Kembali ke rumah belakang.
Walaupun sudah mandi terhitung lama, tetap saja tidak membawa kejernihan pada pikiran Aran. Tawaran Nona Daniah seperti membawa sebuah harapan baru, namun tak kalah lebih kuat keraguan hatinya sendiri.
Ingin pergi namun belum rela melepas yang ada di sini.Tapi tetap ingin menyentuh mimpinya lagi.
Tinggal membuat laporan kerja apa saja yang dilakukan Nona Daniah hari ini. Akhirnya Aran menjatuhkan tubuhnya dan menarik selimut. Menulis laporan sambil meluruskan kaki lalu meringkuk di tempat tidur. Pasti mengusir kegalauan hatinya. Sekilas dia melihat laptopnya di atas meja. Sudah menarik-narik hatinya untuk menulis. Dia harus update minggu ini.
Kenapa sudah jam segini si.
Suara pesan masuk dari benda yang dipegangnya.
Kenapa dia mau bertemu denganku. Belum juga mengirim pesan laporan tentang nona pada Sekretaris Han.
Aran meraih sweater tipis yang dia gantung di kursi kerjanya. Bergegas keluar dari kamar. Menyapa seniornya yang sepertinya baru selesai melakukan kewajiban mereka. Dia dengan cepat menuruni tangga. Menuju dapur dan mengambil dua botol jus mangga di kulkas.
“Aran mau kemana? Hari ini update nggak.”
Pecinta novel Aran mulai merasuk ke semua lini. Dan para seniornya di rumah ini sedikit banyak adalah pembaca novelnya.
“Belum kakak.” Aran memeluk gadis di depannya. “Sabar ya Kak, hari ini aku belum ada waktu menulis.”
Kalau sudah bertemu fans setia seperti ini semangat Aran jadi berkobar-kobar.
“Update yang banyak ya, nanti aku kasih tips yang banyak deh.” Yang baru gajian sudah top up koin untuk mendukung penulis kesayangannya. “Sambil nunggu novel kamu aku juga baca beberapa judul yang lain yang kamu rekomendasikan lho. Yang ini, yang itu.” Menyebutkan beberapa judul novel milik penulis lain di aplikasi tempat Aran menulis.
“Benar kan rekomendasiku asik punya. Pokoknya Kakak kalau mau cari novel baru, ingat tips aku ya, baca lima episode awal dulu tanpa prasangka apa-apa selain menikmati alur dan cerita. Jangan tersugesti komentar, nah kalau sudah lima episode baru deh bakal ketahuan klik atau nggak. Mau lanjut atau nggaknya. ”
Eh, Aran hobi promo novel punya penulis tetangganya memang.
“Bener banget, aku pakai cara itu akhirnya nemu novel-novel keren. Pokoknya aku tunggu updatenya novel kamu ya.” Tetep yang punya Aran yang jadi cerita paling dia sukai. “Oh ya mau kemana?” menunjuk dua botol minuman di tangan Aran.
“Nona memanggil.”
“Apa!” Langsung panik karena sudah menahan Aran lama. “Sudah sana pergi, kenapa nggak bilang.” Mendorong tubuh Aran. “Kau ini bagaimana bisa membuat nona menunggu.” Mengomel-mengomel tentang kinerja yang baik.
Ia, ia kakak, aku pergi. Lagi pula bukan Nona Daniah kok. Kalau Nona Daniah yang memanggil aku pasti langsung lari ke rumah utama. Ih nona dan Tuan Saga sedang apa ya?
Jiwa halu sedang mencari referensi untuk episode selanjutnya. Sambil membawa langkah kakinya menuju taman. Aran merapatkan sweater ke leher, semilir angin menyentuh ujung kulitnya. Tanaman bergesek tertiup angin. Udara segar malam langsung memenuhi paru-paru.
“Selamat malam senior.” Aran menundukkan kepala saat dua orang pengawal sift malam berpapasan dengannya. Sepertinya akan menuju tempat mereka berjaga.
“Mau kemana Aran, sudah malam begini?” ketika melihat Aran berjalan menuju taman. Gadis itu berhenti dan berbalik.
“Bertemu nona.”
“Nona! Dimana nona?” Mata mereka langsung awas berkeliling siaga. Mencari-cari, di bawah lampu taman. Tidak ada bayangan siapa pun.
“Nona menunggu di taman. Permisi ya senior.” Tanpa menunggu jawaban Aran berjalan cepat.
Dua orang pengawal itu saling pandang.
“Ayo lewat taman.” Salah satunya menarik lengan paksa.
