"Jangan bodoh, hidupmu masih panjang, mengapa kau memandang dunia sepicik ini!"
"Apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaan orangtuamu nanti? Betapa hancurnya hati ibumu melihat kematian mu??"
"Jika kau tidak mencintai dirimu, setidaknya cintai orangtuamu yang sudah membesarkan mu dengan susah payah, dengan penuh cinta dan kasih sayang. Bayangkan betapa kecewanya mereka melihat kelakuan mu.
Apalagi setelah menemukan mu mati bunuh diri karena putus cinta. " Teriak Juan.
Juan tak berhenti dia melanjutkan kalimatnya untuk memperbaharui Zira.
"Dan kekasihmu dia akan berbahagia dengan selingkuhannya, apa kau rela melihatnya bahagia diatas penderitaan mu!! Mereka akan tertawa, apa kau tidak mau membalas mereka? Membalas setiap rasa sakit yang mereka torehkan!!" teriak Juan.
Perlahan kata kata Juan masuk ke dalam pikiran Zira dan dia bergerak turun dari pinggiran jembatan. Juan segera menangkapnya dan memeluknya.
Zira menangis di dalam pelukan Juan. Juan membiarkan gadis itu menangis di pelukannya dan tangannya mengusap lembut rambut Zira.
Beberapa menit keduanya diam dengan posisi Zira memeluk Juan. Juan membiarkan Zira menumpahkan segala kesedihan dan kekecewaan nya.
"Mau aku antar pulang?" tawar Juan.
Zira mengangguk setuju. Juan berjalan sambil menarik tangan Zira. Zira pun mengikutinya dengan patuh.
Mobil kembali melaju membelah jalanan. Mereka berdua diam dan larut dalam pemikiran masing masing.
Seolah Juan memberikan waktu untuk Zira berpikir, apalagi saat ini dia butuh ketenangan.
Mobil terus melaju hingga tiba di lampu merah, Juan akhirnya bersuara.
"Aku lapar dan tadinya aku berniat untuk membeli makanan sebelum bertemu dengan mu! Maukah kau ikut makan denganku??
Tapi jika kau tidak mau menemani ku , katakan dimana rumahmu agar aku bisa mengantarkan mu pulang."
Zira diam, dia bingung, bagaimana mengatakan pada orangtuanya tentang kelakuan Andika.
Zira takut papanya tidak akan percaya karena dia tidak memiliki bukti saat ini. Dan Zira takut Papanya pasti akan membela Andika, karena dia selalu bersikap manis di depan papanya.
Apa yang harus katakan ke papa, apa papa bisa mempercayaiku??
"Katakan dimana rumah mu, aku akan mengantarkan mu?" tanya Juan lagi.
Lama Juan menunggu, Zira tak kunjung menyebutkan alamat rumahnya.
"Bagaimana aku bisa mengantar mu, jika aku tidak tahu dimana rumah mu? Katakan dimana?"
"A...aku tidak mau pulang. Aku tidak mau bertemu dengan Andika!" ucap Zira akhirnya.
Juan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Jika dia tidak mau pulang, jadi kemana aku akan membawanya? tidak mungkin aku membawanya ke apartemen ku!!
"Kita singgah di supermarket sebentar, aku akan membeli makanan. Kau bisa menunggu disini. Atau ada yang ingin kau ucapkan?"
Zira masih sama, diam tak bergeming, di tempat nya.
Juan semakin bingung, tadi dia mau bunuh diri, sekarang dia diam tak menjawab, bagaimana ini.
Juan berhenti di sebuah mini market yang buka dua puluh empat jam. Juan turun dan masuk kedalam.
Lima belas menit kemudian dia keluar dengan membawa tiga buah kantong plastik. Yang pertama berisi cemilan, Snack dan minuman kaleng. Yang kedua berisi bahan makanan dan kantong yang terakhir berisi buah buahan segar.
Juan masuk dan meletakkan belanjaan nya di joke belakang. Dia masuk Kembali ke dalam mobil.
Dipandangnya Zira sejenak sebelum akhirnya dia kembali bersuara.
"Aku akan mengantarkan mu sampai rumah, kau tak perlu cemas. Katakan dimana alamat mu?" tanya nya lagi.
"Bo..boleh aku ikut dengan mu?" ucap Zira dengan suara berat.
Juan membulatkan matanya mendengar ucapan Zira.
"A...aku takut dia akan menunggu ku di rumah, aku tidak mau bertemu dengannya lagi." ucap Zira akhirnya.
Juan membuang nafas kasar, seumur hidup dia tidak pernah membawa seorang wanita ke apartemen nya, tapi dia juga tidak tega melihat keadaan Zira saat ini. Juan bergelut dengan pemikirannya, namun akhirnya dia mengalah.
