Ngakunya sih sudah berteman, namun tenyata Gio dan Flora masih saja seperti Tom and Jerry. Setelah semalam berbalas chat berakhir dengan saling mengejek dan saat keesokan paginya saat Gio datang ke rumah Flora untuk menjemput mantan pacar adik sepupunya itu, keduanya masih saja tidak bisa akur.
Bunyi klakson mobil terdengar tepat di depan rumah Flora. Flora yang baru saja keluar melewati pintu rumahnya terkejut saat melihat mobil Gio berhenti tepat di depan rumahnya.
Flora mengerutkan keningnya kenapa pagi-pagi anak bosnya datang ke rumahnya. Flora lebih terkejut lagi saat laki-laki itu turun dari dalam mobilnya dan menggunakan setelan jasnya lengkap dengan dasi yang melingkar di lehernya.
Kedua bola matanya Flora hampir keluar saat melihat penampilan baru Gio.
"Apa kamu sudah puas memandangi ku?" ledek Gio dengan senyum nakalnya.
Flora berdecak pagi-pagi sudah bertingkah batin Flora.
"Kenapa pagi-pagi sekali kamu datang ke sini dan-" Flora memperhatikan penampilan Gio dari atas hingga bawah. "Penamilanmu berbeda?"
"Mulai sekarang aku bekerja di perusahaan itu. Dan aku ke sini untuk menjemputmu," jawab Gio.
Flora menatap heran ke arah Gio, "Terima kasih sudah repot-repot datang, tapi tidak usah, aku bisa berangkat sendiri," tolak Flora dengan muka jutek.
Seruni keluar dari rumah setelah mendengar anaknya seperti sedang mengobrol dengan seseorang.
"Flora kamu bicara dengan siapa?" Pandangan Seruni mengarah langsung pada Gio yang ada di sebelah anaknya.
Pandangan Gio juga mengarah tepat pada Seruni, wanita yang diam-diam dia kagumi setelah mendengar cerita Flora.
"Dia siapa Flora?" tanya Seruni matanya mengalihkan pandangannya dari Gio.
Gio yang melihat Seruni langsung menyalami tangan Seruni yang langsung membuat Seruni terkejut.
"Dia Gio, Bu. Anaknya bapak Farhan," jawab Flora. "Yang nyebelin itu loh, Bu," lanjut Flora matanya memicik ke arah Gio namun laki-laki itu hanya terkekeh.
"Oh." Seruni manggut-manggut. "Kok gak diajak masuk dulu," ucap Seruni.
"Tidak usah, Bu, saya ke sini mau jemput Flora saja," sela Gio yang langsung di sambut senyum ramah oleh Seruni.
Seruni langsung melirik ke arah Flora seperti mengisyaratkan sesuatu. Seakan tahu apa arti isyarat dari ibunya, Flora menggelengkan kepalanya, ikatan batin yang kuat.
"Baiklah, kalian hati-hati di jalan," ucap Seruni yang langsung membuat mata Flora terbelalak.
"Apa yang ibu lakukan?" batin Flora. Flora meminta supaya ibunya tidak membiarkan dirinya pergi dengan laki-laki meyebalkan itu tetapi ibu malah berbuat yang lain.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu," pamit Gio. Gio beralih pada Flora, "Ayo kita berangkat sekarang," ajak Gio.
"Kamu duluan saja," suruh Flora.
"Oke." Gio melangkah terlebih dahulu ke arah mobil dan menunggu Flora di samping mobilnya.
Flora merangkul lengan ibunya dan berkata, "Apa yang ibu lakukan, kenapa malah menyuruh aku berangkat bareng sama laki-laki menyebalkan itu," protes Flora.
"Mana ibu tahu," kilah Seruni.
Padahal Seruni tahu apa yang Flora minta tetapi Seruni sengaja supaya Flora bisa pergi bersama Gio.
"Sudah sana berangkat nanti kamu telat, lagian kasihan juga dia nungguin kamu," ucap seruni di balas dengusan Flora, namun Seruni justru tersenyum meledek Flora sambil mengusap sisi wajah anaknya.
"Ibu berangkat kerja dulu, kamu hati-hati di jalan," ujar Seruni.
Flora mengangguki ucapan ibunya dengan muka masam lalu menyalami tangan ibunya, "Flora berangkat dulu," pamit Flora.
Sambil menggerutu Flora melangkah menghampiri Gio yang berdiri di samping mobil dengan bersandar pada pintu mobil.
"Yuk berangkat!" ajak Flora.
Flora berjalan menuju bangku penumpang tetapi Gio segera menghentikan langkah Flora.
"Kamu mau kemana?' tanya Gio.
Flora berhenti melangkah setelah ia mendengar perkataan Gio. Flora berbalik ke arah Gio dengan menaikan satu alisnya saat Gio menunjukkan kunci mobil di hadapan wajahnya.
"Kamu yang bawa mobilnya," ucap Gio dengan senyum menggoda.
Flora menghela nafas berat saat itu juga, "Apa kamu yakin?" tanya Flora. "Aku masih takut."
"Mau sampai kapan kamu takut." Gio meraih tangan Flora dan meletakan kunci mobil di tangan perempuan itu.
Tanpa menunggu persetujuan dari Flora, Gio masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang. Flora menarik nafas dalam-dalam lalu kemudian menghembuskannya sebelum dirinya masuk ke mobil dan duduk di balik kemudi.
"Apalagi yang kamu tunggu? Jalankan mobilnya," suruh Gio.
"Iya, iya, kenapa kamu cerewet sekali," sahut Flora.
Flora memasukan kunci mobil ke tempatnya lalu memutar kunci mobil untuk menyalakan mesin mobilnya. Setelah menyala, Flora kembali menarik nafas dalam-dalam sebelum menarik gigi dan menginjak pedal gas untuk melajukan mobil itu.
