...****************...
Jauh diatas sana, diluar kawasan daerah dekat Hutan Kabut Caridbian, tempat dimana kemah Dreezel dan Pasukan Demon Beast berdiri.
Raja Azzriel yang telah berada didalam perkemahan pasukan demon beast, ia tampak marah karena terjadi kegagalan berulang kali ketika sedang melakukan koneksi dengan para Sammu yang diutus olehnya.
"Apa yang sedang kalian lakukan?!"
Raja Azzriel yang tampak geram langsung melepas bola api dari genggaman tangannya, sehingga menghancurkan sebuah perkemahan bala pasukan yang dibawanya.
Dreezel yang melihat bola api yang membakar sebuah perkemahan, dengan sangat sigap segera memerintahkan beberapa Prajurit Demon Beast yang ada didekatnya untuk segera memadamkan api.
"Apa yang terjadi sebenarnya?"
"Mengapa Paduka Raja Azzriel sampai turun tangan datang kemari?"
"Lalu mengapa beliau terlihat begitu marah?" tanya Dreezel dalam hatinya.
"Tapi untunglah Raja Azzriel tidak melihat kejadian drako tadi, atau kalau tidak ia akan melampiaskan amarahnya padaku." lanjut ucap Dreezel dalam hatinya kembali.
Lalu Dreezel segera menemui Raja Azzriel di dalam tenda kemahnya,
Dreezel datang memberi hormat dengan membukukan separuh tubuhnya dihadapan Yang Mulia Raja Azzriel.
Raja Azzriel sempat menoleh kearah Dreezel namun kemudian ia kembali membelakangi Dreezel, karena didalam pikiran Raja Azzriel saat itu hanya terlintas bagaimana cara agar ia bisa menghubungi ketiga para Sammu secepatnya.
Melihat Raja Azzriel yang hanya membelakangi dirinya, Dreezel kembali menghaturkan diri untuk meninggalkan ruangan dan tidak ingin mengganggu Raja Azzriel yang sedang dipenuhi amarah.
"Tunggu!"
"Kenapa kau bisa berada disini?" tiba-tiba Raja Azzriel menghentikan Dreezel dan malah mempertanyakan tentang keberadaan dirinya disana, karena sesuai rencana seharusnya Dreezel saat ini sedang mengejar penyusup itu.
"Gawat, apa yang harus aku jawab?!" cemas Dreezel dalam hatinya.
"Kenapa kau diam?!" tegas Raja Azzriel.
"Hamba diperintahkan oleh Demon Sammu Ashgumarodied Kenz untuk berjaga disini, sedang yang mengejar penyusup itu adalah barisan Pasukan Demon Beast yang dipimpin oleh Drako." jawab jelas Dreezel.
"Kenz?!"
"Hah...! lagi-lagi dia berusaha melindungimu," pikir Raja Azzriel dalam hatinya.
Raja Azzriel berpikir sejenak diliputi tanda tanya yang membuat kejanggalan dalam hati.
"Padahal aku telah memerintahkannya untuk tidak..." ucap Raja Azzriel dalam hati dan tidak dilanjutkan olehnya lagi.
Teringat Raja Azzriel semenjak kejadian Saiyaka, sejak saat itu Kenz mulai sering tidak bisa dikendalikan oleh dirinya.
"Apa dia mulai bertindak menggunakan nalurinya sendiri lagi?" pikir Raja Azzriel yang mulai bertanya-tanya kembali.
"Dihutan kabut ini, dimana tempat keberadaan para Peri Nymph?!" seru Raja Azzriel bertanya kepada Dreezel.
"Kalau untuk ini..., hamba tidak tau."
"Semenjak Ras Nymph dimusnahkan, para Nymph yang selamat tidak pernah tinggal menetap disuatu tempat."
"Kalaupun masih ada yang tersisa, kemungkinan mereka telah berpencar dan hanya bersembunyi." jelas Dreezel menjawab pertanyaan Raja Azzriel.
"Ada apa Baginda menanyakan hal ini?" lanjut tanya Dreezel.
Akan tetapi Raja Azzriel hanya terdiam sejenak, kemudian ia memerintahkan Dreezel untuk pergi dan lalu iapun kembali mencoba melakukan koneksi dengan para Sammu terutama dengan Kenz.
...****************...
Sementara itu didalam Hutan Kabut Caridbian, para utusan Iblis Hitam dan Putih telah sampai dilokasi tempat Kai berada dan hanya menemukan sesosok Raksasa Yaksa yang sedang dikelilingi oleh asap tebal disekelilingnya.
"Astaga mahluk apa itu?" ujar tanya Iblis Hitam saat melihat mahluk itu dari radius jarak yang cukup dekat.