Akhirnya Juan membelokkan mobilnya kembali ke apartemen. Dan memarkirkannya di basment. Kemudian turun dan membawa kantong belanjaan ditangannya. Zira mengikuti langkahnya di belakang.
Juan mempersilahkan Zira masuk dan duduk di sofa. Kemudian dia mengambil bahan makanan dan membuat spaghetti sebagai menu makan malam nya kali ini.
Lima belas menit sibuk di dapur akhirnya masakan Juan selesai. Dia membawa dua piring spaghetti dan dua gelas air putih.
"Makanlah, setelah itu kau bisa beristirahat di kamar tamu." ucap Juan.
Dia mengambil seporsi spaghetti miliknya dan mulai memakannya dengan lahap.
Sampai Juan selesai makan Zira belum juga menyentuh makanannya.
"Makanlah" ulang Juan.
Zira menatap Juan lama. Kemudian dia menarik nafas panjang.
"Tuan, apakah tuan sudah menikah?" tanya Zira.
Apa apaan gadis ini, mengapa dia menanyakan, apa urusannya dia dengan statusku menikah atau tidak? apa dia takut di sebut pelakor seperti yang saat ini lagi trend.
Juan terdiam lama, namun akhirnya dia menjawab. "Belum" ucapnya datar.
Mendengar jawaban Juan, Zira sedikit bernafas lega. Dia kembali menatap Juan.
"Tuan, maukah kau menolongku?"
"Maukah kau menikahi ku?" tanya Zira sambil menatap Juan.
Juan sampai tersedak air yang dia minum. Hingga dia terbatuk batuk.
"Apa maksudmu?" tanya Juan tak percaya.
"Aku tidak mau. Nona, kau saat ini sedang kacau, sebaiknya kau beristirahat."
Zira tak bergeming. Dia menatap Juan sejenak sebelum kemudian melanjutkan kalimatnya.
"Aku memang gadis yang sangat malang. Mengapa tak kau biarkan saja aku mati.
Namaku Zira Danish Hartanto. Pria yang kau lihat tadi, dia adalah tunanganku namanya Andika. Pernikahan kami berlangsung dua hari lagi, dan tadi aku singgah ke apartemen nya untuk memberikan kejutan.
Tapi bukannya dia yang terkejut, justru aku yang terkejut karena dia__ dia sedang ...." Zira tak melanjutkan kalimatnya airmatanya kembali menetes.
"Nasib ku memang sungguh menyedihkan. Sahabatku dan tunangan ku ternyata bermain api di belakangku selama ini. Aku yang bodoh percaya pada mereka begitu saja. Nasib ku memang sungguh buruk, Bahkan om saja tidak mau menerima ku." ucapnya sedih.
Kemudian Zira menceritakan semuanya dari awal dia masuk ke apartemen Andika Hingga dia berada di pinggir jembatan.
"Katakan, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mau menikah dengan pria seperti itu!! Dia jahat, dia tidak mencintai ku, aku tidak mau menghabiskan hidupku dengannya. Tolong aku tuan, tolong!!" ucap Zira memohon.
Juan diam, dan tak tahu apa yang akan dia ucapkan lagi. Menikah, dia memang ingin segera menikah, tapi bukan seperti ini caranya, apalagi dia tidak mengenal gadis kecil dihadapannya ini.
"Sudahlah nona, Sebaiknya anda istirahat. Ini sudah larut malam. Oh ya, besok pagi pagi sekali saya akan berangkat ke Malaysia, kamu bisa tetap disini jika mau. Selamat malam." ucap Juan dan meninggalkan Zira.
Zira kembali menangis, Zira bingung bagaimana caranya dia memberitahu kan kepada orang tuanya.
Zira membuka tasnya dan mengambil ponselnya. Terlihat banyak sekali panggilan tak terjawab dari Andika, ada juga dari papa nya.
Zira membuka sebuah pesan dari papanya , yang isinya papanya menanyakan keberadaannya sekarang. Dan mengatakan jika Andika mencarinya ke rumah. Andika sudah menjelaskan semuanya dan bilang dia salah paham.
Zira menutup ponselnya dan mencampakkannya di sofa. Zira benci situasi ini, Andika telah mempengaruhi papanya dan memutar balikkan fakta.
Tunggu kelanjutannya ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 141 Episodes
Comments
Radiah Hassan
Papa Zira percaya apa yg di katakan Andika...
2024-10-30
0
Lilisdayanti
papa yg ogeb,,lebin percaya ama orang,, ketimbang anak sendiri 😥
2023-11-05
0
Wati_esha
Mengapa Hartanto lebih percaya pada Andika dibanding Zira anaknya?
2023-07-04
0