Risoles Ayam 2

Ferdiansyah memejamkan matanya karena merasa kepalanya enakkan setelah di urut oleh Ara. Ketika menikmati urutan Ara, Ferdiansyah membuka mata dan melihat ada 3 buah risoles yang berada di depannya tepatnya di meja kecil tempat Ara menonton drama Korea. Tanpa pikir pajang lebar ia langsung mengambilnya dan Ara yang melihatnya tidak protes sama sekali.

seakan tersadar Ara langsung terkejut karena risolesnya berisi cabe rawit pedas dan Ferdiansyah langsung berteriak cukup keras dengan wajah yang merah. Ia seperti orang gila yang mencari minum dan Ara yang melihatnya langsung memberikan botol minumnya.

Ferdiansyah langsung ke kamar mandi Ara lalu membasuh wajah dan mulutnya. Setelah 10 menit di dalam Ferdiansyah keluar dengan pakaian sedikit basah dan kepala yang basah seperti selesai mandi.

Ara yang melihat penampilan Ferdiansyah berfikir apakah itu berlebihan untuk seseorang yang memakan cabe rawit.

"puas ngerjain saya?" Ferdiansyah berkata dengan nada menyindir.

"siapa yang mau ngerjain situ, lagian itu risoles Ara." membela dirinya bahwa ia tidak bersalah dalam hal ini.

"kenapa di kasih cabe rawit segala kalau bukan untuk ngerjain saya." masih tidak menerima.

" ehh dengar baik-baik bapak Artis yang terkenal, siapa juga yang mau ngerjain situ. lagian mana tau Ara kalau bapak artis ke sini dan mana tau pula Ara kalau bapak mau makan risoles, tadinya Ara mau kasih tau eh malah duluan masuk mulut. Jadi di sini siapa yang salah?" menjelaskan panjang lebar.

" ya kamulah, saya kan cuma makan. Mana tau kalau isinya ada cabe rawit nya." masih membela dirinya tidak bersalah.

"ya ya ya ya saya yang salah dan anda yang benar, sekarang keluar dari kamar saya karena saya ingin tidur." Ara sudah mulai kesal dengan kelakuan Ferdiansyah yang suka menyalahkan dirinya. Ara memang kalau sudah marah maka ia menyebutkan dirinya (saya). Lalu Ara langsung menggiring Ferdiansyah dari belakang untuk keluar dari kamarnya.

"Besok kalau mau makan makanan saya tanya dulu."kata Ara langsung menutup pintu.

"hey dimana sopan santun kamu sama suami." teriak Ferdiansyah dari luar kamar Ara. Mendengar perkataan tersebut Ara langsung membuka pintu dengan kuat yang membuat Ferdiansyah terkejut.

"saya sudah sopan dengan bapak, tapi bapak selalu menyalahkan saya. Jadi saya harus gimana? bapak makan risoles saya lumayan tapi malah di makan. Sekarang saya makan risoles ada cabe di dalam bapak makan juga dan bapak menyalahkan saya kalau saya mengerjai bapak." dengan sedikit rap yang membuat siapa pun mendengar hanya terdiam.

"saya bukan bapak kamu." itu adalah kata yang keluar dari Ferdiansyah dengan dingin dan Ara yang mendengarnya menatap dengan tajam karena bukan kalimat itu yang di harapkan Ara.

"ya bapak bukan bapak saya tapi suami saya." selesai Ara berbicara Ferdiansyah langsung pergi tanpa sepatah kata pun.

"siapa di sini yang nggak sopan, istri yang ngomong suami sendiri pergi." teriak Ara agar Ferdiansyah mendengarnya. Ferdiansyah langsung menghentikan langkahnya.

"kamu merasa sudah menjadi istri saya?" dengan senyum menyeringai.

"kan bapak sendiri yang bilang, kalau saya istri bapak." mereka berbicara saling berteriak karena jaraknya lumayan jauh.

"Baiklah sebagai istri yang baik, kamu harus menjalankan kewajiban yang semestinya bukan?" mulai melangkah sedikit-demi sedikit.

"kan saya sudah jalankan kewajiban saya." tantang Ara.

"yang lain?" goda Ferdiansyah, hampir mendekati Ara.