“Kau gila ya?”
“Kita cuma melihat dari jauh saja kok. Tumben Nona ketemuan di taman biasanya kan langsung ke kamar Aran. Dari jauh, nggak lebih dari tiga detik.”
Akhirnya menurut juga teman yang satunya.
Sementara itu sampailah Aran di kursi taman.
“Maaf Nona, menunggu lama ya.”
Amera merengut, sudah 10 menit dia duduk di taman sendirian. Bermandikan cahaya lampu taman. Rambut lurusnya sepertinya terlihat sedikit basah.
“Silahkan Nona.” Ikut duduk di samping Amera.
“Dih, kamu sampai bawa minuman segala. Memang kita mau mengobrol, kita ini saingan tahu.” Terdengar masih jengkel.
Aran tersenyum tipis, tapi dia membuka penutup minuman dan menyodorkan pada Aran, diterima juga oleh gadis itu. Meneguknya dua kali.
“Kita kan memang mau mengobrol sebagai saingan. Hehe.”
Dari kejauhan terlihat dua senior yang tadi dilihat Aran sedang tendang-tendangan sambil berjalan. Aran melihat bayangan mereka dalam cahaya lampu. Yang satu mendorong yang lain sambil tertawa. Mereka pasti sedang kecewa karena ternyata yang ditemui Aran nona yang lain bukan yang mereka maksud.
Kembali kepada dua gadis yang katanya saingan tapi bisa duduk mengobrol sambil minum jus manga dari botol masing-masing.
“Nona Amera kenapa memanggil saya?” Aran memulai duluan. Karena masih ada yang harus dia laporkan malam ini. Ingin urusan cepat selesai. Bagian belakang lehernya juga sudah terasa tegang. Ingin ia rebahkan di atas bantal.
“Jawab yang jujur ya?” Menangkap cepat pertanyaan Aran.
“Memang Nona mau bertanya apa?”
Sudah merasa dejavu dengan peristiwa tadi siang, seperti sedang diinterogasi Dokter Harun. Apa Amera juga akan menanyakan tentang Han.
Aku jawab apa ya, aku panas-panasin aja kali ya.
“Kau beneran pacaran dengan Han?” Langsung ke jantung pertahanan lawan, tak sudi berbasa basi. Amera sudah merasa kalah selangkah dari gadis di hadapannya.
Pacaran, ciuman pipi, apa itu masuk akal dilakukan Han!
“Ia.”
Jawaban singkat Aran benar-benar membuat naluri kekalahannya tersulut.
“Bohong! Tidak mungkin! Apa itu masuk akal, bagaimana kalian bisa pacaran. Sofia bilang pernah melihatmu mencium pipi Han.” Pertanyaan tidak terima berloncatan dari mulut Aran. “Aku tidak percaya kalian benar-benar pacaran. Sofia juga pasti salah lihat.”
Kenapa, kenapa, kenapa kamu yang dipilih Han.
“Tidak!" Meralat pertanyaan. "Jangan jawab pertanyaan itu, jawab yang ini saja. Apa Han mengakuimu sebagai pacar.”
Aran tersedak jus yang dia teguk, dipukulnya dadanya sendiri. Kenapa pertanyaan yang dipilih nona Amera terasa menyadarkan isi kepalanya ya. Pengakuan dari Han, pernahkah telinganya mendengar itu.
“Ehmm.” Lama menggantung. Belum menemukan situasi di memorinya yang menunjukan pengakuan Sekretaris Han pada hubungan mereka, tapi setiap Aran menggodanya dengan kata pacar,laki-laki itu tidak menolak. Jadi Aran menganggap itu pengakuan tidak terucap.“Tentu saja,” ujar Aran masih penuh keraguan.
Bohong kan. Haha, Han belum mengakuimu, kau saja yang besar kepala.” Menampar jauh lebih keras ternyata bisa dilakukan hanya dengan kata-kata. “Aku masih punya kesempatan berarti.” Kalau hanya mengaku-ngaku, Amera juga bisa melakukannya.
Aran melihat semangat yang kembali menyala dalam setiap gerakan tubuh Amera. Gadis di sampingnya menyibak rambutnya agar angin menerbangkan basah yang tersisa di rambutnya sehabis keramas tadi. Gadis itu memang punyabkebiasaan tidak mengeringkan rambut setelah mandi.
Sial, aku salah strategi gumam Aran.
“Tapi kami memang pacaran Nona.” Berusaha bicara dengan nada meyakinkan.
“Jangan membual ya.”
“Saya memang mencium pipi Sekretaris Han.” Menunjukan fakta.
