Hidup dengan normal, sebatas itulah mimpi Daniah saat ini. Layaknya ibu hamil anak pertama yang antusias mempersiapkan perlengkapan bayi. Memilih sendiri semua. Saat lelah sama sekali tak terasa, karena saat memilih semua kebutuhan bayi, tawa bayi yang masih ada di perut terlihat nyata di pelupuk mata. Seperti itulah pasti rasanya. Debaran hati menyiapkan perlengkapan bayi anak pertama.
Dan hari ini adalah hari.pertama hidup normalnya. Semalaman dia merancang banyak hal yang akan dia lakukan bersama Aran. Disela itu janji bertemu Raksa saat makan siang nanti sudah ia sepakati.
Sepagi ini calon ibu itu sudah sangat bersemangat. Perutnya yang bergerak-gerak riang seirama suasana hatinya.
“Bibirmu tidak kering dari tadi tersenyum.” Saga mengomel sebelum memiringkan kepala mencium kepala istrinya, lalu bergandengan tangan berjalan keluar kamar. “Hah! Sesenang itu ya, aku mengizinkanmu keluar.” Saga sebenarnya kesal karena alasan riang gembira suasana hati istrinya karena dia dibolehkan keluar rumah.
Bagi Saga Luar rumah tanpa dirinya adalah belantara berbahaya, gerutunya kesal. Memikirkannya saja sudah membuat moodnya muram. Padahal kalau cuma menyiapkan perlengkapan bayi mau apa pun itu, dia cukup mengatakannya pada Pak Mun. Hah, tapi melihat senyum bahagia istrinya akhirnya Saga mengalah juga.
“Hehe.” Daniah menggoyangkan pipinya, dia tahu hari ini senyumnya memang jauh lebih merekah. “Terimakasih sayang sudah mengizinkanku keluar. Hehe.” Bergaya sok menggemaskan dengan tawa renyah. Sambil usel-usel kepala di dada suaminya. Saga tergelak menyerah dengan serangan Daniah.
“Ya, ya. Lakukan sesukamu. Tapi yang harus kau ingat.” Berhenti melangkah di depan tangga. “Jaga dirimu, jangan sampai kelelahan. Pak Mun akan mengurus persiapanmu keluar rumah.”
Hah! Memang apa yang harus disiapkan? Aku kan cuma mau belanja. Aku cuma perlu bawa kartumu dan Aran, kenapa bawa-bawa Pak Mun.
Mengusir prasangka, karena sedang senang sekarang.
“Jangan sampai kecapaian ya,” menuruni tangga sambil menggandeng Daniah dengan hati-hati. Daniah menganggukkan kepala.
Dih aku cuma mau belanja, itu juga cuma ke mall punya kamu juga.
Suasana pagi yang sempurna tidak mau dia mendebat suaminya. Melangkah dengan senyum sumringah menuju ruang makan.
Di ruang makan semua orang sudah duduk di tempatnya. Jen yang sudah selesai magang sedang menunggu evaluasi akhir. Apakah dia akan diterima sebagai pegawai atau tidak. Karena itulah dia bisa janjian dengan Raksa untuk makan siang, karena Raksa sudah libur. Dua-duanya bilang sedang deg, degkan menunggu hasil evaluasi.
Kalau Raksa ia, kenapa Jen pakai ikut deg, degkan segala.
"Kakak ipar, ini bentuk simpatiku sama Raksa donk.”
Hah! Melongo mendengar alasan Jen. Move on Jen masih sekedar isapan jempol belaka.
Mengobrol bukan menjadi sesuatu yang asing di meja makan sekarang. Mereka sudah layaknya keluarga bahagia saja.
“ Makan yang banyak ya calon keponakan kami tersayang.”
Saga mengikuti sendok Jen yang memindahkan potongan buah ke piring Daniah. Dia sendiri sudah mulai makan sarapannya.
“Kak Saga, kami mau mengajak kakak ipar keluar lusa, boleh ya.” Jen menjentikan sendok di piring Sofia untuk membantunya bicara.
“Kemana?”
“Pergi ke mall aja kok, perayaan puncak pesta rakyat di mall Kakak.” Akan ada bazar pesta rakyat, hiburan, dan yang pasti wisata kuliner. Mengingat foto promo yang mereka lihat semalam sudah membuat mereka menelan ludah.
“Boleh ya Kak,” Sofia memohon.
Saga memasukan potongan buah ke mulut Daniah saat mata gadis itu sudah berbinar memohon. Bahkan tanpa mengatakan apa pun dia tahu, istrinya sangat mau pergi.
“Hah! Baiklah pergilah dengan Jen dan Sofi.”
“Hore!” Sofia menutup mulutnya karena suaranya kencang sekali. “Maaf, aku terlalu senang.” Malu. Rasa senangnya juga dibumbui dengan janjinya bertemu Haze di lokasi.
