Langit yang gelap sudah mulai berganti warna terang. Cahaya rembulan sudah tergantikan oleh cahaya dari sang surya yang mulai terbit dari timur. Dan embun pada pagi hari mulai menghilang saat mentari mulai memancarkan cahayanya.
Hari Minggu yang cerah. Gio sedang bermain bola basket di halaman rumah besarnya bersama Abi. Entah apa yang dipikirkan oleh Gio setiap kali mengajak Abi bermain basket, padahal orang kepercayaan papanya itu sama sekali tidak bisa bermain basket.
Abi bukan hanya orang kepercayaan papanya, tetapi juga sahabat bagi Gio sendiri. Umur mereka juga tidak jauh hanya berbeda satu tahun saja dan Gio lebih muda dari Abi.
Gio masih asyik mendribble bola berwarna merah itu sebelum melemparkannya ke dalam ring. Dalam hal basket Gio memang tidak terkalahkan. Abi sediri tidak habis pikir kenapa majikannya itu suka sekali mengajak dirinya bermain basket. Tidak! Lebih tepatnya ia hanya berlari-lari mengejar Gio hanya demi merebut bola berwarna merah itu. Abi sama sekali tidak bisa merebut bola dari tangan majikannya.
“Kamu payah, Abi." Gio menggelengkan kepalanya lalu melempar bola masuk ke dalam ring.
“Ayolah, Mas Gio berhenti. Anda tahu jika saya tidak bisa bermain basket. Kenapa anda tetap mengajak saya bermain basket? Anda, 'kan bisa mencari lawan yang sepadan di luar sana, seperti teman-teman Mas Gio," protes Abi.
Abi menjatuhkan dirinya di atas rerumputan yang tumbuh subur di halaman rumah majikannya dengan nafas yang terengal-sengal. Sesekali juga Abi mengusap keringatnya menggunakan lengan baju tangannya.
Gio tersenyum lalu menyusul asisten pribadi papanya itu duduk di rerumputan.
Abi beranjak dari tempatnya untuk mengambilkan botol air minum di meja yang ada teras rumah itu. Abi kembali dan memberikan botol minum itu pada anak majikannya.
Gio menerima botol yang diberikan oleh Abi, “Terima kasih.”
“Sama-sama,” balas Abi.
Gio membukakan tutup botol itu dan mulai menenggak air dari dalam botol minum itu.
Setelah beristirahat sejenak, Gio kembali berdiri untuk mengambil bola dan kemudian Gio mendribble kembali bola itu.
Entah apa yang sedang Gio pikirkan saat itu, mendadak ia teringat akan Flora. Ada rasa kurang percaya saat mendengar jika Flora pernah menjalin hubungan dengan Daniel, sepupunya.
Lalu saat ia melihat Flora menangis saat itu hatinya serasa ikut bergetar. Saat pertama kali dirinya bertemu dengan Flora ia bisa melihat luka di mata perempuan itu dan tenyata benar, perempuan itu menyimpan sejuta luka di dalam dirinya yang justru disebabkan oleh anggota keluarganya.
“Abi aku ingin bertanya sesuatu hal padamu,” ucap Gio.
“Silahkan saja, Mas Gio,” balas Abi.
“Apa benar jika Flora sedang berusaha mendekati dan menggoda papaku, seperti yang pernah kau katakan waktu itu?" tanya Gio tanpa berhenti untuk mendrible bola.
Abi diam sesaat, ia bingung harus menjelaskannya seperti apa pada anak majikannya itu.
“Abi aku sedang bertanya pada mu.” Gio berhenti mendribble bola.
Abi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Abi bingung harus bicara jujur atau tidak.
“Gawat jika Mas Gio tahu yang sebenarnya. Dia bisa marah,” batin Abi.
“Jangan bilang kalau kamu berbohong, Abi,” tekan Gio.
Abi terlihat kikuk ia tidak tahu harus jujur atau tidak. Sekarang kondisinya serba salah, jika jujur maka ia akan kena marah oleh majikannya. Dan kalau ia tidak jujur maka ia akan kena masalah dengan anak dari majikannya.
