Bab nya nyasar ke CBU
Flora sedang berada di dalam kamarnya dan menggulingkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri di atas ranjang. Nampak Flora sedang merasa sangat cemas. Malam itu rasanya Flora tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ada dua hal yang sudah mengganggu kenyamanan tidurnya malam itu, yaitu permainannya dengan Gio dan tentang inisial A.F.
Flora merasa dirinya begitu bodoh mau saja menerima permainan yang dibuat oleh Gio. Saat itu Flora sama sekali tidak memikirkan hal lain selain menyingkirkan Gio dari hidupnya, tetapi setelah memikirkan ucapan Tiara, Flora baru menyadari jika memang benar ia sendiri yang sudah masuk ke dalam kehiduan seorang playboy bernama Gio.
Bib
Flora mangambil ponsel miliknya saat mendengar ada notifikasi pesan masuk yang masuk ke dalam poselnya. Flora membuka sebuah pesan yang baru saja masuk ke dalam ponselnya, matanya terbelalak saat melihat siapa pengirimnya, Gio, laki-laki yang sudah menganggu ketenangan tidurnya.
(Gio)
Aku tahu, saat ini kamu pasti tidak bisa tidur nyenyak malam ini karena memikirkan aku.
“Oh ya ampun, apa laki-laki ini punya mata batin? Kenapa dia bisa tahu jika aku sedang tidak bisa tidur,” batin Flora.
(Gio)
Ayolah, Honey, apa kau sedang memikirkan cara untuk membuatku jatuh cinta padamu?
Flora akhirnya membalas pesan dari Gio.
(Flora)
Diam kau! Apa kau tidak bisa membuat hidupku tenang?
Namun jawaban Gio langsung membuat Flora membuka matanya lebar-lebar.
(Gio)
Menikahlah denganku, aku berjanji akan membuat hidupmu tenang dan juga bahagia.
Mata Flora melebar saat membaca pesan yang Gio kiriman. Flora segera menuliskan sebuah kalimat dan mengirimnya ke nomor ponsel Gio.
(Flora)
Dasar playboy cap kakap. Kamu sudah punya pacar, tapi masih merayu wanita lain.
(Gio)
Terimakasih untuk pujiannya.
“Dasad Gila.” Flora kembali mengirimkan pesan pada Gio.
(Flora)
Siapa yang sedang memujimu? Apa kau tidak sadar jika aku sedang menyindir dirimu?
(Gio)
Aku akan selalu menganggap hinaanmu sebagai sebuah pujian untukku, Honey.
(Flora)
Berhentilah untuk memanggilku dengan sebutan itu! Itu sangat menjijikan.
(Gio)
Lalu … kau ingin aku memangggilmu dengan sebutan apa. Baby, sayang, cinta, atau?
(Flora)
Atau apa?
(Gio)
Si cerewet atau si galak?
(Flora)
Dasar bodoh. Awas saja jika besok. Saat kita bertemu aku akan memberimu pelajaran.
(Gio)
Kenapa harus besok? Kamu bisa manemui diriku sekarang. Aku ada di depan rumahmu.
Flora terkejut dan langsung keluar dari kamarnya. Dengan langkah pelan Flora berjalan menuju pintu keluar. Flora membuka pintu rumahnya dan mendapati mobil berwana putih sedang terparkir di jalan depan rumahnya.
Pada saat itu juga ponselnya Flora kembali berdering.
Lagi-lagi dari nomer yang Gio.
Flora langsung menerima panggilan itu, mataya tidak beraling dari mobil yang ada di hadapannya.
Kaca mobil itu mulai turun dan Flora bisa melihat dengan jelas wajah Gio. Gio melambaikan tangannya dari dalam mobil.
(Gio)
Sepertinya kau sudah tidak sabar untuk menemuiku.
(Flora)
Apa yang kau lakukan di sana dan bagaimana kau tahu alamat rumahku?
(Gio)
Ayolah, Sayang. Bertanyalah satu-satu. Aku tidak bisa menjawab seluruh pertanyaan mu sekaligus.
Flora meghela nafas kesal dan mendengus kesal.
(Flora)
Oke, dari mana kamu tahu tempat tinggalku?
(Gio)
Dari mba Tiara
Flora sudah menduganya.
(Flora)
Lalu, apa yang kau lakukan di depan rumahku malam-malam begini?
