***
Drako Devilme
Ras Demon Beast Devilme Verrine
Drako selalu tidak pernah merasa puas dan selalu berambisi, konon keluarga Delvime Verrine memiliki ikatan dengan Para Raksasa Yaksa Api, sehingga tidak akan binasa walau terbakar api yaksa karena mereka sendiri adalah api.
¤¤¤
Pada saat keadaan Istana Demon Beast sedang dalam suasana yang tidak baik, Drako Devilme sebagai Pemimpin Prajurit Demon Beast justru malah pergi meninggalkan seluruh pasukan demon beast yang sedang kisruh mengejar penyusup.
Dia pergi untuk membuat laporan langsung kepada Yang Mulia Raja Demon Beast, hanya untuk mendapatkan sebuah pangkat dan kedudukan yang lebih tinggi di Istana Para Demon Beast.
"Aku harus mengambil kesempatan baik ini..."
"Maka kedudukanku akan dapat kembali lagi seperti dulu," pola pikir Drako yang melihat peluang membuat dirinya tampak gegabah dalam menilai sebuah situasi.
Drako dengan secepatnya berangkat ke Istana Terlarang yang letaknya tidaklah jauh dari Istana Belakang.
...
Taman Paviliun Istana Terlarang
Istana tempat kediaman Selir Abbystera
Di saat Drako baru saja sampai, belum juga jauh kakinya melangkah memasuki Paviliun Depan Istana Terlarang tempat kediaman Selir Abbystera, tiba-tiba datang seseorang Demon Beast yang lain menghampirinya dari kejauhan.
¤¤¤
Dreezel Alddeon
Ras Demon Beast Asmodai Del Alddeon
Konon Dreezel rela mengorbankan dirinya serta juga menjual jiwanya sendiri kepada banyak iblis agar menjadi lebih kuat dan semakin kuat.
¤¤¤
Dreezel seorang Pimpinan Pengawas Pasukan Demon Beast yang mana dikala malam itu kebetulan sedang berada di Paviliun Istana Terlarang, tiba-tiba datang menghampiri Drako dan menghentikan langkah kaki Drako.
"Berhenti disana!" dengan tegas Dreezel menghalangi Drako yang saat itu hendak memasuki Paviliun Istana Terlarang.
"Siapa kau?!" teriaknya dari jauh.
Dreezel melirik tajam dengan sorotan mata bagai elang yang siap memangsa, ia langsung mengangkat dagunya serta memberikan senyum sinis.
Kkee... Kkee... Kkee
Tawanya dengan terkekeh merasa senang karena menemukan mainan baru ditengah kejenuhannya dikala malam yang begitu sepi dan sunyi, karena sebagian pelayan dan prajurit demon beast lainnya sedang sibuk atas kelahiran Ratu Azarya dan Selir Abbystera.
"Oh, bukannya ini Pemimpin Pasukan Barisan Depan?"
"Seorang Pimpinan Penjaga dari Istana Belakang,"
"Kalau tidak salah dahulu juga seorang Pengawas Istana Belakang bukan?" sambil memutari Drako yang waktu itu sedang berdiri didepannya, tiba-tiba saja Dreezel berhenti tepat disamping kanan sebelah Drako dan kembali tertawa terkekeh.
"Tapi sayangnya karena kecerobohan sekarang hanya menjadi Pimpinan Pengawal,"
"Benar bukan...?" liriknya sinis penuh sindiran.
Kkee... Kkee... Kkee
Lagi-lagi Dreezel tertawa, seperti sedang memancing amarah lawan yang dihadapinya.
"Itupun kalau aku tidak salah dengar," lanjut ucapnya sambil tersenyum menyeringai.
Saat itu Drako seakan mati gaya, ia seolah-olah tidak berkutik oleh sindiran Dreezel.
Drako seolah tidak mempunyai jawaban lainnya, ia hanya mencoba menahan malu juga egonya dan kemudian menjawab sindiran Dreezel dengan satu kata saja.
"Benar," dengan wajah yang tertunduk malu, Drako hanya diam mematung.