“Bagaimana bisa, dia bahkan tidak membiarkanku menyentuh tangannya, bagaimana kau bisa mencium pipinya?” Semakin menjadi rasa tidak terimanya. “Tunggu, kau tidak memakai Kak Niah untuk mendekati Han kan?” wahh, wah, berdecak kesal. “Kau curang kalau memakai Kak Niah sebagai batu loncatan.”
Sebenarnya Amera juga memakai cara itu, tapi gagal. Hehe.
Amera bangun dari duduk. Berdiri tegak di hadapan Aran.
“Apa kau bekerja pada Kak Niah untuk mendekati Han? Kau menggunakan pekerjaan mulia ini untuk dekat dengan Han?”
Kenapa semua orang salah paham si. Sekretaris Han yang menyeretku secara paksa untuk bekerja pada nona. Ya walaupun aku tidak merasa terpaksa juga sekarang. Aku malah senang. Eh bukan itu intinya. Yang pasti aku datang ke rumah ini karena Sekretaris Han yang membawaku.
“Ternyata kau buruk sekali Aran, aku tidak akan mengakui hubunganmu dengan Han.” Sudah berkaca pinggang sambil menuding dengan botol jus di tangannya.
Lho, lho, apa-apaan ini si. Memang kami butuh pengakuanmu.
“Kau tahu aku bekerja keras mendapatkan pekerjaanku yang sekarang untuk mendapat pengakuan dari Han. Aku mau menunjukan padanya kalau aku sudah tumbuh menjadi dewasa dan bertanggung jawab. Tapi kau bisa-bisanya memakai pekerjaanmu untuk mendekati Han.”
Tunggu nona, jangan teruskan kesalahpahaman Anda!
“Nona Amera.” Mendesah, pada akhirnya dia memang harus menjelaskan posisinya. “Saya bekerja pada Nona Daniah bukan untuk mendekati Sekretaris Han, tapi karena hutang saya di masa lalu pada Han membuat saya harus membayarnya dengan cara ini.”
Menurunkan botol minuman, menarik nafas pelan. Menghembuskan pelan, mengurangi kadar emosi. Angin sejuk menampar wajahnya membuatnya rileks sesaat.
“Kau punya hutang apa dengan Han di masa lalu?” Bukannya menyelesaikan rentetan pertanyaan, malah menjadi bahan penasaran lanjutan.
“Saya pernah mengecewakannya saat saya masih bekerja di tempat dulu saya bekerja.” Tidak mau membongkar semua, Aran hanya mau mengulik sedikit saja. Kalau jawabannya memuaskan gadis di depannya pasti akan berhenti bertanya.
Kau salah Arandita, Amera punya jiwa penasaran gadis muda pada umumnya.
“Dulu kau bekerja di mana memang?”
“Saya mantan reporten TVXX.”
Sial, dia keren juga. Terpesona satu.
“Kenapa kau berhenti dari sana?” Penasaran semakin menjadi-jadi.
“Karena kesalahan saya pada Sekretaris Han, saya harus kehilangan pekerjaan.”
Sudahlah nona jangan bertanya lagi. Kita kan saingan. Kenapa aku harus membeberkan rahasia hidupku begini.
“Kesalahan apa itu?”
“Mencintainya. Hehe.” Memakai jawaban aneh biar maksudnya tidak ditanya lagi.
Dasar, kenapa jawabannya tidak masuk akal tapi keren.
Amera mengambil hp di saku celananya. Mengambil foto Aran tiba-tiba. Sampai gadis itu mengerjapkan mata terkena sinar lampu kamera.
“Kenapa Nona mengambil foto saya.”
“Sepertinya aku tahu kenapa Han tidak menolakmu, sepertinya kau wanita sesuai dengan seleranya.”
Apa lagi si ini. Aran jadi penuh tanda tanya.
“Kenapa rambutmu seperti rambut Kak Niah, kamu sengaja ya?”
Sudah Nona, saya tidak mau meladeni Anda lagi.
Karena sepertinya Aran sudah merasa menang dari Amera. Jadi dia bangun dari kursi taman. Menarik sweater ke lehernya.
"Ini rambut asli saya Nona, ini sudah malam, sebaiknya Nona kembali ke dalam. Besok kan harus bekerja.”
Belum menulis laporan nona. Belum menulis satu bab pun update novel. Malah harus meladeni saingan seperti ini. Rasanya lelah itu menjadi berkali lipat rasanya.
“Coba ceritakan semua tentang dirimu.”
Apa lagi si Nona!
