Sudah berada di depan kamar milik Tuan Saga. Kamar ini bahkan dibersihkan dengan pengawasan langsung darinya. Kamar yang sudah lama terlupakan namun selalu ia jaga sebagaimana seharusnya. Begitulah bagi Han, dari semua ruangan di rumahnya, tetap kamar inilah kamar utama yang paling penting keberadaannya. Melebihi kamar miliknya sendiri.
“Tuan Muda, apa saya boleh masuk?” Ketukan pelan di pintu, setelah mendengar sahutan dari dalam, dia pun masuk. Tidak lama dari itu, Han keluar dari kamar, dengan tangan kosong. Nampan dan semua isinya yang dia bawa tertinggal di dalam kamar.
“Apa Tuan Saga dan nona tidur?” Aran sudah kenyang makan cake . Dia duduk di lantai sambil menyandar pada sofa. Mengikuti setiap langkah Han. Bahkan dari saat ia masuk, menghilang dan muncul lagi dari balik pintu.
Dia hebat sekali, bahkan mimik wajahnya sama sekali tidak berubah.
Aran sedang membayangkan apa yang dilihat Han di dalam kamar Tuan Saga. Apa pun itu, kalau dia yang melihat pasti ekspresi wajahnya akan beraneka rupa. Dia yakin itu.
"Sudah kubilang berhenti penasaran tentang tuan muda dan nona.” Aran manyun mendengar jawaban yang sebenarnya sudah diduganya, dia meraih botol air dinginnya. Karena nona dan Tuan Saga bahkan tidak menunjukan batang hidungnya sama sekali, jadi mereka kembali tertinggal berdua. Dia senang si. Dalam hati terkikik pelan.
Kencan mungkin situasinya bisa dibilang begitu. Walaupun nggak ada romantisnya. Tapi memang hanya beginilah kesempatan mereka bisa berdua tanpa batas.
Tanpa batas kepalamu gumam Aran. Lihat wajah yang tetap cool dengan pesonanya itu. Bisa-bisanya cuma berdiri dan bernafas saja dia terlihat tampan. Lagi-lagi Aran mulai senyum-senyum sendiri. Ingin rasanya dia membuat wajah kaku itu tersenyum atau tergelak senang. Tapi dia takut memancing emosi harimau gila yang tenang.
Apa cuma aku yang merasa gelisah sekaligus senang begini. Kenapa semakin dilihat dia jadi semakin keren begitu si.
"Sudah puas melihatnya?"
"Belum, hehe." Menutup wajahnya dengan tangan tapi tetap mengintip di sela-sela jarinya. Diiringi tawa renyah yang membuat Han memalingkan pandangannya.
Bisa-bisanya aku berdebar-debar dengan gadis tidak tahu malu ini.
Bagi Han sosok Aran saat ini sama sekali tidak memiliki kemiripan dengan nona mudanya, kecuali rambut. Ya, hanya helaian rambut itulah yang sama di antara mereka. Tapi anehnya perasaan yang menganggap Aran berbeda dengan Nona Daniah menurutnya malah menjadi daya tarik gadis itu di mata Han.
“Ikut aku!” Han sudah memutar tubuh dan berjalan dua langkah. Saat tidak mendengar gerakan dia berbalik lagi. "Tidak dengar?"
“Kemana?” Bingung. Aran tidak bergerak dari duduknya. Dia bahkan menyentuh meja erat dengan kedua tangannya. Berpegangan.
Kau tidak mau mengusirku karena mereka sedang tidur kan. Jahat sekali!
“Mau kemana Tuan?” bertanya lagi karena Han masih diam tidak bergeming di tempatnya.
Dia mau membawaku kemana!
“Ke kamar.” Han sudah melangkah berhenti lagi karena melihat Aran malah mundur membentur sofa. Reaksi yang tampak berlebihan saat mendengar jawabannya. Apalagi dengan mata membelalak, sekaligus memegang ujung kerah baju yang dia pakai. “Apa yang kau pikirkan Arandita?” Membuang muka sesaat. Tidak mau gerakan bibirnya terlihat Aran. Han tergelak dalam hati, tidak percaya dengan imajinasi gadis di depannya.
“Tuan, Anda memang tampan dan juga pacar saya, tapi.” Menggeser tubuh sambil merapatkan kaki. “Saya itu masih sesuci embun di pagi!” Tetesan air yang akan menguap menjelang matahari terbit.
“Kau ini bicara apa, ikut aku.”
Aran mengancingkan bajunya rapat.
“ Tapi Tuan ini tindakan pelecehan!” Berteriak tapi tidak dengan nada suara meninggi. Sebenarnya apa yang ada di kepala gadis itu gumam Han lagi.
Aku memang tahu teorinya, berlagak tahu kalau sedang membuat novel, tapi sumpah aku sama sekali belum pernah melakukannya. Aku penganut paham kesucian adalah kehormatan. Serahkan hati dan tubuh pada pasangan resmi setelah janji pernikahan. Begitu kata-kata yang hanya terlontar di kepala Aran.
