Terima? tidak?, terima? tidak?
Dua kata itu yang sekarang memenuhi isi kepala Flora. Haruskah ia menerima ajakan Daniel untuk memulai hubungan mereka kembali dari awal?.
Ingin menolak tetapi rasa cintanya pada Daniel masih belum sirna. Ingin menjawab iya tetapi ingatannya akan penghinaan terhadapnya dan ibunya masih terbayang.
Flora memegangi kepalanya seraya menggelengkan kepalanya.
"Kepalaku pusing," gumannya.
Saat Flora dalam kebingungan tiba-tiba Abi datang dengan membawa buket bunga mawar merah untuk Flora. "Ini untukmu?" Abi memberikan buket bunga mawar merah kepada Flora.
Kening Flora berkerut membuat alisnya menyatu. Abi memberikan bunga mawar? Flora menatap lurus ke arah Abi dengan alis yang terangkat sebelah.
Abi membalas tatapan Flora. Dari tatapan itu Abi tahu apa yang sedang Flora pikirkan. "Itu bukan dari ku. Seorang penjaga di depan memberikan ini padaku dan katanya untukmu," jelas Abi.
"Oh," sahut Flora singkat. "Lalu siapa yang mengiriminya?"
"Mana aku tahu?" sahut Abi. "Itu ada kartu namanya, buka saja!" suruh Abi.
Flora membuka kartu ucapan yang terselip di antara bunga itu. Flora membukanya tidak ada nama pengirim hanya sebuah gambar wajah tersenyum dan beberapa rangkaian kata.
Senyum lah selalu. Karena senyummu adalah kebahagiaan untuk ku.
Itulah rangkaian kata yang tertulis di kartu ucapan itu. Flora tersenyum tipis saat membaca itu.
"Siapa yang mengirim itu?" tanya Abi.
Flora langsung mengubah arah pandangnya ke arah Abi, "Tidak ada nama pengirimnya."
"Wah punya pengagum rahasia nih?" ledek Abi.
Flora merespon ucapan Abi dengan senyuman tipis.
"Ya sudah tugasku di sini sudah selesai. Aku harus kembali bekerja," ucap Abi.
Setelah mengatakan itu Abi pamit untuk ke ruangan Farhan. Tidak lama setelah Abi pergi Gio datang dan duduk langsung mengambil posisi duduk di hadapan Flora.
"Apa itu?" tanya Gio saat melihat bunga yang di tangan Flora.
"Yang kamu lihat ini apa?" tanya balik Flora.
"Bunga mawar merah," jawab Gio.
"Kalau sudah tahu kenapa harus bertanya," ucap Flora.
Gio ingin menggeram namun ia tahan. "Apa kamu tidak bisa sekali saja bersikap manis padaku?" keluh Gio dengan sedikit decakan.
"Aku tidak bisa. Entah kenapa setiap kali melihatmu rasa kesal ku mendakak datang," jawab Flora dengan santainya.
Dan juga bisa melupakan semua masalahku. Gengsi sekali sih untuk mengungkapkan hal itu.
"Sepertinya aku salah karena telah memutuskan untuk menghentikan permainan kita." Gio berdecak. "Aku jadi tidak bisa menguasai dirimu," lanjutnya.
Flora langsung mendelik ke arah Gio. Kenapa laki-laki itu mengungkit hal yang sudah ingin ia lupakan. "Jangan ungkit tentang permainan konyol itu lagi," sungut Flora yang langsung membuat Gio tergelak.
"Itu sangat menyenangkan," ujar Gio.
Flora yang sedang fokus pada layar komputer menghela nafasnya saat Gio menertawakan dirinya. Menyenangkan bagimu batinnya.
Gio mengambil buket bunga mawar yang ada di meja kerja Flora. "Bunga yang cantik … siapa yang mengirim ini?" tanya Gio.
"Aku tidak tahu," jawab Flora yang masih fokus pada layar komputernya.
Gio membaca kartu ucapan yang terselip di antara bunga mawar itu. Bibir Gio melebar membentuk sebuah senyuman.
"Kamu tidak berpikir jika Daniel yang mengirim ini?"
Flora menghentikan gerakan jarinya di keyboard komputernya dan langsung merebut bunga dan kartu ucapan dari tangan Gio.
"Jadi kalian sudah memilih untuk kembali bersama?" tanya Gio.