(Gio)
Aku merindukan wajah galakmu.
Flora memberikan tatapan tajam ke arah Gio. Namun, Gio justru terkekeh melihat tatapan tajam itu dari dalam mobilnya.
(Gio)
Sudahlah! Aku sudah mendapatkan apa yang aku mau aku. Aku akan pulang dan aku tidak akan mengganggu tidurmu lagi. See you tomorrow, Honey.
(Flora)
See you too.
Eh?
Flora nampak bingung pada dirinya sendiri kenapa dirinya mau membalas salam dari Gio.
Gio sendiri tersenyum tipis saat mata tajamnya melihat ekspresi bingung Flora, tetapi tidak memungkiri itu membuat bibir Gio tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman.
Gio menyalakan mesin mobilnya dan sebelum ia kembali melajukan mobilnya, Gio terlebih dahulu mengirim pesan kembali kepada Flora.
Aku pulang dulu, tidurlah yang nyenyak!
Setelah pesan terkirim Gio langsung malajukan mobilnya tanpa mau menunggu pesan balasan dari Flora.
Flora menatap pesan yang baru saja muncul di layar ponselnya. Ada senyum tipis di bibir merahnya. Namun, saat ia kembali menyadari sesuatu, senyum di bibir Flora luntur dan tergantikan dengan wajah kesalnya.
“Ini pasti hanya trik nya saja.”
Flora mengelengkan kepalanya untuk menepis perasaannya sekarang.
“Jangan sampai aku terjebak sama permainan dia,” ucap Flora. Tetapi nyatanya sudah.
Flora masuk kembali ke dalam rumahnya dan terkejut saat ibunya mendadak sudah ada di belakakngnya.
“Ngapain kamu di luar, Flora?” tanya Seruni.
“Ibu ngagetin Flora saja,” sahut Flora. ”Kok ibu bangun jam segini?”
“Lah ditanya kok malah balik nanya?”
Flora pun terkekeh, “Itu, Bu … tadi ada —”
“Ada apa? kok malah diem?” tanya Seruni.
“Ada kucing garong,” jawab Flora asal.
“Ngawur kamu, tapi tadi kok ibu denger ada suara mobil?”
“Ya kucing garongnya memang naik mobil, Bu.”
"Lah kok bisa kucing garong naik mobil? ibu gak ngerti maksud kamu, Flora."
“Sudahlah, Bu … jangan di pikirkan. Lagian kucing garongnya juga sudah pergi.”
Flora merangkul pudak Seruni dan membawa masuk ibunya itu ke dalam.
“Ibu istirahat lagi ya! Maaf Flora sudah ganggu Ibu tadi.”
Seruni mengangguk, “Kamu juga istirahat! Besok kamu masuk kerja, 'kan?”
Flora mengangguk dan kembali masuk ke dalam kamarnya.
Flora menutup kembali pintu kamarnya lalu merebahkan kembali tubuhnya ke atas tempat tidur.
Kepala Flora sudah sangat berat, matanya pun sudah sangat mengantuk, namun kenapa dirinya sama sekali belum mau tertidur. Pikiran tentang Daniel lah yang membuat matanya untuk sulit terpejam.
Jika memang benar Daniel keponakannya bapak Farhan adalah mantan kekasihnya, Flora takut pekerjaanya di kantor itu akan terancam. Itulah yang membuat pikirannya tidak tenang.
“Ya Tuhan, semoga tidak ada hal buruk yang akan terjadi lagi. Aku ingin hidup tenang bersama ibuku,” harap Flora.
Sudah satu jam setelah Gio pulang, Flora masih saja belum mau tidur padahal waktu sudah menunjukan pukul 12 malam.
Bib
Flora kembali mendenngar bunyi pesan yang masuk ke dalam ponselnya.
Flora memutar bola matanya jengah saat melihat nomer yang sama lagi. Entah apa yang membuat Flora mau melayani laki-laki bernama Gio itu, namun tanpa sadar Flora membalas chat dari Gio sampai akhirnya matanya terejam dengan sendirinya.
Keesokan paginya
Seruni berulang kali membangungkan Flora karena waktu sudah menunjukan pukul 7 pagi, tetapi Flora belum ada tanda-tanda untuk bangun.
“Flora, bangun sudah siang.”
Tubuh Flora menggeliat, “tapi Flora masih mengantuk, Bu.”
