Chapter 8 - Jurang Lubang Hitam 1

***

Di lain tempat jauh di luar Hutan Kabut Caridbian...

Dreezel yang tampak masih begitu kesal, hanya bisa berdiri terdiam sambil terus memandangi keadaan Hutan Kabut Caridbian dari kejauhan.

Sedangkan Kenz, Kai, dan Kyorin berada di dalam kemah prajurit, "tampaknya dia masih kesal padamu." Kai yang mengintip dari balik tenda kemah mencoba membertahu Kenz.

"Tapi lagi-lagi kau bertindak di luar apa yang diperintahkan oleh Raja Azzriel." sambung Kai kembali.

"Kau seperti tidak tau saja, kalau terhadap Dreezel dia pasti akan menjadi lemah." Kyorin berjalan keluar tenda tanpa banyak bicara lagi.

"Hei, kau mau kemana?" tegur Kai kepada Kyorin yang saat itu sedang berdiri dibalik tirai pintu masuk tenda, sehingga menghalangi Kyorin.

"Tentu saja berangkat pergi menyusul mereka."

"Memangnya kau pikir apa tujuan kita disini ?" ketus Kyorin yang menjawab dengan datar pertanyaan Kai.

"Hal itu tentu saja aku tau, tapikan..." Kai pun tidak melanjutkan ucapannya itu dan hanya memberikan sebuah isyarat mata kepada Kyorin dengan satu sorotan mata yang tertuju kepada Kenz.

Sesungguhnya saat itu Kenz tau maksud arah percakapan Kai, termasuk sorotan mata yang ditujukan oleh Kai kepada dirinya, oleh karena itu Kenz langsung berdiri dari tempat istirahatnya dan berjalan keluar meninggalkan mereka.

"Kau lihat..." ujar Kai, namun Kyorin hanya menggelengkan kepalanya dan berpura-pura tidak melihat.

"Dasar kau ini, kau mau ikut denganku atau terus berdiri disana."

"Tapi ingat jangan sampai Dreezel melihat kita atau rencana ini tidak akan berjalan dengan lancar." ucap kecil Kyorin menjelaskan, namun didengar oleh Kenz yang belum lama berjalan keluar melewati mereka.

Lalu Kyorin dan Kai menggunakan jurus menghilang menjadi tidak kasat mata.

"Kieta-jutsu...!"

(Kyorin dan Kai menjadi tidak kasat mata).

Setelah itu mereka segera berangkat pergi menyusul Drako secara diam-diam agar tidak terlihat oleh Dreezel.

Namun Kenz tidak ikut bersama dengan mereka dan malah menghampiri Dreezel yang mulai merasa bosan, "hilangkan amarahmu itu." Kenz pun melemparkan buah apel pada Dreezel.

"Makanlah." Kenz lalu ikut melihat kearah Hutan Kabut Caridbian.

"Jika kau inginkan sebuah hasil maka hilangkan egomu terlebih dahulu."

"Nanti kau akan mengerti setelah ini." ucap Kenz yang terkesan memperhatikan Dreezel namun tetap dengan gayanya yang tanpa ekspresi dan sangat dingin.

"Dengarkan aku baik-baik."

"Aku tidak akan pernah mencelaKai orang yang sudah membuat perjanjian denganku."

"Kalau orang itu tidak melanggar perjanjian itu terlebih dahulu." Kenz mengingatkan akan perjanjian yang telah mereka buat.

"Satu hal lagi yang harus kau lakukan saat ini adalah menunggu..." cetus Kenz saat itu.

"Kau harus menunggu dan terus berada disini."

"Bila kau ingin membalas perbuatan dia yang dahulu padamu,"

"Maka jangan pernah tinggalkan tempat ini."

"Setelah mereka berhasil keluar dari Hutan Kabut Caridbian..."

"Maka jangan biarkan ada satupun dari mereka yang hidup...!"

"Baik Drako ataupun prajurit demon beast yang dipimpinnya!" perintah Kenz saat itu kepada Dreezel yang lalu segera pergi menghilang dari hadapan Dreezel begitu saja dengan menggunakan kieta-jutsu jurus teknik menghilang miliknya.

Sekali lagi Kenz sudah membocorkan sedikit rencana dari Raja Azzriel hanya untuk menjaga Dreezel, namun Kenz tidak dapat mengungkapkan semua itu secara terang-terangan dan hanya bisa berucap dalam hatinya...

(Inilah yang sebenarnya diinginkan oleh Raja Demon Beast Azzriel, kalau tidak ada yang boleh hidup bagi mereka yang ikut dalam misi palsu ini).

............

"Apa maksudnya?"

