“Aku menyayangi Ibu.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Flora meminta izin untuk segera berangkat bekerja.
“Hati-hati, Nak,” ucap Seruni.
Flora merespon ucapan ibunya dengan senyuman bahagia. Flora keluar dari rumahnya berjalan kaki menuju ujung jalan dimana jalan raya berada. Sepanjang Flora berjalan kaki, senyuman sama sekali tidak luntur dari bibirnya. Wajahnya terlihat makin cantik saat tersenyum, aura bahagia benar-benar terlukis di wajahnya.
Banyak juga para tetangga yang menyapa Flora, bersyukur tidak semua tetangga di kediamannya membencinya.
“Flora,”panggil Tiara.
Flora seketika menghentikan langkahnya saat sahabatnya memanggil namanya.
“Pagi, bumil,” sapa Flora pada Tiara, tidak lupa Flora mengusap perut buncit Tiara.
“Kamu mau berangkat?” tanya Tiara.
“Iya, Mbak,” jawab Flora.
“Kalau gitu, bareng saja sama mas Adit,” suruh Tiara.
Flora langsung melunturkan senyum di bibirnya mendengar perkataan Tiara.
“Tidak usah, Mbak. Aku naik angkutan umum saja,” tolak Flora.
“Kenapa? Kalian kan satu jalur,” tanya Tiara.
“Mbak, masih ingat 'kan masalah semalam?” Tiara mengangguk, “Aku gak mau jika ada masalah lagi kaya semalam.”
“Tapi aku percaya sama kamu Flora. Kamu gak mungkin akan melakukan itu,” ucap Tiara.
“Mbak, aku yakin Mbak percaya sama aku, tapi di luaran sana gak, Mbak. Semalam saja, saat kita bertiga mereka masih mikir aku bakal ngerebut suami mbak, apa lagi kalau lihat aku pergi sama suami mbak hanya berdua ... mereka pasti akan mikir lebih buruk lagi,” jelas Flora.
Setelah mendengar alasan Flora menolak tawarannya, Tiara tidak memaksa lagi, ada benarnya juga ucapan Flora.
“Ya sudah, aku berangkat dulu, Mbak,” pamit Flora.
“Kamu hati-hati,” balas Tiara yang langsung diangguki oleh Flora.
Flora kembali melangkah menuju halte bus yang ada di ujung jalan komplek rumahnya. Flora melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya yang sudah menunjukan pukul 7 pagi, masih ada waktu satu jam untuk sampai ke kantornya.
Flora sampai di jalan raya dan melangkah menuju halte bus yang tidak jauh dari tempatnya sekarang. Mata Flora melebar saat melihat banyak orang sudah mengantri di halte itu.
“Ramai banget,” guman Flora.
Flora langsung mendesah lesu.
Lima menit kemudian bus yang Flora tunggu datang. Namun, Flora tidak bisa langsung naik karena bus itu penuh dalam sekejap.
Lagi-lagi Flora harus menghela nafas lesu melihat itu pergi, bus berikutnya masih setengah jam lagi.
Flora menatap pilu bus yang sudah penuh itu melaju meninggalkan dirinya. “Aku bisa terlambat ke kantor,” ucap lirih Flora.
Tidak lama setelah bus itu melaju dan lenyap dari pandangan Flora ada suara klakson mobil yang berhenti tepat di depan Flora. Flora nampak terheran kenapa mobil itu berhenti di hadapannya.
Kaca mobil berwarna hitam itu mulai bergerak turun dan menampakan wajah yang sangat Flora kenali.
“Mas Abi …,” ucap Flora
“Kamu lagi nunggu angkutan?” tanya Abi.
Flora pun mengangguk, “Iya tadi sudah datang tapi penuh. Ini aku lagi nungguin lagi, tapi kayaknya masih lama,” jawab Flora.
“Ya sudah kamu ikut aku saja, kebetulan aku mau jemput pak Farhan,” ucap Abi.
“Gak usah, Mas … nanti malah ngerepotin. Aku juga gak enak sama bapak Farhan,” tolak Flora.
“Gak apa-apa. Bapak Farhan gak akan marah,” ucap Abi.
“Tapi — ”
“Ayo naik, Flora! Kalau kamu masih mau menunggu angkutan umum, kamu akan terlambat masuk dan kamu bakal kena masalah,” bujuk Abi.
“Tapi beneran gak kenapa-kenapa, 'kan? Bapak Farhan gak akan marah?” Flora benar-benar merasa ragu.
“Gak akan. Aku bisa jamin itu,” sahut Abi.
“Baiklah …,”ucap Flora pasrah.
Flora akhirnya masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang di samping Abi.
“Makasih ya, Mas Abi,” ucap Flora.
Abi mengangguk-anggukkan kepalanya, “Santai saja.”
Abi kembali melajukan mobil menuju kediaman atasan mereka.
Sepanjang perjalanan Abi dan Flora mengobrol tentang diri mereka sambil sesekali mereka tertawa di sela obrolan mereka. Dan tanpa terasa mereka sudah sampai di rumah besar dan mewah milik atasan mereka.
