Lagi lanjut Cinta Beda Usia, jadi yang ini slow up.
Happy reading**
Flora memutuskan untuk mampir ke rumah sahabatnya, Tiara, untuk menceritakan apa yang terjadi dengan dirinya dan Gio seharian itu.
Flora lebih dulu mampir ke rumah Tiara terlebih dahulu setelah ia pulang kerja.
Dengan langkah kesal Flora berhenti di depan rumah Tiara. Flora menekan tombol bel yang ada di pagar rumah Tiara, dan tidak lama, Tiara muncul dari dalam rumah.
“Flora.” Tiara bingung saat melihat Flora kesal.
“Ganggu gak, Mbak?” tanya Flora saat sahabatnya itu sedang membukakan pintu gerbang di depan rumahnya.
“Ya gak lah, Flo. Ayo masuk!” ajak Tiara.
Flora langsung merangkul lengan sahabatnya dengan manja, seperti bersikap layaknya pada seorang kakak perempuannya.
Tiara mempersilahkan Flora duduk untuk di sofa ruang tamu. Kini mereka duduk di sofa yang sama.
“Ada apa Flora? Kamu terlihat sangat kesal,” tanya Tiara.
“Aku sedang kesal pada seseorang, Mbak,” jawab Flora.
Tiara menaikan satu alisnya, “Kesal Pada siapa?”
“Pada anaknya bapak Farhan. Laki-laki yang bernama Gio itu,” jawab Flora.
Flora pun menceritakan apa saja yang sudah dilakukan Gio seharian itu pada Tiara.
“Dan yang paling aku gak habis pikir, laki-laki itu mengira aku sedang berusaha menggoda bapak Farhan, 'kan gila, Mbak.”
Dan selanjutnya Flora menceritakan tentang permainan yang sedang ia mainkan bersama Gio, yang sudah dimulai hari itu juga.
Tawa Tiara menggema di ruangan tamu rumahnya saat mendengar curhatan Flora tentang permainan yang sedang dia mainkan bersama Gio. Bahkan Tiara tertawa sampai memegangi perutnya yang buncit.
“Mbak, kenapa malah tertawa? Apa ada yang lucu?” gerutu Flora.
“Aku sedang menertawakan dirimu, Flora,” sahut Tiara.
Flora menaikan satu alisnya tidak mengerti kenapa Tiara menertawakan dirinya, padahal ia sedang sangat kesal. “Memang aku lucu, Mbak?”
“Aku menertawakan kebodohan dan keluguan dirimu, Flora,” jawab Tiara.
“Maksud, Mbak apa sih? Aku benar-benar tidak mengerti?” tanya Flora lagi.
“Kamu tahu Flora ... kamu sebenarnya sudah terjebak dalam permainan Gio. Menurut aku sebenarnya dia melakukan itu hanya untuk mendekati dirimu,” jelas Tiara.
“Maksud, Mbak apa sih? Aku benar-benar tidak mengerti,” ucap Flora yang memang benar- benar tidak mengerti maksud dari ucapan sahabatnya itu.
Tiara menghentikan tawanya sejenak. Jujur Tiara sendiri heran pada Flora, sahabatnya itu pintar dalam setiap hal, kecuali hal yang berurusan dengan masalah percintaan.
“Sudahlah Flora, kamu akan tahu nanti dengan sendirinya. Aku akan berdoa, semoga dalam permainan ini, kalian berdua sama-sama kalah. Yang artinya kalian akan saling jatuh cinta,”ucap Tiara dikuti tawa kecilnya.
“Amit-amit dah, Mbak. Meskipun dia gantengnya gak ketulungan, tapi sikap playboynya bikin sakit hati. Mending aku memilih jomblo seumur hidup aku dari pada aku harus jatuh cinta padanya,” ucap Flora.
“Mungkin saja setelah Gio jatuh cinta padamu dia akan berubah dan akan melepaskan status playboynya,”ucap Tiara.
“Denger ya, Mbak, jika nanti aku benar-benar jatuh cinta sama dia, aku berjanji akan berteriak dari atas gedung kantor itu dan aku akan mengatakan, 'aku mencintaimu, Gio'”
“Amin.”
Mata Flora terbelalak mendengar respon Tiara. Flora menggerutu karena secara tidak langsung sahabatnya itu membela Gio.
Tiara masih melanjutkan tawanya tanpa memperdulikan Flora yang sedang menggerutu di sebelahnya. Namun, tidak lama setelah itu Tiara memekik karena perutnya mendadak kram.
“Awwww!” pekik Tiara.
Flora terkejut saat mendengar pekikan Tiara. “Kenapa, Mbak?”
“Perutku kram, Flora,” jawab Tiara.
“Ya ampun Mbak, kita ke bidan deket sini yuk, Mbak. Sebentar aku panggilin suami Mbak dulu.” Flora beranjak dari sofa dan berniat memanggil Adit, suami Tiara.
“Jangan, Flora,” cegah Tiara. “Aku gak apa-apa kok.”
“Beneran, Mbak gak kenapa- napa?” tanya Flora yang langsung diangguki kecil oleh Tiara.
“Ini mungkin karena aku tertawa sampai seperti itu tadi,” jawab Tiara.
