Juan kembali ke rumahnya. Hari sudah hampir sore. Juan mampir dulu di kafe mereka sebelum pulang ke rumahnya.
Ditengah persimpangan jalan Juan berhenti di lampu merah, tak sengaja melihat pasangan yang sudah tua berjalan bergandengan tangan menyebrang jalan. Hati Juan sedikit tercubit melihatnya.
Akankah aku dan Zira akan bersama sampai tua seperti mereka? bathinnya.
Suara klakson kendaraan di belakang menyadarkan lamunan Juan. Dia kembali melajukan mobilnya menuju rumah mertuanya.
Juan sudah memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam rumah megah sang mertua. Lagi lagi Siska yang menyambutnya.
"Aku ingin bicara empat mata denganmu!" ucap Siska tepat di pintu masuk rumahnya.
"Ikut aku." ucapnya lagi.
Siska berjalan ke taman belakang dan duduk di gazebo. Pemandangan sore yang indah, di tambah angin sepoi Sepoi membuat suasana sore semakin terasa hangat dan menyenangkan.
"Katakan ada apa? jangan membuang waktuku." ucap Juan ketus.
"Aku masih penasaran, apa yang membuatmu menyodorkan diri menikahi putriku?" tanya Siska to the point.
"Aku tahu kalian baru saja saling mengenal, Karena aku mengenal benar siapa Danish. Apa kau menginginkan uang?" tanya Siska lagi.
"Apa maksud ucapan mu nyonya? mengapa kau menuduh ku tanpa alasan." bantah Juan dengan nada meninggi. Juan tidak suka mendengar tuduhan Siska padanya.
"Aku tidak menuduh tanpa alasan. Aku tahu semuanya, anak buah ku sudah menyelidiki siapa dirimu. Kau baru mengenal putriku dan kau juga yang menyelamatkannya ketika dia mencoba bunuh diri di tepi sungai. Apalagi tujuan mu kalau bukan karena uang!" ucap Siska dengan senyum sinis nya.
"Bahkan kau membawanya menginap di apartemen mu, aku tak.tahu apa yang sudah kau lakukan padanya?" decak Siska pura pura kesal.
"Oh...aku tahu, kau mendekati putriku karena kau tahu siapa dirinya, dia putri keluarga hartanto yang kaya raya sedangkan dirimu," Siska menatap remeh kearah Juan.
"kau hanyalah gelandangan yang dipungut dan di pekerjakan oleh Radit. Jadi tak perlu lagi kau berdalih, katakan berapa uang yang kau inginkan dan tinggalkan Danish."
Juan meradang mendengar semua ocehan Siska. Benar, semua yang dikatakannya memang benar, tapi dia menikahi Zira bukan karena uang.
"Kenapa kau diam, apa kau bingung mengapa aku bisa mengetahui rencana busuk mu?" hehehe Siska tertawa penuh ejeken.
"Aku bukan Danish yang bodoh dan mudah kau tipu. Apakah satu milyar cukup?" tanya Siska. Wajahnya terlihat serius.
"Dua milyar mungkin? aku rasa itu harga yang pantas. Dan setelah itu kau tinggalkan dia" ucap Siska lagi. Ekspresi wajahnya terlihat serius dan penuh keyakinan.
"Mengapa kau ingin aku berpisah dengannya. Tidak kah kau kasihan pada putrimu, dia baru saja dikecewakan kekasihnya, dia sedang bersedih tapi kau_"
"Itu bukan urusan mu!" potong Siska.
"Itu menjadi urusanku karena aku suaminya, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti istriku, termasuk anda. Maaf jika anda tersinggung, tapi satu hal yang harus anda tahu nyonya. Aku tulus padanya dan aku tidak akan pernah meninggalkannya, jadi buang jauh mimpi mu itu."Ucap Juan setelah itu dia berbalik dan melangkah meninggalkan Siska yang meradang dan marah.
"Kau!!!" ucapnya kesal dan menghentakkan kakinya.
Juan berhenti sejenak.
"Suka atau tidak, pria miskin dan gelandangan ini adalah menantumu nyonya, Dan dunia mengakui itu. Aku pastikan Zira akan bahagia bersama ku." ucap Juan tanpa menoleh kearah Siska.
Siska semakin kesal mendengar Juan menolak mentah mentah tawarannya.
Tidak mungkin dia jatuh cinta pada gadis bodoh itu. Pria ini hanya akan mempersulit aku mencapai tujuanku.
Selesai bicara Juan melanjutkan langkahnya memasuki rumah dan menuju kamar mereka.
Zira tanpa sengaja melihat pembicaraan antara Juan dan bundanya. Tapi dia tidak tahu apa yang mereka bicarakan.
