Rumah utama.
Cuaca di luar cukup dingin. Hembusan angin menggoyang pepohonan. Hanya para penjaga keamanan yang sedang bekerja di posisinya. Merapatkan jaket sampai ke leher. Bersiaga, sambil bergilir berkeliling. Para pekerja yang lain sudah memilih melepaskan lelah di kamar masing-masing. Sambil mengisi waktu dengan obrolan ringan sebelum tidur atau melihat hp mereka.
Malam ini Saga kembali sudah cukup larut. Ada beberapa pertemuan penting membahas investasi. Dia bahkan melewatkan makan malam di rumah. Sangat jarang ia lakukan semenjak Daniah hamil. Karena istrinya masih mengalami keluhan tidak berselera makan. Biasanya pelan-pelan dengan kesabaran yang tertahan dia akan membujuk Daniah. Menyuapinya.
Saga sedang di kamar mandi.
Daniah sudah duduk di atas tempat tidur saat Saga keluar dari kamar.ganti. Rambutnya terurai tidak beraturan. Dia memang hanya memotong ujung-unjung rambutnya. Sebenarnya dia ingin memotong rambutnya pendek, namun karena wajah murung suaminya akhirnya dia mengalah.
Apa di rambutku ini ada mantra pengikat hati yang membuatnya tergila-gila si.
Misteri itu belum terungkap. Daniah duduk menyandar sambil membaca sebuah buku tebal dengan cover berwarna cerah. Ada gambar binatang di sana. Gadis itu membaca dengan suara keras sambil mengusap perutnya beberapa kali. Sesekali menyapa saat gerakan menendang terasa. Senyum-senyum sambil berceloteh lalu meneruskan bacaannya.
“Kau sedang apa?” Naik ketempat tidur, mencium kening dan bibir istrinya. Lalu mencium rambut sambil diuyel-uyel gemas. “Aku merindukanmu seharian ini. Bagaimana denganmu?”
“Tidak.” Daniah tertawa lalu mengusap pipi cemberut Saga. “Tapi bohong. Haha. Kangen kok,kangen.” Sekarang dia memang jauh lebih berani. Karena Saga selalu memaklumi kekurangajarannya. Dengan dalil ngidam dan dia sedang hamil. Membuat jiwa iseng selalu muncul. Daniah menyuruh Saga menggeser tubuh karena dia mulai merasa sesak. Jujur, ini yang sering memancing rasa kesal Saga. Daniah mendengar suaminya menggerutu. Tapi tetap mundur memberi ruang udara berputar di sekelilingnya.
Daniah melanjutkan membaca buku ceritanya.
“Apa ini?” mengeja judul yang tertera di cover depan. “ Kau sedang membaca cerita untuk bayi kita?” Mengusap perut. “Beruntung sekali dia.” Iri menyusup di hati. Dia tak pernah tahu apa buku cerita anak-anak itu.
Saga mengusap perut Daniah lembut, lalu seperti menusuk-nusuk dengan jemarinya mengikuti arah gerakan tendangan sang bayi. Calon ayah itu tergelak.
“Kau senangkan punya ibu yang luar biasa. “ tendangan kecil kembali ia rasa di ujung jarinya. “Ini buku tentang apa?” Kembali menggangu saat Daniah meneruskan bacaanya.
Seharian kau sudah bersamanya. Bibirnya merengut untuk alasan yang tidak jelas. Perhatikan aku juga. Gumamnya lagi.
“Dongeng Kelinci dan kura-kura.” Mengusap kepala bayi besarnya. Dia ulang saat Saga menggoyangkan kepala senang.
“ Apa itu?” memilih tiduran sambil memeluk kaki Daniah. Memindahkan tangan Daniah yang tadinya sudah beralih menyentuh perut ke kepalanya. “Lagi.”
Ya Tuhan Nak, ayahmu iri padamu.
Sambil mengusap-usap kepala Saga dia mulai bercerita.