Bwhaaa... Haaa... Haaa...!
Dreezel tertawa dengan kencangnya karena sangat senang melihat Drako yang tertunduk didepannya.
"Hmmm..., sedang apa disini?" kembali tanya Dreezel sambil menatap penuh curiga mencoba menelaah apa yang hendak dilakukan oleh seorang pemimpin barisan pertama bisa sampai datang kemari memasuki istana terlarang tempat kediaman Selir Abbystera.
"Walaupun letak Istana Belakang tidaklah jauh dari Istana Terlarang," pikirnya saat itu penuh tanya.
"Walau begitu tetap saja para pasukan ataupun Pemimpin Pasukannya tidak berhak memasuki Istana Terlarang ini," kata-kata Dreezel dalam hati.
"Lalu apa yang hendak dilakukannya disini?" lanjut pikirnya yang terus bertanya-tanya didalam hati.
"Hey...!"
"Apa yang sedang kau lakukan disini?" sambung Dreezel kembali bertanya kepada Drako.
Drako yang tampak enggan berbasa-basi dengan Dreezel saat itu hanya menjawab asal dan singkat tanpa berpikir panjang,
"Memangnya aku tidak boleh berjalan-jalan," ujar Drako mencoba menutupi apa yang hendak ia lakukan.
"Berjalan-jalan...?" Dreezel bertanya kembali dalam hatinya.
"Dia memang seorang Pemimpin Pasukan Barisan Depan di Istana Belakang, dan tugasnya hanyalah melindungi Istana Belakang saja."
"Lagi pula ia bukanlah Prajurit Demon Beast Tingkat Atas dan sekarang iapun juga bukan seorang Pengawas Istana lagi yang bisa dengan mudah atau sesuka hati bisa berjalan jalan kesembarangan tempat. " pikir Dreezel berasumsi dan mencoba menarik sebuah kesimpulan.
"Jadi apa sebenarnya maksud tujuan kedatangannya ke istana ini?" telaah Dreezel saat itu sambil bertanya-tanya didalam hatinya.
Tiba-tiba tangan Dreezel bergerak dengan cepat mencekik leher Drako, dan jari-jarinya menekan mencengkeram begitu kuat.
"Lebih baik kau tidak bermain-main denganku Drako...!"
"Camkan ini baik-baik!" kemudian Dreezel mengeluarkan sedikit energi dari tangannya yang saat itu mencekik leher Drako dengan kencang, memberi tekanan pada Drako kalau dia tidak sedang ingin berbicara omong kosong dengannya.
"Lebih baik kau katakan sekarang juga padaku,"
"Apa tujuanmu datang kemari?" lanjut tanya Dreezel lagi menekankan ucapannya,
Drako merintih mengerang menahan sakit, tangan kiri Drako mengepal erat telapak tangannya, sedang tangan kanannya memegang tangan Dreezel yang daritadi mencekiknya.
"Lepas...lepaskan...dahulu tanganmu...ini dariku!" seru Drako yang terbatah-batah mendesah penuh sesak dan menahan sakit.
"Baik...! akan aku lepaskan, tapi ingat jangan lagi mencoba membodohiku...!" ucap Dreezel yang sedikit mengancam
Lalu Dreezel melepaskan cengkeraman tangannya dengan menampik sehingga membuat dorongan kecil pada tubuh Drako dan membuatnya terjatuh.
"Sekarang katakan, kenapa kau datang kesini?!" sekali lagi Dreezel kembali bertanya pada Drako.
"Bertemu dengan yang mulia raja demon," jawab kecil Drako sambil terengah-engah dan memegang lehernya yang masih terasa sakit.
"Apa...?!" sambung dreezel tercengang menahan tawa.
"Jadi maksudmu kau ingin bertemu Yang Mulia Raja?" lanjut Dreezel menegaskan kalau dirinya tidak salah dengar.
"Benar" singkat jawab Drako kembali yang mengundang tawa Dreezel,
Dreezel tertawa kencang sampai terbahak bahak, menertawakan ucapan Drako saat itu yang lantaran hendak bertemu Raja Demon Beast tanpa melihat kaca di depannya.
