Di akhir pekan, setelah Daniah melewatkan jalan paginya ditemani Saga serta ditemani hangatnya cahaya matahari, dan segarnya aroma bunga di taman. Di sinilah mereka sekarang. Memenuhi rasa penasaran Daniah.
“Tuan Muda, Anda kan bisa memanggil saya. Kenapa Anda yang datang kemari?”
Terlihat sekali dia tergesa turun dengan lift. Sekretaris Han hanya memakai sebuah kaos polos warna abu-abu. Lekat menempel pas di tubuhnya. Ada tetesan peluh yang terlihat di sekitar lehernya. Sepertinya dia habis berolahraga. Langsung turun ketika Saga menelpon dan mengatakan dia sudah ada di area parkir.
“Niah ingin melihat rumahmu?”
“Ia, apa?”
Dari balik punggung Saga menyembul sebuah kepala. Dipenuhi senyum sambil melambaikan tangan.
“Maaf ya merepotkan.” Dengan mimik wajah yang tidak berubah kalau sedang ingin menyusahkan Han. Atau senyum kemenangan karena berhasil mengalahkan Han.
Apa! Jangan bilang Anda ngidam mau melihat rumah saya. Memang ada ngidam begituan.
Tawa dari bibir Daniah menjawab semua pertanyaan yang ada di kepala Han. Sekarang Han semakin yakin, kalau ngidamnya Nona Daniah hanya punya satu tujuan Menyusahkannya dan Tuan Saga.
Pasrah adalah jalan satu-satunya.
“Sayang, kau pernah kemari.” Berjalan menuju lift sambil menggandeng Saga. Yang ditanya cuma menjawab hemm seperti biasa. Saat sudah ada di depan pintu lift. Aran berjalan tergesa mendekat, di tangannya ada beberapa tas. “Aran juga mau ikut tadi, jadi aku sekalian mengajaknya.”
Apa! Anda benar-benar luar biasa ya Nona.
Ngidam ingin menjodohkannya dengan Aran seperti yang pernah dikatakan Tuan Saga kembali muncul. Ngidam paling aneh sejauh ini yang berdampak pada kestabilan emosi Han.
Aran tersenyum dengan sinar yang terang. Mengalahkan pantulan cahaya lampu. Mereka masuk ke dalam lift. Dia masih senyum-senyum saat berdiri di belakang Han.
Aran menarik baju kaos Han, sambil mengangkat beberapa tas di tangannya menunjukan kalau dia butuh bantuan. Han meraihnya tanpa bicara. Hal begitu saja sudah membuat Aran senang.
“Apa kau tinggal sendiri Sekretaris Han?”
“Ia Nona.”
“Apa rumahmu di lantai paling atas, sepertinya ini lift khusus ya.” Tubuhnya menghadap ke depan karena tangan Saga menempel erat di bahunya. Tidak memberinya celah memutar tubuh. Jadi hanya suaranya yang berceloteh ke mana-mana.
“Ia Nona.”
“Apa dari rumahmu terlihat pemandangan kota?”
Sebuah bibir menempel ketika Daniah mau membuka mulut bicara lagi. Saga membungkam mulutnya dengan cara paling mudah. Aran yang terbelalak mundur sampai membentur dinding lift. Tapi matanya melotot. Dia benar-benar belum terbiasa, walaupun sudah tahu Tuan Saga sangat berbeda kalau berada di dekat nona. Han menggeser tubuhnya menutupi pandangan Aran.
Apa si menghancurkan imajinasi saja.
“Sayang, apa yang kau lakukan.” Memukul bahu Saga sambil melihat Han yang memalingkan wajah sementara Aran bersembunyi di balik punggung laki-laki itu.
“Apa? Aku cuma mau mencium istriku memang tidak boleh.”
Tentu saja tidak boleh! Kau menciumku di depan, ehm, ya kau sudah terbiasa melakukannya di depan Han si. Toh dia tidak perduli. Tapi kan, baru mau membuka mulut bicara. Bibir itu kembali menempel.
“Jangan bicara pada Han lagi, atau aku tidak akan melepaskanmu.” Mengusap bibir dengan jari.