"Entahlah mahluk ini bukan mahluk dari Realm Demon Beast, sepertinya dia dari alam Realm yang lain." jawab Iblis Putih yang berusaha menghindari amukan mahluk besar Raksasa Yaksa itu sambil memperhatikan jenis mahluk raksasa yaksa yang bagai monster karena disekujur tubuhnya juga terdapat sisik naga.
Tiba-tiba mahluk raksasa itu berhenti bergerak, tubuhnya bagai sedang mematung dalam posisi berdiri dengan pandangan sedikit tertunduk menatap Iblis Hitam dan Putih.
Lalu tidak beberapa lama datanglah sebuah kepulan asap bermata cahaya merah melintas dengan cepat melewati tengah-tengah Iblis Hitam dan Putih,
"Apa itu...?" tanya mereka berdua secara bersamaan.
Iblis Hitam dan Putih memperhatikan asap bermata merah itu yang tidak lama merasuki tubuh Raksasa Yaksa yang sedang terdiam.
Setelah asap bermata itu merasuki tubuh Raksasa Yaksa itu, maka kepulan asap-asap yang mengelilingi dan menutupi sebagian Hutan Kabut Caridbian pun ikut bergerak semakin cepat memasuki tubuh raksasa itu.
Setelah seluruh asap yang menyelimuti Hutan Kabut Caridbian telah memasuki tubuh Raksasa Yaksa itu, tiba-tiba Raksasa Yaksa itu meraung dengan begitu kencang dan berat terdengar.
Bahkan kekuatan suara raungannya saja dapat menggetarkan area disana dan terdengar sampai keluar Hutan Kabut Caridbian.
Gggrraawww...!
( Suara raksasa itu meraung keras memekik gendang telinga )
Perlahan asap-asap disekelilingnya menghilang, dan kilauan cahaya merah terang terpancar dari mata mahluk Raksasa Yaksa tersebut.
suara tawa terkekeh tidak lama keluar dari mulut mahluk itu, "ke... kekeke... kekeke...!" merasa senang karena berhasil menguasai tubuh barunya yang secara bersamaan sorotan mata raksasa itu jatuh memandang kearah Iblis Hitam dan Putih.
Lalu raksasa itu memutar gelang emas yang ada dipergelangan tangannya dan iapun berubah menjadi bentuk kecil layaknya serupa dengan tubuh para Demon Beast umumnya.
Mahluk Raksasa Yaksa yang telah berubah menjadi kecil itupun berjalan melangkah perlahan mendekati Iblis Hitam dan Putih.
Dengan wujud yang baru dan tubuh barunya, Kai pun berjalan dengan begitu percaya diri.
"Apa gerangan yang membawa kedua utusan Iblis bisa sampai disini." sapa Kai dengan penampilan yang berbeda, sambil memakai topeng iblis demon di mata sebelah kirinya.
......................
Disaat yang bersamaan dari dalam kemah, Raja Azzriel yang sedang menghubungkan koneksi dengan Kai akhirnya pun tersambung.
Raja Azzriel melihat semua yang terjadi dari mata topeng iblis demon, dan segera mengerahkan pasukannya yang langsung dipimpin oleh dirinya sendiri untuk memasuki Hutan Kabut Caridbian.
"Baginda ini tidaklah baik jikalau Anda sendiri yang memimpin prajurit." ujar Dreezel mencegah Raja Azzriel.
"Lancang...!"
"Kau berani menghalangiku!" teriak Raja Azzriel yang saat itu hendak menaiki Dragonite seekor kuda hitam kuat dan tercepat bersisik naga dan memiliki delapan kaki yang mana setiap telapak kakinya berbentuk cakar kaki naga.
"Hamba tidak berani..." jawab Dreezel yang langsung menundukkan tubuhnya.
"Tapi, setidaknya bawalah hamba untuk melindungi paduka." lanjut ucap Dreezel dalam posisi merunduk dan tidak berani mengangkat tubuh atau kepalanya tanpa izin.
Raja Azzriel melihat kesetiaan Dreezel," berdirilah dan segera pimpin pasukan didepan." ucap raja singkat.
"Laksanakan!" tegas Dreezel, mengangkat wajahnya dan menaiki kuda yang ada di barisan paling depan.
Lalu Raja Azzriel dan Dreezel segera berangkat memasuki Hutan Kabut Caridbian dan menyusul ke lokasi tempat dimana Kai berada.
...****************...
Sementara itu dilain pihak Kenz yang masih belum sadarkan diri masih diganggu oleh Feeya Peri Nymph kecil.
Fiuuh... fuss...!
( Tiupan semilir angin berhembus membelai rambut yang menutupi mata topeng iblis yang dipakai Kenz)
Feeya malah asik kembali meniup rambut poni Kenz yang menutupi mata topeng iblis demon itu kembali, tanpa mempedulikan perdebatan yang terjadi antara Xavier, Aluna, dan Artemis,
Ketika rambut poni Kenz tergeser sedikit demi sedikit karena tiupan yang dihembuskan oleh Feeya, sebentar-bentar Feeya mengintip apakah mata itu menyala lagi.
