**Like like like dan komentarnya.
Happy reading**
Warna biru langit sudah tergantikan oleh warna gelap. Cahaya mentari juga sudah tergantikan oleh cahaya dari bulan. Tidak ada satu bintang pun di langit malam itu, membuat malam itu terasa sangat sepi, se sepi hati Flora.
Flora sedang duduk di dekat jendela kamarnya, ia merebahkan kepalanya di palang jendela dengan menjadikan tangannya sebagai bantal, jarinya bergerak memutar di palang jendela seolah menggambar bentuk lingkaran namun yang tidak terlihat.
Ada sebuah rasa ketakutan dalam diri Flora setelah bertemu kembali dengan orang tua Daniel, dan sekarang juga semua orang di kantor itu atau bahkan mungkin seluruh dunia sudah tahu jika dirinya tidak memiliki ayah. Belum lagi tentang Daniel, perasaan cinta yang masih Flora rasakan pada Daniel membuat Flora bimbang.
Namun secara tiba-tiba Flora teringat akan Gio, laki-laki yang sangat menyebalkan baginya. Tetapi Flora merasa ada untungnya juga bertemu dengan Gio, sikap usilnya membuat Flora sedikit melupakan rasa sedihnya
Mendadak Flora teringat akan ucapan Gio waktu mereka sedang berada di mobil, laki-laki itu berjanji akan membantu menyatukan dirinya dengan Daniel. Ada sedikit harapan bagi Flora untuk bisa kembali bersama Daniel.
Akan tetapi apa Daniel masih mengingatnya dan mencintainya seperti dulu atau dia sudah melupakan dirinya? Semua pertanyaan itu muncul di benak Flora dan makin membuat pikirannya kacau.
Meskipun Flora nampak biasa saja, tetapi sesungguhnya hatinya di liputi rasa takut dan juga resah. Bagaimana jika ia kembali dipertemukan dengan mantan kekasihnya itu? Sungguh Flora tidak tahu harus berbuat apa dan apa yang nantinya ia harus katakan jika kembali bertemu dengan mantan kekasihnya itu.
Jika Flora punya pilihan, Flora memilih untuk keluar dari perusahaan milik keluarga Ferdinand itu, tetapi sayangnya Flora terikat dengan kontrak kerja di perusahaan itu.
"Huff, apa yang harus aku lakukan sekarang?" batin Flora. Air mata Flora pun ikut menitih mengiringi kesedihan Flora.
Flora tersentak saat ada seseorang yang mengusap kepalanya. Flora mendongak dan melihat Seruni, ibunya sedang berdiri di sampingnya dan sedang mengusap kepalanya.
"Anak gadis gak boleh melamun di jendela ..., pamali," tegur Seruni.
Flora langsung mengangkat kepalanya dan mengusap air matanya, "Eh Ibu, ngagetin Flora saja," ucap Flora.
Flora beranjak dari kursi dan melangkah menuju ke arah tempat tidur. Flora duduk di atas tempat tidur dengan meletakkan bantal di atas pangkuannya.
Seruni pun menyusul Flora dan duduk di hadapan anaknya. Seruni tersenyum sebelum meraih tangan anaknya, "Ada apa, kenapa menangis?" tanya Seruni. "Apa kamu ada masalah?" lanjutnya.
"Gak ada kok, Bu. Flora cuma lagi inget sama almarhum bapak Wawan sama ibu Murni," jawab Flora.
"Jangan bohong! Ibu sudah merhatiin kamu beberapa hari ini, kamu melamun kadang juga menangis, ada yang kamu sembunyiin dari ibu?" tanya Seruni.
"Gak ada, Bu," jawab Flora.
"Jangan bohong, Flora, ibu ini ibu kamu, kalau kamu ada masalah ya cerita sama ibu," ucap Seruni.
Flora diam sejenak, ada keraguan untuk menceritakan masalahnya pada ibunya, Flora takut jika ibunya tahu jika ia sudah bertemu dengan ibunya Daniel, maka itu pasti akan menambah beban di pikiran ibunya. Ibunya selalu menyalahkan sendiri atas masalah yang terjadi antara dirinya dan Daniel.
"Flora apa kamu tidak percaya sama ibu?"
"Bukan begitu, Bu." Flora diam sejenak sebelum akhirnya Flora menceritakan yang terjadi tiga hari yang lalu.
Flora menarik nafas dalam-dalam sebelum ia memulai pembicaraan. "Bu, Flora gak sengaja bertemu dengan ibunya Daniel di tempat kerja Flora, dan ternyata Daniel adalah keponakannya bapak Farhan, bos nya Flora," jelas Flora.