"Jangan biarkan ada satupun yang hidup?!" ucap Dreezel didalam hatinya sambil melihat Kenz yang tiba-tiba menghilang dihadapannya.

"Kenapa aku merasa seperti ada sesuatu yang ditutupi dariku?" Dreezel bertanya-tanya dihatinya dengan tangan yang mengepal erat apel pemberian Kenz, ia tidak dapat berhenti untuk mencerna maksud tujuan Kenz termasuk apa yang diperintahkan olehnya.

Dalam pikiran Dreezel saat itu, ia tidak bisa menolak perintah Kenz yang telah mengikatnya dengan perjanjian, dan disatu sisi lagi ada perintah langsung dari Raja Azzriel yang membuat ia menjadi dilema.

"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"

"Jika Raja Azzriel tau aku tidak memimpin barisan pasukan untuk menyelamatkan putra mahkota, entah apa yang akan terjadi nanti?" tanya kecil dihati Dreezel yang terus terngiang di dalam pikirannya.

...

Dilain tempat di gelapnya malam yang berkabut, Kyorin dan Kai menelusuri setiap area yang ada didalam Hutan Kabut Caridbian dengan saksama mencari jejak Drako.

"Makin kesini kabut semakin tebal, kita tidak mungkin bisa melihat mereka apalagi mencari mereka." ujar Kyorin saat itu.

"Kau ini aneh sekali...??" mengundang tanya dipikiran Kai.

Hahaha...!

Tawa Kai saat itu yang sedang menertawakan tingkah Kyorin yang merasa asing dengan Hutan Kabut Caridbian.

"Kau ini bicara apa?"

"Memangnya kau lupa statusmu sendiri?" Kai tanpa basa-basi sebenarnya sedang menyinggung status Kyorin.

"Begitukah?"

"Aku hanya sengaja mengetes dirimu." Kyorin kembali berpura-pura.

"Apa maksudmu mengetes aku?!" Kai langsung bergerak cepat melampaui Kyorin dan lalu berdiri didepannya.

"Sudah lupakan saja." Kyorin melambaikan tangan mengalihkan pembicaraan.

"Aku rasa kemampuanmu yang semakin menurun Kai." sindir Kyorin mengubah pokok pembicaraan.

"Eh..., apa maksudmu?" sahut Kai.

"Setiap hari aku menghisap banyak genma, mana mungkin kekuatanku berkurang."

"Malah yang ada kekuatanku bertambah setiap harinya." lanjut sahut Kai.

"Yah..., itu karena dari tadi kau terus membawaku berputar-putar ditempat ini saja." Kyorin pun berpura-pura menggelengkan kepalanya.

"Kalau memang kemampuanmu semakin bertambah..."

"Coba sekarang kau buktikan... !" seru Kyorin menantang Kai.

Kai yang merasa tertantang berjalan mengitari Kyorin sambil terus melihatin gerak gestur tubuh Kyorin, "hmmm...!" tatap Kai meneliti.

"Aku rasa memang kemampuanmu menurun." Kyorin pun menepis Kai yang saat itu berada didepan hadapannya dan lalu berjalan meninggalkan Kai.

"Hey...!" Kai melihat belakang punggung Kyorin yang berjalan pergi meninggalkannya.

Namun saat itu Kyorin tidak merespon panggilan Kai, dan hanya membalas dengan isyarat ibu jari tangannya yang diterbalikkan.

"Astaga sepertinya dia sangat mencintai diriku." Kai kembali bertingkah konyol dan segera menyusul Kyorin.

"Kyorin..."

"Rin... rin..." panggil Kai dengan imutnya.

Konyolnya Kai terus memanggil Kyorin dengan panggilan yang dibuatnya sendiri, dan terus menerus menggoda Kyorin namun tidak direspon sama sekali.

Kyorin yang mulai kesal dengan tingkah Kai berusaha menahan emosinya, dan hanya memasang mimik wajah sinis.

Lalu Kai memetik sembarang sebuah bunga liar yang tumbuh dihutan itu, dan bergegas menghampiri Kyorin dan mendahului jalannya.

setelah berada dihadapan Kyorin, Kai pun langsung berlutut didepan Kyorin dan memberikan bunga itu.

"Rinrin sayangku terimalah tanda cintaku ini." Kai yang begitu konyol sedang merayu Kyorin dengan begitu manisnya dia mengutarakan perasaannya.

Namun alhasil Kyorin benar-benar tidak dapat menahan lagi amarahnya, "DASAR BODOH...!" Kyorin langsung mengeluarkan kepalan tanganya.

Buukk... Arrgh...!

