***
Dibalik kabut tebal, diujung seberang Jurang Lubang Hitam...
"Hai...makanan lezatku...!"
Tiba-tiba Kai yang tadi tertinggal di belakang Kyorin tau-taunya sudah berada didepan Kyorin, iapun melambaikan tangannya dengan begitu antusias sampai ia salah mengucapkan kata-katanya.
"Eh...salah, seharusnya rinrin cintaku." Kai membetulkan panggilannya, lalu dengan santai sambil tersenyum tajam iapun berjalan menghampiri Kyorin.
Namun Kyorin hanya terdiam terpaku memandang sesosok bayangan, yang tampak berjalan dari kejauhan diujung jurang sana.
Bayangan itu sedang berlari datang mengarah ke mereka yang saat itu sedang berada diseberang jurang.
"Rinrin sayang...!"
"Aku tau kau pasti begitu terkesima melihat ketampananku dan kepiawaianku sampai-sampai kau menjadi begitu terpaku melihat kedatanganku ini." Kai yang saat itu bediri didepan Kyorin berpikir kalau Kyorin sedang menatapnya.
"Aku sungguh sangat terharu."
"Ternyata kau begitu mengidolakan aku." lanjut Kai.
Kyorin hanya dapat menarik nafas panjang dalam-dalam,
(Perasaan campur aduk, karena pusing mendengar dan melihat tingkah konyol Kai yang sekarang malah menghalangi pandangannya).
Saat itu Kyorin segera menepis tubuh Kai agar segera minggir sedikit.
"Kau ini benar-benar agresif sekali."
"Tapi tidak apa, aku suka itu." Kai malah berpikir tepisan tangan Kyorin itu adalah sebuah belaian lembut karena Kyorin ingin memeluknya tapi gengsi.
Lalu Kai mengambil jarak beberapa langkah mundur kebelakang yang sedikit jauh dan kembali menarik dalam-dalam nafas panjangnya,
"Baiklah, aku siap...." Kai berimajinasi ingin memeluk Kyorin,
"Ayo peluk aku...!" Kai merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
"Segera datanglah padaku makanan lezatku." ujar Kai yang lagi-lagi salah ucap.
"Salah...salah, bukan makanan."
"Rinrin sayangku, ayo cepatlah...!"
"Ayo, peluk aku! aku hanya milikmu..." Kai memejamkan mata dan membusungkan dadanya dengan tangan yang terbuka lebar, ia menunggu Kyorin segera datang padanya.
Tetapi Kyorin malah berjalan melewati Kai hanya untuk melihat sosok bayangan yang sedang berlari ditengah-tengah jurang, itu sangat membuatnya menjadi penasaran,
"bagaimana bisa?!"
"Kenapa tidak bisa?" sahut Kai
"Memang apa salahnya kalau wanita yang duluan?"
"Ayo cepat jangan ragu-ragu lagi, lekaslah datang padaku." Kai masih saja dalam imajinasinya, tidak sadar kalau Kyorin sudah berjalan jauh darinya dan malah mendekati jurang.
"Aneh sekali...!"
"Dia Manusia atau Bangsawan Noblesse?"
"Sepertinya aku harus melihat lebih dekat lagi." Kyorin melangkah selangkah demi selangkah mendekati pinggir jurang dengan perlahan.
Tatap mata masih terfokus pada sesosok bayangan ditengah jurang yang tertutup kabut putih itu.
Sementara Kai malah menjadi semakin aneh dan sangat konyol, ia tampak tidak sabar ingin memeluk makanannya itu.
"ayo, aku sudah siap dan menunggumu dari tadi...!"
"Ayo, teruslah mendekat kemari."
"Peluk aku sekarang!" ekspresi Kai yang tampak bodoh membayangkan Kyorin menghampiri dirinya dan memeluknya erat.
"Makananku..., kau tampak..."
(Dalam bayangan Kai seluruh tubuh Kyorin berubah seperti makanan lezat...).
(meneteskan saliva dari sudut bibirnya).
Kyorin yang mulai menyadari kalau sosok bayangan itu adalah seorang Witcher Bangsawan Noblesse, iapun segera kembali memberitahukan Kai.
"Kai, Kai... sadarlah!"
"Mangsa kita sudah datang, dia adalah penyihir." Kyorin berusaha menyandarkan Kai.
"Ah..., kau ini bisa saja."
"Aku tau, aku memang sangat tampan."
"Sehingga dapat menyihir semua wanita yang sedang memandang diriku." ucap Kai tanpa membuka matanya,
"Terutama dirimu, aku tau kau sudah sangat lama diam-diam mengidolakan aku."
"Jadi bersediakah kau jadi makananku?" Kai yang begitu kesenangan lalu tertawa penuh percaya diri.
Haha... haha... haha...!!!
