Seorang Satpam dan beberapa karyawan lain di kantor itu menyapa Tiara. Banyak yang mengenal Tiara, karena dia adalah sekretaris dari pemimpin di perusahaan itu.
“Halo, Mbak Tiara Selamat pagi,” sapa salah satu karyawati di sana.
“Halo juga Karin. Selamat pagi,” sapa balik Tiara.
Karin melirik ke arah Flora. “Ini perempuan yang akan menggantikan pekerjaan kamu?”
“Ya, ini Flora. Dia saudari aku,” jawab Tiara.
Dengan sopannya Flora mengulurkan tangannya ke hadapan Karin. Namun disambut tatapan mengejek serta senyum sinis darinya.
“Pak bos dapet daun muda, cantik lagi. Makin semangat kerjanya tuh,” sindir Karin.
Flora bisa mengartikan itu sebagai sebuah ejekan. Namun, Flora membalas itu dengan senyuman ramah.
“Oh iya, Flora, bapak Farhan itu duda loh. Kaya lagi.” Karin sengaja menekan kata-katanya untuk menyindir Flora.
“Hati-hati kamu kalau bicara! Kantor ini full cctv,” balas Tiara. “Dan aku bisa melaporkan langsung sikap kamu ini ke bapak Farhan,” lanjut Tiara.
Karin berdecak kesal lalu pergi dari tempat itu meninggalkan Tiara dan Flora.
“Kamu harus hati-hati, Flora. Di sini banyak yang suka nyinyir dan bermuka dua,” ucap Tiara.
“Iya, Mbak.” Flora berucap tidak semangat.
Flora dan Tiara masuk ke dalam lift menuju ruang kerja Tiara di lantai 10. Setelah lampu lift menunjukkan angka 10, Tiara dan Flora keluar dari dalam lift. Flora tidak henti-hentinya menatap interior kantor itu, beruntungnya dirinya bisa masuk ke dalam perusahaan itu tanpa menunggu panggilan interview. Flora sebenarnya merasa heran dengan itu. Akan tetapi Flora tidak ambil pusing, anggap saja itu sebuah keberuntungan.
Flora mengambil posisi duduk di samping Tiara dan mengerjakan apa yang Tiara suruh. Tidak lama Tiara menyuruh Flora untuk berdiri dan menyambut pemimpin di perusahaan itu.
“Pagi, Bapak Farhan,” sapa Tiara seraya membungkukkan sedikit badannya. Flora pun melakukan hal sama meski masih terlihat kaku.
“Pagi juga, Tiara,” sapa balik Farhan pandangan Farhan mengarah ke Flora.
“Kalian saya tunggu di ruangan saya!”perintah Farhan.
“Segera, Pak,” sahut Tiara.
Tiara dengan segera membukakan Farhan pintu ruangan kerjanya dan mengikuti langkah bos-nya bersama Flora dan Abi, asisten pribadi Farhan.
Ketiga orang itu menatap lurus ke arah Farhan yang duduk di balik meja besar di ruangan itu, dan Flora adalah orang yang menjadi pusat perhatian Farhan.
“Tiara, jadi ini sahabat kamu yang akan menggantikan pekerjaan kamu?” tanya Farhan pada Tiara.
“Betul, Bapak. Kemarin saya juga sudah memberikan data diri Flora pada Bapak,” jawab Tiara.
“Ya, saya sudah membacanya.” Pandangan Farhan kembali ke Flora. “Kamu belum ada pengalaman menjadi seorang sekretaris?” tanya Farhan pada Flora.
“Belum ada,” jawab Flora.
“Saya akan memberikan kesempatan untuk itu. Saya terima kamu untuk menggantikan posisi Tiara sebagai sekertaris saya dan semoga kamu tidak melanggar kepercayaan saya ini,” ucap Farhan.
“Terimakasih banyak untuk kesempatannya. Saya akan berusaha yang terbaik untuk perusahaan Anda,”jawab Flora tegas.
Memang Flora belum ada pengalaman menjadi seorang sekretaris, tetapi jangan salah, Flora mempunyai semua syarat untuk menjadi seorang sekretaris. Maka dari itu Tiara merekomendasikan Flora di perusahaan itu. Dan siapa sangka pemimpin di perusahaan itu langsung saja menerima Flora.
“Baiklah, Flora kamu bisa langsung bekerja di perusahaan ini dan selamat bergabung.” Farhan berdiri dari kursinya dan mengulurkan tangannya ke arah Flora.