Abi menoleh ke arah Gio dan melihat senyum licik yang terlihat sangat mengerikan tergambar di bibir Gio.
Abi tidak punya pilihan lain selain menceritakan yang sebenarnya pada Gio.
Abi menghela nafas sebelum mulai berbicara.
“Maaf Mas Gio, Flora itu gadis yang baik jadi tidak mungkin jika dia mencoba mendekati dan merayu bapak Farhan,” ucap Abi.
Gio menaikan satu alisnya, “Lalu kenapa waktu itu kamu bilang padaku jika Flora sedang mancoba merayu papahku?”
“Itu-anu-itu, Mas Gio.” Abi mulai kehilangan kata-katanya.
“Bicara yang jelas, Abi!” Gio melebarkan matanya ke arah Abi.
“Sebenarnya bapak Farhan yang menyuruh saya mengatakan hal itu untuk membujuk Mas Gio supaya mau pulang dan menetap di sini,” jawab Abi seketika karena takut dengan tatapan mata tajam yang di perlihatkan oleh Gio.
Gio yang mendengar pengakuan Abi langsung membelalakan matanya, “Kenapa kamu tidak mengatakan yang sejujurnya.”
Gio mengumpat dalam hatinya. Gara-gara ucapan Abi waktu itu membuat Gio menjadi salah paham pada Flora. Bahkan Gio memperlakukan Flora dengan tidak sopan. Dan permainan itu, permainan yang ia buat sendiri yang sebenarnya hanya untuk mempermainkan Flora.
Tidak ingin terkena masalah lagi Abi memutuskan untuk pergi dari rumah majikannya itu.
“Mas Gio, kita sudah selesai bermain basket, 'kan? Ini sudah siang saya ada janji dengan Flora,” pamit Abi.
“Janji dengan Flora? Apa kau mau berkencan dengannya?” tanya Gio penasaran.
Abi menghela nafas berat kenapa isi kepala anak majikannya tidak jauh dari kata 'Kencan'.
“Saya dapat tugas dari bapak Farhan untuk ngajarin Flora mengemudi mobil agar Flora bisa pulang pergi gak naik angkutan umum lagi,” jawab Abi.
“Biar aku yang gantiin tugas kamu,” serobot Gio secepat kilat.
Tanpa menunggu persetujuan dari Abi, Gio langsung melesat menggunakan mobilnya menuju rumah Flora.
“Hei, Mas Gio -tunggu! Ya Tuhan apalah dayaku ini? Aku hanya seorang bawahan,” gerutu Abi.
Abi menggeleng kecil tetapi setidaknya ia bisa libur hari ini dan bisa pergi jalan-jalan bersama kekasihnya sendiri.
Sementara di tempat lain, Flora sedang menunggu kedatangan Abi di depan rumah Tiara. Hari itu Flora sudah ada janji dengan Abi. Laki-laki yang sekarang menjadi sahabat itu akan mengajarinya mengemudikan mobil.
Beberapa kali Flora melihat waktu di ponselnya dan melihat jalanan di depannya berharap laki-laki itu segera muncul. Flora merasa sudah tidak sabar untuk belajar mengemudikan mobil lagi.
“Kenapa dia belum datang juga?” guman Flora.
Flora ingin masuk ke dalam rumah Tiara. Namun, tiba-tiba telinganya mendengar suara klakson mobil di dekatnya.
Kening Flora berkerut, alis Flora terangkat sebelah, dan Flora juga memiliki firasat buruk saat melihat mobil yang berhenti tepat di hadapannya kini.
Saat kaca mobil itu mulai bergerak turun mata Flora langsung melihat laki-laki yang sangat ingin tidak dia lihat, yang kini sedang duduk di dalam mobil berwarna putih itu. Firasat buruknya menjadi kenyataan.
“Apa yang sedang kamu lakukan di sini?” tanya Flora kaget saat melihat Gio duduk di dalam mobil yang ada di hadapannya itu.