Sebuah tinju mendarat tepat diwajah Kai, sehingga Kai berteriak kesakitan.

"Seperti anak kecil saja!" Kyorin membuang muka, dan berjalan meninggalkan Kai.

"Dia mematahkan hidungku..." teriak Kai kesakitan,

"apa mungkin dia tidak suka bunga ini." Kai lalu mengambil banyak bunga lainnya yang ada disana dan membuang bunga yang sebelumnya tadi.

"Rinrin sayang tunggu aku..." teriak Kai menyusul Kyorin.

Begitu sampai dekat Kyorin, lagi-lagi Kai memberikan bunga yang diambilnya tadi.

"Kai yang bodoh ini...!" geram Kyorin dalam hati penuh kesal saat melihat bunga yang dibawanya adalah bunga marigold, bunga yang paling dibenci olehnya.

"Apa yang kau lakukan Kai?!" Kyorin dengan sangat marah,

Brugghh...!

Lagi-lagi tinju Kyorin mendarat kembali diwajah Kai, sehingga Kai terjatuh dan dari hidungnya mengeluarkan darah, lalu iapun kembali meninggalkannya pergi.

"Hidungku patah lagi...!" Kai yang terjatuh saat itupun hanya bisa rebahan sejenak sambil memeriksa hidungnya yang berdarah.

"Dia benar-benar wanita tangguh."

"Aku semakin menyukai rinrin kesayanganku ini." Kai bangun dari rebahannya, pikirnya hari ini Kai tidak akan melepaskan makanan lezatnya ini.

"Tunggu aku makanan lezatku."

"Eh...,salah kesayanganku...!" seru teriak Kai dengan begitu sangat bersemangat, ia langsung segera kembali menyusul Kyorin.

***

Diwaktu bersamaan dilain tempat, di lembah jurang lubang hitam...

Xavier yang sedang berdiri didepan jurang lubang hitam tampak sedang memperhatikan sesuatu, "disekitar sini harusnya ada sebuah pohon besar." ujarnya dalam hati sambil melihat kesekeliling area jurang dan juga melihat kedalaman jurang lubang hitam.

"Jurang ini sangat dalam dan teramat curam."

"Apa benar orang itu tinggal disini?" pikir Xavier yang teringat akan cerita turun temurun sewaktu ia masih kecil.

Seingatnya dari generasi ke generasi para penetua, pujangga, sampai Para Duke Noblesse yang tersohor pasti akan menceritakan kisah itu.

Kisah tentang seseorang yang dapat bertahan hidup dan juga tinggal didalam sana, yang konon katanya orang tersebut adalah seseorang yang selalu mereka tunggu-tunggu kedatangannya.

(Tapi tidak ada yang tau kalau orang yang mereka ceritakan adalah guruku dan penyelamatku).

"Ah...,apa yang sedang kupikirkan?"

"Tidak seharusnya dalam keadaan begini, aku malah berpikir hal yang tidak penting seperti ini." ujar kecil Xavier pada dirinya sendiri.

Tanpa banyak berpikir lagi Xavier pun akhirnya terus berjalan menelusuri area pinggir jurang itu untuk mencari pohon besar yang dimaksud oleh Ratu Azarya.

Begitu lama Xavier terus mencari lokasi pohon besar dekat jurang, namun ia masih belum juga menemukan pohon besar apapun disana.

"Aneh sekali, disetiap area jurang ini tidak ada pohon besar."

"Seingatku harusnya ada sebuah pohon disekitar

tempat ini."

"Bahkan Ratu Azarya juga mengatakan hal yang sama."

"Tapi ini tidak ada apa-apa."

"Apa karena kabut tebal ini menutupi?" gumam kecil Xavier bertanya-tanya didalam hatinya.

"Sudah ribuan tahun berlalu..."

"Apa mungkin kini semua itu sudah tidak ada?" lanjut pikir Xavier saat itu yang melayang ke awang-awang dengan tatapan mata yang menatap lurus menghadap ke arah depan.

Tiba-tiba Xavier menyadari sesuatu yang baru saja dilihatnya, dengan alis menukik tajam Xavier melihat sisi area yang ada didepannya itu, yaitu area diseberang jurang lubang hitam.

Selintas pikiranya mulai bermain, "iyah... bagaimana bisa aku melupakannya...?!" serunya dalam hati.

"Mungkin pohon besar itu berada diseberang sana." gumam kecilnya sewaktu melihat apa yang ada didepan pandangan matanya.

"Tapi bagaimana caranya aku harus menyebrangi jurang ini?"

"Sedangka disekitar tempat ini tidak ada jembatan satupun juga."