Tiara menyandarkan kepalanya di punggung sofa lalu menarik napasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya kembali. Tiara melakukan itu secara berulang-ulang sampai rasa sakit di perutnya berkurang.
“Sudah mendingan, Mbak?” Flora bertanya tanpa berhenti mengusap perut buncit Tiara.
Tiara merespon itu dengan anggukan kepalanya.
“Kualat nih Mbak sama aku,” ledek Flora diikuti tawanya dan juga tawa kecil Tiara.
“Dengar, Flora ...aku akan menunggu kabar baik darimu dan juga Gio,” ucap Tiara yangdisambut dengkusan oleh Flora.
Setelah itu mendadak raut wajah Flora berubah. “Mbak, apa kamu tahu tentang adik sepupu Gio yang bernama Daniel?” tanya Flora dengan keraguan.
Tiara nampak sedikit berpikir sebelum ia mengangguk-anggukan kepalanya.
“Aku pernah bertemu dia sekali saat dia akan pindah kuliah ke luar negeri. Kira-kira tiga tahun yang lalu,” jawab Tiara.
“Ada apa? Kenapa kamu mendadak bertanya tentang keponakan bapak Farhan?” Kini giliran Tiara yang bertanya. “Kamu tidak berpikir jika Daniel keponakan bapak Farhan dan mantan kekasih kamu adalah orang yang sama bukan?”lanjut Tiara.
Flora menatap Tiara penuh arti sebelum ia menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu.
“Tadi pagi saat mas Abi dan bapak Farhan menyebut nama Daniel, aku langsung teringat pada Daniel,mantan kekasihku,” jawab Flora.
“Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?” tanya Tiara lagi.
“Karena nama mereka, Mbak. Karena saat mas Abi memberitahu aku nama lengkap keponakan bapak Farhan, 'Daniel Aditiya Ferdinand', aku langsung teringat akan inisial A.F yang ada di belakang nama Daniel ku, Mbak,” jelas Flora.
“Jadi maksud mu inisial A.F itu adalah Aditiya Ferdinand?” Flora mengangguk.
Flora menganggukkan kepalanya. “Aku berharap itu hanya sebuah kebetulan saja.”
“Sebenarnya aku masih kurang paham tentang hubunganmu dengan laki-laki yang bernama Daniel dulu. Maksudku apa selama kamu dan dia berhubungan, kamu tidak tahu tentang keluarganya?” tanya Tiara.
“Dulu aku sering bertanya pada Daniel tentang keluarganya dan Daniel selalu mengatakan jika orang tuanya sangat sibuk. Tetapi saat aku tahu sikap kedua orang tuanya seperti itu padaku, aku baru menyadari satu hal mengapa Daniel menyembunyikan status keluarga. Mungkin pada saat itu dia sudah tahu jika keluarganya tidak suka padaku,” jelas Flora.
“Kamu juga tidak pernah sekalipun bertemu dengan orang tuannya?” tanya Tiara lagi.
“Sama sekali tidak, Mbak. Bahkan sampai ibunya Daniel datang ke rumah dan menghina aku dan ibuku pun aku tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya karena dia tidak mau melepas kaca mata hitamnya,” jawab Flora.
Tiara meraih tangan Flora, “Sabar ya, jangan dipikirkan lagi. Meski aku belum pernah bertemu dengan Daniel mu, tetapi dari ceritamu aku sudah bisa menilai jika dia seorang pengecut, dia bahkan tidak bisa memperjuangkan hubungan kalian di depan keluarganya.”
“Ya, Mbak. Aku cuma berharap jika aku tidak akan bertemu lagi dengan mereka. Dan aku berharap jika Daniel keponakan bapak Farhan bukan laki-laki yang pernah menjalin hubungan dengan ku,”harap Flora.
“Lalu bagaimana jika mereka adalah orang yang sama?” lanjut Flora dalam hatinya.
“Sudahlah Flora, kita lupakan saja tentang Daniel itu. Yang terpenting sekarang adalah kamu dan Gio.” Tiara mengubah ekspresinya.
“Aku tidak ingin membahasnya, dia sangat menyebalkan,” ujar Flora. Flora duduk dengan menyangga dagunya dengan tangannya. Tiara pun melakukan hal yang sama dengan sahabatnya itu.
“Lalu apa kamu sudah memikirkan strategi untuk bisa membuat Gio jatuh cinta padamu?” tanya Tiara dengan menggerakkan kedua alisnya naik turun.
Flora mendesah lemas sebelum menggelengkan kepalanya. Memang benar ia sendiri tidak tahu bagaimana membuat seseorang jatuh cinta pada dirinya karena ia sama sekali punya pengalaman untuk itu.
“Aku pulang dulu ya, Mbak,” pamit Flora, dan Tiara langsung mengangguk.
“Istirahat ya, jangan lupa pikirkan cara untuk membuat Gio jatuh cinta padamu,”ucap Tiara diikuti tawanya membuat Flora berdecak kesal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 251 Episodes
Comments
Sri Cntya
ajarr trsas biar dia bucin pdmu flo
2021-05-22
1
🦖 Aniedaa
Hahahah 😂
2021-04-30
1
Fatonah
😂😂😂😂😂...udah diaminin flo
2021-03-18
1