(Kai membayangkan memeluk dan berbicara dengan makanan-makanan yang terbuat dari daging Kyorin).
mendengar tawa Kai yang begitu lantangnya, membuat Kyorin begitu geramnya menghadapi tingkah laku Kai, semakin kehilangan kesabarannya
Brugghh...!
(Namun sayangnya semua imajinasi Kai harus hilang, iapun tersadarkan oleh pukulan Kyorin yang tepat mengenai batang hidungnya).
"Makanan, makanan!"
"Apa isi otakmu hanya makanan!"
"Kau...benar-benar membuatku kehabisan kesabaran...!" Kyorin kembali meninju wajah Kai.
Kai yang habis ditinju oleh Kyorin membuka kedua matanya, namun ia membiarkan Kyorin meninjunya lagi.
"LAAAGGGIII...!"
"Tapi kenapa harus wajahku dan kena hidungku lagi...!"
"Dia...benar-benar... wanita... per...perkasa."
"Makananku... kali ini penuh cin...cinta...!" seru kecil Kai yang terputus-putus dan langsung terjatuh pingsan.
"Astaga...kau sangat membuatku kesal."
"Makanan... makanan... apa kau ini kelaparan?!"
"Cepat bangun dan jangan berpura-pura pingsan...!" seru bentak Kyorin.
"Ahh..., dasar lemah baru begitu saja pingsan." dengan kesal Kyorin meninggalkan Kai yang sedang pingsan dan pergi mendekati area pinggir jurang.
...
"Hey... hey... hey...!"
"Coba siapa yang kudapati disini." dengan pelan Kyorin bejalan perlahan menghampiri Xavier yang baru saja tiba dipinggiran jurang.
Xavier yang melihat kedatangan Kyorin dengan segera memasukan pecahan batu bulan giok kedalam jubah bajunya, sehingga membuat area setempat kembali menjadi gelap.
"Eodumbich soginun." Xavier menggunakan sihir yang dapat membuka penglihatannya agar dapat melihat didalam kegelapan, maka dengan cepat Xavier bergegas bersembunyi diatas pohon yang tinggi.
"Sial, ternyata Raja Azzriel mengutus Para Sammu untuk menangkap diriku."
"Karena hanya Para Sammu yang dapat menembus kabut di kedalaman hutan ini." pikir Xavier yang selama ini diam-diam mempelajari kekuatan Para Demon Beast dan Demonic selama ia menyamar menjadi Pasukan Demon Beast di Istana.
"Wanita itu pasti adalah seorang Sammu yang bernama Kyorin." Xavier meneliti Kyorin dari kejauhan dan ketinggian.
Tapi tanpa Xavier sadari dibelakang Xavier telah berdiri Kai yang sedang tertawa dengan terkekeh,
"Kkkeee... kkee...!" tawa yang begitu sinis dan sorot mata yang begitu tajam, Kai melemparkan selembar daun yang melesat begitu cepat bagaikan mata pisau yang tajam.
Untungnya Xavier yang menyadari itu sempat menoleh dan menghindari serangan dari belakang yang dilakukan Kai.
Ckkk...?!!!
(Senyum wajah Xavier langsung berubah, ia menyadari dirinya sudah ditemukan).
Tawa Kai saat itu bagai sebuah peringatan kematian untuk Xavier, dan aura besar yang begitu gelap seolah telah berkumpul disekeliling lingkup tubuhnya.
Kkkeee... kkeee... kkeee...!
"Tidak disangka hebat juga bisa menghindari seranganku!"
"Sepertinya sudah lama juga tidak melihat seorang kaum noblesse witcher." senyum Kai yang menyungging begitu bahagia seolah mendapatkan makanan penutup lainnya.
Dalam sekejap seluruh ruang lingkup berubah menjadi semakin gelap, aura kematian seakan telah menambah ketegangan ditengah kegelapan pada Hutan Kabut Caridbian.
Cakra yang begitu mencekam membuat takut seluruh mahluk yang berada dalam radius disekeliling mereka, sehingga membuat keheningan dalam Hutan Kabut Caridbian menjadi pecah dipenuhi riuh suara-suara hewan buas.
Seluruh hewan-hewan malam beterbangan dan berlari tidak berarturan menjauhi tempat Kai dan Xavier berada, hanya burung-burung hering yang masih memperhatikan mereka dari kejauhan dan roh genma mulai bersuara riuh bagai suara iblis yang siap mencabut nyawa.
***
Disaat yang bersamaan, Kenz yang baru saja memasuki Hutan Kabut Caridbian.
Waktu itu ia langsung merasakan perubahan aura yang begitu signifikan dan sangat cepat, aura yang begitu mencekam dan sangat menakutkan.