Seruni nampak sangat terkejut setelah mendengar perkataan Flora. Seruni panik, ia takut jika anaknya itu dilukai oleh wanita itu. Seruni ingat pada setiap kata yang wanita itu katakan termasuk ancaman wanita itu yang akan melukai Flora jika masih berhubungan dengan Daniel, "Kamu gak diapa-apain, 'kan, Nak?" tanya Seruni panik.
Flora meraih kedua pundak ibunya untuk menenangkannya, "Bu, tenang! Flora gak di apa-apain, bapak Farhan juga lindungin Flora kok." Setelah mendengar perkataan Flora, Seruni nampak sedikit tenang.
"Syukurlah, Nak," ucap Seruni dengan.
Flora menjatuhkan kepalanya di pangkuan ibunya, "Sekarang di tempat aku kerja semuanya sudah tahu tentang hubungan aku dan Daniel, juga tentang aku yang tidak punya ayah, meski mereka diam di depan aku tapi aku tahu, Bu, jika mereka ngomongin aku di belakang." Satu tetes air mata Flora menetes di pangkuan Seruni.
Seruni mengusap kepala Flora dengan penuh kelembutan, dan dengan mata yang berkaca-kaca, "Maafin ibu, Flora. Gara-gara ibu, nasib kamu jadi begini," ucap Seruni diikuti air matanya yang jatuh di atas pipi Flora.
Flora mengangkat kepalanya dari pangkuan ibunya dan menatap lurus ke mata ibunya. "Bu, tolong jangan menangis dan jangan selalu menyalahkan diri ibu sendiri untuk apa yang terjadi antara aku dan Daniel. Jika saja waktu itu ibu tidak mempertahankan Flora di perut ibu, makan Flora tidak akan lahir ke dunia ini. Harusnya Flora lah yang minta maaf ke Ibu, karena demi mempertahankan Flora, ibu dihujat banyak orang."
Flora dan Seruni benar-benar sudah tidak bisa membendung air mata mereka. Seruni langsung menarik Flora ke dalam pelukannya, mereka berpelukan dan menangis bersama. Mereka mengeluarkan perasaan sedih bercampur bahagia dari dalam diri mereka.
Bib bib
Flora menoleh saat telinganya mendengar bunyi dari notifikasi pesan masuk di ponselnya. Flora dan Seruni melepas pelukan mereka.
"Siapa yang mengirim pesan padamu malam-malam begin?" tanya Seruni.
Segera Flora meraih ponsel yang ada di dekatnya. Flora melihat siapa yang mengirim pesan. Kening Flora berkerut saat melihat siapa yang baru saja mengirim pesan ke nomornya. Meski Flora tidak menyimpan nomor itu, tetapi Flora tahu jika itu adalah nomor ponsel Gio.
Flora penasaran pada pesan gambar yang di kirim oleh pria menyebalkan itu. Flora masih menunggu gambar itu terdownload dan saat gambar itu sudah terdownload tiba-tiba mata Flora melebar bahkan menjatuhkan ponsel sambil berteriak.
Seruni pun ikut terkejut melihat anaknya berteriak. "Ada apa Flora?" tanya Seruni.
Bukannya menjawab pertanyaan dari ibunya, justru Flora malah mengumpat.
"Dasar bodoh," umpat Flora.
"Flora siapa yang kamu katain?" tanya Seruni lagi.
"Ini Bu, anaknya bapak Farhan, namanya Gio. Masa dia ngirim gambar begini sama Flora." Flora menunjukan gambar yang baru saja dikirim oleh Gio.
Seruni langsung tertawa, "Ini kan lucu Flora kenapa kamu malah teriak," ujar Seruni diikuti tawa kecilnya.
"Lucu dari mana?" Flora langsung membalas pesan pada Gio dan akhirnya keduanya berbalas pesan.
Seruni memutuskan untuk keluar dari kamar anaknya secara diam-diam karena tidak mau menganggu anaknya.
Seruni berdiri di ambang pintu sambil memperhatikan Flora yang sedang berbalas chat dengan Gio.
Seruni bisa melihat senyum Flora, senyum yang sudah jarang sekali terlihat di bibir anaknya. Seruni berharap jika keceriaan Flora nya yang dulu akan kembali.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 251 Episodes
Comments
Lili Astuti
dasar gio suka usil
2022-03-24
0
Sinsin Nur Syifa Karimah
jadi penasaran nanti flora sama siapa ya jadinya.. Daniel apa Gio. hemmmm
2021-08-17
0
sepertinya gio itu kakaknya flora
2021-07-15
2