Flora melangkah ke depan untuk menyambut uluran tangan bosnya itu. Saat Flora menyatukan tangannya dengan atasannya, ada sebuah perasaan yang Flora sendiri tidak tahu perasaan apa itu.
“Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih banyak untuk kepercayaan Anda,” ucap Flora yang langsung diangguki oleh Farhan.
“Silahkan kalian melanjutkan pekerjaan kalian masing-masing,” perintah Farhan.
“Kami permisi,” pamit Flora, Abi, dan juga Tiara.
Ketiganya pun keluar dari ruangan Farhan bersama-sama.
“Flora, ini Abi, asisten pribadi bapak Farhan,” ucap Tiara ketika mereka sudah berada di luar ruangan Farhan.
Flora dan Farhan saling mengulurkan tangan mereka.
“Salam kenal. Semoga kamu betah kerja di sini,” ucap Farhan.
Setelah itu Tiara mulai memperkenalkan Flora dengan pekerjaan-pekerjaan di sana. Tiara merasa tidak salah sudah memilih Flora sebagai penggantinya. Dan itu terbukti dari betapa cekatannya Flora di dalam pekerjaannya.
*****
Satu bulan sudah Flora bekerja di perusahaan itu dengan baik dan Farhan juga menyukai cara kerja Flora.
“Flora, ini hari terakhir aku di sini. Setelah hari ini aku tidak bisa lagi menemani kamu. Aku harap kamu bisa menjaga dan melindungi diri kamu sendiri di sini,” ucap Tiara saat mereka telah tengah makan siang di kafe seberang kantor.
Flora berhenti mengunyah makanannya lalu meraih tangan sahabatnya. “Mbak, aku berterima kasih banget sama Mbak yang sudah banyak sekali membantuku.”
Tiara tersenyum dan mengusap tangan Flora. “Dengar Flora, kamu sudah seperti adikku sendiri. Jangan ragu untuk mengatakan segala masalahmu padaku,” balas Tiara Flora pun langsung mengangguk.
“Oh iya, hari ini kamu terima gaji pertama kamu, 'kan?” Tiara tersenyum antusias, “Kamu harus traktir aku makan,” lanjut Tiara.
“Beres. Buat ibu hamil, apa sih yang gak,” ucap Flora. Keduanya pun tertawa bersama.
Hari sudah menjelang sore. Slip gaji pun sudah Flora terima, mata Flora berbinar setelah melihat gaji yang ia terima.
“Alhamdulillah. Ini bisa buat bantu ibu bayar hutang,” batin Flora.
“Wah traktir dong,” goda Tiara.
“Siaap.”
Seperti janji Flora pada Tiara, ia akan mentraktir apapun yang Tiara mau.
“Aku mau martabak coklat keju,” ucap Tiara.
“Berangkat!” Tiara dan Flora berjalan ke lobby kantor itu menunggu suami Tiara, Adit, yang akan menjemput mereka.
Di lobby kedua Sabahat itu berbicara dan terlihat sesekali tertawa.
“Aku senang melihatmu tertawa seperti ini Flora,” ucap Tiara.
“Iya, Mbak.”
“Kamu harus bisa melupakan laki-laki itu. Mungkin saja dia bukan jodoh kamu,” ucap Tiara.
“Kamu tahu Flora? Sebenarnya kamu itu sangat beruntung, karena kamu tidak jadi menikah dengan dia. Kalau iya, kamu akan mendapatkan mertua yang galak seperti itu. Dan mungkin kamu akan cepet menua, karena tekanan batin,” ledek Tiara.
Flora tertawa saat melihat ekspresi lucu sahabatnya.
Tiiin tiin
Flora dan Tiara menghentikan candaan mereka. Pandangan mereka langsung beralih pada mobil berhenti di depan mereka. Kaca mobil itu perlahan bergerak turun dan menampakkan wajah Farhan.
“Sore, Bapak Farhan,” sapa Flora dan Tiara bersamaan.
“Sore,” balas Farhan. “kalian belum pulang?”
“Kami sedang menunggu jemputan.” Tiara menjawab mewakili mereka.
“Oh, ya sudah. Kalau begitu saya duluan.” Pandangan Farhan mengarah ke Flora. “Mari Flora.”
“Silahkan! Bapak hati-hati di jalan,” ucap Flora.