"Sepertinya...?!" Kenz yang langsung dapat merasakan kalau itu adalah aura yang sedang dikeluarkan oleh Kai, namun untuk apa dan kenapa Kai hingga bisa mengeluarkan aura energy sebesar itu masih menjadi tanda tanya untuk dirinya.
Akan tetapi satu hal pasti yang Kenz ketahui, kalau ada seorang lawan tangguh yang sedang dihadapi oleh Kai saat itu.
"Sekigan...!" sambil belari cepat menembus kegelapan Kenz membuka mata merahnya yang merupakan kekuatan mata kedua bagi para demon onimusha, sehingga membuatnya mendapatkan kekuatan kecepatan dua kali lipat dan juga ketajaman matanya dapat menembus kegelapan serta melihat dalam jarak jauh dalam radius tertentu yang telah ditingkatkan.
...
Begitu pula di lain tempat, saat itu Drako yang berada tidak jauh dari mereka juga dapat merasakan hal yang sama.
"Entah ada apa didepan sana?" Drako yang saat itu masih membawa beberapa prajurit pasukan demon beast mendadak menghentikan langkah kakinya dan memandang melihat kedepan.
Dilihatnya sebuah gumpalan kabut hitam yang sangat gelap dan membubung tinggi ke langit dari jarak kejauhan, namun seakan sudah ada di depan mata.
"Kabut asap apa itu?" tanya Drako yang tampak mulai kelelahan dan sangat lemas karena menahan sesak.
Begitu juga dengan beberapa prajurit demon beast yang dibawa oleh Drako yang kini hanya tersisa sepuluh orang saja.
Tidak beberapa lama Drako baru menarik nafasnya karena lelah, lagi-lagi Drako mendengar suara dentingan suara kedua pedang yang beradu dari arah belakangnya.
"Mati kau!" teriak seorang prajurit yang sedang beradu pedang.
"Kau saja yang mati, pecundang!" mereka sama-sama sedang dalam posisi bertahan, keduanya bertarung bagai hilang kesadaran.
Seorang prajurit yang lain mencoba menghampiri dan memisahkan mereka berdua, "pergi sana!" teriak mereka bersamaan dan lalu mendorong jatuh prajurit yang berusaha memisahkan mereka tadi pada hamparan kuning bunga-bunga damiana yang sedang bermekaran dan membentang luas disekitar mereka.
Dalam seketika prajurit yang terjatuh tadi merangkak dan berdiri perlahan dengan tubuh yang gemetar dan kepala yang tertunduk, iapun mulai melangkah tertatih-tatih berjalan selangkah demi selangkah mendekati Drako.
Saat jarak prajurit itu semakin mendekat, iapun mengangkat kepalanya yang tertunduk tadi.
"Ba... bagaimana mungkin?!" alangkah betapa kagetnya Drako ketika melihat sosok prajurit itu yang telah berubah,
Matanya tampak berwarna merah dengan iris mata yang membesar dan pupil matanya mengecil nyaris tak terlihat.
Lalu Drako melihat ke arah kedua prajurit demon beast tadi yang masih bertarung, "pandangan mata mereka juga sama!" ujar Drako dalam hati.
Kemudian Drako mengarahkan tabung cahaya yang dipegang olehnya kearah prajurit itu dan kearah beberapa prajurit yang ada didekatnya, untuk memastikan kalau ia tidak salah lihat dan prajurit-prajurit yang ada didekatnya juga tidak sedang berhalusinasi seperti mereka.
"Syukurlah kalian tidak seperti mereka bertiga." selang beberapa detik, seusai Drako berucap dan baru saja menarik nafasnya.
Tiba-tiba prajurit demon beast tadi langsung berlari kearah Drako dan menyerangnya dengan cepat.
Blassh...!
Kuku panjang bagai cakar hewan buas itu mencabik dada Drako dan memberi luka goresan.
Arrrggghhh...!
Drako yang sedikit terluka berhasil menghindari serangan prajurit kecil itu.
"Kekuatan mereka mendadak bertambah sepuluh kali lipat dari biasanya." Drako melihat kearah kedua prajurit yang saling bertarung tadi, kini malah menyerang prajurit-prajurit demon beast yang lainnya.
Masing-masing tiga orang melawan satu, sedang satu orang prajurit lagi menghalau prajurit demon beast yang menyerang Drako tadi, akan tetapi prajurit-prajurit itu tidak cukup kuat melawan prajurit demon beast yang telah kehilangan kesadarannya itu.
"Aku tidak boleh lagi lari menyelamatkan diriku sendiri seperti dahulu." pikir Drako yang teringat akan masa kejayaannya dahulu, yang karena ingin menyelamatkan dirinya sendiri lantas meninggalkan pasukannya berperang tanpa dirinya, sehingga dari semenjak itu ia kehilangan kewibawaan yang begitu dibanggakan olehnya.