"Bukan urusanmu?" sahut Flora dengan nada ketus.
Gio terkikik geli melihat wajah galak Flora, wajah galak kesukaannya. "Sudahlah sayangku aku harus pergi … aku harus bertemu dengan pemimpin perusahaan ini, jika aku telat untuk menemuinya pasti aku akan mendapatkan masalah." Gio beranjak dari kursi yang ada di depan meja Flora.
Flora melirik ke arah Gio yang sedang melangkah menuju ruangan kerja Farhan dengan sedikit senyum yang mengembang di bibirnya.
Setelah Gio menghilang di balik pintu ruangan kerja Farhan, Flora kembali fokus pada layar komputernya masih dengan bibir yang dihiasi senyuman.
Jari-jari Flora bergerak indah di keyboard komputernya saat telepon di dekatnya berbunyi. Flora langsung mengangkat gagang telepon itu tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputernya.
"Hallo, Pak."
"…"
"Baik, saya segera ke ruangan bapak."
Flora menaruh gagang telepon lagi ke tempat semula dan segera beranjak dari kursinya. Flora melangkah menuju ruangan Farhan dengan membawa map di tangannya.
Flora masuk ke dalam ruangan kerja Farhan setelah mengetuk pintu.
"Permisi, ini berkas yang Bapak minta." Flora menyerahkan map ia bawa kepada Farhan.
"Sudah kamu periksa kembali?" tanya Farhan tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas yang ada di hadapannya.
"Sudah, Pak. Silahkan Anda periksa kembali," ucap Flora.
Farhan mengangguk kecil lalu memberikan sebagian berkas itu pada Gio untuk membantunya memeriksa berkas itu.
Seketika suasana di ruangan besar itu menjadi hening. Flora masih berdiri di tempatnya, matanya masih memperhatikan ayah dan anak itu yang sedang memeriksa beberapa laporan yang baru saja ia kerjakan.
"Baik Flora, terus pertahankan kerja kamu. Dan saya harap masalah pribadi kamu dengan keponakan saya tidak mempengaruhi kinerja kamu lagi," ucap Farhan.
Flora sedikit membungkukkan tubuhnya. "Terima kasih, Bapak. Sekali lagi saya minta maaf atas kesalahan saya yang lakukan sebelumnya."
Farhan manggut-manggut sebelum menyuruh Flora kembali ke meja kerjanya.
Flora melangkah keluar dari ruangan Farhan dengan langkah yang sangat ringan, rasanya beban di tubuhnya hilang seketika. Flora kembali ke meja kerjanya lalu mengambil buket bunga itu lalu menempelkannya ke dadanya.
Benarkah Daniel yang mengirim bunga mawar itu? Hati Flora ikut merekah seperti bunga yang sedang ia peluk.
****
Waktu sudah menunjukan pukul 6 petang tetapi Flora masih bekerja. Flora harus lembur hari itu dan hanya bersama Gio.
Farhan meminta Flora untuk membantu Gio mengecek laporan tentang pembangunan apartemen yang akan segera di bangun.
Keduanya duduk saling berhadapan di ruangan kerja Gio, keduanya juga nampak sangat serius. Hobi Flora mencuri pandang pada Gio pun kembali. Diam-diam Flora memerhatikan Gio saat laki-laki sedang serius bekerja, berbeda sekali dengan dengan sikapnya menyebalkan yang tiap-tiap hari Gio tunjukkan padanya.
"Sayang," panggil Gio.
"Hmmm," sahut Flora.
Gio menyeringai saat Flora mau merespon panggilan sayang darinya.
Flora menaikan satu alisnya saat melihat seringai di bibir Gio. "Jangan tunjukan lagi senyum seperti itu di hadapan ku," protes Flora.
Gio langsung melunturkan senyum miring nya dan tergantikan dengan tawa kecil.
"Apa yang membuatmu tertawa?" tanya Flora.
"Kamu," jawab Gio. "Sepertinya kamu sudah mulai menyukai saat aku memanggilmu dengan panggilan 'sayang'."
Flora menghela nafas pasrah, "Aku sudah meminta mu untuk tidak memanggilku dengan sebutan itu tetapi kamu masih tetap saja memanggilku dengan panggilan itu dan aku hanya mencoba membiasakan diriku saja," balas Flora.
