Jangan lupa tinggalkan jejak kalian.
Happy reading
Jalanan masih terlihat sangat padat, bukan hanya jalanan yang ramai dengan kendaraan pribadi maupun umum yang berlalu-lalang, di trotoar jalan pun banyak perjalan kali yang berlalu lalang salah satunya adalah Flora. Flora sedang berjalan ke arah tukang jualan martabak.
“Bang, martabak manis cokelat-keju satu dan martabak telornya satu,” pinta Flora.
“Di tunggu sebentar ya, Mbak,” sahut penjual martabak itu.
Flora pun mengangguk. Flora memilih duduk di tempat yang sudah disediakan untuk menunggu pesanannya siap. Flora memilih menunggu dengan bermain dengan ponselnya. Setelah setengah jam menunggu, pesanannya pun siap.
“Terimakasih,” ucap Flora.
Flora menerima satu porsi martabak manis coklat - keju pesanan Tiara dan satu porsi martabak telur kesukaan ibunya.
Setelah membayar tagihan martabak itu, Flora kembali ke dalam mobil di mana Tiara dan Adit yang tengah menunggunya.
“Ini, Mbak.” Flora memberikan martabak yang ia beli untuk Tiara.
Tiara menerimanya dengan mata berbinar, air liurnya ikut menetes saat hidungnya mencium wangi martabak manis itu.
“Terimakasih, Flora,” ucap Tiara.
“Sama-sama, Mbak. Dimakan Mbak, biar dede bayinya gak ileran,” ucap Flora disambut tawa kecil Tiara.
Adit kembali melajukan mobilnya. Sepanjang perjalanan Flora melihat Tiara menyuapi martabat kepada suaminya. Senyum mereka mengembang, Flora bisa melihat kebahagiaan suam-istri yang ada di hadapannya. Ada rasa senang dan Flora juga tidak memungkiri jika ia merasa iri pada kemesraan mereka.
Flora mengalihkan pandangannya ke arah luar mobil dan menatap pemandangan jalanan luar. Matanya mendadak melihat sekilas tempat makan yang sering ia kunjungi bersama mantan kekasihnya dulu.
Rasa cinta yang pernah Flora rasakan pada laki-laki itu amatlah tulus. Hubungan mereka pun sudah terjalin 4 tahun, dari semenjak mereka duduk di bangku SMA. Laki-laki itu adalah kakak kelasnya.
Saat laki-laki itu meraih gelas sarjana mereka berniat untuk melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius. Namun, orang tua laki-laki itu tidak merestui hubungan mereka, karena berbeda status sosial. Apalagi saat mereka mengetahui jika Flora lahir tanpa seorang ayah.
Huufff
Flora menghirup udara dalam-dalam mendadak dadanya terasa sesak saat mengingat penghinaan yang orang kaya itu lakukan terhadap ibunya. Semenjak saat itu Flora memilih untuk memutuskan hubungannya dengan kekasihnya.
“Flora, Flora.”
Flora tersentak saat ada yang menepuk pahanya.
“Eh iya, Mbak? Apa kita sudah sampai?” tanya Flora bodoh.
“Kita sudah sampai dari 5 menit yang lalu,” jawab Tiara.
Flora menengok keluar dan tenyata memang benar mereka sudah sampai bahkan mobil itu sudah masuk ke dalam garasi rumah Tiara.
“Maaf, Mbak. Aku melamun jadi gak sadar kalau kita sudah sampai,” ucap Flora.
Flora langsung membuka pintu mobil dan keluar dari mobil itu.
Tiara tahu apa yang sedang sahabatnya itu pikirkan. Ia pun ikut untuk turun dan langsung menghampiri Flora.
“Flora ... ada apa? Aku perhatikan kamu melamun sepanjang perjalanan,” tanya Tiara.
“Tidak, Mbak! Hanya sedang memikirkan sesuatu saja,” jawab Flora.
“Memikirkan mantan kekasihmu dulu?” tanya Tiara. Ada nada tidak suka di dalam ucapan Tiara.
Flora tidak akan bisa menyembunyikan apapun dari Tiara maka dari itu Flora memilih untuk mengangguk.
“Ya ampun ... apa lagi yang kamu pikirkan? Sudah cukup, Flora,” kesal Tiara.
“Mbak tahu 'kan, perasaan aku ke dia itu gimana? Itu lah yang membuat aku sangat sulit untuk melupakan dia,” aku Flora.
“Kalau begitu kenapa kamu mutusin untuk berpisah dengan dia dulu?” tanya Tiara penuh penekanan.
“Karena aku tidak tahan akan penghinaan yang keluarganya lontarkan untuk ibu aku,” jawab Flora.
“Lalu apa yang kamu pikirkan sekarang? Berharap dia datang dan menemui kamu?” Flora diam.
Sebenarnya memang itu keinginannya. Tiara tersenyum sinis melihat Flora tidak bisa menjawab pertanyaannya.
“Ini sudah 3 tahun, Flora. Kalau dia memang masih mencintai kamu dia akan datang ke sini, bukan kamu yang berharap dia untuk datang,” ucap Tiara.
Benar! Ini sudah tiga tahun.
Tiga tahun Flora seperti orang bodoh menunggu kedatangan laki-laki itu, berharap laki-laki itu akan berdiri di hadapannya dan memeluknya. Namun, pada kenyataannya semua itu hanyalah khayalan Flora yang mungkin tidak akan menjadi kenyataan.
Bahkan semenjak Flora memilih untuk memutuskan hubungan itu, laki-laki yang ia sebut sebagai kekasihnya, tidak lagi datang dan tidak pernah lagi menghubungi dirinya. Bahkan hanya untuk sekedar mengucapkan salam. Seketika air mata Flora menetes meratapi kebodohannya.
