pertunangan dan penentuan pernikahan

acara pertunangan akan diadakan malam hari, keluarga dari pihak Ara sedang menyiapkan persiapan untuk malam harinya, dari makanan, minuman dan lainnya. Ara dan Vivi sedang di kamar untuk memilih-milih baju, buka Ara yang memilih tetapi pelakunya adalah Vivi.

"bagusnya sih kamu pakai baju warna abu-abu deh Ra, atau Dongker, pink, biru, ungu,ngeeeee....."Vivi sibuk memilih pakaian yang ada di kasur Ara.

"udah stop Vi, aku mau pakai baju ini aja... kemaren mama udah belikan yang ini"

"ini hanya gambaran untuk baju yang akan dikenakan Ara, kalau untuk visualnya author tidak posting, agar para pembaca bisa berimajinasi sendiri-sendiri 😁😁"

Semua persiapan sudah selesai, tinggal menunggu acara. Acaranya mulai ba'da isya atau setelah shalat isya.

Malam

"Kok aku deg-deg kan ya..." Ucap Vivi yang berada di samping Ara.

"Berarti kamu jodohnya, aku aja biasa aja. Malah kamu yang deg-deg kan." Ara santai memakan makanan yang ada di depannya yaitu kue basah. Mereka berdua sedang di dapur sambil menyusun-nyusun makanan yang akan dihidangkan.

"Ehhh kok yang mau tunangan di dapur?" Salah satu tetangga Ara yang ikut membantu acara pertunangannya.

"Mau cari makan buk, soalnya Ara lapar." Cengengesan.

"Yuk Ra, kita ke depan kamu dari tadi disini aja, kamu takut ya?" kata vivi

"Kenapa takut? Kan aku cuma mau tunangan bukannya perang." bingung dengan perkataan Vivi.

"Ya udah mending Ara ke depan dan Vivi bantu Ibuk." Senyum ibu dengan tertawa sedikit.

"Ara.... Ara... Ara... Kamu bantu mama bentar" teriak mama Ara di dalam kamarnya. Ara langsung menyusul mamanya.

" Ya ma"

Setibanya di kamar, mama Ara memberikan sebuah gelang dari kotak hitam, dia memasangkan gelang itu ke tangan anaknya.

"cantik kan?" tanya mama Ara

"cantik ma" Ara memandang gelang tersebut.

"ini gelang untuk Ara, jangan sampai hilang."

" ha?" bingung

"ini Hadiah dari mama" dengan senyum keibuannya. "anak mama udah besar, bentar lagi mau nikah."

"kok mama bilang kayak gitu?" sedih dengan mengeluarkan air matanya.

"udah-udah kok nangis? kan benar kamu mau nikah."

"tapi Ara tu nggak mau..." perkataan Ara terpotong akibat suara ketukan pintu.

"bentar mama lihat dulu"

tok tok tok

" Ara nya ada ma? acara mau dimulai. mama siap-siap pihak laki-laki lagi dijalan sekarang."kata papa Ara diambang pintu kamar.

"oh ya pa, Ara ayok keluar pihak laki-laki bentar lagi datang"

"Ara bentar lagi keluar ma, pa. papa sama Mama duluan aja."

kedua orang tua Ara keluar untuk melihat tamu yang akan datang, tanpa disangka pihak lali-laki sudah berada di depan rumah Ara dengan membawa beberapa seserahan.

Acara pertunangan berjalan dengan sempurna, dan tanggal pernikahan sudah ditentukan yaitu 2 Minggu dari hari pertunangan. selama acara pertunangan Ara tersenyum terpaksa berbeda dengan Ferdiansyah, ia tampak senang.

"seorang aktor memang bisa mengekspresikan wajahnya"batin Ara.

"saya mau bicara sama kamu"berbicara tanpa melihat Ara.

"Ra, kamu di panggil babang Ferdiansyah"bisik Vivi yang berada di samping Ara.

"aaa?"menoleh ke Vivi sambil makan kue yang berada di mulutnya.

"saya mau bicara sama kamu" terdengar suara itu kembali. Ara melihatnya dengan tatapan bertanya pasalnya Ferdiansyah tidak melihatnya melainkan hpnya. untuk tamu sudah pulang dan kedua orang tua mereka juga sedang berbincang-bincang diruang keluarga sedangkan mereka berada diruang tamu.

"ya udah bicara aja" asik dengan kuenya.

