Happy reading
Setelah belajar mengemudikan mobil berakhir dengan makan ketoprak di pinggir jalan, kini Flora dan Gio memutuskan untuk pulang. Gio mengemudikan mobilnya untuk mengantar Flora pulang ke rumahnya.
Sepanjang perjalanan keduanya saling bercerita satu sama lain, Flora sendiri tidak menyadari sejak kapan ia bisa bercerita bebas kepada laki-laki yang selalu dia anggap menyebalkan itu.
Tetapi setelah Flora mendengar kata maaf yang keluar dari mulut Gio, sedikit penilaian Flora terhadap Gio menjadi lebih baik.
"Boleh aku bertanyatanya sesuatu Flora?" tanya Gio.
"Kamu seperti wartawan Gio, sudah dari tadi kamu selalu bertanya padaku," ledek Flora.
Gio berdecak, "Ayolah Flora, aku ingin tahu banyak tentang dirimu," bujuk Gio.
Flora menghela nafasnya, "Baiklah, apa yang ingin kamu tanyakan sekarang?"
"Apa yang membuatmu jatuh cinta pada Daniel?" Gio melirik ke arah Flora.
"Pertanyaan macam apa itu?" Flora balik bertanya dengan nada sedikit kesal.
"Aku merasa penasaran saja bagaimana kamu bisa jatuh cinta pada pria dingin seperti Daniel?" tanya Gio dengan nada menyindir.
Flora masih belum menjawab.
"Kamu tahu Flora, andai aku jadi perempuan aku tidak akan mau jatuh cinta pada laki-laki dingin seperti itu," lanjut Gio diikuti kekehananya.
"Apa kamu membenci Gio?" tanya Flora.
"Bagaimana bisa aku membenci adikku sendiri, Flora? Jangan bergurau."
"Ayo jawab pertanyaan ku tadi, jangan mengalihkan pembicaraan," lanjut Gio.
"Oke, Daniel itu sangat baik dan pengertian. Memang dia terlihat dingin tapi dia sangat hangat-"
"Kamu begitu mencintai dia rupanya," sela Gio. "Kalau kalian saling mencintai kenapa kalian berpisah?"
"Kamu tahu sendiri bagaimana sikap orang tua Daniel kepadaku, 'kan?" Gio langsung mengangguk. "Lalu bagaimana aku harus mempertahankan hubungan aku dan dia? Lagi pula dia sama sekali tidak ingin mempertahankan hubungan ini dan itu terlihat jelas disaat ibunya datang ke rumahku, dia sama sekali tidak datang untuk membela ku dan ibuku."
Sakit sekali hati Flora jika harus mengingat masa dimana ibunya Daniel datang dan menghinanya dengan kata-kata yang menyakitkan.
"Apa kau tidak pernah bertanya pada Daniel alasan kenapa dia tidak datang saat itu?" tanya Gio. Flora langsung menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak ingin dengar lagi apapun alasan dia," ujar Flora sambil menyeka air mata yang ternyata sudah jatuh di pipinya.
Seketika Gio menepikan mobilnya dan menghentikan laju mobilnya. Gio menghela nafas sebelum mulai berbicara, "Kamu harus tahu Flora, selama ini Daniel hidup di bawah kendali orang tuanya, dia tidak bisa bertindak sesuai keinginannya selama ini. Dan mungkin itu alasan dia tidak memberitahukan tentang status keluarganya padamu," jelas Gio.
Mata basah Flora langsung menatap Gio, ia tidak mengerti apa yang di maksud oleh Gio dan ia juga tidak berpikir sampai sejauh itu.
"Sejujurnya aku tidak suka mencampuri urusan orang lain tapi ini menyangkut adikku." Gio membalas tatapan Flora. "Ini menyangkut kebahagiaan adikku," ulang Gio.
Tangan Gio terangkat untuk mengusap air mata yang mengalir di pipi Flora. "Jika kamu dan Daniel masih saling mencintai, aku berjanji padamu aku akan membantu kalian bersatu," ucap Gio.
