Menggerutu sambil mengerucutkan bibirnya, itulah yang sedang Flora lakukan saat ini. Ia tidak pernah berencana untuk pergi bersama laki-laki menyebalkan seperti Gio.
“Hei, setir mobilnya dengan benar,” suruh Gio.
“Ini juga sudah benar,” sungut Flora.
“Benar apanya? Kamu menyetir mobil sambil menggerutu. Bagaimana kalau nanti kita menabrak?” ucap Gio.
Flora langsung menginjak pedal rem secara mendadak membuat tubuh Gio terhuyun ke depan dan hampir saja kepalanya menjeduk dashboard di hadapannya.
“Apa yang kamu lakukan? Kamu ingin kita celaka?”sungut Gio.
Flora langsung melihat ke arah Gio dengan tatapan tajamnya.
“Kalau kamu tidak mau ngajarin aku nyetir mobil, ya jangan lakukan!” ketus Flora.
“Kapan aku bilang jika aku tidak mau mengajarimu mengemudikan mobil?” tanya Gio balik.
Flora kembali duduk di posisi semula. Flora diam seketika dan tangannya masih memegang gagang setir dengah erat.
“Memang kamu tidak pernah mengatakannya, tetapi kamu dari tadi mengomel terus?” gerutu Flora.
“Apa kamu mengatakan sesuatu?” tanya Gio pada Flora. Namun, pandangannya tetap fokus pada layar ponselnya.
Flora kembali melihat ke arah Gio, “Tidak.”
Gio memandang wajah Flora sekilas sebelum kembali fokus pada layar ponselnya.
“Jangan suka menyimpulkan sesuatu sendiri.”
Flora kembali melihat ke arah Gio. “Menyebalkan.”
Bibir Gio tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman. Baginya membuat Flora marah adalah hal yang paling menyenangkan.
“Kenapa diam? Ayo cepat jalan!” suruh Gio.
“Iya, iya. Kenapa kamu cerewet sekali.” Flora pun kembali melajukan mobilnya.
Mereka kini sedang melaju di jalanan perumahan yang tidak jauh dari rumah Flora. Gio sengaja membawa Flora ke tempat yang tidak ramai dengan kendaraan agar Flora bisa leluasa mengemudikan mobilnya.
“Kamu gadis yang pintar. Baru sebentar saja belajar mengemudi tetapi terlihat sudah ahli,” puji Gio.
“Sebelumnya mbak Tiara sudah pernah mengajariku mengemudi,” ujar Flora dan Gio meresponnya dengan anggukan kepala.
Dan alasan sebenarnya adalah Flora berusaha untuk cepat bisa mengemudikan agar dirinya tidak perlu berlama-lama bersama Gio yang menurutnya sangat menyebalkan.
Gio duduk dalam diam di kursi penumpang di sebelah Flora. Matanya tidak lagi memandang layar ponselnya melainkan memandang ke arah luar mobilnya.
“Flora berhenti di sini!” suruh Gio.
Flora langsung menginjak rem mobil itu secara mendadak membuat tubuh nya dan tubuh Gio terhuyung ke depan. Beruntung ada sabuk pengaman yang melindungi tubuh mereka membuat tubuh keduanya masih tetap berada di posisinya.
“Kenapa kamu suka sekali berhenti secara mendadak seperti ini? Jangan berhenti secara mendadak seperti lagi itu sangat berbahaya,” kesal Gio.
“Ini gara-gara kamu! Kenapa meminta berhenti secara mendadak,” balas Flora.
Mata Gio melebar seolah kaget dengan apa yang baru saja ia dengar. “Bukannya meminta maaf malah mengomel.”
Flora tidak lagi menanggapi perkataan Gio. Flora hanya diam di tempatnya dengan mengerucutkan bibirnya.
“Aku sangat lapar. Aku mau makan itu.” Gio menunjuk sesuatu di samping mobilnya.
Flora mengikuti arah pandang Gio, matanya menyipit saat melihat apa yang baru saja Gio tunjuk.
“Ketoprak?”
“Ya. Aku ingin makan itu,” ujar Gio.
Flora menaikan satu alisnya saat Gio keluar dari mobilnya terlebih dahulu bahkan tanpa mengajaknya.
“Apa? Dia pergi tanpa mengajakku. Menyebalkan sekali,” gerutu Flora.
Tidak ada pilihan lain untuk Flora selain mengikuti Gio. Flora terlebih dahulu menepikan mobilnya di sisi jalan itu sebelum ia keluar dari mobil dan bergabung dengan Gio.
