Mau dong di kasih hadiah, hihihi
Mencintai seseorang terlalu dalam kadang memberikan luka yang terlalu dalam juga. Seperti yang dirasakan oleh Flora, cintanya yang begitu besar pada Daniel memberikan luka yang sangat dalam dan masih membekas di hatinya meski sudah tiga tahun yang lalu.
Perbedaan kasta dan terhalang restu dari orang tua Daniel membuat kisah cinta mereka harus berakhir. Bukan, lebih tepatnya terpaksa harus berakhir.
Flora sangat tidak bersemangat untuk berkerja hari itu, kepalanya terasa sangat berat karena terlalu banyak memikirkan hal yang mungkin akan terjadi selanjutnya. Flora menjatuhkan kepalanya yang terasa berat itu di meja kerjanya saat mengingat lagi masa-masa indah bersama Daniel dan juga penghinaan serta ancaman dari orang tua mantan kekasihnya itu.
"Apa yang harus aku lakukan?" Hanya itu yang mampu Flora katakan saat itu.
Tiba-tiba bunyi telepon di mejanya mengejutkan Flora. Flora langsung mengangkat kepalanya dan langsung mengangkat gagang telepon yang tersambung dengan ruangan Farhan.
"Hallo, Pak," ucap Flora saat gagang telepon itu sudah berada di dekat telinganya.
"Flora ke ruangan saya sekarang!"
"Ba-baik, Pak." Flora bisa mendengar suara Farhan berbeda dari biasanya. Seperti ada rasa kesal di nada bicaranya.
Setelah mengatakan itu sambungan telepon terputus begitu saja. Flora merasakan firasat buruk.
Dengan harap-harap cemas Flora melangkah ke ruangan kerja Farhan. Flora masuk ke ruangan atasannya setelah sebelumnya mengetuk pintu ruangan itu.
"Bapak manggil saya?" tanya Flora saat ia sudah berada di dalam ruangan atasannya itu.
"Periksa kembali berkas-berkas
ini lagi, jangan sampai ada kesalahan!" Farhan melempar tiga map ke atas meja kerjanya dengan sedikit kasar membuat bunyi yang mengejutkan Flora.
Flora sedikit tersentak saat melihat Farhan melempar pekerjaannya dengan kasar. Ini baru pertama kalinya atasannya itu melakukan tindakan seperti itu, biasanya setiap kali ia melakukan kesalahan farhan hanya menegurnya, tapi kali ini lain. "Baik, Pak." Flora mengambil map di meja kerja atasannya. "Saya permisi dulu," izin Flora.
Flora berbalik untuk kembali ke meja kerjanya namun Farhan memanggilnya kembali.
"Flora …."
Flora berhenti melangkah danm dengan perasaan takut Flora kembali melangkah ke depan meja kerja Farhan.
"Baru kali ini saya melihat kinerja kamu buruk. Apa ini karena Daniel?" tanya Farhan tanpa basa- basi.
"Bukan, Pak," jawab Flora. Sejujurnya iya dan Farhan pun tahu itu.
"Saya sudah mempertahankan kamu di perusahaan ini karena kinerja kamu bagus. Tetapi jika hanya karena masalah pribadi kamu membuat kerja kamu seperti ini, saya tidak bisa membela kamu lagi dan tidak bisa mempertahankan kamu lagi di sini," tegas Farhan.
Flora yang tadinya menundukkan kepalanya akhirnya menunjukan wajahnya dan menatap lurus ke arah Farhan dengan wajah yang memelas.
"Maaf, Pak. Tolong beri saya satu kesempatan untuk memperbaiki ini," mohon Flora.
"Satu kesempatan Flora, ingat hanya satu kesempatan." Flora langsung mengangguk. "Silahkan kembali ke tempatmu," suruh Farhan yang langsung diangguki oleh Flora.
Flora segera kembali ke meja kerjanya dan kembali duduk di balik meja kerjanya. Flora menghapus air matanya yang sempat keluar. Ia sedih ini baru pertama kalinya ia ditegur sampai seperti itu.