"Bertemu dengan Raja rupanya, cih...!" gumam kecil Dreezel menghina disela terakhir kalimat yang diucapkannya.
"Bisakah kau mengulanginya lagi, karena aku tidak mendengar suaramu." sambung kata Dreezel kembali yang mencoba memetikan api amarah pada Drako,
Namun Drako hanya diam menahan geram yang berkecamuk pada hatinya, merasa diremehkan.
"Sekali lagi aku tanya padamu..."
"Kenapa kau ingin bertemu dengan Yang Mulia...?" tegas Dreezel yang kini terlihat tidak sedang bermain-main.
"Bukan urusanmu!" singkat Drako mencoba menutupi tujuannya, akan tetapi sebuah pukulan ringan mendarat tepat di uluh hatinya.
"Itu sebuah hadiah atas jawaban yang kau berikan padaku," kecam Dreezel
Drako lagi lagi menggeram kesakitan menahan rasa sakit pada bagian uluh hatinya atas pukulan yang baru saja diberikan Dreezel padanya.
"Sial... kenapa aku harus bertemu dia disaat begini," gumam kecil Drako mengeluh, namun ternyata masih terdengar Dreezel.
"Lancang...!"
"Berani sekali kau menjawab seperti itu...!" seru Dreezel menegaskan ketidak sukaanya pada Drako.
"Sudah kubilang jangan bermain-main denganku!" lanjut tegasnya.
"Tapi baiklah kalau itu mau dirimu,"
"Sebelumnya kuingatkan dirimu..."
"Apa kau lupa dengan peraturan Istana Para Demon?!" ujar Dreezel saat itu menegaskan Drako kalau ia baru saja memulai sebuah permainan dengan dirinya.
"Pengawal...!" lanjut teriak Dreezel memanggil beberapa Prajurit Demon Beast lainnya yang memang bertugas menjaga Istana Terlarang.
Serentak beberapa penjaga dari Istana Terlarang keluar dari balik pilar-pilar yang ada disetiap lorong koridor area paviliun taman istana, mereka dengan segera membentuk barisan pasukan penjaga dan mengelilingi Drako dari kejauhan.
"Apa-apaan ini?!" gumam Drako.
Lantas semua mata penjaga-penjaga itu tertuju pada Drako dan siap siaga menunggu perintah penangkapan, namun saat itu 3 orang Demon Beast keluar dari kerumunan barisan pengawal istana yang sedang mengelilinginya.
¤¤¤
3 Demon Onimusha Sammu
Ras Demon Beast Sammu Ashgumarodied
Mereka merupakan pengawal pribadi Raja Azzriel yang diciptakan oleh pemanggilan Iblis Devian dan menjadi pengikat perjanjian Raja Azzriel dengan Iblis.
Mereka merusak dan membumi hanguskan apa saja, menciptakan kobaran api dimana-mana.
Mereka memiliki rupa dan wujud setelah mengambil jiwa-jiwa yang sudah disesatkan dan membuat perjanjian dengan mereka, atau mereka menghisap jiwa orang yang menjadi lawan tarung mereka.
Sebab karena itu mereka bisa berubah menjadi banyak rupa siapa saja dan kini mereka menggunakan jiwa seorang Onimusha yang sudah menjadi setengah Demonic.
Semakin tinggi kemampuan jiwa yang dihisap, semakin kuat kemampuan dan daya hidup mereka.
Konon Demon Beast Ras Sammu Ashgumarodied tidak memiliki bentuk, rupa dan wujudnya sendiri, karena mereka tercipta dari sehelai rambut iblis yang terbakar oleh api sammu.
¤¤¤
Ketiga Demon Beast itu memakai penutup wajah sehingga sulit untuk dikenali dan selama ini tidak ada yang pernah melihat atau bisa mengenalnya secara langsung, kecuali Raja Demon Beast sendiri dan juga abdi setia yang sudah membuat perjanjian dengan mereka.