"kamu bisa keluar sebentar, saya mau bicara dengan Ara" Ferdiansyah meletakkan hpnya kelantai, mereka bertiga sedang duduk dilantai dengan beralasan karpet.

"Ra aku kebelakang dulu" izin Vivi

"mau bicara apa?"

"saya, mau minta nomor hp kamu"

"apa?" terkejut, seorang artis meminta nomor hpnya, nggak salah.

"itu jaga-jaga, nantik mama kalau nanya nomor telfon kamu saya tinggal kasih. lagian nggak mungkin orang yang mau nikah nggak punya nomor telfon satu sama lain. catat nomor kamu disini" memberikan hpnya.

"bagus kali hpnya, ini endors atau beli sendiri ya?"batin Ara membuka layar hpnya yang ternyata terkunci dengan kata sandi.

"ini terkunci" mengembalikkan hp Ferdiansyah

"8693" katanya tanpa beban

setelah memasukkan nomor hpnya begitu pula dengan sebaliknya. Sesuai dengan kesepakatan acara pernikahan akan diadakan di rumah Ara 2 Minggu lagi. Keluarga Ferdiansyah akan pulang ke kotanya esok hari karena pekerjaan sudah harus diselesaikan begitu pula dengan kedua orang tuanya. Ara akan mengundurkan diri dari pekerjaan karena itu permintaan dari Ferdiansyah, awalnya ia menolak karena dari pihak tempat ia bekerja bisa dipindahkan ke kota J tempat Ferdiansyah tinggal, tetapi Ferdiansyah melarangnya untuk tidak bekerja.

Kedua orang tua Ara dan Ferdiansyah juga setuju dengan perkataan Ferdiansyah.

mama Ferdiansyah memberi saran agar Ara bekerja dirumah sakit sebagai ADMIN tetapi Ferdiansyah melarangnya. Ntah apak yang dipikirkan oleh laki-laki aktor itu.

"akan aku cari cara agar aku bisa bekerja, enak banget larang-larang orang, tapi kalau istri nggak nurut kata mama dosa "batin Ara merinding mengingat kata mamanya.

***

karena janji Vivi sekarang mereka sudah berada di warung bakso langganan mereka. suasana malam yang sejuk memang enak makan bakso, pengunjung di sini cukup ramai dengan berbagai usia dari anak-anak sampai kakek dan nenek-nenek makan disini.

"Alhamdulillah dapat juga makan bakso larva 2 porsi" semangat Ara melihat pesanannya di depan mata.

"ya Ra, kamu makan sepuas-puasnya. berkat kamu aku dapat tanda tangan dia" senyum Vivi tanpa memikirkan uang yang keluar nantik.

"kamu nggak mesan Vi?"

"ya aku mesan mie ayam, mungkin bentar lagi. kamu kalau mau makan duluan aja"

"aku nunggu kamu ajalah Vi"

"Ra aku boleh nanya nggak?"

"mau tanya soal apa?" mengaduk jeruk panasnya.

"babang Ferdiansyah udah berangkat ya?"

"udah tadi sore dia berangkat, kenapa?"

"kamu ikut antar?"

"iya kenapa? aku mama, papa sama adekku juga ikut antar dia. Kenapa sih Vi?"

"ada kata-kata perpisahan nggak, misalnya gini (dek Abang berangkat ya, adek di sini baik-baik nantik Abang jemput 2 Minggu lagi)" dengan gaya dramatisnya.

"permisi neng mie ayamnya"

"makasih pak" senyum Vivi, kondisi Ara sekarang adalah melihat Vivi dengan tatapan datar.

"nggak usah mendramatisir, nggak mungkinlah kayak gitu Vivi, yang ada di bilang gini (saya berangkat), titik nggak ada kalimat lainnya. Dari pada kamu berhayal mending kita makan, mie ayam kamu udah tibakan waktunya makan" berdoa dan menyantap makanannya.

selama mereka makan, mereka sesekali bercanda dan bercerita tentang masa-masa SMA atau teman-teman yang diterima di perusahaan-perusahaan besar di kota J.

*sekian dulu ceritanya

ini cerita perdana Ku jadi harap maklum kalau ada kata-kata yang salah dalam penulisannya.

jangan lupa vote dan follow

terimakasih 🙏🏻***

Terpopuler

Comments

Anita Rohmawati

Anita Rohmawati

ceritanya bagus... cuma cara mengekspresikan feelnya aj yg agak diperbaiki... semangat ya...

2023-01-01

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!