Flora dan Gio duduk di kursi merah yang sudah disediakan oleh penjual makanan itu.
“Apa kamu yakin ingin memakan makanan ini?” tanya Flora masih dengan tatapan tidak percaya.
“Memang kenapa? Ada yang salah?” tanya balik Gio.
Tidak ada, hanya saja Flora merasa aneh karena orang sekelas Gio mau makan makanan yang dijual di pinggir jalan.
Tidak lama penjual ketoprak itu membawa dua porsi ketoprak dan memberikannya pada Gio dan juga Flora. Dan tanpa menunggu waktu lama, Gio langsung melahapnya makanan itu.
“Apa kamu tidak bisa makan pelan-pelan? Aku tidak akan merebutnya dari mu,” ujar Flora.
Gio memandang wajah Flora sekilas lalu kembali menikmati makanan itu.
“Aku sudah lama tidak memakan ini. Selama aku tinggal di luar negeri, aku hanya makan roti dan daging saja,” aku Gio.
Flora masih memandang Gio seksama. Masih ada rasa kurang percaya jika Gio mau makan makanan yang dijual di pinggir jalan. Meski begitu pemandangan itu membuat Flora sedikit mengulas senyumnya.
Flora tersentak saat Gio mengambil makanannya. “Hei apa yang kamu lakukan? Itu milikku.”
“Kalau kamu tidak mau memakannya, biar aku saja yang makan,” ujar Gio.
Flora pun hanya bisa mendesah pasrah melihat Gio memakan ketoprak itu. Flora pun hanya bisa menggigit sendok di tanganya saja.
“Buka mulutmu!” Flora tertegun saat Gio menyodorkan sendok ke depan mulutnya.
“Apa?”
“Buka mulutmu! Biar aku yang menyuapimu,” ujar Gio.
“Tidak usah,” tolak Flora.
“Ayo cepat buka mulutmu.” Gio masih saja memaksa Flora.
Flora tahu percuma saja jika terus menolak. Dengan sedikit ragu, Flora akhirnya membuka mulutnya dan dalam sekejap makanan yang ada di sendok sudah berpindah ke mulutnya.
Flora mengunyah makanan itu di mulutnya lalu memandang sekitarnya. Ternyata banyak pasang mata yang sedang melihat ke arahnya.
Flora dengan cepat mengunyah makanan di mulutnya lalu kembali mengambil piringnya dari Gio. “Sini biar aku yang makan sendiri.”
Flora langsung melahap ketopraknya sendiri karena merasa malu banyak pasang mata yang melihat ke arahnya.
Setelah selesai, keduanya beranjak dari tempat itu dan kembali ke mobil mereka yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka sekarang.
Gio memilih duduk di cup mobil dan memandang sekitarnya. Flora pun memilih mengikuti Gio.
Sejenak suasana di antara mereka menjadi hening. Tidak ada satu pun yang mau angkat suara terlebih dahulu. Sebelum akhirnya Gio memutuskan untuk membuka suaranya terlebih dahulu.
“Flora …,” panggil Gio.
Flora pun langsung menoleh ke arah Gio, “Ada apa?”
“Aku minta maaf.”
“Apa ...?”
Gio memutar bola matanya jengah, “Apa kamu tidak dengar apa yang baru saja aku katakan?”
“Aku dengar. Hanya saja aku merasa terkejut karena kamu baru saja mengucapkan kata maaf padaku,” jawab Flora.
Gio pun menghela nafas sebelum kembali bersuara.
“Aku minta maaf, Flora. Aku pernah berbuat kurang ajar waktu di lift itu. Saat itu aku kira kamu adalah wanita gampangan yang gila harta,” jelas Gio.
Flora diam dan tidak bersuara. Matanya berkedip karena tidak percaya atas apa yang baru saja ia dengar.
“Aku kira kamu perempuan yang seperti itu,” lanjut Gio.
“Aku bukan perempuan seperti itu,” tangkis Flora.
“Ya aku tahu itu,” balas Gio.
“Lalu kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu dulu? Siapa sebenarnya yang memberi informasi seperti itu padamu?” tanya Flora.
“Abi,” jawab Gio.
“Hah, mas Abi?” Flora benar-benar tidak habis pikir Abi bisa berbuat seperti itu padanya.
“Apa alasannya dia melakukan itu padaku?”