Flora menarik nafas panjang lalu kemudian menghembuskannya baru setelah itu Flora mencoba kembali berkonsentrasi bekerja.
*****
Jam istirahat telah tiba, Flora membereskan kembali meja kerjanya, akhirnya pekerjaannya selesai tepat waktu dan siap untuk ia serahkan kembali pada atasannya.
Flora beranjak dari kursinya dan memutuskan pergi makan siang di kafe di depan kantor itu. Flora belum banyak memiliki teman di kantor itu. Pernah ia memiliki teman, namun setelah mereka tahu jika dirinya anak haram mereka semua menjauh.
Flora memilih duduk di dekat jendela sambil menunggu pesanan makan siangnya. Pandangannya mengarah pada mobil yang berlalu lalang di depan kafe itu. Tarikan nafas Flora lakukan berulang-ulang untuk menetralkan sebuah perasaan yang sedang ia rasakan, perasan yang campur aduk.
"Flora …."
Flora mengalihkan pandangannya dan melihat salah satu teman kerjanya. Flora tidak terlalu kenal dengan perempuan itu hanya yang Flora tahu perempuan itu bernama Mutya.
"Hai," sapa Mutya.
"Hai," balas Flora.
"Kamu sendiri di sini?" tanya Mutya sebelum ia menarik kursi di sebelah Flora.
"Memang siapa yang mau berteman dengan anak haram seperti ku." Ugh rasanya sakit sekali ketika harus mengucapkan kata-kata itu.
Mutya tersenyum lalu meraih tangan Flora, "Jangan bicara seperti itu dan jangan pikirkan mereka yang memandang dirimu dengan sebelah mata."
"Sudahlah jangan bahas ini lagi." Mutya menarik tangannya lalu mengulurkan tangannya kepada Flora. "Ayo kita berteman."
Flora menatap heran pada Mutya kenapa teman kerjanya yang jarang sekali mengobrol dengan dirinya mendadak meminta berteman dengan dirinya.
"Kenapa? Apa kamu tidak mau berteman dengan ku?" tanya Mutya saat Flora tak kunjung menerima uluran tanganya.
"Kenapa kamu mau menjadi temanku disaat yang lain menjauhi ku?" tanya Flora.
"Kamu butuh alasan kenapa aku mau berteman denganmu?" tanya Mutya.
"Karena mereka juga punya alasan untuk menjauhi ku dan-"
"Itu mereka Flora, bukan aku. Aku hanya ingin berteman dengan mu saja," sela Mutya.
Flora mendesah pasrah ia bertemu lagi dengan orang yang sangat pemaksa. "Oke, kita berteman." Kini Flora lah yang pertama kali mengulurkan tangannya dan Mutya pun langsung dengan senang hati menerima uluran tangan Flora.
Makan siang yang Flora dan Mutya pesan sudah datang dan langsung memutus obrolan dua sahabat baru itu. Flora dan Mutya pun memulai persahabatan mereka dengan makan siang bersama.
Flora melihat waktu di jam yang melingkar di pergelangan tangannya, waktu istirahat mereka masih setengah jam lagi. Flora berniat untuk kembali ke kantornya namun saat ia dan Mutya baru akan beranjak dari kursi, Daniel datang dan mencegah Flora untuk pergi.
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu, Flora," ucap Daniel.
"Aku masih ada banyak pekerjaan," tolak Flora. Pekerjaan yang menumpuk gara-gara memikirkan mu, batin Flora.
"Hanya sebentar Flora, please. Aku mohon," pinta Daniel.
"Flora … maaf sebaiknya aku pergi aku tidak akan mengganggu kalian," ucap Mutya dan Flora mengangguki ucapan Mutya.
"Baiklah kita bicara," ucap Flora.
"Tidak di sini," sahut Daniel.
