyisakan sedikit untuk dirinya.
"silahkan nak." menghidangkan risoles yang Ara berikan.
"enaknya sore-sore gini makan gorengan." pak RT mengambil dan langsung memakannya. Kunyahan pertama, kedua dan ketiga pak RT terkejut dengan rasanya.
"kenapa pak?" tanya Bu RT, Ara yang melihat ekspresi pak RT menjadi terdiam. Ferdiansyah sendiri melirik Ara.
"enak banget buk, beli di mana nak Ara?" tanya pak RT yang buk RT penasaran langsung mencobanya.
"iya, ini enak banget nak. Udah jelas tadi Ara bilang buat sendiri pak."
"bapak nggak tau buk." Ara hanya tersenyum sedangkan Ferdiansyah kepo dengan rasanya.
"di makan nak Ferdi, nak Ara." kata pak RT
"jangan malu-malu." lanjut Bu RT
"ya Bu, lanjut aja Bu tadi Ara udah makan di rumah lagian di rumah masih ada." jelas Ara
"ayo nak Ferdi." memberikan piring yang berisi risoles mau tidak mau Ferdiansyah langsung mengambilnya lalu memakannya.
"enak juga buatan nya."batin Ferdiansyah mengunyah risoles. pengen nambah tapi segan. "mudah-mudahan masih ada di rumah, aamiin."
"nak Ferdi beruntung dapat istri seperti nak Ara, udah shaleha, pintar masak pula lagi. Kalau ibu lihat juga kalian cocok." kata Bu RT tersenyum.
"ya iyalah Bu, namanya aja udah jodoh." perkataan pak RT membuat Ferdiansyah tersedak, Ara yang duduk di sampingnya langsung merespon mengambil air untuk di berikan kepada Ferdiansyah.
"memang perhatian kalinya Bu." menggoda Ara dan Ferdiansyah.
"iya pak." tersenyum geli. Ara dan Ferdiansyah ikut tersenyum segan.
"*kenapa bisa tersedak dengar perkataan pak RT nya."pikir Ferdiansyah.
"kalau nggak di kasih minum nantik Ara di bilang istri nggak shaleha pak RT ."batin Ara*.
setalah makan risoles dan mendengarkan ceramah dan nasihat dari pak RT akhirnya mereka pulang ke rumah.
"kalau gitu kami pamit pulang pak RT Bu RT." ucap Ferdiansyah.
"assalamualaikum." ucap Ferdiansyah dan Ara bersamaan, seperti biasa Ara menyalami dan mencium tangan Bu RT sedang untuk pak RT Ara mengatupkan kedua tangannya.
"wa'alaikumussalam nak." Bu RT dan pak RT tersenyum melihatnya.
setelah mereka pulang Bu RT dan pak RT melihat mereka yang sudah mulai jauh dari pandangan mereka.
"semoga mereka langgeng nya pak." ucap Bu RT.
"ya Bu, aamiin kayak kita." tertawa sambil melangkah ke dalam rumah.
sepanjang jalan untuk pulang sesekali Ferdiansyah melihat Ara, ia ingin menyampaikan sesuatu tetapi sampai sekarang tidak ada kata yang keluar. Tiba-tiba Ara berhenti berjalan dan Ferdiansyah juga ikut berhenti.
"kenapa berhenti?" kata Ara yang berada di belakang samping kanan Ferdiansyah. Ara masih melihatnya tanpa menjawab.
"kamu mau ngomong?" tanya balik Ara.
"Di tanya malah nanya balek." bingung
"Ya dari tadi kerjaan liatin Ara terus, tau nggak rasanya itu kurang nyaman."
"kepedean, saya tadi lihat pemandangan." langsung melanjutkan perjalanannya tanpa menunggu Ara yang masih berdiam melihat Ferdiansyah.
"*niat mau nanya risoles malah kepedean."batin Ferdiansyah.
"kerasukan jin apa dia? atau.... jin BTS?hahahaha" batin Ara sambil tertawa*.
Ferdiansyah sudah sampai di rumah terlebih dahulu, Ara yang baru masuk rumah melihat tidak ada tanda-tanda Ferdiansyah di dalam kamar. Begitu pula di dalam kamar, Ara yang bingung langsung mencarinya. ketika turun dari tangga lantai 2 Ara bertemu dengan bibi Tutik.
"bik, lihat bang Ferdi nggak?"
"kalau nggak salah tadi bibi lihat nak Ferdi ke arah dapur. Padahal bibi jarang lihat nak Ferdi ke dapur jam segini, paling kalau nggak pagi kalau nggak malam ke dapur pas ingin buat kopi sendiri."
"ngapain ke dapur? minum? karena jalan kaki?" pikir Ara.
"makasih bik." langsung menuju dapur.
sekian dulu ceritanya
ini cerita perdana Ku jadi harap maklum kalau ada kata-kata yang salah dalam penulisannya.
jangan lupa vote dan follow
terimakasih 🙏🏻
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
Chotijah Eka
Ferdiansyah ke dapur nyari risoles buatan Ara karena ketagihan sama rasanya 😁😁
2022-10-15
1