"jangan macam-macam." dengan gaya kuda-kuda.

"satu macam sama istri sendiri, apa nggak boleh?" masih dengan nada menggoda sambil mengangkat tangan ingin memegang kepala Ara.

"apa?" Ara menantangnya. Ara langsung menutup pintu kamar dengan sekuat tenaga yang menimbulkan suara yang lumayan berisik.

"Yak apa yang kamu lakukan?tangan saya hampir kejepit gara-gara kamu."marah Ferdiansyah yang terkejut.

"siapa suruh macam-macam sama saya." teriak Ara dari dalam kamar.

"awas kamu besok."teriak Ferdiansyah.

"hahahhahahah rasain emang enak? enak aja nyalahkan orang. Mainnya ancaman, kalau main ancam Ara juga bisa. Apaan coba maupegang-pegang, satu macam. Astaghfirullah kurang minum vitamin bentuknya dia." di balik pintu kamar dengan suara kecil. Ara menggosok-gosokkan tangannya ke badannya.

"merinding Ara lihat mukanya kayak gitu. Memang jago akting artis satu itu. Patutlah banyak penghargaan yang ia dapat." membayangkan wajah Ferdiansyah tadi.

Ferdiansyah memegang hidung yang mengenai pintu kamar Ferdiansyah tidak merasakan sakit kepalanya lagi karena selesai di urut oleh Ara kepalanya lumayan mendingan. Ia akan merencanakan sesuatu untuk mengerjai Ara besoknya. Di dalam kamar ia terus berfikir apa yang harus ia lakukan. Sekitar 2 jam berfikir akhirnya rencananya tersusun dan besok akan di mulainya permainan.

"tunggu tanggal mainnya." tersenyum

Sedangkan Ara di dalam kamar melanjutkan nonton drama koreanya sambil mengomel-ngomel. mulai dari pemain drama yang memiliki sifat seperti suami. Tiba-tiba seseorang menelfon nya, Ara mematikan drama koreanya dan melepas rindu dengan seseorang yang menelfon nya. Kak putri menelfon nya mereka banyak bercerita dan bercanda gurau. Awalnya kak putri minta video call tetapi Ara melarangnya. Kak putri yang mendengar hal tersebut menggoda Ara. Ara yang di goda pun merasa kak putri salah paham dengan alasan ia tidak mau video call.

"kamu sekarang bareng Ferdiansyah nggak Ar?" tanya kak putri.

"nggak kak. kenapa?"

"kok gitu?kamu nggak sekamar sama dia?" terkejut dengan perkataan Ara.

"dia lagi keluar sebentar kak, mungkin bentar lagi balek." terpaksa berbohong.

"ohh kalau gitu kakak tutupnya telfonnya takutnya gangguin kalian berdua." goda kak putri.

"apaan sih kak."

"kakak mulai galau tanpa dirimu."lebay

"jangan lebay kak, tadi katanya pengen ditutup sekarang malah terus ngomong." cerocos Ara.

"jadi nggak boleh ni? mentang-mentang pengantin baru sensitif banget."

"nggak juga kak, biasa aja mungkin mau datang bulan."

"kamu datang bulan? berarti nggak jadi gituan dong?" terkejut.

"gituan apa kak?" pengen mancing apa yang dimaksud kak putri.

"masak polos banget sih Ra, kamu pasti Taulah. Atau jangan-jangan kamu belum...." kak putri menutup mulutnya di seberang telfon.

"jangan di pikirkan kak, nantik kepala kakak mumet." jawab Ara enteng.

"ya udah Ra Kaka tutup telfonnya. nggak enak telfon malam-malam bini orang." goda kak putri.

"ya kak jangan sering-sering ganggu bini orang." dengan bercanda.

"assalamualaikum Ra."

"wa'alaikumussalam." ucap Ara.

Ara membereskan semua peralatannya dan akan tidur karena sudah malam hari.ia mulai mencuci muka dan mengambil whudu untuk bersiap-siap tidur.

sekian dulu ceritanya

ini cerita perdana Ku jadi harap maklum kalau ada kata-kata yang salah dalam penulisannya.

jangan lupa vote dan follow

terimakasih 🙏🏻

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!