Dasar! Haduh Nak, ayahmu itu benar-benar tidak berubah sama sekali.
...***...
Apa-apaan perbedaan kehidupan ini.
Daniah dan Aran sedang berdiri mematung bersebelahan, saat melihat hanya ada satu pintu yang dia lihat saat lift terbuka, sampai di lantai paling atas gedung apartemen.
Satu lantai gedung ini, rumah dia semua? Apa itu masuk akal. Daniah ataupun Aran sedang protes. Mereka bersitatap menyuarakan isi hati masing-masing.
“Silahkan Tuan Muda.”
“Sayang, jangan bilang satu gedung ini punya Sekretaris Han semua?” Mulai lagi, seperti anak-anak yang diajak ibunya pergi darma wisata. Semua ditanyakan. Semua membuat penasaran.
Pintu terbuka, mereka masuk ke dalam rumah.
“Kenapa? Kau mau, akan kubelikan satu untukmu.”
Kau benar-benar tidak bisa diajak berkomunikasi ya Tuan Muda, bukan itu inti pertanyaanku.
Beli gedung sudah seperti beli tepung untuk membuat cake. Aran tidak tahu dia siapa dan dia di mana. Bagaimana bisa dia bernafas dengan udara yang sama dengan orang-orang di hadapannya. Lebih-lebih fakta kalau pemilik tempat ini adalah laki-laki yang ia akui sebagai kekasihnya.
Katanya pacaran, kalau tidak bersama nona kau saja tidak bisa datang. Hatinya tertawa menimpali.
Sebuah ruangan sepi menyambut mereka. Wahhh, kedua wanita itu berdecak menunjukan kekaguman. Semua interior di dalam rumah bergaya minimalis modern dengan banyak sekali pemakaian ornament berwarna abu-abu. Semua terlihat sempurna. Sofa, lemari, lampu. Sudut ruangan. Lantai yang mengkilat.
Tidak ada cacatnya sama sekali untuk dilihat.
“Silahkan duduk Tuan Muda,”
“Apa boleh aku lihat-lihat?” sudah dengan bola mata berbinar-binar memohon. Tidak bertanya pada Sekretaris Han selaku pemilik rumah, melainkan pada suaminya. “Sayang, boleh ya? Aku penasaran.”
“Niah.” Mendudukkan Daniah di sofa. “Kalau kau sepenasaran itu pada Han aku juga bisa cemburu lho. Kau dengar itu, ibumu mengoceh seharian tentang Han hari ini.”
“Anakku kamu juga penasaran kan, bagaimana orang yang selalu setia pada ayahmu hidup.” Dengan pintarnya menimpali
“Pintar sekali kamu bicara, pergilah, lihatlah yang ingin kau lihat.”
“Aaaa, terimakasih sayang.Muah, muah.”
Daniah menarik tangan Aran agar mengikutinya.
Tertinggal dua laki-laki.
“Tuan Muda sebenarnya apa yang terjadi?”
“Aku juga tidak tahu. Tiba-tiba dia bilang penasaran ingin melihat rumahmu.” Melihat sekeliling, suasana yang nyaris tidak berbeda dari terakhir kali dia datang. “Sudah lama sekali ya, aku tidak datang kemari.”
Han menganggukkan kepala. Seperti ikut larut dalam nostalgia. Dia tidak mendengar suara dari dua wanita yang entah berjalan ke ruangan mana.
...***...
“Aran, lihat ruangan olahraga ini.”
Ya Tuhan, bagaimana dua wanita itu menemukan ruangan berdinding kaca itu. Pada ruangan pertama yang mereka masuki. Mereka masuk lalu menatap semua peralatan olahraga lengkap di dalam ruangan. Ada handuk yang tergeletak sembarangan. Sepetinya benar, Han tadi sehabis olahraga. Daniah berlenggak lenggok di depan cermin. Melihat perutnya yang semakin membesar.
