Pagi pagi sekali Siska sudah membangunkan Zira.
"Danis...bangun sayang!" panggil Siska.
Zira membuka pintu dan membiarkan Siska masuk.
"Sayang...kau tidak tidur semalaman, Coba aku lihat sini." ucapnya menarik wajah Zira agar menatap matanya.
Tampak jelas kantung mata dan lingkar hitam di bawah kelopak mata Zira. "Kau bisa merusak dandanan mu sayang, Lihatlah wajah mu!"
"Bunda."
"Bunda tahu nak, kau saat ini sedang bersedih, apa kau ingin bunda memberi tahu Papa mu untuk membatalkan pernikahan ini?" tanya Siska.
"Papa pasti marah bun! Dan Danis yakin papa pasti menyalahkan Danis. Lagipula Danis tidak memiliki buktinya."
"Jika kau setuju meneruskan pernikahan ini, bersiap lah sebentar lagi penata rias akan datang. Bunda tinggal dulu, bunda akan memeriksa yang lain. Kuatkan hatimu." ucap Siska meninggalkan Zira.
Zira tertunduk lesu. Mana mungkin dia setuju menikah dengan Andika, tapi dia takut akan kemarahan dan kemurkaan papa nya. Mau kabur juga tidak mungkin.
Pintu kamar di ketuk,
Tok...Tok...tok...
Zira membuka pintu, tampak dua orang berdiri di hadapannya. Mungkin ini penata rias yang disebutkan bunda.
"Pagi mbak. Kami penata rias yang akan membantu merias mbak Zira." ucapnya penata rias sopan.
"Silahkan masuk, dan tunggu sebentar." ucap Zira.
Kemudian dia berjalan ke kamar mandi. Membersihkan dirinya, di dalam kamar mandi Zira kembali menangis, beberapa jam lagi dia akan menikah dengan Andika di pengkhianat. Bagaimana rumah tangga ku nanti, Papa lebih mempercayainya dari pada aku!
Setengah jam kemudian Zira keluar, dan duduk di meja riasnya. Penata rias mulai melaksanakan tugasnya. Mendandani Zira secantik mungkin.
Setelah semua selesai, mereka juga membantu Zira menggunakan baju pengantinnya. Sebuah kebaya putih, panjang dan terlihat sangat cantik dan pas membalut tubuh cantik Zira.
Kebaya tersebut adalah kebaya pilihannya bersama Andika. Dulu Zira tidak sabar ingin segera memakainya, tapi saat ini kebaya ini bagai borgol yang tengah membelenggunya.
"Sudah selesai. Mbak Zira terlihat sangat cantik." ucap salah satu penata rias. Setelah dia selesai memakaikan Tiara kecil diatas kepala Zira.
"Suami mbak sangat beruntung, memiliki istri secantik mbak Zira. Mbak bagai bidadari. Super mabk, selama saya menjadi penata rias, mbak Zira lah yang paling cantik. Alami tanpa banyak polesan." ucap penata rias yang lain.
Zira hanya tersenyum kecut mendengarnya.
"Terima kasih mbak" jawab Zira.
"Kami permisi dulu ya mbak." ucap penata rias meninggalkan Zira.
Beberapa menit kemudian Sinta sahabatnya muncul. "Wah calon pengantinnya sudah selesai. Zira kamu cantik sekali." ucapnya antusias.
Zira langsung memeluk sahabatnya. "Loh, Zira kamu kenapa nangis? Apa kau bertengkar lagi dengan papa mu?" tanya Sinta heran.
Zira menggeleng. "Lalu?" tanya Sinta semakin bingung.
Sinta dan Zira bersahabat, tapi setelah tamat SMA Zira kuliah di London dan Sinta kuliah di Indonesia. Mereka terpisah namun masih berkomunikasi melalui media sos dan ponsel.
"Katakan padaku, ada apa?" tanya Sinta.
"Andika_"
"Ya ,ada apa dengan Andika?" tanya Sinta Sakin penasaran.
"Dia_" belum selesai Zira bicara bunda memanggilnya.
"Danish, ayo sudah waktunya kita berangkat." ucap Siska.
Zira dan Sinta keluar bersama. Dan kini mereka berada di dalam mobil.menuju gedung pernikahan yang sudah di persiapkan.
...****************...
Juan sudah kembali dari Malaysia. Dan kini dia berada di kantornya.