“Ini cerita dongeng yang biasanya diceritakan pada anak-anak. Memang kamu nggak tahu sayang, cerita tentang kelinci yang lomba lari dengan kura-kura.” Cerita yang dia baca ini kumpulan cerita anak yang popular di masyarakat. Terkadang dipakai sebagai dongeng pengantar tidur. Bisa juga dipakai saat anak-anak pra sekolah belajar membaca. Tulisannya yang sedikit disertai gambar berwarna yang cerah membuat anak-anak tertarik untuk membaca.
“Memang aku harus tahu.” Acuh, malah Menaikan ujung baju yang menutupi lutut, lalu dia menempelkan pipi tanpa pembatas. Melanjutkan mengusap-usap bibirnya. Daniah mengeryit tapi membiarkan kelakuan suaminya.
Ya nggak harus tahu si, tapi semua orang juga kan tahu tentang dongeng anak-anak ini.
“Sayang, memang dulu kamu nggak pernah belajar membaca buku bergambar apa. Inikan cerita yang hampir di ketahui seluruh masyarakat negri ini.”
“Heem.” Bibirnya tidak berhenti di satu tempat. Sudah bisa diduga.
Masih menjawab hem, hem saja. Kapan si kamu mau berubah Tuan Muda.
“Niah, memang kamu pikir aku punya waktu untuk itu.”
Dia menggigitku.
Daniah menggoyangkan kaki.
“Tapikan walaupun home schooling seharusnya pelajarannya tidak jauh berbeda dari yang aku pelajari di sekolah kan.” Daniah sendiri tidak terlalu paham akan hal itu. Dia penasaran saja, karena Tuan Saga terlalu polos untuk banyak hal, apalagi yang berhubungan dengan wanita. Ya, walaupun dipelajaran sekolah memang tidak dijelaskan secara detail si, gumamnya. Namun kepolosan dan ketidaktahuan Tuan Saga perihal kehamilan atau datang bulan menggelitik lucu dan keanehan.
Saga tertawa lalu bangun. Berganti memainkan rambut istrinya. Dia gulung-gulung lalu dia cium sana sini.
Ini apa si, lagi diajak serius ada aja tingkahnya.
Daniah masih menunggu penjelasan. Mendelik, karena suaminya tidak tertarik menjawab malah sibuk bermain dengan rambutnya.
“Kau menunggu jawabanku.”
“Sayang!” Berteriak.
“Baiklah." Malas."Aku mau memelukku dulu, baru aku mau menjawab.” Melakukan penawaran. Daniah meletakan bukunya dan memeluk Saga duluan.
Puas!
“Sepertinya ada kesalahpahaman di sini.” Menjawab setelah mendapat pelukan dan diizinkan menyentuh bagian yang lainnya. “Aku memang home schooling, tapi aku tidak pernah belajar apa yang kau pelajari di sekolah.”
“Bohong.”
“Ckck, kamu makin kurang ajar ya selama masa ngidam ini.”
“Haha, tidak sayang.”
Lalu apa yang kau pelajari memang?
Sekali lagi tanda tanya berlarian. Daniah hanya tahu kalau Saga tidak bersekolah di sekolah umum. Sekalipun Antarna Group memiliki saham besar di sebuah sekolah elit di negri ini. Tempat Jen dan Sofi mengenyam pendidikan formal mereka.
“Ayah menyiapkan pendidikan khusus untukku sejak akumulai belajar membaca.” Entah kenapa ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul di hati Daniah. Seberapa keras Tuan Saga dididik di masa kanak-kanaknya ya. Itu pertanyaan yang muncul di kepalanya. “Aku tidak pernah belajar membaca cerita bergambar, aku memulai pendidikan dasarku dengan ilmu ekonomi, teori tentang bisnis, sejarah berdirinya Antarna Group, serta bagaimana tanggung jawabku pada perusahaan kelak.” Saga bisa melihat pandangan iba yang langsung muncul begitu saja di mata Daniah. “Jangan melihatku begitu, aku tidak semenyedihkan itu.”
“Maaf.”
Pendidikan penerus keluarga seperti apa yang ia jalani.