Ibuku akan membunuhku kalau aku melanggar aturan dasar kehormatan seorang wanita.
"Kau mau membuatku menunggu berapa lama lagi." Maksudnya Han, sampai kapan dia harus berdiri mematung begitu.
Tapi dasar Aran.
“Tuan saya itu masih suci, hati dan tubuh saya masih semurni airmata."
Tadi embun pagi, sekarang airmata. Kau itu mengoceh apa?
"Bangun!" Mulai meninggi suaranya. Bahkan seperti sudah mau menyeret Aran.
"Saya cuma menontonnya di drama dan membacanya di novel. Saya tidak tahu apa-apa hal begituan. Sumpah!" Sampai mengangkat kedua jari ke udara. "Kehormatan saya itu harga diri keluarga saya. Saya harus menjaganya demi orangtua yang sudah mencintai dan melakukan banyak hal untuk saya. ” Mengoceh-mengoceh tentang pedoman berpacaran yang benar. Sesuai petuah panjang lebar ayahnya. Yang sebenarnya belum pernah ia praktekan karena kesibukannya mengejar karirnya selama ini. Masih meneruskan ocehan karena Sekretaris Han masih diam. “Saya akan menyerahkan kehormatan saya pada suami saya, kalau Tuan memang tergila-gila pada saya nikahi saya. Bukan! Bukan sekarang!” Ingat lamaran tiba-tiba tadi, dia tidak berani menantang. “Tapi datang ke rumah saya dan minta pada kedua orangtua saya izin.” Masih mengoceh kemana-mana tidak ada titik koma.
Han mengangkat tangannya, Aran refleks terdiam. Dejavu masa lalu. Saat tangan itu terangkat para reporter akan mundur lima langkah menjauhi Tuan Saga.
“Kau ini benar-benar gila ya, aku mau membawamu ke kamar tamu.”
Eh, kamar tamu. Kenapa kamar tamu, bukan ke kamarmu. Eh bukan, sumpah aku nggak mikir apa-apa.
Aran merasa berdosa karena terpancing suasana.
“Kau bisa tidur di kamar selama tuan muda dan nona belum keluar dari kamar, jangan menggangguku. Aku mau bekerja.”
Wajah Aran berubah antara malu dan kecewa. Lebih banyak kadar kecewa yang tertangkap mata Han.
“Kenapa kau kecewa begitu, ocehanmu barusan tentang embun pagi dan airmata hanya omong kosong?” Seringai muncul.
Aaaaaa, malunya gadis itu. Tapi dia berusaha menguasai mimik wajahnya. Terdengar dia berdehem beberapa kali, menyelamatkan harga dirinya yang sudah jatuh terjungkal barusan.
“Apa! Siapa yang kecewa, saya, tidak.” Tapi Aran memilih duduk lagi dan menempelkan kedua tangannya erat di meja. Masih duduk di lantai dengan posisi tadi. “Saya tidak mau menunggu di kamar. Saya di sini saja, melihat Anda bekerja. Anggap saja ini kencan, kencan kita.”
Menutupi malu dengan sikap keras kepala.
“Jangan aneh-aneh, ikut aku ke kamar.”
“Tidak mau.”
Gadis ini benar-benar ya.
Pikiran Han sedang berusaha untuk menahan hatinya untuk mengakui kelakuan gadis di depannya ini cukup mengemaskan.
“Saya cuma akan duduk diam dan bernafas sambil melihat Anda Tuan. Tapi biarkan saya bersama Anda. Melihat Anda jauh lebih baik daripada melihat langit-langit kamar” Untuk apa Aran menunggu di kamar batinnya. Kalau bisa melihat sumber inspirasinya secara langsung di depan mata. Bisa berapa episode dia hasilkan kalau dia menulis sekarang.
"Duduk diam dan hanya bernafas saja." Melangkah menuju ruang kerjanya.
Aran langsung bangun dari duduk. Mengekor di belakang. Menatap tubuh tinggi tegap itu. Dia rentangkan tangan di belakang punggung itu. Dengan gerakan meremas tangannya. Mengusap punggung itu dari kejauhan.
Padahal dia cuma pakai kaos begitu, tapi tetap terlihat keren.
"Embun pagi dan airmata apanya!" Keras sekali membuat Aran terlonjak dan menurunkan tangannya.
Huaaaa, kau punya mata di belakang kepalamu ya. Aku kan cuma menghayal menyentuh punggungmu! Cuma menghayal, cuma menghayal, begitu saja ketahuan!
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Erni Fitriana
ngakakkk🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2025-01-25
1
Rafalia Azen
huahaha aran
2024-12-16
0
Astrid Nandistya Hayoto
Sekekarnya sekertaris Han,, aku bayangin Mayor Tedy sumpah
mayor Tedy pengawal nya pak presiden kita..
2024-12-14
1