“Kenapa saya harus menceritakan tentang diri saya?” Tidak habis pikir.
“Aku mau mencontoh seperti dirimu, kamu kan tipe ideal Han.”
Ya Tuhan kata-kata Dokter Harun jadi terngiang-ngiang di kepalanya, saat mengatakan Amera itu masih bocah. Sekarang dia benar-benar sedang menghadapi bocah kasmaran yang dengan polosnya menanyakan rahasia saingannya untuk menaklukan laki-laki yang sama.
“Nona besok lagi ya, saya masih ada pekerjaan.”
“Memang kamu mau kerja apa lagi si. Tugasmu kan menjaga Kak Niah dan mengantarnya kemana dia mau pergi.” Sekarang Kak Niah saja sudah masuk kamar bersama Kak Saga. Kau tahu kan tidak ada yang bisa mengganggu mereka kalau sudah berdua. Aku mau bicara dengan Kak Niah saja langsung diusir sama Kak Saga." Amera malah mengadu. "Padahal aku mau curhat dengan Kak Niah."
Menulis laporan Nona Daniah!
“Saya mau menulis novel.” menjawab sekenanya, mempermudahnya lepas dari Amera. Saingan kok nempel-nempel batinnya. Penasaran kebangetan sama hidup orang lagi.
“Apa novel, kamu penulis novel juga?” menyentuh tangan Aran.
Tunggu kenapa bola matamu berbinar-binar begitu. Aran.
Sial, kenapa Aran keren begini si, aku jadi ingin memanggilnya kakak. Terpesona selanjutnya bagi Amera.
“Kamu nulis di aplikasi apa?”
“AplikasiXX.”
“Huaaa, itukan aplikasi favoritku. Judul novelmu apa?”
Amera mengambil hpnya, membuka menunjukan sebuah aplikasi warna biru di layar hpnya. Memencetnya.
"Yang mana novelmu." Berdebar-debar penasaran.
Aran meraih hp Amera lalu mengetikan judul novelnya di kolom pencarian. lalu menyodorkan ke depan wajah Amera. Mata gadis itu membelalak lebar tidak percaya. Seperti terpancar kebahagiaan.
Kamu tidak bisa update malam ini Arandita. Amera menahan tanganmu dan menunjukan novel-novel di rak bukunya.
Ini kenapa jadi begini si.
Akhirnya Amera hanya mengoceh tentang isi novel yang ditulis Aran. Pertanyaan berderet tentang karakter-karakter tokoh keluar bak busa dilautan. Sejujurnya Aran merasa bangga dan senang sekali. Bertemu langsung dengan pembaca setia novelnya. Tapi dia benar-benar lelah meladeni gadis yang sepertinya tidak kehabisan energi di depannya.
"Jadi sekarang Nona mau menyerah dengan Sekretaris Han." Horee, sepertinya novelku membawa berkah gumam Aran. Sainganku mundur selangkah karena mengakui aku keren. Bahkan Amera benar-benar memanggil kakak sekarang pada Aran.
Amera bangun dari duduk. Memasukan hp ke saku celana.
"Jangan mimpi ya. Kak Aran memang keren tapi aku tidak akan menyerah pada Han."
"Eh..." Masih tidak berubah ternyata.
"Tapi kata Dokter Harun kau dianggap bocah oleh Sekretaris Han. Masih belum mau menyerah juga."
Kak Harun kenapa mengatakan kelemahan terbesarku pada sainganku si.
"Pokoknya walaupun aku menyukai novel-novel Kak Aran tapi aku tidak akan menyerah pada Han. Ayo bersaing denganku mendapatkan Han."
"Tapi aku kan sudah pacaran dengan Han."
"Bodolah, terserahlah, tapi aku tetap mau mengejar Han." Amera mundur dua langkah. Tidak mau tahu, tidak mau mendengar. "Jadi ayo kita bersaing!"
"Aku kan sudah pacaran dengannya." Aran mengulang lagi kata-katanya.
Amera berteriak bodo amat tidak dengar. Sambil lari menjauh.
"Kak Aran jangan lupa update!"
Dasar bocah, masih sempat-sempatnya menagih update.
Aran berjalan menuju kamarnya. Hah! lagi-lagi dia merindukan masa lalunya.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Erni Fitriana
jangan" novelnya aran..novel kesayanganku🤭🤭🤭🤭
2025-01-25
1
Nurus Syamsiyah
Kapan ya aran menciun han, aku kog lupa padahal sudah baca bolak balik
2024-08-07
1
Isma Izza
cerita ini tetep nyangkut di hati
2024-06-24
4