Jalan perkampungan Flora tidak terlalu ramai kendaraan tetapi ramai pejalan kaki dan banyak jalan yang berlubang. Flora mengendarai mobilnya dengan hati-hati.
Flora sedikit merinding saat mobil yang ia kendarai sudah memasuki jalan raya.
Kenapa laki-laki di sebelahnya selalu saja memaksakan kehendaknya sendiri. Apa di tidak memikirkan keselamatan diri mereka Flora berucap dalam hatinya.
"Kendarai saja mobilnya, jangan memikirkan hal lain," ucap Gio seakan tahu isi pikiran Flora.
Flora melirik Gio sekilas, laki-laki di sebelahnya itu sedang fokus pada berkas yang ada di tangannya.
Nampak ada sedikit perbedaan pada diri Gio. Laki-laki yang selalu bersikap slengean kini terlihat nampak serius. Flora benar-benar masih bingung seperti apa sikap dan sifat Gio sebenarnya.
"Apa mulai hari ini kamu bekerja di perusahaan itu?" Flora memulai pembicaraan untuk memecah kesunyian di dalam mobil dan untuk melepas ketegangannya.
"Hmmm. Papa selalu menyuruhku untuk menjadi pemimpin di perusahaan itu. Aku sebenarnya malas, aku ingin membuka bisnis ku sendiri," jawab Gio tanpa mengalihkan pandangan dari beberapa berkas yang sedang ia pelajari.
"Kenapa? Bukankah itu bagus, kamu tinggal meneruskan bisnis keluargamu dan tidak perlu repot-repot membangun bisnis dari nol," ucap Flora.
"Yang itu berarti aku harus siap bersaing dengan Daniel untuk merebut kursi kepemimpinan itu," sela Gio.
Ugh rasanya seperti tertusuk duri setiap kali mendengar nama Daniel.
"Apa itu artinya Daniel juga akan bekerja di perusahaan itu?" tanya Flora.
Flora berharap jawaban Gio adalah tidak, namun kenyataannya adalah iya. Tentu saja Daniel akan bekerja di perusahaan yang sama dengan mereka karena itu perusahaan milik keluarga Ferdinand.
"Tentu saja sayangku, bukankah kamu senang sebentar lagi bertemu dengan Daniel lagi?" Kata-kata Gio terlihat seperti sebuah sindiran.
Flora tersenyum masam saat itu juga. "Aku justru berharap dia tidak lagi datang lagi dalam hidupku," guman Flora yang masih bisa di dengar oleh Gio.
"Kenapa, bukankah kamu masih sangat mencintai adik sepupuku itu?"
Flora menggelengkan kepala, "Aku tidak tahu."
"Itu berarti aku masih memiliki kesempatan untuk bisa bersamamu?" Seketika pandangan Flora dan Gio bertemu di satu titik yang sama.
Flora langsung memutus pandangan mereka karena harus kembali berkonsentrasi mengemudi.
"Hei kamu belum menjawab pertanyaan dari ku," ucap Gio.
"Sudahlah Gio jangan selalu menggodaku seperti itu," sahut Flora.
"Aku serius, Honey," ucap Gio.
Flora menahan tawa di bibirnya, "Sejak kapan kamu serius? Sejak dari awal aku bertemu dengan mu, kamu sama sekali tidak bisa di ajak serius," ucap Flora. Atau mungkin Flora lah yang tidak bisa membedakan kapan Gio serius dan kapan Gio bercanda.
"Jika kali ini aku serius bagaimana? Dan jika suatu saat kamu dihadapkan pada dua pilihan, siapa yang kau pilih aku atau Daniel?" tanya Gio.
"Itu sepertinya pilihan yang sulit," sahut Flora.
Flora sekilas melirik ke arah Gio untuk melihat ekspresi wajahnya, setelah itu Flora tergelak melihat karena melihat ekspresi wajah Gio yang menurutnya sangat lucu.
"Apa yang kamu tertawakan?" Gio menaikkan satu alisnya saat melihat Flora mendakak tergelak.
"Wajahmu! Wajahmu terlihat sangat lucu." Flora memalingkan wajah Gio dengan tangannya kirinya.
"Ha, ha, ha lucu sekali."
"Sudahlah jangan bahas Daniel, itu hanya akan membuatku ingat dengan semua penghinaan nyonya Mariana," ucap Flora.
"Oke," sahut Gio.
Suasana di mobil itu berubah hening, Gio kembali berkonsentrasi mengemudi dan Gio kembali fokus pada berkas yang harus dia pelajari.
Setelah berjuang keras akhirnya Flora berhasil mengendarai mobil itu sampai dengan selamat ke tempat ia perusahaan milik keluarga Ferdinand.
Flora memberhentikan mobil itu tepat di depan lobby dan menurunkan Gio di sana. Setelah Gio turun, Flora kembali melajukan mobil itu dan memarkirkan ke tempat yang sudah di sediakan. Meski sedikit kesulitan akhirnya Flora berhasil memarkiran mobil milik Gio.
Maaf baru bisa up, anak habis sakit jadi gak konsen nulis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 251 Episodes
Comments
Rahma
semangat terus thorrr,,,,,semoga anaknya czpzt sembuh n bisa beraktivitas kembali,,,,,we love you❤️❤️🥰🥰😘
2021-11-27
0
Reni Anggraeni
smngt
2021-09-25
0
Zamira Paytren
aku dukung fli dan gio....mantan mah buang kelaut aja..apalagi ngg punya prinsip. seperti daniel....klu memang cinta sama flo. diperjuangkan donk.....ini malah biarin fluktuatip dihina mama daniel.....ayo flo. buka hatimu u gio....semangat....💪💪
2021-06-27
1