Sekali lagi sambil menutup mata kecilnya Feeya mengintip lagi tapi mata pada topeng itu tidak bersinar, dengan perlahan Feeya maju mendekat dan melihat kekedalaman mata itu.
Semua terekam bagai melihat sebuah gambar bercerita, Feeya yang nakal melihat masa lalu Kenz dari mata topeng iblis demon itu.
Waktu itu belum habis Feeya melihat segalanya, mata dari topeng itu kembali menyala merah terang.
Namun Feeya masih terperangah tanpa berkedip melihat cerita masa lalu Kenz, tiba-tiba terdengar teriakan suara Artemis yang memecah gambar cerita sehingga menyadarkan Feeya.
"Feeya apa yang kau lakukan?!" begitu Feeya menoleh kearah suara itu.
"Awas...!" teriak Artemis kembali.
Tiba-tiba Kenz yang setengah sadar tebangun duduk, dan lalu tangan Kenz pun bergerak sendiri menangkap tubuh kecil Feeya dalam genggaman tangannya.
"Dimana kalian bersembunyi dariku!" getar suara Kenz menderu.
Saat itu Kenz bagai kehilangan kesadarannya dan sedang dalam sebuah pengaruh kendali Raja Azzriel, sehingga ia melakukan hal tersebut tanpa disadarinya.
Brughh...!
Sebuah pukulan keras pada tengkuk belakang leher Kenz sebelum Kenz melihat ke arah yang lain, sehingga membuat Kenz jatuh telungkup dan tak sadarkan diri kembali.
Xavier seketika itu juga melihat kearah Artemis yang baru saja memukul Kenz keras dengan tangannya.
"Ada apa?"
"Kenapa melihat kearahku?" lirik Artemis menatap Xavier dan Aluna.
"Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Artemis memandang tajam.
"Haish...!"
"Lupakan saja kalau begitu, menolong orang pun juga salah." lanjut ujar Artemis kesal, dan meninggalkan ruangan itu, dan menelusuri anak tangga yang menuju ke Monstareum Mozzarck.
"Sikap apa seperti itu?"
"Seorang penjaga bersikap kekanak-kanakan, aneh...!" gerutu kecil Xavier dengan suara kecil dan berjalan mendekati tubuh Kenz.
Aluna yang melihat kelakuan Artemis dan sedikit mendengar gerutu Xavier hanya bisa menarik nafas panjang, "hufffttt..., maafkan sikap saudaraku." ucap kecil Aluna setelah menarik nafas panjang beberapa detik.
"Dia memang mudah tersinggung, dan sangat cepat marah."
"Aku sebagai saudarinya saja sulit mengendalikan tabiatnya." ucap kecil Aluna kembali menjelaskan.
"Aku rasa itu bukan urusanku." jawab Xavier singkat, lalu membalikan tubuh Kenz dan melihat topeng yang terpasang pada sebelah matanya.
Xavier memandang sejenak pada topeng iblis demon tersebut, kemudian iapun mencoba melepaskannya.
Ketika menyentuh topeng itu tangan Xavier melekat tak bisa lepas dan bagai tersengat aliran listrik bertegangan tinggi, untungnya dengan cepat Xavier mampu melepaskan tangannya dari topeng iblis demon itu.
Namun hal tersebut membuat bayi Putra Mahkota yang saat itu sedang tertidur dibalik punggungnya menangis dengan hebatnya karena kaget terkena sengatan listrik tersebut.
Saat bayi Putra Mahkota menangis, tak selang beberapa lama bayi demon yang ada didalam keranjang yang dibawa dalam pelukan tangan Aluna itupun ikut menangis keras.
"Bagaimana ini?"
"Sssstttt... diamlah sayang, jangan menangis." ucap Aluna yang mengeluarkan bayi dari dalam keranjang dan lalu menggendongnya.
Ketika itu Xavier pun juga sedang mencoba menenangkan bayi kecil Putra dari Ratu Azarya, Xavier mengeluarkan pecahan batu giok bulan biru dari balik selimut yang membungkus tubuh bayi kecil itu.
Cahaya dari pecahan batu giok bulan biru berpendar-pendar seperti kerlip bintang dan menenangkan bayi putra mahkota, namun saat itu tanpa disadari Xavier, Aluna yang sedang menenangkan bayi demon perempuan di dalam pelukan tangannya diam-diam terus menatap kearah Xavier.
"Aku tidak salah lihat."
"Benda yang dipegangnya itu adalah..."
"Batu giok bulan biru!" seru Aluna didalam hatinya, dalam keadaan terpaku.