Gio menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Itu karena papaku yang menyuruhnya agar aku mau kembali dan menetap di sini. Papa tahu jika aku tidak akan setuju jika papa menikah lagi dengan perempuan sembarangan.”
“Sepertinya kamu sangat menyayangi bapak Farhan?”
“Tentu saja. Sejak umurku 5 tahun, beliau menjadi orang tua tunggalku," ucap Gio. “Ibuku meninggal sejak aku masih berumur 5 tahun karena kecelakaan pesawat.”
Wajah Gio berubah sangat sedih mengingat dirinya tumbuh dewasa tanpa seorang ibu.
“Kamu beruntung masih bisa merasakan kasih sayang dari orang tuamu. Jika dibandingkan diriku ... aku bahkan tidak tahu siapa ayahku," ucap Flora matanya pun sudah mulai berkaca-kaca.
Meski Flora mendapatkan kasih sayang dari ayah angkatnya, tetapi tetap saja Flora ingin juga ingin merasakan kasih sayang dari ayah kandungnya.
“Jujur … aku ingin tahu keberadaan ayahku meski beliau sudah tiada sekalipun,” harap Flora.
“Apa ibumu tidak tahu keberadaan ayahmu sekarang?” tanya Gio.
Flora langsung menggeleng, “Tidak tahu. Aku ingin membantu mencarinya tetapi ibu melarang. Ibu bilang tidak ingin bertemu dengan laki-laki tidak bertanggung jawab itu.”
Gio melihat ke arah Flora dalam-dalam mencoba untuk memahami kesedihan Flora.
Gio menuntun tangannya untuk mengusap sisi wajah Flora dan menghapus jejak air mata di pipi gadis itu.
Perlakuan Gio seketika membuat Flora tersentak dan menjadi salah tingkah.
“Jangan bersedih, suatu saat nanti pasti kamu akan bertemu dengan ayahmu,” hibur Gio.
Flora menanggapi perkataan Gio dengan senyumannya. Dengan segera Flora menghapus jejak air mata yang masih tertinggal di pipinya.
“Terima kasih karena kamu mau mengajariku mengemudikan mobil,” ucap Flora.
“Sama-sama, Sayang. Ini salah satu strategiku untuk mendapatkan hatimu.” Gio mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Flora. “Kamu tentunya masih ingat tentang permainan kita bukan?” lanjut Gio diikuti senyum nakalnya.
Raut wajah sedih Flora berubah menyeramkan ketika mendengar perkataan Gio. Flora kembali menatap Gio dengan tatapan tajam.
Flora menggerutu dalam hatinya, harusnya dirinya tahu jika laki-laki di hadapannya tidak bisa diajak serius.
“Kenapa kamu sangat menyebalkan,” umpat Flora.
Gio tergelak seketika saat melihat wajah galak Flora, wajah galak kesukaannya.
“Oh iya, Flora … ada yang aku ingin tanyakan,” ucap Gio.
“Tentang apa?” tanya Flora dengan nada ketus.
“Tentang kamu dan Daniel,” sahut Gio.
Wajah galak Flora kembali berubah sendu. Flora sebenarnya sangat malas jika harus mengingat tentang laki-laki itu. Pertanyaan itu sama saja membuka luka lamanya.
“Kamu masih mencintai dia?”
Pertanyaan macam apa itu?
Diam, Flora hanya bisa diam, ia sendiri bingung akan perasaannya pada Daniel sekarang.
“Aku rasa dia masih sangat mencintai dirimu,” ucap Gio penuh keyakinan. “Apa kamu juga masih sangat mencintai dirinya? Dan bagaimana jika kamu bertemu dengan Daniel, apa kamu mau kembali padanya?”
“Apa aku perlu menjawabnya?”
“Aku rasa tidak, karena aku juga tahu jawabanmu dan itu terlihat jelas di matamu,” sahut Gio.
Flora langsung menoleh ke arah lain untuk menghindari tatapan mata Gio.
“Sudahlah ayo kita pulang,” ajak Gio, “Ini sudah siang.” Gio melihat waktu pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya sebelum Gio beranjak dari tempatnya.
Flora pun ikut beranjak dan menyusul Gio masuk ke dalam mobil. Kini Gio lah yang mengambil alih kemudi.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian, like dan komentar gratis kok jadi jangan pelit-pelit.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 251 Episodes
Comments
Srifat Ma WaTi
lanjutt
2021-08-20
0
Rafardhan
ayah gio ayah flora jg...
2021-07-23
0
Rafardhan
ayah gio ayah flora jg
2021-07-23
1