Mata Daniel memandang sekitar ada banyak orang di dalam kafe itu. Flora pun mengikuti arah pandang Daniel, ia mengerti apa yang sedang Daniel pikirkan.
Flora mengangguk dan mengikuti langkah Daniel. Daniel membawa Flora ke taman belakang kafe itu, tempatnya jauh lebih sepi bahkan hanya ada mereka berdua di sana. Keduanya duduk saling berhadapan di meja yang sudah disedikan.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Flora tanpa basa-basi.
"Tentang kita," jawab Daniel.
"KIta sudah selesai," ucap Flora.
"Belum."
"Apa lagi Daniel? Apa yang masih tersisa di antara kita?" tanya Flora.
"Aku masih sangat mencintai mu," ucap Daniel. "Dan aku tahu kamu juga masih mencintaiku," lanjut Daniel.
Flora tersenyum kecut setelah mendengar ucapan Daniel. "Jika ini yang ingin kamu katakan lebih baik lupakan!" Flora langsung berdiri dari kursi dan ingin pergi dari tempat itu, namun Daniel langsung mencegahnya.
"Flora …."
Flora menyentak tangan Daniel yang menahan tangannya, "Kamu bilang kamu mencintaiku tapi kemana saat orang tua kamu menghinaku dan ibuku?" tanya Flora penuh penekanan pada Daniel. Flora sangat sakit saat itu sampai Flora tidak ingin melihat ke arah Daniel.
Daniel menangkup kedua sisi wajah Flora, memaksa Flora untuk melihat ke arahnya. "Maafkan aku Flora saat itu aku tidak tahu jika ibuku akan datang ke rumahmu untuk menghinamu serta ibu mu. Aku tidak tahu itu, Flora … sungguh."
Flora menatap mata Daniel untuk mencari sebuah kebohongan di sana namun Flora tidak menemukannya.
"Aku baru tahu saat kamu menghubungi ku untuk memutuskan hubungan kita," lanjut Daniel.
Daniel menyatukan keningnya dengan kening Flora. Daniel bisa melihat dengan jelas air mata Flora mengalir deras dari matanya.
Flora menarik diri dari Daniel dan memalingkan wajahnya dari Daniel. Flora bergeser beberapa langkah untuk menjauhi Daniel seraya mengusap air matanya.
Daniel tidak menyerah ia terus berusaha untuk membujuk Flora dan menyelesaikan kesalahpahaman diantara mereka.
"Aku tidak bisa melakukan apapun saat itu Flora, ibuku mengancam ku agar aku menjauhi mu dan jika tidak … dia akan melukai dirimu," jelas Flora.
Flora masih diam dan tidak berkomentar ia hanya mendengarkan semua perkataan Daniel.
"Tapi kali ini aku berjanji Flora aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu termasuk ibuku." Daniel meraih tangan Flora dan kini mereka berdiri saling berhadapan.
"Percayalah padaku Flora."
Daniel menghembuskan nafas berat saat Flora hanya diam saja.
"Ayo kita mulai ini dari awal dan aku pastikan kedua orang tuaku akan merestui kita kali ini," ucap Daniel penuh keyakinan.
"Kenapa kamu begitu yakin akan hal itu?" tanya Flora.
"Aku akan melakukan apapun Flora demi hubungan kita." Meski harus melawan soudaraku sendiri lanjut Daniel dalam hatinya.
"Aku butuh waktu. Berikan aku waktu untuk memikirkan semua ini," pinta Flora.
Daniel mengangguk setuju.
"Aku pergi dulu, jam istirahatku sudah habis."
Tanpa menunggu perkataan Daniel selanjutnya. Flora pergi dari tempat itu meninggalkan Daniel yang sedang berdiri dalam diamnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 251 Episodes
Comments
yana ayana
jgn balikan ma daniel flo
2022-05-15
0
Masiah Firman
gimana dg gio.....aku setuju kalau sm gio
2021-07-31
1
Zamira Paytren
sama gio aj flo ...ingat penghinaan ortunya daniel.....😒😒
2021-06-27
2