“Nona, apa Sekretaris Han olahraga sambil mengagumi tubuhnya ya?” Aran berada tepat di sebuah alat olahraga, pantulan bayangannya terlihat jelas di dinding cermin. “Apa dia begini sambil olahraga.” Mengangkat barbel kecil di tangan kanan lalu ia angkat berulang. “Sambil bilang pada bayangannya aku ganteng juga ya.”
Keduanya tertawa puas menistakan Sekretaris Han dengan khayalan mereka sendiri.
Huaa, jangan-jangan dia olahraga sambil mengagumi perut rata, dada bidang dan lekuk-lekuk setiap otot tubuhnya. Otak 21 plus Aran sedang bekerja dengan berat memvisualisasikan.
“Aran air liurmu menetes.”
“Nona!”
“Haha, apa yang kau pikirkan barusan?”
Pintu terbuka, sepertinya suara tawa mereka terdengar sampai keluar.
“Dari sekian banyak ruangan kenapa kau memilih tempat ini buat kau masuki.” Saga sudah merapat memeluk Daniah. Menjatuhkan kepala di bahu istrinya, memegang perut Daniah degan kedua tangannya. Sambil melihat bayangan mereka di kaca.
"Han, siapkan cake yang dibawa Niah tadi.”
Han menarik tangan Aran untuk keluar.
“Eh biar aku dan Aran saja.”
“Kau mau ke mana? Katanya mau melihat-lihat." Masih memeluk istrinya dari belakang. “Aku punya kamar di sini kau mau melihatnya.”
Hah! Apa kamar! Memang kau mau apa?
"Sayang, ayo keluar, kita makan cake."
“Padahal aku hanya ingin mewujudkan rasa penasaranmu.” Tuan Saga yang selalu menangkap celah untuk berkilah di segala situasi.
Nah kan kenapa lagi-lagi aku yang jadinya dikerjai.
Akhirnya Daniah mengekor di belakang Saga, melihat kamar yang katanya miliknya di rumah Han. Seperti apa ya kamarnya. Saat berjalan melewati beberapa ruangan Daniah menyadari tidak ada foto atau hiasan di dinding yang menunjukan kepemilikan rumah.
“Sayang.”
“Hemm.”
Tunggu! Kau mau apa di rumah orang.
"Sayang, aku sudah tidak penasaran." Mencoba menarik Saga saat mereka sudah berada di depan pintu kamar. Tapi pintu kamar sudah terbuka.
“Aku hanya ingin tidur sambil memelukmu.” Janjinya begitu. Mendorong pelan tubuh Daniah.
...***...
Sementara di dapur. Han mengeluarkan piring dari lemari.
“Wahhh, dapurnya cantik sekali.” Aran melihat-lihat beberapa sudut tempat. Membuka beberapa lemari melihat isinya penasaran. “Apa Anda membersihkan semua rumah ini sendirian?”
“Apa aku terlihat kurang kerjaan sampai membersihkan rumah sendiri.”
Menarik kursi duduk. Sambil mengeluarkan cake dan beberapa kue dari tas. Menyusun ke piring. Aran hanya memperhatikan setiap gerakan tangan yang sempurna milik laki-laki di hadapannya ini.
“Tuan apa di sini tempat saya memasak nanti?”
Han meletakan kue terakhir di piring. Meletakan garpu dengan suara berdenting. Dia menjentikkan jari menyuruh Aran mendekat. Gadis itu mengikuti perintah, tapi mengambil jarak aman sambil tersenyum malu-malu.
“Kalau kita nanti menikah, hehe.”
“Sesuka itu kau padaku?”
Eh kenapa tanya kalau sudah tahu.
“Kalau begitu kau mau menikah denganku sekarang?” Tangan yang ada dalam dekapan Aran jatuh menjuntai saat mendengar kata-kata Han. “Kau tidak salah dengar, kau mau menikah denganku sekarang.” Lamaran tiba-tiba yang mengguncang seluruh akal sehat Aran.
Apa aku sedang berhalusinasi atau dia sudah gila.
“Menikah? Sekarang.” Suara Aran agak bergetar tidak percaya.
Han menganggukkan kepala. Meyakinkan Aran kalau apa yang ia dengar tidak salah.