“Aku belajar pengetahuan dunia, budaya, ilmu komunikasi. Ya, seperti itulah. Ayah sudah menyiapkan semua itu. ” Mencoba mengingat saat-saat melelahkan masa kanak-kanaknya. Ya, itu melelahkan. Bohong kalau ia tidak pernah protes. Mogok belajar, atau melemparkan buku yang ia baca pada pengajarnya. Ia juga pernah melakukan hal kekanak-kanakan itu.
Ah hati Daniah entah kenapa langsung terasa ngilu mendengarnya. Mungkin karena itulah sikapnya seperti ini ya. Begitulah hatinya selalu bertoleransi ketika mengetahui masa lalu suaminya.
“Sayang, sepertinya kamu nggak lulus kelas komunikasi ya.” Tergelak, mengusir perasaan canggung. Dia tidak mau Saga menangkap pandangan merasa.kasihan darinya lagi.
“Kamu bilang apa?”
“Haha, ampun, ampun. Abis kalau ditanya selalu hemmm, hemm begitu jawabnya. Haha. Ia, ia ampun.”
Syukurlah dia tertawa lagi batin Daniah. Namun, tiba-tiba wajah Daniah menjadi muram. Dia meraih tangan Saga, meletakkannya di atas perutnya. Gerakan-gerakan kuat terasa.
"Sayang, bagaimana dengannya nanti? Aku harap dia bisa mendapat pendidikan seperti orang-orang yang lain, berteman dan menjalani kehidupan normal seperti anak-anak yang lainnya." Daniah tidak bisa merelakan anak yang bahkan belum terlahir ke dunia itu, sudah memiliki beban di pundak kecilnya.
"Apa yang kau takutkan, sejak di dalam kandungan saja dia sudah sekuat ini." Maksudnya adalah, sejak dalam kandungan saja dia sudah menyusahkanku, tentu dia harus lahir menjadi anak hebat dan kuat selayaknya penerus keluarga Antarna Group. Tapi, mana Daniah paham bahasa jiwa itu. Hingga ia hanya bernafas lega mendengar jawaban Saga.
"Oh ya Sayang setahuku di belakang namamu ada gelar pendidikan, bagaimana caranya. Kalau kamu tidak mendapat pelajaran seperti di sekolah." Mengubur kecemasan tentang masa depan yang akan ditanggung anaknya sebagai penerus keluarga. Dia penasaran sekali dengan yang satu ini.
"Aku mengikuti ujian negara untuk mendapat gelar itu. Ah sudahlah, kenapa menanyakan hal begituan. Aku mau memelukmu saja." Mulai memejamkan mata, tapi tangannya masih menyentuh rambut Daniah.
"Aku kan penasaran,kok bisa begitu. Jawab donk sayang."
"Tanyakan saja pada Han bagaimana dia mengurusnya." Jawaban paling mudah.
"Benarkan, kamu nggak lulus kelas komunikasi." Jawaban Daniah langsung melenyapkan kantuk. “Aaaaa, sayang ampun." Berteriak sambil tertawa terpingkal. "Ampun. Aaaaa, perutku.”
Saga langsung tergagap, membeku seketika. Wajahnya langsung panik saat Daniah mengaduh memegang perut, memeriksa sana sini. Menyentuh sana sini. Sampai area yang tidak penting juga diperiksa. Sampai menempelkan telinga di perut Daniah, entah apa yang coba dia dengar. Kalau tidak mendengar gelak tawa Dari Daniah pasti akan berlanjut dengan keributan yang melibatkan Pak Mun ataupun Dokter Harun.
Saga menendang selimut ke lantai gusar.
“Kau benar-benar ya.”
“Ampun, ampun.” Daniah merentangkan tangan memohon pengampunan. Saga menuding dahi istrinya lalu membenamkan wajah di dada. “Habis terkadang melihat Tuan Saga yang panik begitu menggemaskan si.”
Tiada ampun lagi, seharusnya kau tidak memancing hasrat bayi besarmu Daniah. Apalagi saat dia sedang menempelkan bibir di area yang ia sukai.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Elis Ariska
thor, aq kira ini crita k spesifikasi Han,,,tapi kok bnyk daniah.y🙄
2024-06-07
4
Sri Mulyani
a
2024-05-31
0
Nisha Aniest
malah nyeritain saga lagi katanya sek han
2024-05-22
1