“Aku merindukanmu, Honey. jadi aku ke sini,” jawab Gio diikuti senyum nakalnya.
Flora memutar bola matanya jengah sebelum ia mendengkus karena kesal.
“Mas Gio.” Flora dan Gio langsung mengalihkan pandangan mereka ke asal suara.
“Halo, Mba Tiara,” sapa Gio.
Tiara langsung menghampiri Gio yang masih duduk di dalam mobilnya.
“Mas Gio apa kabar?” tanya Tiara dengan mata yang berbinar.
“Baik, Mbak. Mbak sendiri apa kabar?” tanya balik Gio. "Wah, perutnya sudah besar ya,” lanjut Gio.
“Baik Mas Gio.” Tiara mengusap perut buncitnya sambil memandang wajah Gio berharap bayinya akan setampan anak mantan majikannya. “Aduh Mas Gio makin genteng saja.”
Tiara menarik kedua pipi Gio dan Tiara terlihat sangat senang saat melihat anak dari mantan bosnya itu.
“Mbak ....” Flora menjauhkan Tiara dari Gio. “Jangan deket-deket Mbak. Nanti kalau mas Adit lihat, dia bisa cemburu,” ujar Flora.
Tiara mengibaskan tangannya di depan wajahnya. “Dia gak bakalan cemburu.”
Tiara kembali ingin mendekati Gio, tetapi dengan segera Flora mencegahnya.
“Awas Mbak, nanti ketularan virus nyebelin kaya dia.” Flora menunjuk Gio dengan matanya. Namun di sambut kekehan oleh Gio dan juga Tiara.
“Aduh Flora ... jangan terlalu benci sama Mas Gio. Nanti kamu bisa jatuh cinta sama dia loh,” ledek Tiara.
“Bener itu, Mbak,” sambung Gio.
Gio dan Tiara pun langsung bertos ria.
“Amit-amit deh Mbak,” tolak Flora.
“Siapa yang amit-amit? Mas Gio imut-imut gitu,” goda Tiara yang langsung mentowel dagu Flora.
Mata Flora memutar bola matanya jengah setelah mendengar pujian yang Tiara berikan untuk Gio.
“Ayo masuk dulu Mas Gio,” ajak Tiara.
“Gak usah Mbak,” tolak Gio. “Aku mau pergi sama Flora, mau ngajarin dia nyetir mobil,” lanjut Gio.
“Siapa yang mau pergi sama kamu? Aku udah ada janji sama mas Abi,” sambar Flora.
“Dia gak bakalan datang. Dia minta aku buat gantiin dia,” ucap Gio.
“Huh, paling kamu yang maksa dia,” tebak Flora sambil mengerucutkan bibirnya dan membuat Gio terkekeh seketika.
“Ayo cepat naik!” suruh Gio.
“Gak mau!” tolak Flora.
“Ya sudah aku pulang lagi saja,” ucap Gio.
“Sudahlah Flora, terima saja tawarannya mas Gio. Kamu katanya sudah pengin bisa nyetir mobil,” bujuk Tiara.
Harusnya Flora bisa menebak jika Tiara akan membujuknya seperti itu, karena selama ini sahabatnya itu berdiri di pihak Gio.
“Okelah, Mbak. Terpaksa.”
Flora akhirnya masuk ke dalam mobil, setelah sebelumnya menghentakkan kakinya ke tanah berulang-ulang karena kesal.
“Selamat bersenang-senang,” ucap Tiara yang langsung di sambut dengkusan Flora tetapi di sambut senyuman oleh Gio.
Setalah berpamitan pada Tiara, Gio mulai melajukan mobilnya meninggalkan perumahan kecil itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 251 Episodes
Comments
Iiq Rahmawaty
oh abi sudh punya pacar toh.. kirain mh jomblo akut😅😅
2021-12-26
1
Iiq Rahmawaty
hahaha payah kau abi🤣🤣
2021-12-26
0
Iiq Rahmawaty
ah abi payah ga bisa maen basket😅
2021-12-26
0