Flora masih merasa tidak percaya pada apa yang baru saja Gio katakan.
"Kenapa kamu malah menangis? Apa aku mengatakan hal yang menyakitkan?" lanjut Gio.
"Tidak." Flora mengusap air mataya lalu memperbaiki posisi duduknya, "Terima kasih sudah berusaha menghiburku." Flora menyunggingkan senyum terpaksa nya pada Gio.
"Ayo kita pulang, ini sudah siang," pinta Flora.
"Kenapa harus minta pulang sekarang, padahal aku belum puas menggoda mu," guman Gio.
"Apa kamu mengatakan sesuatu?" tanya Flora.
"Tidak. Aku tidak mengatakan apapun," jawab Gio.
"Bohong! Aku mendengar sesuatu tadi," tekan Flora.
"Memangnya apa yang kamu dengar tadi?" balas Gio.
Flora diam, sejujurnya Flora mendengar Gio mengatakan sesuatu, hanya saja Flora tidak mendengar dengan jelas. "Gio, kamu memang sangat menyebalkan." Flora bersidakep karena merasa kesal pada Gio.
Flora duduk diam di tempatnya dan mengalihkan pandangan adanya ke arah lain, Flora sangat berharap saat itu Gio mau membujuknya dan meminta maaf, tetapi harapan itu harus pupus, karena nyatanya Gio bukannya meminta maaf malah justru tergelak bahkan sampai memegangi perutnya.
"Kenapa kamu malah tertawa dan siapa yang kamu tertawakan?" sungut Flora.
"Tentu saja aku menertawakan dirimu, Flora," jawab Gio di sela tawanya.
"Dasar laki-laki tidak punya perasaan, aku sedang marah karena dirimu tetapi kamu justru menertawakan aku," kesal Flora.
"Itu karena kamu terlihat lucu jika sedang marah. Aku tidak membayangkan, kamu si galak dan Daniel, si dingin bersatu, apa jadinya nanti," ledek Gio tanpa mau menghentikan tawanya.
"Berhenti tertawa! Kalau tidak aku akan keluar dari mobil ini," ancam Flora.
"Silahkan saja!" ucap Gio.
"Hah!"
Flora menatap tidak percaya pada apa yang baru saja ia dengar.
Flora kembali duduk di posisinya dengan melipat kedua tangannya di depan dadanya dengan mengerucutkan bibirnya.
Gio menghentikan tawanya saat melihat wajah Flora sudah merah padam karena kesal.
"Iya maaf, aku minta maaf. Jika Daniel mu kembali, aku tidak akan bisa menggoda mu lagi seperti ini," ucap Gio tangannya pun ia tuntun untuk mengacak-ngacak rambut Flora.
Flora merapikan rambutnya masih dengan wajah yang cemberut.
"Sebaiknya kita pulang saja ini sudah siang, aku juga sudah tidak sabar untuk bertemu ibumu," ucap Gio.
"Hah! Untuk apa kamu menemui ibuku?" tanya Flora.
"Untuk apa lagi kalau bukan untuk melamar mu," jawab Gio asal dan langsung lengannya mendapat cubitan dari Flora.
"Apa kamu tidak bisa serius sekali saja?" ujar Flora.
Gio mengedikkan kedua bahunya dan tergelak seraya kembali melajukan mobilnya.
Hari ini hati Flora serasa di jungkir balikan oleh Gio, sebenarnya orang seperti apa Gio? Flora benar-benar tidak bisa menebaknya.
Hening mengambil alih suasana di dalam mobil, Flora terus memandang ke samping memandang pemandangan di luar mobil sedangkan Gio berkonsentrasi mengemudikan mobilnya.
Flora sesekali melirik ke arah Gio dan sedikit mengulas senyumnya.
"Gio ...," panggil Flora.
"Yes, Honey," jawab Gio.
"Kamu tidak memberitahukan pada Daniel jika aku bekerja di perusahaan keluargamu, 'kan?" tanya Flora.