"Tidak, tidak akan aku biarkan semua itu terulang lagi." ucap Drako yang langsung bangkit berdiri dan dengan kekuatan yang besar iapun menyerang ketiga prajurit demon beast yang kehilangan kesadarannya itu.
Serangan Drako yang begitu cepat menjatuhkan ketiga prajurit demon beast itu, namun seperti yang sudah-sudah mereka bangkit dan berdiri lagi seolah-olah mereka sudah kehilangan rasa sakit mereka, dan tubuh mereka seperti tubuh yang sudah mati namun hidup layaknya mayat hidup sama seperti apa yang belum lama ini terjadi.
......................
(Rekaman memori pada otak kecil Drako pun bermain dalam ingatannya...).
Saat itu Drako seperti dibawa kembali pada sebuah kejadian yang belum lama terjadi dan baru saja menimpa pasukan demon beast yang dibawa oleh Drako
Setelah mereka berhasil meloloskan diri dari kejaran burung gagak hitam, disaat sedang kelelahan...
......................
Ting... ting...!
Tiba-tiba terdengar suara hantaman dan pukulan senjata yang beradu disaat Drako dan beberapa prajurit demon beast sedang beristirahat sejenak diatas batuan tebing jurang dekat sekitar Jurang Lubang Hitam, "suara apa itu?!" Drako dan prajurit-prajurit yang ketika itu sedang bersamanya langsung memeriksa arah sumber suara keramaian itu.
"Apa yang terjadi dengan mereka?"
"Kenapa mereka saling menyerang?!" seru Drako keheranan melihat seluruh pasukan yang dibawanya malah bertarung dengan sesama mereka sendiri.
"Tidak tau panglima, mereka tiba-tiba menjadi seperti ini."
"Awalnya hanya satu orang, tapi begitu ada yang meleraikan mereka, maka orang itu akan diserang hingga terjatuh dan terluka."
"Namun saat mereka yang terjatuh bangun, maka merekapun jadi sama dengan prajurit yang telah melukainya."
"Lalu mereka saling bertarung seperti kehilangan kesadaran!" seorang prajurit demon beast yang telah menolong Drako dari serangan burung gagak hitam itu menjelaskan.
"Tuan larilah ikut dengan yang masih tersisa, biar aku yang menahan mereka."
"Karena percuma saja mereka tidak akan pernah tumbang." ujar prajurit itu kembali pada Drako.
Drako pun melihat prajurit-prajurit yang kehilangan kesadaran dan saling bertarung itu, mereka saling bertarung walau tubuh mereka terluka parah tapi mereka akan bangkit kembali dan meskipun bagian tubuh mereka ada yang putus terpotong mereka tetap hidup dan akan terus bertarung.
Akan tetapi tiba-tiba Drako melihat bayangan seseorang turun dari atas pohon dari kejauhan, seseorang berjubah putih yang terlihat membawa sebuah barang yang terikat ditubuhnya.
"Siapa kau?!" seru tanya Drako saat itu,
Namun Drako tidak dapat melihat orang itu dengan jelas karena orang itu dikelilingi sinar cahaya menyilaukan, tapi dari bau tubuh orang itu tampak tercium seperti bau tubuh manusia.
"Dasar bodoh!"
"Aku tidak menyangka Raja Azzriel mengutus prajurit-prajurit payah seperti kalian." ujar orang itu, yang lalu menebarkan segenggam serbuk dan membuat prajurit-prajurit yang seperti mayat hidup itu terbakar menjadi debu.
"Anggap saja kalian berhutang nyawa padaku kali ini." ujar orang itu menyelamatkan nyawa Darko dan sepuluh Prajurit Demon Beast yang tersisa, kemudian orang itupun pergi dan menghilang dengan cepat.
"Orang itu... adalah penyusup?"
"Itu adalah bau manusia."
"Jadi penyusup itu adalah manusia?" Drako yang saat itu bertanya-tanya di dalam hatinya, ia melihat Xavier pergi kearah tepi jurang.
Lalu Drako pun segera menyusul mengikuti Xavier dari kejauhan, bermaksud untuk menangkap Xavier.
Namun tiba-tiba Drako melihat Xavier menyebrangi jurang, maka Drako terpaksa meninggalkan tempat tersebut bersama sepuluh prajurit yang tersisa waktu itu dan mengambil jalan memutari jurang itu.
(Tetapi Drako tidak menyangka kalau kejadian prajurit saling menyerang itu akan terulang lagi, begitu ia sampai ditempat yang berikutnya).
...----------------...
....................
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Sun flower
maksud makanan?
2024-08-20
1
Sun flower
/Facepalm/laki-laki
2024-08-20
1
✰͜͡Quͥᴇҽɳ✰͜͡🅻❥𝚒ɴᷤ❥ҽ✰͜͡➹
kuku panjang bukannya mbak kunti?
2024-08-09
0