Tomi sang bos menghampirinya. "Juan, temani aku menghadiri pesta pernikahan putri pak Hartanto. Aku tidak bisa membawa Rania, kau tahu sendiri kan dia memiliki baby yang masih sangat kecil." ucap Tomi.
"Ok, ayo." ucap Juan.
Tomi dan Juan berangkat bersama. Tomi melihat sedikit perbedaan dari sikap Juan semenjak dia pulang dari Malaysia.
"Ju, boleh aku menanyakan sesuatu?" tanya Tomi
"Apa ada yang menggangu pikiran mu, apa kau lelah dan butuh liburan?"
"Tidak ada, aku juga tidak apa apa, memangnya kenapa?" tanya Juan heran.
"Aku perhatikan sejak tadi dirimu banyak melamun. Di kantor juga, sejak kepulangan mu dari Malaysia. Katakan padaku, ada apa? Apa aku terlalu memporsir dirimu dalam bekerja?"
"Tidak ,aku tidak apa apa. Mungkin kau salah lihat." jawab Juan.
Tomi hanya bisa menggedikkan bahunya, dia tidak mungkin memaksa Juan untuk bercerita.
...****************...
Zira sudah bersiap siap di ruang pengantin yang disediakan untuknya. Menunggu saatnya ijab kabul di mulai.
Waktu ijab kabul masih satu jam lagi, tapi keluarga Zira sudah hadir disana. Menyambut tamu dan kerabat yang datang.
Tak berapa lama, Andika dan kedua orangtuanya juga hadir. Andika terlihat gagah dengan jas nya.
tepat jam sepulub, Penghulu memulai acara ijab kabul. Andika sudah duduk di depan penghulu dan pak Hartanto.
Tiba tiba lampu padam, semua orang menjadinterekjut dan mulai ber bisik bisik. Saat orang sibuk membicarakan lampu yang padam, muncullah sebuah cahaya dan gambar di layar lebar. Disana terlihat jelas photo Andika bergandengan mesra dengan cinta. Banyak photo photo yang di tunjukkan, hingga photo mereka berdua memasuki apartemen Andika sambil berangkulan.
Hadirin semakin berisik. Dan mulai membicarakan nya.
Andika dan orangtuanya menjadi malu dan merasa di permainkan.
"Hentikan!!!!"
"Apa apaan ini!!" bentak Andika.
"Zira!!!! panggilnya.
Zira keluar dan melihat photo photo Andika yang masih berputar.
Dengan kasar Andika menarik Zira kehadapan papanya. "Ini pasti ulah mu kan? kau sengaja ingin mempermalukan keluarga ku? Dasar perempuan tak tahu diri. Selama ini aku cukup bersabar dengan mu, tapi tidak kali ini!"
"Apa maksudmu?" ucap pak Hartanto tak kalah emosi.
"Jelas jelas kau yang berselingkuh, untung aku cepat mengetahuinya. Dan aku bersyukur putriku belum jadi menikah denganmu!" ucapnya.
"Asal om tahu, aku juga tidak mencintai putri om, aku mau menikahinya hanya karena dia_"
Plaaak..
Belum selesai Andika bicara zira sudah menampar wajahnya.
"Pergi!!!" ucap Zira.
Andika dan keluarganya pergi dengan perasaan malu dan marah.
Pak Hartanto merasa malu, pernikahan yang dia rancang untuk putrinya gagal dan berantakan.
Zira menangis dan terduduk di lantai. Pernikahannya gagal dan semua orang malah menyalahkannya. Tatapan mata mereka penuh ejekan, dan hinaan, sebagian besar juga menatapnya iba.
"Bapak ibu sekalian, pernikahan ini gagal, saya mohon maaf!" ucap Hartanto pada tamu undangan yang sudah berbisik bisik.
"Tapi, pa." sela bu Siska.
Hartanto mengangkat tangannya.
"Apa lagi yang mau di ucapkan? Tidak ada yang mau menikahi dia, Ayo pulang?" Ucap pak Hartanto.
"Kau,!!" tunjuk Hartanto pada Zira.
"Kau telah membuat malu Papa!" bentak Hartanto.
Juan menatap iba kepada Zira. Bayangan Zira meminta nya menikahinya kembali terbayang.
Tiba tiba Juan berucap dengan lantang.
"Tunggu.!!! Aku bersedia menikahinya." ucap Juan.
