Flora dan Gio masih bersenda gurau saat tengah menuju ke ruang yang sudah di sediakan oleh perusahaan untuk Gio. Keduanya tidak tahu jika ada mata tajam yang sedari tadi sedang mengamati mereka.
"Flora ...." Panggilan dari seseorang mengalihkan pandangan Gio dan Flora yang sedang berjalan beriringan di lorong kantor itu.
Flora nampak sangat terkejut melihat siapa yang baru saja memanggilnya. Bahkan jantungnya seolah sedang berlari maraton ketika melihat seseorang yang sangat ia kenali sedang berdiri tidak jauh dari tempatnya sekarang.
"Daniel," guman Flora.
Berbeda dengan Flora, Gio nampak biasa saja saat melihat Daniel tiba lebih awal di Indonesia. Gio sudah bisa memprediksi itu dari awal saat semua orang mengetahui jika Flora dan Daniel pernah menjalin sebuah berhubungan.
"Hai adikku, rupanya kau kembali dengan cepat," ucap Gio.
Daniel tampak tidak berminat untuk merespon salam dari kakak sepupunya.
Gio menggelengkan kepalanya saat adiknya tidak berminat untuk merespon sambutannya. Dasar cowok kulkas.
Ada sebuah senyuman tipis di bibir Gio sebelum ia melirik ke arah Flora. Gio menggerakkan tangannya dan dengan sengaja merangkul pundak Flora. "Apa kamu sudah tidak sabar ingin bertemu dengan mantan kekasihmu ini?" tanya Gio dengan sedikit membubuhi nada sindiran di perkataannya.
Daniel hanya menanggapi perkataan Gio dengan dengusan malas. "Jika iya, kenapa?" tantang Daniel.
"Tidak apa-apa aku hanya bertanya," jawab Gio.
Gio kembali mengalihkan pandangannya ke arah Flora dan menjauhkan tangannya dari pundak Flora. "Baiklah Sayangku, mantan kekasih mu sudah datang, aku akan pergi sendiri saja ke ruangan ku," ucap Gio.
Gio melangkah mendahului Flora namun dengan segera Flora menghentikannya dengan menahan tangan Gio.
"Ini sudah tugasku, aku harus mengantarmu ke ruangan mu," ucap Flora.
Tanpa menunggu perkataan Gio, Flora menarik tangan Gio dan berjalan melewati Daniel. Daniel tidak bergeming ia hanya menatap kakak sepupu dan mantan kekasihnya itu dengan tatapan tidak suka apalagi setelah Gio memanggil Flora dengan sebutan sayang.
Flora berjalan tanpa menoleh ke arah Daniel karena saat ini perasaan Flora tidak menentu ada rasa bahagia dan sedih bercampur dengan ketakutan ketika melihat Daniel kembali.
Ingin memeluk? tentu pasti. Flora sangat ingin melakukan hal itu pada Daniel tetapi bayangan penghinaan serta bayangan wajah kedua orang tuanya membuat Flora menahan hal itu.
Dengan langkah terburu-buru Flora berjalan masih dengan menarik tangan Gio. Flora berjalan ke ruangan kerja yang sudah di sediakan untuk Gio namun ia tidak menyadari satu hal. Tempat itu sudah terlewati.
Sementara Gio yang ada di belakang Flora menggeleng kecil dan terkikik geli karena tingkah Flora yang menurutnya sangat lucu.
"Hei Sayangku, berhentilah! Kita sudah melewati ruangan ku." Flora langsung mengerem tubuhnya dan pada saat itu juga ia baru menyadari jika ia sudah melewatkan ruangan itu. Flora menepuk keningnya sendiri saat menyadari kebodohannya.
"Kenapa tidak bilang?" sungut Flora.
"Aku baru saja mengatakannya. Pendengaran mu masih jelas, 'kan?" Iya juga ya, Flora mendengus kesal menanggapi perkataan Gio.
Masih dengan menarik tangan Gio, Flora kembali berjalan menuju ruangan kerja untuk Gio. Flora mendorong pintu kaca dan masuk ke dalam ruangan besar milik Gio.
"Ini ruangan kerja untuk Anda." Detik itu juga Flora memutuskan untuk bersikap formal pada Gio.
"Hei, ayolah Sayangku … jangan bersikap formal seperti itu, aku merasa tidak nyaman," protes Gio.
Flora menghela nafas, "Jika aku memanggilmu hanya dengan nama saja aku rasa itu tidak pantas," sahut Flora.
"Baiklah Sayangku terserah kamu saja, tetapi ini hanya saat kita di kantor. Jika di luar jam kerja dan di luar kantor, panggil lah aku seperti biasanya," pinta Gio.
"Oke." Flora mengangguki ucapan Gio karena hanya itu yang bisa Flora lakukan mengingat laki-laki yang sedang bersamanya adalah tipe laki-laki yang pemaksa.
"Aku harus kembali bekerja." Flora membalik badannya dan berjalan menuju pintu keluar.
"Flora …," panggil Gio.
Flora menghentikan langkahnya saat telinganya mendengar Gio memanggilnya, Flora pun membalik badannya.
"Ada apa?" tanya Flora.