Seperti halnya Dreezel yang menjadi abdi setia mereka, dan malah berteman baik dengan mereka bertiga yang kebetulan saat itu sedang mengawal Yang Mulia Raja Demon Beast selama berada di istana terlarang.
"Dreezel apa yang kau lakukan?!" tanya salah satu dari mereka.
"Aku rasa Dreezel menemukan mainan barunya," ujar Demon Beast Wanita yang juga salah satu dari ketiga Demon Beast itu.
"Sepertinya ada tontonan menarik disini," begitu pula ujar Demon Beast pria yang satunya lagi.
"Cih...! mengganggu saja," sambung Dreezel yang merasa terganggu sebelum bermain.
Hii... Hii... Hii...!
Tawa wanita Demon Beast itu,
"Ayolah...,kami hanya ingin menonton dan sedikit ikut bersenang-senang," lanjut ucapannya kembali sambil menghampiri Dreezel.
"Tenanglah, kami tidak akan ikut campur urusanmu,"
"Aku pastikan kami hanya menyaksikan kesenangan ini saja," tukas si pria Demon Beast yang pertama keluar tadi.
"Aku pegang kata-katamu!" seru Dreezel
Dreezel melirik melihat ketiga temannya yang baru saja datang itu, lantas kemudian ia kembali melanjutkan permainannya dengan Drako.
Tiba-tiba Dreezel yang tadi berada didekat ketiga temannya itu, kini sudah berada disamping sisi kanan Drako.
Dreezel langsung melayangkan pukulan menggunakan tepi telapak tangannya dan tepat mengenai tengkuk leher belakang kepala Drako, sehingga membuat Drako jatuh tersungkur ditanah.
"Sudah kuperingatkan untuk tidak bermain-main denganku...!"
"Sekarang kau lihat apa yang terjadi kini...?!"
"Jadi lebih baik kau jawab pertanyaanku yang tadi dengan benar,"
"Atau kupastikan kau akan mendapatkan yang lebih dari ini, camkan itu!" Dreezel yang mulai kesal memperingati Drako sekali lagi, tapi sayangnya Drako masih enggan bicara.
Drako menahan sakit pada tengkuk leher belakang kepalanya dan mencoba bangkit bediri kembali.
Melihat Drako yang bangkit berdiri, Dreezel menjadi tertawa dengan lantang.
Haaa... Haaa... Haaa...!
Sepertinya Dreezel sudah mengerti kalau Drako benar-benar bersikeras tidak mau memberi tau dirinya...
"Jika kau pandai lebih baik kau katakan apa tujuanmu datang kemari?!"
"Lalu mengapa kau ingin menemui Yang Mulia Raja Demon Beast?!" sambung ucap Dreezel saat itu.
"Jangan sampai nanti kau katakan kalau aku tidak mengingatkanmu peraturan istana, dan sembarang menghukum prajurit," lanjut ucap Dreezel yang lalu berjalan menjauhi Drako sambil melemparkan senyuman sinisnya.
Sambil berjalan perlahan Dreezel yang mulai menjauh dari Drako, dan kemudian iapun mulai menghitung mundur.
3...2...1... Bingo...!
Dengan kecepatan yang luar biasa bagai bayangan, Dreezel melaju kearah belakang dimana Drako berdiri dan memberi pukulan kuat pada punggung belakang Drako,
Braggghh...!!!
Aarrgggghhh...!!!
Dalam satu kali pukulan saja Drako yang baru saja bangun, ia langsung kembali jatuh tumbang tersungkur ditanah tepat dibawah kaki Dreezel.
"Sial..., aku tidak menyangka kekuatan Pengawal Tingkat Atas bisa sekuat ini!"