"Tidak! Aku tidak akan melakukan hal bodoh dengan memberitahukan hal itu padanya. Dia akan kembali ke sini secepatnya, dan aku tidak akan bisa mendekatimu lagi," jawab Gio.
"Kamu ini, aku serius," ucap Flora.
"Kamu pikir aku tidak." Gio berucap sambil tertawa.
Flora ingin sekali memukul laki-laki yang saat ini sedang bersamanya tetapi justru tanpa sadar Flora pun ikut tertawa.
Perjalanan pulang Flora saat itu tidak terasa sepi, Flora tidak berhenti tertawa karena ulah konyol Gio. Dan Flora baru sadar perjalanan menyenangkan itu harus terhenti saat mobil yang ia naiki sudah berhenti tepat di depan rumahnya.
"Sudah sampai," ujar Gio setelah memberhentikan laju mobilnya.
"Terima kasih banyak karena kamu sudah mau mengajariku mengemudi dan -" Flora menjeda kalimatnya.
"Dan apa?" Gio menunggu ucapan Flora selanjutnya.
"Dan … dan sudah mau mendengarkan keluh kesah ku," lanjut Flora.
"Tidak masalah, aku senang kalau kamu mau menceritakan masalahmu pada ku," ucap Gio. "Dan aku ingin minta maaf atas apa yang sudah tante Mariana lakukan padamu."
"Kenapa kamu yang harus minta maaf?" tanya Flora heran.
"Karena dia keluargaku, dan jujur aku merasa malu atas apa yang sudah tante Mariana lakukan pada mu waktu di kantor itu," ujar Gio.
"Sudahlah lupakan saja, jangan ingatkan lagi tentang hal itu," pinta Flora.
"Baiklah, sayangku … anything for you," ucap Gio diikuti senyumnya.
Flora pun membalas senyum yang di berikan oleh Gio sebelum turun dari mobil itu.
"Flora ...," panggil Gio.
Flora menahan tubuhnya untuk tidak keluar dari mobil itu. Flora berbalik menatap Gio, "Ada apa?" tanya Flora.
"Bisa kita lupakan tentang permainan itu?" Gio menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Sebenarnya waktu itu aku salah paham tentang dirimu jadi aku membuat permainan konyol itu."
Flora tentu saja sangat bahagia mendengar itu, meski permainan itu hanya sekedar ucapan, tetapi berhasil membebani pikiran Flora.
"Tentu saja, kita hentikan saja permainan konyol itu," ucap Flora diikuti senyum manisnya.
"Baiklah ... apa kita bisa berteman sekarang?" Gio mengulurkan tangannya ke arah Flora.
Dan tentu saja Flora menyambut itu dengan baik. "Tentu saja." Mereka pun menyatukan tangan mereka untuk bersalaman.
"Baiklah aku keluar sekarang," pamit Flora.
"Silahkan," sahut Gio.
Flora berbalik untuk keluar dari mobil namun lagi-lagi Gio memanggilnya.
"Flora ...," panggil Gio lagi.
Flora yang mendengar itu langsung menghela nafas dan menoleh lagi ke arah Gio. "Ada apa lagi?"
"Kamu tidak menyuruhku untuk mampir?" tanya Gio.
"Apa kamu mampir ke rumahku, Tuan Revaldo Giovanni Ferdinand?"
"Tidak usah. Lain kali saja," tolak Gio.
Flora menaikan satu alisnya sebelum kemudian tertawa setelah mendengar jawaban Gio. "Sudahlah berhenti menggodaku. Kamu pulangnya hati-hati dan sekali lagi terima kasih untuk hari ini." Flora menggeleng kecil dan segera Flora keluar dari mobil itu dengan cepat sebelum laki-laki itu bertingkat konyol lagi.
Flora berjalan memutari mobil itu dan melangkah menuju rumahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 251 Episodes
Comments
Memey Naifa
thor flora anak pk farhan ya jdi geo kakak flora
Aku harap se gitu critanya 💪💪💪💪
2022-07-26
0
Bundanya Robby
awas bucin Flo🤣
2021-09-04
1
Nani Krisnawati
👍🧡
2021-06-25
1