Tidak beberapa lama kemudian Xavier terpikirkan suatu cara untuk menggunakan sihirnya, supaya ia dapat menyeberangi jurang lubang hitam yang ada didepannya itu.

Lalu Xavier pun mengambil segenggam serbuk sihir berkerlip emas dari kantung kecil yang terikat erat disabuk pinggangnya, dan iapun segera menebarkannya ke arah jurang yang ada didepannya.

"Angaeguleum goch." Xavier pun mengucapkan mantra sihirnya dan mengubah awan kabut itu menjadi sebuah partikel-partikel gas padat yang membentuk seperti sebuah jembatan layang dari awan.

Kemudian Xavier pun juga menaburkan serbuk berkelip emas itu pada kedua kakinya dan lalu segera merapalkan sebuah mantra kembali, "Angaeguleum wileulgeo." dengan begitu Xavier dapat berlari melewati awan kabut yang telah menjadi padat dengan kakinya.

"Baiklah, dengan begini aku dapat langsung menyeberangi jurang lubang hitam ini tanpa harus lagi mencari jalan memutar hanya untuk melewati jurang ini." ujar Xavier saat itu.

"Aku harus bergerak secepat mungkin untuk bisa sampai keseberang sana."

"Kalau tidak akan buruk jadinya nanti." lanjut ucap Xavier pada saat itu, karena ia tau kalau mantra sihir yang dibuatnya ini tidak akan dapat bertahan lama.

Lalu Xavier segera pergi menyeberangi jurang lubang hitam itu, iapun berlari sangat cepat diatas jembatan awan kabut yang telah dibuatnya dengan sihir.

Saat itu kaki-kakinya seperti melayang diatas awan yang tidak beralas dan setiap kali ia melangkahkan kakinya, kaki Xavier serasa menjadi ringan bagai melambung diudara.

Sayangnya Xavier tidak dapat berlambat-lambat, sebab dalam selang waktu beberapa menit saja, setiap awan yang telah dipijak olehnya perlahan seketika itu juga memudar dan berubah kembali menjadi kabut.

Maka Xavier pun menambah kecepatan berlarinya, sebelum jembatan awan kabut itu kembali kebentuk semula.

...

Akan tetapi sewaktu Xavier sedang menyeberangi jurang lubang hitam tersebut, tanpa Xavier sadari dan tidak pernah ia akan menyangka, kalau diseberang jurang sana sudah ada sebuah bahaya yang sedang menanti kedatangan dirinya.