“Sekarang juga,” ulang Aran lagi.
“Ia sekarang.”
Tunggu, maksudnya sekarang itu sekarang. Hari ini juga!
“Tapi ini akhir pekan, kantor catatan pernikahan tutup.”
“Aku bisa membuatnya buka, khusus untuk mencatat pernikahan kita.”
Sudah gila ya, ibuku akan membunuhku kalau aku menikah sekarang.
Aran menundukkan kepalanya ragu. Dia mencintai Han dan berharap menikah dengannya, tapi bukan sekarang. Masih banyak hal yang ingin ia raih dan lakukan sebelum menikah. Masih ada beban pada orangtua yang belum ia tunaikan.
“Kalau sekarang aku…”
“Kenapa kau ragu, biasanya kau bertingkah seolah-olah sudah menjadi istriku.”
Eh kapan aku begitu.
Han berdiri di depan Aran. Menyentuh kening Aran, mendorongnya pelan.
“Berhentilah memancing-mancing, kalau aku tidak bisa menahan diri mungkin aku akan menyeretmu ke kantor pencatat pernikahan nanti.”
Apa! Aku kan cuma bertanya ini dapur untuk memasak kalau aku menikah denganmu nanti. Memang aku memancing apa!
“Minggir, bawa piring dan gelas ke depan.”
“Tunggu, jadi Anda main-main mengajak saya menikah?” Gusar sekaligus kecewa karena merasa dipermainkan. Padahal dia mengharapkan sebuah pernyataan cinta yang romantis.
Tunggu, laki-laki ini kan tidak menyatakan cinta padaku.
Han berbalik, kedua tangannya memegang piring berisi cake menggantung di udara.
“Kenapa? Kau berubah pikiran, mau menikah sekarang?”
“Tidaak!”
Aaaaa,gila! Seharusnya aku berdebar-debar, tapi aku malah menciut takut begini.
Membawa gelas dan piring ke meja, lalu keduanya duduk. Aran duduk belingsatan, berfikir ulang tentang lamaran Han yang tiba-tiba. Apa itu bisa ia terjemahkan kalau laki-laki itu pun sebenarnya menyukainya. Bahkan masuk kategori tergila-gila. Tapi saat diliriknya lagi wajah laki-laki yang baru melamarnya tidak bergeming, dia langsung mendengus.
Akhirnya Aran memilih menolehkan kepala m mencari-cari.
"Nona dan Tuan Saga ke mana ya?”
“Berhenti memakai otakmu itu untuk berfikir dan penasaran tentang nona dan tuan muda.” Meraih rambut Aran yang menjuntai, keluar dari ikatannya. “Kau keramas hari ini?”
Ia, ia aku keramas!
Aran mendorong kepalanya sampai menyentuh hidung Han. Membuat laki-laki itu bangun dari duduk lalu mencercau entah dengan bahasa asing apa.
Apa, kenapa kau marah!
Sementara Han masuk ke dalam kamar mandi, wajahnya merah dengan dada berdebar. Duduk di toilet sambil menyentuh dadanya.
Aku pasti sudah gila sampai kaget karena mencium kepalanya.
Epilog
Akhirnya hanya Han dan Aran yang menikmati cake, karena Daniah atau pun Saga tidak keluar dari kamar.
"Tuan, apa aku boleh memanggilmu sayang?"
Potongan besar cake disodorkan Han ke mulut Aran. Andai dia bisa membungkam mulut Aran seperti tuan muda melakukannya mungkin akan jauh lebih mudah.
Bersambung
Note "
Terimakasih semua, atas cinta, dukungan dan kesabarannya menunggu. Semoga mengobati rindu.🤗🤗
Terimakasih untuk like, komentar positif kalian, tips, dan para voter semua. Terimakasih banyak.💖💖
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Exselyn Jelita
🥰☺️☺️☺️☺️malu2 mau kau han....😁😁😁unyu2...uwel uwel uwel
2025-02-06
2
Rafalia Azen
ya kamu memang gila hariamau gila
2024-12-16
0
Tamao Mirai
harimau jinak.. wkwk
2025-03-05
1