Flora nampak sedang menggerutu di dalam mobil atas sikap Gio padanya. Berapa banyak wanita yang sudah pria itu bodohi? Itulah deretan kata-kata yang memenuhi isi kepala flora saat ini.
"I Miss you too, Honey." Itulah kalimat yang Flora dengar di telinganya sebelum anak dari atasannya memutus sambungan teleponnya dengan perempuan tidak jelas di seberang sana. Floral merasa sangat mual mendengar bualan Gio.
“Abi, apa mbak Tiara tidak salah memilihkan sekertaris baru untuk papah?” tanya Gio.
“Saya rasa tidak, Mas. Kata bapak Farhan ... kerja Flora sangat bagus,” jawab Abi.
Flora merasa tersanjung saat Abi mengatakan itu.
“Ya mungkin. Tetapi kayaknya dia sangat pelit,” sindir Gio. “Lihat saja … hanya untuk senyum saja dia sangat perhitungan.”
Tubuh Flora yang tadinya melayang tinggi kini terjatuh begitu saja saat mendengar ledekan Gio, sedangkan Abi sudah melipat bibir untuk menahan tawanya.
“Kenapa kamu bisa berpikir aku seperti itu, apa kamu sudah mengenalku lama?” Nada bicara Flora terdengar ketus.
“Aku tidak butuh mengenal lama seseorang untuk mengetahui sifat orang itu,” jawab Gio dengan penuh rasa percaya diri.
“Benarkah?”
“Ya, seperti sekarang! Aku bisa melihat sejuta luka hanya dengan melihat matamu,” ujar Gio tanpa basa-basi.
Flora kesal saat Gio secara lantang mengatakan hal itu, tetapi sialnya itu memang benar sekali.
Flora diam seketika ia tidak tahu apa yang ingin ia katakan lagi. Memang benar ada luka yang masih belum bisa Flora sembuhkan sampai saat itu.
“Aku benar, 'kan?” tanya Gio.
“Sok tahu,” kilah Flora judes.
Gio terkekeh melihat ekspresi wajah Flora yang terlihat imut itu. Dan tidak lama terlintas ide jahil di kepala Gio.
“Kamu gadis yang sangat menggemaskan? Maukah kamu menjadi pacarku,” goda Gio.
Flora terkejut saat mendengar itu, “Apa? Apa yang baru saja kamu katakan?”
“Memang apa yang aku katakan? Perasaan aku tidak mengucapkan apapun,” kilah Gio.
“Bohong! Aku mendengar kamu mengatakan sesuatu?” ucap Gio.
“Memang apa yang kamu dengar?” tanya Gio dengan senyuman nakal.
“Maukah kau menjadi pacarku,” ucap Flora.
Flora tidak sadar dengan jebakan Gio.
Gio menyeringai puas karena gadis di hadapannya termakan oleh jebakannya. “Tentu saja aku mau menjadi pacarmu.”
Mata Flora terbelalak saat ia sadar jika itu hanya jebakan saja. Wajahnya langsung memerah saat Abi dan Gio tergelak di dalam mobil itu.
Flora kembali ke posisi awal ia duduk dan bersidakep dengan bibir mengerucut.
Flora memicik tajam ke arah Abi, “Berhenti tertawa, Mas Abi.”
Flora pun mendorong bahu Abi. Bukannya berhenti tertawa Abi justru semakin tergelak.
“Mas Abi,” teriak Flora, tetapi Gio dan Abi justru makin tergelak.
“Kamu mau saja dikerjain sama mas Gio,” ucap Abi di sela tawanya.
Flora melirik sekilas ke arah Gio yang sedang tersenyum tipis sambil menggeleng kecil.
Flora kembali duduk diam. Namun, hatinya masih sangat kesal. Flora teringat akan Farhan yang pagi tadi juga menggodanya.
“Ayah dan anak, sama saja. Benar kata pepatah, buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya,” guman Flora dalam hatinya.
Flora sedang cemberut, tetapi justru Abi dan Gio masih saja terkikik geli. Hal itu membuat Flora makin merasa malu dan kesal.
“Mau sampai kapan kalian menertawakan aku? Belum puaskah?” gerutu Flora.
“Hei, Abi berhentilah tertawa! Apa kamu tidak melihat tatapan gadis ini sungguh mematikan,” ledek Gio diikuti tawa kecilnya.
Astaga rasanya Flora benar-benar ingin mencakar wajah pria menyebalkan itu.
“Mas Abi, kenapa kamu membawa mobil sangat lambat,” keluh Flora.
Sebenarnya tidak ada yang salah, karena Abi menjalankan mobil itu dengan kecepan rata-rata berkendara di jalan tol. Flora merasa lambat karena tidak sabar ingin segera sampai dan keluar dari dalam mobil itu. Flora sudah kesal dengan ulah Gio.