“Jaga kakak ipar kalian.” Menatap penuh ancaman, seperti bilang, kalau sesuatu terjadi pada kakak ipar kalian, habis kalian berdua. “Jangan asik main sendiri.”
“Ia Kak, pasti. Kakak ipar kan sedang membawa keponakan kesayangan kami.” Jen meraba perut Daniah di sampingnya. “ Ia, kan anak baik. Hehe, main sama tante ya lusa.”
Saga meneguk minuman terakhirnya. Meraih lap di samping piring. Menjatuhkannya agak sedikit kesal.
“Bukan keponakan kalian yang harus kalian jaga, tapi kakak ipar kalian. Ckck, begitu saja aku harus menjelaskan.”
Huaaa, dia ini sensitive amat si.
Daniah merasa, sejak pagi saat hatinya sedang riang gembira karena bisa keluar rumah, berbanding terbalik dengan suaminya.
“Ia, ia Kak. Maksudnya begitu.” Jen meralat ucapannya. “Kami akan menjaga kakak ipar dengan segenap jiwa kami.”
“Sayang, ia kami pasti berhati-hati kok.”
Harus dihentikan pembicaraan ini pikir Daniah, kalau berlanjut, tahu-tahu yang mulia raja berubah pikiran bagaimana. Habislah dia. Merengek pun tidak akan merubah keadaan.
Syukur semua berjalan dengan baik.
Jen dan Sofia langsung kabur setelah Saga bangun dari duduknya. Mereka mau pergi juga. Jen mau balas dendam setelah sekian lama berkejaran dengan waktu saat magang. Mereka mau bersenang-senang bertemu teman-teman. Ibu juga langsung terlihat sibuk menelepon.
Saat keluar dari rumah matahari hangat masih jatuh ke kulit mereka. Daniah mengibaskan rambutnya, membiarkan kehangatan itu masuk sampai ke helaian rambutnya.
Mobil sudah terparkir. Han membuka pintu belakang mobil. Saat melihat Saga tidak langsung masuk dia berjalan menjauh. Berdiri di samping Aran. Gadis itu sudah menunggu di depan rumah sedari tadi atas perintah Pak Mun.
Dia senyum-senyum saat melihat Han di sampingnya.
Lumayan lah bertemu dengannya, walaupun aku tidak tahu gunanya aku di sini sekarang apa. Pak Mun bahkan tidak menjelaskan apa pun.
Menonton adegan suami istri yang mau berpisah di pagi hari. Disimpulkan Aran sebagai kegunaannya berdiri di tempatnya sekarang. Selain melihat seseorang yang berdiri tak bergeming di sampingnya.
“Hari ini aku pulang larut, makan malam lalu istirahatlah, tidak perlu menungguku.” Menjelaskan dengan Panjang lebar. Daniah sampai kagum suaminya bisa bicara normal begitu.
“Ia.” Tersenyum penuh makna.
“Kau tetap harus sudah pulang sebelum jam 3 sore.” Lenyap sudah senyum kebahagiaan tadi yang muncul di bibir Daniah.
“Wahh baru saja kuizinkan keluar kau sudah mulai tidak tahu diri.” Tahu sekali apa yang ada di kepala istrinya.
“Haha sayang apa si. Muah, muah. Muah.”
Tadi aku berekspresi apa si, kok dia tahu. Dasar. Aku kan cuma rencana mau mampir ke ruko lama-lama saat tahu dia tidak akan pulang saat makan malam.
“Kalau telat sedetik saja, ucapkan selamat tinggal pada hidup normal yang kau rengekan itu.”
Huaaa, menoleh ke arah Pak Mun. Pencatat waktu paling akurat di dunia.
Di tempat yang tidak jauh Han dan Aran sedang berdiri menonton. Drama pagi dengan rating tinggi. Walaupun mengandung unsur ancaman tapi kalau dilihat kenapa mereka berdua manis sekali si. Aran menjerit dalam hati. Tukang halu itu sedang menulis adegan-adegan karakter novelnya di kepala berdasarkan adegan yang ia lihat pagi ini.
“Bukankah mereka terlihat manis sekali.” Aran menatap ke depan.
“Ia, manis.” Sementara Han melirik ekspresi senyum-senyum Aran yang sedang menonton pasangan di depannya. “Manis sekali.” Cepat menatap ke depan saat Aran melirik sekilas.
Hah! Dia bilang manis. Sekretaris Han bilang manis! Dia tahu kosakata begituan juga!
“Kau,” Saga melihat ke arah Aran sekilas yang langsung tersentak gelagapan dan menundukkan kepala. “Jaga Niah dengan benar.”
“Ba, baik Tuan.”
Hah! Jadi Pak Mun menyuruhku berdiri di sini untuk mendengar kata-kata Tuan Saga ini.