“Sudahlah, Flora ... lupakanlah! Kamu harus mencari masa depanmu sendiri. Lupakan orang yang sudah memberikanmu alasan untuk menangis.”
Flora masih diam dan mencoba mencerna ucapan Tiara. Beberapa saat kemudian Flora menarik nafas dalam-dalam dan menghapus air matanya.
“Kamu benar, Mbak. Aku memang bodoh menunggu sesuatu yang tidak mungkin,” ucap Flora.
Tiara tersenyum lalu mengusap lengan sahabatnya. “Ya sudah ... kamu pulang dan istirahat! Besok kamu harus kerja, 'kan?” Flora langsung mengangguki ucapan Tiara.
“Makasih ya, Mbak, sudah setiap hari ngasih aku tumpangan pulang,” ucap Flora.
“Sama-sama,” balas Flora.
“Aku pulang dulu,” pamit Flora yang langsung diangguki oleh Tiara.
Saat Flora akan melangkah, tiba-tiba ada suara ibu-ibu komplek rumah yang biasa nyinyirin Flora.
“Hati-hati loh Mbak Tiara. Jangan sering-sering baik sama perempuan lain, nanti bisa-bisa perempuan itu ngelunjak,” ucap salah satu dari mereka.
“Bener itu, Mbak Tiara. Apalagi perempuan itu seperti dia. Bisa-bisa nantinya dia merebut suami kamu,” imbuh ibu-ibu yang lain.
Oh ya ampun hati Flora seperti ditikam pisau belati yang berkarat. Apa salah dirinya pada mereka sehingga mereka menuduh jika dirinya akan bertindak sehina itu. Flora merasa sudah tidak bisa menahan ini lagi, biasanya dia akan diam, tetapi kali ini dia tidak akan diam.
“Maksud kalian ngomong kaya gini itu apa?” tanya Flora yang sudah mulai berapi-api.
Tiara bisa melihat itu, tetapi ia akan membiarkan itu. Biarkan saja Flora meluapkan emosinya. Tiara sudah sering melihat Flora hanya diam saja saat dirinya dihina dan dicap sebagai perempuan penggoda.
“Heh, kamu pasti tahu jelas maksud kami, Flora,” ucap salah satu ibu-ibu nyinyir itu. “Kamu 'kan memang wanita penggoda sama seperti ibu kamu,” lanjutnya.
“Jangan berani menghina ibu saya.” Flora menekan kata-katanya.
“Heh, itu kenyataan. Kalau bukan, bagaimana mungkin ibu kamu itu bisa hamil di luar nikah?”
Sudah cukup. Flora sudah tidak tahan mendengar penghinaan terhadap ibunya.
“Hah, iya karena dia ibu kamu dan kamu juga sama seperti ibu kamu, wanita penggoda.”
“Terserah kalian mau bicara apa tentang aku, tapi yang harus kalian tahu aku bukanlah wanita yang akan menjual kehormatanku demi harta. Aku tidak akan rela menjadi istri keempat dari laki-laki yang sudah bau tanah hanya demi harta. Aku bangga pada diriku karana aku mampu untuk mencari rezeki yang halal meski itu hanya sedikit. Dan aku bangga pada ibuku, karena meski beliau hidup tanpa seorang suami, beliau mampu membesarkan aku dan memberikan aku pendidikan yang tinggi, meski harus berhutang ke sana kemari.” Amarah Flora akhirnya meledak.
“Dan jika anda menyebut saya dan ibu saya wanita murahan, lalu sebutan untuk anak anda itu apa?” tanya Flora dengan penuh penekanan.
Tentu saja salah satu dari ketiga ibu-ibu nyinyir itu tahu siapa yang Flora maksud.
“Kenapa diam? Kalian tentu tahu siapa yang aku maksud, bukan?” Flora tersenyum sinis dan masih menatap tajam salah satu ibu-ibu nyinyir itu yang ternyata ibu dari perempuan yang Flora maksudkan.
Mereka diam dan tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan yang Flora lontarkan.
“Jangan menilai orang dari sudut pandang kesalahan yang orang itu lakukan. Pada kenyataannya kalian yang mempunyai status keluarga yang jelas saja mampu melakukan hal buruk demi harta,” ucap Flora penuh penekanan.
“Jika kalian berani menghina ibu saya lagi ... saya tidak akan tinggal diam,” ucap Flora dengan suara lantangnya.
Ketiga ibu nyinyir itu langsung terjengit saat mendengar suara lantang Flora dan memutuskan untuk pergi dari sana.
Flora bernafas lega saat ketiga ibu-ibu nyinyir itu pergi dari hadapannya. Flora tidak pernah merasa selega itu saat menghadapi hinaan yang sering ia dengar tentang ibunya.
“Mantap, Flora. Nah gitu dong jangan diam saja kalau mereka menghinamu dan juga ibumu,” ucap Tiara seraya mengacungkan dua jempol tangannya.
Flora menganggu kecil, “Aku pulang dulu ya, Mbak.”
Flora kembali menarik nafas lega dan kembali melangkah menuju rumahnya yang tidak jauh dari rumah Tiara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 251 Episodes
Comments
Heny Ekawati
mmng klu diem aj mereka akn ngelunjak sok suci
2021-08-28
0
Zamira Paytren
jangan biarkan orang lain menginjak harga diri kamu dan ibumu flo....buat mereka bungkam😁😂😂
2021-06-26
0
Afazra Denomay
emg mlut emak" yg gd kerja,an yg gtu bisanya nyiyirin org lain gd ngaca diri sndirinya tuh dh bner blm dh baik blm..
2021-06-21
0