“Ini rumah, bapak Farhan?” tanya Flora.
Abi menganggukkan kepalanya untuk merespon pertanyaan Flora.
“Besar, ya.” Flora sangat mengagumi rumah besar itu.
“Banget!”
“Aku turun dulu, kamu tunggu di sini sebentar,” suruh Abi. Flora pun langsung mengangguk.
Flora terus memandangi setiap sudut rumah besar itu dari dalam mobil. Flora membayangkan jika ia suatu saat nanti bisa memiliki rumah sebesar itu. Karena merasa penasaran, Flora memilih untuk keluar dari dalam mobil untuk melihat dengan jelas betapa megah dan besarnya rumah itu.
“Besar banget,” gumamnya.
Tidak lama menunggu, Flora melihat Abi dan juga Farhan berjalan dari arah dalam rumah itu. Saat jarak mereka sudah dekat dengan, Flora bisa melihat jika atasannya itu merasa terkejut melihat dirinya ada di samping mobil yang di bawa Abi.
“Selamat pagi, Pak,” sapa Flora dengan terbata-bata.
“Pagi juga, Flora,” balas Farhan. “Kamu ikut Abi menjemput saya?” lanjut Farhan.
Flora menggaruk tengkuknya yang tidak gatal ia benar-benar merasa canggung sekarang. “Iya, Pak. Tadi saya ketemu sama mas Abi di jalan terus mas Abi ngajak saya ikut mobil ini saja,” jawab Flora.
Farhan menoleh ke arah Abi, “Iya saya yang ngajak Flora. Maaf pak tadi Flora lagi nunggu angkutan umum, jadi saya ajak saja sekalian ke sini,” lanjut Abi.
“Angkutan umum?” Ada sedikit keterkejutan Farhan mendengar jawaban Abi.
“Ya, Pak Farhan,” jawab Abi.
Farhan tidak lagi mengatakan apapun dan Farhan berjalan ke arah mobil. Abi langsung membukakan pintu untuk atasannya itu, setelah Farhan duduk di dalam mobil, Abi dan Flora pun menyusul masuk ke dalam mobil.
Flora masih merasa tidak enak pada Farhan karena satu mobil bersama atasannya itu. Ingin rasanya ia turun saja dan memilih untuk berangkat sendiri menggunakan angkutan umum.
“Flora,” panggil Farhan.
Flora langsung menoleh ke belakang, “Ya, Pak,” sahut Flora.
“Apa kamu bisa mengemudikan mobil?” tanya Farhan.
“Mbak Tiara pernah mengajari saya mengemudikan mobil, tetapi saya belum begitu bisa,” jawab Flora
Farhan hanya manggut-manggut di belakang.
“Kalau begitu kamu bisa pakai mobil kantor agar kamu tidak perlu lagi naik angkutan umum,” ucap Farhan.
Mata Flora seketika membulat saat telinganya mendengar apa yang baru saja atasannya katakan.
“Saya bawa mobil sendiri? Saya?” Flora menutunjuk dirinya sendiri.
“Iya kamu sendiri. Kamu bisa minta Abi untuk mengajari kamu mengemudi,” lanjut Farhan.
“Tetapi saya belum berani, Pak,” ucap lirih Flora.
Farhan mengangkat satu alisnya ke atas setelah mendengar kalimat yang keluar dari mulut sekeretarisnya.
“Belum berani atau kamu lebih senang jika ikut sama Abi untuk jemput saya,” goda Farhan yang di sambut kekehan Abi.
Wajah Flora langsung merah merona, sedangkan Abi dan Farhan terlihat mengembangkan senyumnya melihat itu.
“Terserah Bapak kalau begitu,” ucap Flora.
“Kalau begitu tiap hari libur aku akan mengajarimu cara mengemudi, tetapi ada bayarannya,” ucap Abi.
“Jangan mahal-mahal ya, Mas Abi,” ucap Flora.
“Beres.”
Flora kembali ke posisi awal ia duduk di dalam mobil itu dan Abi kembali berkonsentrasi mengemudikan mobilnya.
“Oh iya, Flora … mumpung kita ketemu sekarang, saya minta tolong, nanti siang kamu sama Abi pergi ke bandara untuk menjemput anak saya,” ucap Farhan.
“Anak Bapak?” tanya Flora.
“Mas Gio mau pulang, Pak?” Nada bicara Abi terlihat begitu antusias.
“Ya … dia kemarin menghubungi saya,” jawab Farhan.
“Pulang sama mas Daniel kah?” tanya Abi lagi.
“Tidak! Daniel masih satu bulan lagi di sana,” jawab Farhan lagi.
Daniel?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 251 Episodes
Comments
Tetet Yonan
flora masa ga ngeuh sih dgn marga ferdinand, dia kerja kan d perusahaan farhan ferdinand.
2021-11-14
0
Heny Ekawati
yahkn si daniel mantanx flora sepupu gio
2021-08-28
0
Masiah Firman
ooh mulai seru kayaknya
2021-07-30
0