“Aku berangkat ya.” Langsung intonasinya merendah saat melihat Daniah. Ciuman mesra di pipi kiri Daniah mendarat, sebelum Saga berjalan ke arah pintu mobil.
“Ia sayang, selamat bekerja.” Melambaikan tangan.
Aran belum hilang rasa tegangnya walaupun Saga bahkan tidak menoleh padanya.
Puk, puk. Sebuah tangan menyentuh kepalanya tiga kali. Dia mengerjapkan mata tidak percaya.
Huaaa, apa dia sedang menenangkanku.
“Aku percaya padamu, jaga nona dengan baik.” Itu yang diucapkan Han sebelum melangkah pergi.
Deg, deg. Mata mengikuti Langkah Han menuju mobil. Eh, senyum di bibir Aran langsung lenyap saat melihat Sekretaris Han mengusapkan tangan yang dia pakai menepuk kepalanya lembut tadi di jasnya sebelum masuk mobil.
Huaaa,.aku pasti sudah gila Aku tidak mencuci rambutku tadi karena aku bangun kesiangan. Aaaa, kenapa dia menyentuh rambutku pasti saat aku tidak keramas si.
Gemetar-gemetar geram sendiri.
Dua wanita itu melihat mobil menjauh dengan suasana hati yang berbeda.
“Maaf Nona, apa rambut saya terlihat berminyak ya?”
“Hah, rambut, kenapa?” Menyentuh ujung rambut Aran yang dia ikat di tengah kepala dengan ikat rambut simple. “Biasa aja kok.” Mengusap tangannya karena sepertinya ada jejak yang tertinggal. “Tapi kamu memang nggak keramas berapa hari si.” Daniah tertawa karena merasakan jejak di.ujung tangannya.
“Nona.” Airmata Aran jatuh karena saking malunya.
“Eh kenapa menangis?”
“Huaaa, ini karena saya kesiangan. Saya mandi buru-buru sebelum apel pagi.”
“Sudah tidak apa-apa, kalau tidak di sentuh tidak kelihatan kok. Han juga pasti tidak memperhatikan.”
Huaaa!
Daniah yang bingung kenapa gadis di depannya malah meraung keras.
Epilog :
Jadi ini yang di maksud Pak Mun akan menyiapkan semuanya.
Daniah yang sudah selesai bersiap mematung saat melangkah keluar dari rumah, Aran yang juga sudah menunggu di dekat mobil juga tampak bingung.
“Pak Mun saya cuma mau belanja perlengkapan bayi aja kok, nggak lama-lama juga.”
Apa-apaan ini, empat orang pelayan wanita. Dua pengawal laki-laki. Dan dua tas besar apa itu.
“Ini makanan dan camilan nona. Yang satunya pakaian ganti, Nona pasti merasa tidak nyaman kalau berkeringat nanti. Jadi bisa ganti pakaian.” Pak Mun menjawab sorot mata Daniah yang penuh tanda tanya saat melihat dua tas besar itu.
Pak Mun! Memang aku mau pergi belanja seminggu nggak pulang!
“Ini semua khusus saya siapkan sesuai perintah dari tuan muda.”
Aku sudah tahu siapa dalang kegilaan semua ini.
Setelah berdebat Panjang lebar sampai matahari mulai meninggi, Daniah menyentuh kepalanya lalu kakinya terkulai lemas. Pura-pura. Pak Mun gelagapan panik dan akhirnya menyerah. Tapi tetap ada pelayan yang akan ikut, dua orang. Itu batas toleransinya Daniah menarik nafas pelan.
Sabar, sabar Niah. Jangan sampai kau menyerah karena ini. Tuan Saga pasti sengaja melakukan ini biar aku memilih di rumah. Ayo pergi berempat, semakin ramai semakin seru.
Akhirnya empat wanita itu masuk ke dalam mobil, diiringin tatapan tidak berdaya Pak Mun.
“Maaf tuan muda, saya gagal menahan nona.”
Bersambung...
Note :
Alhamdulillah update lagi, setelah sekian lama. Terimakasih yang masih mau melanjutkan membaca.
Yaelah thor kemana aja kamu?
Alhamdulillah banyak hal yang dikerjakan di real life dan juga baru namatin " Key And Bian" , dah baca belum ^_^
Baca ya jika berkenan, novel yang aku tulis sebelum TMTM, dan harus hiatus setahun karena aku menyelesaikan TMTM.
Selamat membaca, jangan lupa tap love di bawah ya.
Terimakasih ^_^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Exselyn Jelita
terlambat nonaa....udh disentuh makanya mewek Aran🤣🤣🤣🤣
2025-02-06
2
Exselyn Jelita
misi gagal tuan....gone over🤣🤣🤣🤣
2025-02-06
2
Astrid Nandistya Hayoto
Key end brian baru separuh baca kk
2024-12-14
0