"Ternyata rumor itu benar apa adanya,"
"Dreezel Pengawal Demon Beast Tingkat Atas, kekuatannya seorang saja sama dengan 10 Demon Beast Pengawal Tingkat Atas. "
"Apalagi jika Dreezel sudah berkultivasi dan bertransformasi,"
"Tidak heran dirinya yang awalnya hanya Prajurit Demon Beast Biasa langsung menjadi Pengawal Tingkat Atas dan sekarang dalam waktu singkat ia sudah menjadi Pimpinan Pengawas bagi para Demon Beast,"
"Bahkan sekarang ia bisa dekat dengan pengawal-pengawal pribadi Yang Mulia Raja Demon Beast!" pikir Drako saat itu sambil menahan sakit luka pukulan yang dibuat Dreezel padanya.
"Aku berpikir selama ini kalau Dreezel bisa menjadi secepat ini, karena hanya rekomendasi Selir kesayangan Raja saja,"
"Tapi ternyata itu semua..."
"SALAH!" tertawa kecil,
"Kenapa dia bisa menjadi begitu kuat...?!" Drako menerawang didalam benaknya dengan kesal.
Bwhaaa... Haaa... Haaa...!
Lanjut tawa Drako dalam kesakitannya yang menertawakan dirinya sendiri,
"Kini sungguh begitu hancurkah?"
"Sehingga dreezel yang sering dianiaya oleh dirinya dahulu kini bisa mengalahkannya," pikir Drako yang kembali menertawakan dirinya lagi.
Tawa itu memancing amarah Dreezel kembali, dengan keras Dreezel mengarahkan tendangannya dan memberikan injakan pada tengkuk leher belakang kepala Drako.
"Beraninya kau tertawa dihadapanku...!"
"Dasar Bodoh!" Dreezel semakin menekan pijakan kakinya di kepala Drako, membuat Drako memekik kesakitan,
Teriakan itu mengundang tawa Dreezel, dan juga Ketiga Pengawal Raja Demon Beast itu yang sedang asik duduk jauh disana menyaksikan hiatusnya Dreezel mempermainkan Prajurit Tingkat Bawah seperti Drako.
Bwhaaa... Haaa... Haaa...!
"Ini baru kesenangan ditengah kebosanan,"
"Kau pasti tidak pernah menyangka akan berada diposisi seperti ini bukan?"
Sekali lagi Dreezel tertawa penuh kepuasan dan sangat bahagia, tawanya mengiringi penyiksaan yang dilakukan Dreezel kepada Drako.
"Cih! Aku tidak akan mati semudah itu Dreezel!" ringkik suara Drako yang berusaha agar tetap kuat dan tidak tampak lemah di depan Dreezel dan Ketiga Pengawal Demon Beast itu.
"Aku memang tidak ingin membuat kau mati semudah itu!" Dreezel menarik rambut Drako hingga membuat tubuhnya yang tersungkur ditanah tadi menjadi setengah berdiri dengan kedua lututnya yang menekuk menyentuh tanah.
"Kau lupa saat dahulu aku masih sama seperti dirimu,"
"Apa kau ingat hari itu?"
"Hari dimana kau memperlakukan diriku seperti ini,"
"Hari disaat aku berada diposisi dibawah dirimu!" dengan penuh kesombongan Dreezel mengangkat dagunya menatap langit-langit malam itu, dan lalu membayangkan dirinya dimasa lalu...
"Tapi sekarang semua telah terbalik!"
"Sekarang kau bisa lihat, siapa yang berada diposisi itu kini!" Dreezel tertawa puas karena hari ini ia mendapatkan sebuah kesempatan, dimana ia dapat mempermalukan Drako dihadapan banyak Prajurit Demon Beast
Kali ini ia telah berhasil membalaskan dendamnya di masa lalu sehingga ia dapat mengangkat wajahnya sekarang untuk menyombongkan diri dihadapan Drako secara langsung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Fukano Jr
sudah biasa inimah di dunia fantasy/Casual/
2024-10-01
0
Mizuki
saran terakhir, dialognya kadang banyak banget, lebih baik klo udah dapet 3, ato 4 lah dialog panjang, diisi sama narasi dulu
2024-10-01
1
Mizuki
biar gak gampang ketebak, aku aka sempet kekcoh padahal, eh, malah di spill di awal
2024-10-01
1