"Kamu merasa senang bisa bertemu lagi dengan Daniel?" Flora tersentak saat Gio menanyakan hal seperti itu. "Kamu masih mencintai dia?"
Flora tidak menjawab.
"Kamu belum menjawab pertanyaan dari ku, Flora. Apa kamu masih mencintai Daniel?" ulang Gio.
"… kenapa kamu harus bertanya itu lagi?" tanya Flora dengan nada tidak suka.
Gio menjatuhkan tubuhnya di kursi putar di balik meja kerjanya dan tangannya memainkan sebuah pena. "Hanya ingin tahu saja. Aku sudah pernah berjanji bukan, jika kamu dan Daniel masih saling mencintai, aku akan membantu kalian untuk bersatu," ucap Gio pandangannya menatap lurus tepat ke mata Flora.
"Aku tidak tahu perasaanku dan aku juga tidak tahu bagaimana perasaan Daniel pada ku sekarang? Jangan bertanya itu lagi padaku." Flora memilih keluar setelah mengatakan hal itu. Flora merasa sesak saat ketika harus membahas masalah Daniel.
Berjalan sendiri menyusuri lorong di gedung itu untuk kambali ke meja kerjanya. Flora berjalan sembari memainkan jarinya karena merasa cemas, ia cemas jika berpapaan lagi dengan Daniel, jjur Flora sangat belum siap untuk bertatap muka kembali dengan mantan kekasihnya itu.
"Flora."
Harapan Flora sirna karena kenyataannya Daniel kini kembali memanggilnya. Flora menahan dirinya untuk tidak berbalik. Dengan tarikan nafas Flora memutuskan untuk kembali melangkah dan tidak memperdulikan panggilan Daniel.
Namun Flora terkejut saat ia merasakan ada tangan yang manahan lengannya, dan Flora sudah bisa menebak jika itu adalah Daniel.
"Lepas Daniel …!" pinta Flora.
"Tidak sebelum kita bicara," tolak Daniel tanpa mau melepaskan tangan Flora.
"Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan … kita sudah selesai!" ucap Flora tanpa mau melihat ke arah Daniel, ia juga mencoba untuk melepaskan diri dari Daniel.
"Flo …." Mendengar panggilan itu dan suara lembut itu, Flora luluh akhirnya Flora pun mau melihat ke arah Daniel meski dengan gerakan lambat.
Pandangan mereka bertemu di garis lurus yang sama. Jantung Flora kembali berdegup kencang saat kembali melihat wajah cinta pertamanya. Flora juga bisa melihat pandangan penuh harap di mata Daniel. Segera Flora mengalihkan pandangannya ke arah lain karena tidak sanggup untuk melihat mata Daniel.
"Flo, please ... berikan aku satu kesempatan untuk untuk menjelaskan semuanya," mohon Daniel.
"Aku rasa sudah tidak ada lagi hal yang perlu kita bicarakan," ucap Flora.
"Ada ... banyak ...," sela Daniel.
Flora memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan air matanya, tetapi Daniel tahu itu. Daniel meraih kedua pundak Flora dan memutar tubuh Flora agar ia bisa melihat wajahnya dengan jelas.
"Flo ... lihat aku!" suruh Daniel.
Flora masih menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan air matanya. Ada senyuman tipis di bibir Daniel sebelum menangkup kedua sisi wajah Flora untuk mengangkat wajahnya.
Wajah Flora berhasil Daniel lihat dengan jelas, wajah cantik yang selama tiga tahun ini ia rindukan. Mendadak hening mengambil alih suasana di antara mereka dan waktu seolah berhenti saat pandangan mereka dipertemukan. Keduanya saling memandang dengan pandangan penuh cinta dan kerinduan, tetapi teriakkan seseorang berhasil memecah keheningan itu dan memaksa Daniel dan Flora memutus
pandangan mereka.
"Daniel!"
Daniel dan Flora mengarahkan pandangan mereka pada asal suara. Mata keduanya sama-sama melebar ketika melihat Ardi, ayah Daniel berdiri tidak jauh dari mereka.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" Ardi berbicara dengan suara lantang. Beruntung tempat itu sepi dan hanya ada tiga orang itu jika tidak, sudah di pastikan mereka akan menjadi tontonan pekerja di perusahaan itu.
"Ini kantor tempat untuk untuk bekerja bukan tempat untuk pacaran," tekan Ardi.
Ardi menatap Flora dengan tatapan tidak suka dan Flora yang menyadari itu langsung meminta izin kepada ayah dan anak itu untuk pergi dari tempat itu.
"Saya permisi. Saya minta maaf untuk kejadian ini saya tidak akan mengulanginya lagi." Dan Flora langsung pergi dari tempat itu tanpa memperdulikan panggilan Daniel.
Yang pengin tahu kenapa Daniel memilih untuk diam saat orang tuanya menghina Flora tunggu kelanjutan bab nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 251 Episodes
Comments
Siti Mamy Silvi Silfi
semoga bersatu lah SM daniel
2021-10-25
0
Masiah Firman
iiiiih gimana ni thour
2021-07-31
0
Olha Alamri
Flora dan gio kakak edek.
2021-07-07
0