"Baiklah kamu memang harus terbiasa, tetapi tenang saja aku tidak akan memanggilmu seperti itu saat kamu bersama Daniel," ucap Gio.
Tidak janji.
Daniel? Ia baru teringat tentang laki-laki itu. Sekarang Flora kembali mengingat tentang laki-laki itu.
"Gio boleh aku ... berbicara sesuatu mengenai Daniel?" Ada keraguan di nada bicara Flora.
"Silahkan saja, lagi pula pekerjaan kita juga sudah selesai," jawab Gio.
Flora menarik nafas dalam-dalam lalu kemudian menghembuskannya. "Daniel- dia- dia - mengajakku untuk kembali bersama."
Gio langsung menatap lurus ke wajah Flora, menatap Flora dengan tatapan penuh arti. Seketika pandangan mereka pun di pertemukan. Namun pandangan mereka tidak berlangsung lama karena Gio lebih dulu memutusnya.
"Itu bagus," sahut Gio.
"Aku belum menjawab iya karena- kamu pasti tahu lah apa yang sedang aku pikirkan?"
"Memang apa yang sedang kamu pikirkan?" Gio berusaha meledek Flora karena sebenarnya Gio tahu apa yang Flora pikirkan yaitu orang tua Daniel yang merupakan paman dan bibinya.
"Gio jangan bercanda ... aku serius," ucap Flora.
"Maaf, maaf, maaf aku hanya sedang berusaha mencairkan ketegangan di dalam dirimu saja. Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan." Gio mengubah posisi duduknya di kursi putar dengan posisi yang lebih santai. "Aku tahu kamu memikirkan tante Mariana dan om Ardi."
Flora mengangguk, "Daniel bilang dia akan berusaha untuk membuat orang tuanya merestui hubungan kami, tapi aku ragu." Flora menundukkan wajahnya.
"Kalau kalian masih saling mencintai kenapa tidak kembali bersama saja dan untuk masalah yang lain pikirkan nanti. Dan Jika Daniel sudah berkata seperti itu, kenapa kamu tidak mencoba untuk memberikan satu kesempatan sekali lagi untuknya ... untuk mencoba memperjuangan hubungan kalian di hadapan orang tuanya," ucap Gio.
Flora hanya mampu mendengarkan apa yang Gio ucapkan. Flora diam seraya mencoba untuk mencerna perkataan Gio.
"Gio ... boleh aku bertanya mengenai satu hal lagi?" tanya Flora.
Gio hanya memberi anggukan kecil.
"Kenapa saat itu kamu bilang mau membantuku untuk bersatu bersama Daniel? Apa alasanmu?"
"Kapan aku mengatakan itu?"
Mata Flora langsung melebar seketika, wajahnya merah antara marah dan malu.
"Gio …." Flora memberikan tatapan mau pada Gio.
"Apa Sayangku," sahut Gio.
Flora membuang pandangannya ke arah lain. Wajahnya benar-benar sudah merah karena marah dan malu.
Gio yang melihat itu tergelak seketika dan makin membuat Flora bertambah kesal.
"Ayolah jangan marah Flora," bujuk Gio.
Flora masih diam dan belum mau memandang ke arah Gio.
"Flora kamu sangat imut jika sedang marah," goda Gio.
"Kamu memang teman yang sangat menyebalkan," cicit Flora yang justru membuat Gio makin tergelak.
Gio menghentikan tawanya saat melihat waktu di jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sudahlah ini sudah malam. Ayo kita pulang."
Gio beranjak dari kursinya untuk menghampiri Flora. Ketika Gio sampai di hadapan Flora, Gio pun mengulurkan tangannya.
"Ayo aku antar pulang!" ajak Gio.
Flora melihat uluran tangan Gio lalu Flora menggerakkan tangannya untuk menerima uluran tangan Gio.
Keduanya saling berbalas senyuman lalu setelah itu mereka berjalan bersama keluar dari ruangan itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 251 Episodes
Comments
Rahma
pransangka q sih flora nggak mau balikan ma Daniel,,karena dia nggak mau mencintai tanpa restu orang tua n hubungan darah renggang karena kehadirannya,,,💪 thoor
2021-11-28
1
Siti Mamy Silvi Silfi
berjuang lah danil
2021-10-25
1
Elis Wati
kaya y gio sm flor ade kk🤭
2021-10-04
0