Terpopuler

Comments

✰͜͡Quͥᴇҽɳ✰͜͡🅻❥𝚒ɴᷤ❥ҽ✰͜͡➹

✰͜͡Quͥᴇҽɳ✰͜͡🅻❥𝚒ɴᷤ❥ҽ✰͜͡➹

/Shame/masa jagoan keleh

2024-08-09

0

✰͜͡Quͥᴇҽɳ✰͜͡🅻❥𝚒ɴᷤ❥ҽ✰͜͡➹

✰͜͡Quͥᴇҽɳ✰͜͡🅻❥𝚒ɴᷤ❥ҽ✰͜͡➹

kagebushin/Facepalm//Facepalm/

2024-08-09

0

♚⃝҉☆Lyñ🎶Xïᵃ⁰Ñįŋģ♚⃝҉

♚⃝҉☆Lyñ🎶Xïᵃ⁰Ñįŋģ♚⃝҉

asek perang nih /Joyful//Joyful/

2024-07-07

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Chapter 1 ~ Putra Mahkota Yang Terbuang
3 Chapter 2 - Drako vs Dreezel
4 Chapter 3 - Rencana Jahat
5 Chapter 4 - Twins of Queen
6 Chapter 5 - Hilangnya kyorin
7 Chapter 6 - Hutan Kabut Caridbian 1
8 Chapter 7 - Hutan kabut caridbian 2
9 Chapter 8 - Jurang Lubang Hitam 1
10 Chapter 9 - Jurang Lubang Hitam 2
11 Chapter 10 - Fierce Battle 1
12 Chapter 11 - Fierce Battle 2
13 Chapter 12 - Fierce Battle 3
14 Chapter 13 - Riddles And Revenge
15 Chapter 14 - Riddles And Revenge 2
16 Chapter 15 - Siasat dan Strategi
17 Chapter 16 - Death Smokes 1
18 Chapter 17 - Death Smokes 2
19 Chapter 18 - Aluna dan Artemis
20 Chapter 19 - Feeya dan Kenz
21 Chapter 20 - Feeya dan Kenz 2
22 Chapter 21 - Labirin Monstareum Mozzarck
23 Chapter 22 - Monstareum Mozzarck 1
24 Chapter 23 - Monstareum Mozzarck 2
25 Chapter 24 - Saiyaka & Erl Marline
26 Chapter 25 - Mekanisme Patung Batu
27 Chapter 26 - Makam Suci Erl Marline 1
28 chapter 27 - Makam Suci Erl Marline 2
29 Chapter 28 - Makam Suci Erl Marline 3
30 Chapter 29 - Kembalinya Kyorin
31 Chapter 30 - Pintu Perunggu besi
32 Chapter 31 - Ratu Azarya & Erl Marline
33 Chapter 32 - Kebangkitan Deblesslayer Nobeast
34 Chapter 33 - Kebangkitan Iblis Echi Damarun
35 chapter 34 - Asal Usul
36 Chapter 35 - Detik-detik Terakhir
37 Chapter 36 - Rebirth
38 Chapter 37 - DUNIA MANUSIA
39 Chapter 38 - Dunia Manusia - Xavier
40 Chapter 39 - Dunia Manusia : Kenz
41 Chapter 40 - Kematian dan Kehidupan 1
42 Chapter 41 - Kematian & Kehidupan 2
43 Chapter 42 - Kembalinya Dreezel
44 Chapter 43 - Sisi kehidupan 1
45 Chapter 44 - Sisi Kehidupan 2
46 chapter 45 - Sisi Kehidupan 3
47 Chapter 46 - Kebangkitan Sistem
48 Chapter 47 - DEMON SYSTEM
49 Chapter 48 - Pengemis Satu Lengan
50 Chapter 49 - My Data Profile
51 Chapter 50 - Relationship
52 Chapter 51 - Toko Hantu Sistem
Episodes

Updated 52 Episodes

1
Prolog
2
Chapter 1 ~ Putra Mahkota Yang Terbuang
3
Chapter 2 - Drako vs Dreezel
4
Chapter 3 - Rencana Jahat
5
Chapter 4 - Twins of Queen
6
Chapter 5 - Hilangnya kyorin
7
Chapter 6 - Hutan Kabut Caridbian 1
8
Chapter 7 - Hutan kabut caridbian 2
9
Chapter 8 - Jurang Lubang Hitam 1
10
Chapter 9 - Jurang Lubang Hitam 2
11
Chapter 10 - Fierce Battle 1
12
Chapter 11 - Fierce Battle 2
13
Chapter 12 - Fierce Battle 3
14
Chapter 13 - Riddles And Revenge
15
Chapter 14 - Riddles And Revenge 2
16
Chapter 15 - Siasat dan Strategi
17
Chapter 16 - Death Smokes 1
18
Chapter 17 - Death Smokes 2
19
Chapter 18 - Aluna dan Artemis
20
Chapter 19 - Feeya dan Kenz
21
Chapter 20 - Feeya dan Kenz 2
22
Chapter 21 - Labirin Monstareum Mozzarck
23
Chapter 22 - Monstareum Mozzarck 1
24
Chapter 23 - Monstareum Mozzarck 2
25
Chapter 24 - Saiyaka & Erl Marline
26
Chapter 25 - Mekanisme Patung Batu
27
Chapter 26 - Makam Suci Erl Marline 1
28
chapter 27 - Makam Suci Erl Marline 2
29
Chapter 28 - Makam Suci Erl Marline 3
30
Chapter 29 - Kembalinya Kyorin
31
Chapter 30 - Pintu Perunggu besi
32
Chapter 31 - Ratu Azarya & Erl Marline
33
Chapter 32 - Kebangkitan Deblesslayer Nobeast
34
Chapter 33 - Kebangkitan Iblis Echi Damarun
35
chapter 34 - Asal Usul
36
Chapter 35 - Detik-detik Terakhir
37
Chapter 36 - Rebirth
38
Chapter 37 - DUNIA MANUSIA
39
Chapter 38 - Dunia Manusia - Xavier
40
Chapter 39 - Dunia Manusia : Kenz
41
Chapter 40 - Kematian dan Kehidupan 1
42
Chapter 41 - Kematian & Kehidupan 2
43
Chapter 42 - Kembalinya Dreezel
44
Chapter 43 - Sisi kehidupan 1
45
Chapter 44 - Sisi Kehidupan 2
46
chapter 45 - Sisi Kehidupan 3
47
Chapter 46 - Kebangkitan Sistem
48
Chapter 47 - DEMON SYSTEM
49
Chapter 48 - Pengemis Satu Lengan
50
Chapter 49 - My Data Profile
51
Chapter 50 - Relationship
52
Chapter 51 - Toko Hantu Sistem

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!