Juan masuk ke dalam dan membanting pintu kamar. Hatinya masih kesal dengan ucapan Siska.
Sang istri terkejut dan menatap aneh akan perubahan sikap Juan padanya. Namun dia menekan kuat rasa ingin tahu yang menyeruak didalam hatinya, karena akan percuma menanyakannya pada pria dingin di depannya ini.
" Kau sudah bangun?" Juan menyapa isterinya.
"Mas dari mana?" tanya Zira tanpa menjawab pertanyaan Juan.
Juan yang sudah melewati Zira berbalik dan menatap tak percaya, istrinya memanggilnya mas. "Katakan apa yang kau ucapkan tadi, aku tidak jelas mendengarnya?" tanya Juan.
"Aku tanya dari mana?" ulang Zira
"Bukan yang itu, tapi tadi kau memanggil aku apa?' tanyanya
"Apa?
"Yang tadi, ulang lagi." paksa Juan.
"Mas!" decak zira.
"Apa terdengar kampungan? aku susah jika harus memanggil hubby, jadi aku pikir ku panggil mas saja, tapi kalau tidak suka, tidak apa aku panggil om saja." jawabnya cemberut.
Juan mendekat, dan menarik pinggang Zira hingga tubuhnya menempel dengan tubuh Juan. Juan juga menempelkan kepalanya ke kepala Zira "Aku suka, sangat suka, coba ulangi sekali lagi aku ingin mendengarnya.' ucap Juan.
"Mas." ulabt Zira pelan.
Cup...
Juan mencium kening Zira.
"Terima kasih,"
Setelah itu Juan berlalu ke kamar mandi. Zira berdiri dan terdiam melihat sikap manis Juan.
apa aku tidak salah, dia bersikap manis padaku, dan kening ku.....aaaaaa...baru dua hari menikah dia sudah dua kali mencium keningku.
Zira tanpa sadar mengusap keningnya yang di cium Juan. Zira tersadar dan berjalan menyiapkan pakaian ganti Juan yang sengaja dia bawa di dalam paper bag setelah kembali dari luar. Kaos tangan panjang dipadu dengan jeans.
Juan keluar kamar mandi, tetap sama hanya menggunakan handuk.
"Bisa nggak sih kalau pakai pakaiannya di kamar mandi saja,"
"Maaf aku lupa membawa baju ganti ku, " ucap Juan mengambil pakaian dan kembali masuk ke kamar mandi. Juan mengenakannya dan keluar
Juan tampak ganteng dan terlihat lebih muda. Baju yang dia gunakan sangat pas pada tubuh sispact nya.
"Kenapa bengong, buruan mandi setelah itu kita pulang. Aku putuskan kita tidak jadi menginap, kita pulang setelah makan malam selesai, bereskan barang yang ingin kau bawa " perintah Juan.
"Mengapa tidak jadi menginap?"
"Besok aku sudah masuk kerja, pekerjaan ku menumpuk dan pagi pagi aku sudah harus berangkat ke kantor. Jika kita menginap aku takut akan terlambat." jawab Juan beralasan.
"Baiklah, akan aku bereskan "
Zira mengambil koper dan mulai menyusun beberapa bajunya dan barang barang kesayangannya. Tidak banyak hanya karena Zira juga tidak tinggal disini selama ini.
"Hanya ini?" ucap Juan.
"Ya,"
"Kau mandilah biar aku yang bereskan." ucap Juan.
Dia menyusun semuanya ke dalam koper. Dan Zira masuk ke kamar mandi. Tak sengaja Juan melihat photo pada bingkai kecil yang di masukkan Zira ke dalam tasnya. Tampak wanita muda yang sangat cantik mirip dengan Zira menggandeng seorang anak kecil yang sangat mirip dengannya. apakah ini photo Zira dan ibunya? tapi mengapa tidak mirip dengan bundanya?
pintu kamar mandi terbuka, Juan dengan cepat memasukkan photo tersebut dan menutup kopernya.
"Sudah" ucapnya.
"Kita makan malam dulu, mas belum bertemu dengan papa kan?"
Bantu dengan like, vote dan koin seikhlasnya. terima kasih
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 141 Episodes
Comments
Radiah Hassan
Dlm photo itu ada ibu Zira... Dan Siksa ibu tiri Zira yg berangan2 utk memiliki harta papa Zira utk ank ny Dean yg bkn ank kandung papa Zira.. Siksa sdh mengandung ketika brkawin dgn papa Zira
2024-10-31
0
Wati_esha
Ya betul Juan, itulah ibu kandung Zira. Siska merusak rumah tangga mereka.
2023-08-09
0
herna Prasetyo
ya tentu saja bukan mirip ya kalo ibu sambung
2022-06-22
0