Semua mata menatap kearah nya. Pak Hartanto sendiri terkejut mendengar nya.
Siapa yang bicara itu?
Tomi dan Radit terkejut mendengarnya. Tanpa ada angin dan hujan, Juan tiba tiba mau menikah.
Juan maju dan melangkah mendekati Zira. Diulurkan nya tangannya mengangkat Zira. Membantu Zira untuk berdiri.
"Tuan, aku bersedia menikahi Zira." ucap Juan pasti.
Zira terkejut dan menatap kearah pria yang bicara dengannya.
"Om..." ucapnya lirih.
Benarkah Om mau menikahi ku! terima kasih ya allah..
Tomi dan Radit terkejut, keduanya saling pandang, namun sama tak menemukan jawaban.
"Kau siapa?" tanya Hartanto.
"Nama ku Juan" jawab Juan lantang.
Radit segera maju mendampinginya. Dia tahu Hartanto pasti akan menanyakan asal usul dan jabatannya.
Radit tak ingin sahabatnya malu, dia menjawab pertanyaan Hartanto.
"Pak Hartanto, dia adalah sepupuku. Dan dia adalah wakil direktur XYZ, Corporation." jawab Radit cepat.
Hartanto tampak terkejut mendengar ucapan Radit. Siapa yang tidak mengenalnya, dia adalah pengusaha sukses, menantu pengusaha terkenal dan pewaris keluarga Tanjung yang kaya raya.
Hartanto menatap Juan. "Kau, ikut dengan ku, aku ingin bicara empat mata dengan mu."
Juan maju dan mengikuti langkah Hartanto. Para tamu undangan menunggu sambil terus berbisik bisik. Semakin penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dengan tatapan garang Hartanto memandang Juan.
"Katakan apa alasanmu mau menikahi putriku?" tanya Hartanto.
"Karena aku mencintainya." jawab Juan dengan tegas dan suara lantang.
Mendengar jawaban Juan yang tidak ragu, Hartanto kembali berbicara.
"Apa kau yakin, berikan aku satu alasan agar aku bisa menerima mu?"
"Aku tak mempunyai alasan dan aku tidak menjanjikan apapun, aku hanya bisa menjamin jika aku akan membahagiakan Zira sepenuh hatiku." ucapnya.
Hartanto menatap nya tajam dari ujung rambut hingga ujung kaki. Namun Juan tak bergeming.
"Baiklah, aku menyetujuinya. Aku percayakan putriku padamu."
Hartanto keluar dari ruangan diikuti oleh Juan.
Mereka berdua kembali ke aula. Semua mata
menatap penuh tanya pada keduanya.
Tomi menghapiri sahabatnya.
"Juan, apa kau yakin?" tanya Tomi
Juan mengangguk mantap.
"Kau hutang penjelasan pada kita berdua." ucap Tomi. Berbeda dengan Tomi, Radit memilih diam dan menyiapkan beberapa keperluannya. Dia meminta Diki segera membeli cincin untuk mas kawin Juan.
Tomi dan Radit membantu mempersiapkan Juan.
Setengah jam kemudian, ijab kabul yang sempat tertunda kembali dilaksanakan.
Juan duduk di hadapan penghulu dan papa Zira, disampingnya Radit dan Tomi duduk mendampinginya.
"Saya terima nikahnya Zira Danish Hartanto binti Hartanto dengan mas kawin tersebut tunai."
"Sah..
sah..." terdengar jelas.
Juan bernafas lega, Zira menangis haru. Di dalam hatinya dia bersyukur Juan mau menikahinya. Menutup malu dan aib keluarganya. Jika tidak sudah pasti papanya akan menanggung malu karena nya. Dan dirinya menjadi tranding topik di surat kabar.
Zira mencium tangan pria yang sudah menjadi suaminya, berbagai perasaan berkecamuk di dalam hatinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 141 Episodes
Comments
Radiah Hassan
Untung ada juan... Slmt ya Juan dan Zira
2024-10-31
0
🍁Ͷᷤiͦeᷮɩᷧɑⷷ💃🆂🅾🅿🅰🅴⓪③❣️
untung ada Juan yang mau langsung nikah in zira
2024-06-18
0
Lilisdayanti
aqu selalu jatuh cintrong padamu Bambang Juan 😍😍🤭
2023-11-06
0