“Kamu juga hati-hati di jalan,” balas Farhan. Flora pun langsung mengangguk dan tersenyum ramah.
Mobil yang ditumpangi Farhan kembali melaju meninggalkan area kantor itu.
“Tenyata kamu bener, Mbak! Bapak Farhan sangat baik. Bahkan meski aku pernah melakukan kesalahan beliau tidak pernah marah, hanya menegur secara baik-baik.”
“Andai aku punya ayah seperti beliau,” batin Flora.
“Tapi kayaknya bapak Farhan punya perasaan lain deh sama kamu, Flora” tebak Tiara. “Atau jangan-jangan … bapak Farhan tertarik sama kamu.”
“Kok kamu bisa mikir gitu?” tanya Flora. “Jangan aneh-aneh deh! Aku jadi takut ini.”
Tiara terkekeh karena berhasil menggoda Flora. “Soalnya pas aku memberikan data diri kamu ke bapak Farhan, beliau terlihat antusias. Bahkan dia tersenyum sendiri saat membaca data diri kamu itu. Di tambah lagi dengan semudah itu beliau langsung menerima kamu.”
“Mbak, jangan aneh-aneh deh! Aku takut nih.” Pikiran negatif muncul di pikiran Flora.
“Kamu tenang saja dan jangan mikir macem-macem. Bapak Farhan tidak akan berbuat sesuatu yang buruk sama kamu, aku sangat menganal beliau. Bapak Farhan itu sangat menghormati seorang wanita,” ucap Tiara seolah ia mengerti apa yang ada di pikiran Flora. “Sudahlah jangan dipikirkan. Anggap saja ini keberuntungan buat kamu.”
“Tapi ... bapak Farhan meski sudah berumur masih terlihat ganteng ya,” ucap Flora dengan senyum nakalnya.
“Iya benar. Sudah duda, ganteng, kaya, baik lagi. Kamu tidak tertarik dengan beliau? Kamu bisa kaya mendadak jika menikah dengan beliau,” ledek Tiara.
“Ngawur nih, Mbak.” Mereka pun tergelak bersama.
“Eh, tapi anak bapak Farhan lebih ganteng,” ucap Tiara dengan mata berbinar.
“Anak? Mbak udah pernah lihat anak bapak Farhan?” tanya Flora, karena selama ini dirinya tidak pernah melihat anaknya Farhan. Flora hanya mendengarnya saja dari karyawan lain.
“Sudah! Dia tampan, baik hati, ramah murah senyum … ya sebelas dua belas sama bapaknya, tapi sayang—”
“Tapi sayang Mbak sudah punya suami jadi gak bisa godain dia,” ledek Flora yang diikuti kekehannnya.
“Huus, ngawur! Sayangnya dia itu tidak bisa setia dengan satu wanita saja,” ucap Tiara.
“Itu sih namanya setia, tapi setiap tikungan ada,” ucap Flora diikuti tawanya dan Tiara.
“Bisa saja kamu,” balas Tiara.
“Tapi jika kamu melihat dia, aku peringatkan jangan pandang mata dan senyumnya karena kamu bisa terhipnotis,” ucap Tiara.
“Tidak akan! Aku akan memilih bapak Farhan dari pada anaknya yang muda tapi gak setia itu.” Flora bergidik, “Bisa tiap hari makan ati,” lanjut Flora.
Tiara tertawa melihat ekspresi wajah Flora, namun dalam hatinya ia bahagia bisa melihat senyum Flora.
“Flora, aku senang melihatmu ceria seperti ini. Aku berharap kamu akan selalu seperti ini dan suatu saat nanti kamu pasti akan menemukan kebahagiaanmu,” ucap Tiara penuh harapan.
Flora tersenyum dan langsung memeluk tubuh Tiara yang langsung di balas oleh Tiara. Dan beberapa detik kemudian mereka harus saling menarik diri, karena orang yang mereka tunggu datang.
“Yuk kita pulang, mas Adit sudah datang!” ajak Tiara yang langsung diangguki oleh Flora.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 251 Episodes
Comments
MustikaDyahSukmawati[BundaIke]
🤔 Jengen~jingin Sang Flora Anak Kandungnye Si C.E.O Boz Farhan 🤨
2022-06-02
0
yana ayana
pasti ayahx flora
2022-05-13
0
Yune Aza
bapak nya flora itu
2022-03-17
0