Aluna mendekati Xavier secara perlahan, namun pandangan arah mata Aluna terpaku pada sebuah benda yang dipegang oleh Xavier
Begitu Aluna berada di dekat Xavier dengan sangat cepat tangan Aluna mengambil benda itu dari tangan Xavier.
"Apa-apaan ini?!" lantas Xavier segera berdiri, melihat Aluna yang sedang memegang pecahan batu giok bulan biru dengan pandangan kosong.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
"Cepat kembalikan benda itu padaku!" pinta Xavier tegas.
"Benda ini..." ucap Aluna yang terputus oleh perbuatan Xavier yang mendadak merebut kembali batu giok bulan biru itu dari tangan Aluna.
"Harap jangan lancang merebut barang yang bukan milikmu!" ketus Xavier yang langsung memasukkan pecahan batu giok bulan biru itu kembali kedalam selimut bayi putra mahkota, lalu iapun kembali menggendong bayi putra mahkota dan mengikatnya erat dibelakang punggungnya.
"Maaf, aku hanya merasa tidak asing dengan benda itu." lanjut ucap Aluna meminta maaf yang kemudian iapun menaruh bayi demon perempuan itu kembali kedalam keranjang bayinya, namun hal tersebut sempat menciptakan sedikit keheningan dalam beberapa menit.
Sementara disaat bersamaan, Feeya yang masih terjebak dalam genggaman tangan Kenz waktu itu ia sedang berusaha membebaskan dirinya sendiri dengan meronta-ronta kecil Feeya berhasil melepaskan kedua tangan kecilnya, tapi belum seluruh tubuhnya.
Walaupun ia sudah berusaha menekan dan mendorong tubuh mungilnya dengan bantuan tangannya untuk keluar dari genggaman tangan Kenz, tapi tubuh kecilnya itu tetap tidak bisa keluar lepas dari genggaman itu.
( Feeya berpikir kritis )
Feeya menaruh sebelah telapak tangannya didagu dan mulai menjentikkan jari tangan sebelah kirinya bermain diatas telapak tangan Kenz yang menjepit tubuh mungilnya.
Tak... tik... tuk...!
Jari jemari kecil Feeya bagai sedang menari tidak mau diam ditangan Kenz, seperti sedang mengetik ia terus memainkan jarinya itu sambil memikirkan sebuah ide.
"Hmmm..." kesal kehabisan ide hanya bisa memasang wajah cemberut, iapun melihat ibu jari Kenz yang ada dihadapannya.
"Rasakan ini !"
"Gigitan Feeya!" dengan emosi Feeya membuka mulutnya lebar-lebar dan menggigit keras ibu jari Kenz.
Grrrwww...
"Rasakan, rasakan, rasakan !"
"Gigit terus, gigit terus, gigit sampai dia bangun."
Errrggghh...
Kenz yang merasa geli dan sakit mulai menunjukkan tanda-tanda sadarkan diri, karena merasa ada ribuan ulat sedang menggerogoti jarinya.
Nyamm... nyamm...!
Feeya yang melihat respon Kenz semakin gencar menggigit ibu jari Kenz, bagai sedang menggerogoti jari itu dan membuat luka disetiap sisi dan sudut
Grrrwww...
Kali ini Feeya membuka mulutnya lebih lebar lagi dan menerkam kuat ibu jari Kenz dengan giginya yang kecil nan tajam sampai membuat lubang kecil pada ibu jari Kenz.
Aaarrrggghhh...
Kenz seketika itu juga terperanjat kaget langsung terbangun dan meregangkan jari-jemari tangannya serta mengibaskan tangannya, sehingga membuat Feeya yang masih dalam posisi menggigit terlempar dan terhempas jauh.
"Sial sakit sekali."
"Apa tadi yang menggigitku?" melihat jari jemari tangannya yang tampak ada luka lubang kecil, tapi tidak tau luka apa itu.
Kenz yang tiba-tiba sadarkan diri memecahkan keheningan yang terjadi diwaktu itu, dan membuat Xavier dan Aluna terperangah menatapnya.
.
.
[To be Continue]
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
꧁✰͜͡Xɪᷧɴᷡ❥𝐀⃝ï❥ʜҽ𝐀⃝Ŕтᷡᴠᷲ𝔂⃝☆꧂
author terlalu mendramatisir
2024-08-19
0
✰͜͡Quͥᴇҽɳ✰͜͡🅻❥𝚒ɴᷤ❥ҽ✰͜͡➹
koq gw jadi gemesh ma feeya yah
kaya freya mlbb x ya/Joyful//Joyful//Joyful/
2024-08-13
1
ℓเтᷡтᷡℓℓε★「 おばけ 」Ghost
dih yg ni cpt bingit/Facepalm/
2024-07-28
0