“Flora, bangun! Ini sudah hampir jam 7 pagi.”
Mata Flora langsung terbuka lebar, “Jam 7, Bu?”
Seruni langsung mengangguk.
Tanpa pikir pajang Flora langsung beranjak dari tempat tidur dan menyambar handuk yang ada di pintu kamarnya dan langsung melesat menuju ke kamar mandi.
Seruni sendiri masih berdiri di tempatnya sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah bayi kecilnya dulu yang sekarang sudah berusia 24 tahun.
Kali ini Flora tidak bisa mandi seperti biasanya karena waktu terus berputar dan jika dirinya tidak bergerak cepat maka ia bisa di pastikan akan terlambat masuk ke kantor.
Andai waktu bisa berhenti sebentar Flora ingin memakan sarapan yang ibunyya buat, tetapi waktu yang terus berputar menghalanginya untuk itu.
Setelah memakai pakainya dan berdandan sedikit, Flora langsung keluar dari kamarnya.
“Bu, Flora berangkat dulu,” pamit Flora yang langsing menyambar tangan ibunya dan mencium punggung tangannya.
“Kamu gak sarapan dulu, Nak?”
“Gak, Bu. Flora bisa telat. Nanti Flora sarapan di kantor saja.” Flora menjawab tanpa menghentikan langkahnya.
Flora berlari untuk sampai ke jalan raya, namun sesampainya di depan rumah Tiara, Flora menghentikan langkahnya saat sahabatnya itu memanggil dirinya.
“Flora, kamu baru mau berangkat kerja?” tanya Tiara.
“Iya, Mbak. Aku bangun kesiangan,” jawab Flora.
“Kalau begitu kamu sekalian saja ikut sama mas Adit,” suruh Tiara.
“Gak, Mbak, Aku naik angkutan umum saja,” tolak Flora.
“Nanti kamu bisa telat loh,” bujuk Tiara.
“Tapi, Mbak —”
“Jangan mikirin urusan lain dulu, yang penting sekarang kamu gak telat masuk kerjanya,” bujuk Tiara lagi.
Setelah berpikir sebentar akhirnya Flora mau menerima tawaran Tiara. “Baik, Mba. Terima kasih ya.”
“Sama-sama,” balas Tiara.
Flora masuk ke dalam mobil Adit setelah sebelumnya berpamitan pada Tiara dan mencium pipi sahabatnya itu.
Flora harus bersyukur karena Adit dan Tiara sangat baik pada dirinya dan juga ibunya. Flora berjanji pada dirinya bahwa ia tidak akan pernah melupakan semua kebaikan kedua orang itu seumur hidupnya.
Mobil yang membawa Flora melaju dan membelah jalanan kota yang mulai padat dengan kendaraan. Beruntung keduanya masih belum terjebak macet membuat Flora sampai ke kantornya dengan cepat.
“Sudah sampai,” ucap Adit setelah memberhentikan laju mobilnya tepat di depan lobby kantor itu.
Flora bernafas lega saat ia sampai di kantor hanya dalam Waktu setengah jam dan ia masih punya waktu untuk sarapan.
“Terima kasih banyak, mas Adit. Maaf sudah merepotkan dirimu dan mba Tiara,” ucap Flora.
Adit menggoyangkan jari telunjuknya, “Jangan sungkan sepeti itu. Saya dan Tiara sudah menganggap kamu seperti adik kami, Flora. Jadi jika kamu ada masalah, jangan sungkan untuk berbagi dengan kami.”
“Aku turun dulu. Sekali lagi terima kasih banyak atas tumpangannya.” Kini giliran Adit yang mengangguk
Flora turun dari mobil Adit dan berjalan masuk ke dalam kantor. Flora langsung berjalan memasuki gedung perkantoran itu dengan langkah terburu-buru, membuat Flora tanpa sengaja menabrak seseorang. Flora langsung terjatuh dengan posisi duduk di lantai.
“Hai, apa mata kamu buta?” maki wanita yang terlihat sangat modis itu.
Deg
Jantung Flora mendadak berhenti saat mendengar suara itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 251 Episodes
Comments
Heny Ekawati
ibux daniel kayakx
2021-08-28
0
Masiah Firman
siapa dia
2021-07-30
0
Afazra Denomay
jangan"yg di tabrak flora ibunya daniel🤦♀️
2021-06-21
3