“Benar Abi, cepatlah! Aku juga ingin segera sampai, jika aku tetap di mobil bersama gadis ini, aku tidak akan bisa berhenti untuk menggodanya,” kelakar Gio yang di sambut tawa kecil Abi serta helaan nafas berat Flora.
Flora hanya bisa menarik nafas berat ia sudah tidak ingin menanggapi celotehan Gio yang akan membuat ia naik darah.
Kini suasana di dalam mobil itu kembali hening. Mobil itu pun sudah keluar dari jalan tol dan masuki jalanan yang mulai padat.
Gio terus memandang ke luar mobil, melihat banyaknya mobil di jalan itu. Sudah 6 tahun ia tidak kembali ke negara itu dan saat ia kembali hal yang masih sama adalah kemacetan di jalan kota.
Ada senyum tipis di bibir Gio akhirnya ia bisa kembali ke tanah kelahirannya setelah menyelesaikan pendidikannya di negeri Paman sam itu.
Gio merasakan mobil yang ia naiki berhenti bergerak, tenyata mereka sudah sampai di depan lobby gedung pencakar langit milik keluarganya. Gedung yang berdiri kokoh semenjak 30 tahun yang lalu.
Abi turun terlebih dahulu untuk membukakan pintu mobil untuk Gio.
“Kita sudah sampai, Mas Gio. Papa Anda ada di ruangannya, nanti Flora yang akan mengantar Anda,” ucap Abi.
“Oke.Terima kasih Abi,” sahut Gio.
Abi kembali ke dalam mobil untuk memarkirkan mobil itu ke tempatnya, sedangkan Flora dan Gio berjalan masuk ke dalam gedung kantor itu.
Flora menggiring Gio ke lift khusus untuk para petinggi perusahaan itu. Flora menekan tombol di depan dinding untuk membuka lift itu.
“Mari,” ajak Flora dengan sopannya. Meski hatinya masih dongkol atas perlakuan Gio, tetapi Flora harus bersikap profesional saat ia sedang berada di dalam kantor.
Pintu lift terbuka, Gio dan Flora masuk ke dalamnya dan tidak lama pintu itu pun tertutup kembali. Lift itu pun mulai bergerak naik dan akan membawa mereka ke lantai 10.
Hanya ada Flora dan Gio di dalam lift itu. Mereka berdiri dan bersandar di dinding lift. Flora sesekali melirik ke arah Gio. Menurut Flora, Gio itu sangat tampan, tetapi sikap tengilnya membuat nilai minus pada diri Gio.
“Kenapa kamu suka sekali mencuri pandang seperti itu, Flora?” tanya Gio yang langsung mengejutkan Flora.
Flora membelalakkan matanya setelah mendengar perkataan Gio.
“Bagaimana dia bisa tahu?” tanya Flora pada dirinya sendiri.
Flora tersentak saat tiba-tiba Gio menarik tangannya, menghimpitnya tubuh Flora di antara dinding lift. Tubuh Flora terkunci seketika saat Gio menghimpit tubuhnya. Gio juga menaruh kedua tangannya di samping pundaknya membuat Flora tertahan di sana.
“Apa yang kau lakukan? menjauhlah dariku!” ucap Flora.
“Aku hanya ingin memperlihatkan wajahku di hadapanmu, agar kamu tidak perlu lagi mencuri pandang ke arahku,” jawab Gio dengan senyuman licik di wajahnya.
Flora menatap wajah Gio sekilas lalu kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Menyingkirlah! Jaga sopan santun mu padaku,” kesal Flora.
Flora mendorong tubuh Gio untuk menjauh dari tubuhnya. posisi mereka benar-benar sudah tidak nyaman bagi Flora.
Bukannya menjauh Gio justru mendekatkan wajahnya dan tanpa Flora duga, Gio mendaratkan kecupan di pipinya. Flora terkejut akan hal itu dan memegangi pipinya yang baru saja dicium oleh Gio.
“Anggap saja itu sebagai salam kenal dari ku,” ucap Gio.
Plak
Tamparan keras mendarat di pipi Gio.
“Dan itu kamu anggap sebagai balasan dari salam kenal kamu,” ucap Flora dengan nafas yang memburu. Amarah jelas tergambar di diri Flora saat itu.
Bertepatan dengan itu, pintu lift terbuka. Flora langsung berlari keluar dari dalam lift, sedangkan Gio menyeringai di tempatnya sambil memegangi pipinya yang terkena tamparan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 251 Episodes
Comments
MustikaDyahSukmawati[BundaIke]
Gio Satu Ayah tetapi lain beda Ibu
2022-06-02
0
MustikaDyahSukmawati[BundaIke]
👋 Salam 👋 Kenal balik jg 👋 ‼️❕❕
🙀🤜✊👊🤛😳🙄😤😼😠😡🤬😈👿😒
2022-06-02
0
Heny Ekawati
kmu dlm bahaya
2021-08-28
1