Aroma ruangan yang sudah tidak asing lagi bagi Aran. Beberapa bulan ini ruang VVIP pemeriksaan sudah seperti tempat persinggahan baginya. Dia mulai terbiasa dengan beberapa istilah yang di sampaikan dokter laki-laki yang sudah cukup senior itu, saat menjelaskan kondisi kehamilan nona.
Masih tetap tidak menyebutkan jenis kelamin. Padahal Aran setengah mati penasaran.
Dokter laki-laki itu sudah selesai memberi penjelasan, memberi Daniah kesempatan jika ada yang ingin ditanyakan. Daniah melihat kearah semua orang. Bergantian. Dokter laki-laki senior, dokter perempuan dan beberapa perawat perempuan. Dokter Harun dan Aran.
“Apa kalian bisa menunggu di luar, ada yang mau aku tanyakan pada dokter.” Daniah melihat ke arah dokter wanita yang berdiri di sebelah dokter senior.
“Tapi Nona.”
Habislah aku kalau Sekretaris Han tahu. Kalau dia bertanya apa ada yang dikhawatirkan nona selama pemeriksaan hari ini. Aku harus jawab apa!
“Baiklah Nona kami permisi, tetap jaga kesehatan dan perasaan nona supaya tetap bahagia, semua baik-baik saja sesuai hasil pemeriksaan.” Dokter laki-laki senior menganggukkan kepala setelah membaca situasi. Dia mengajak semua perawat untuk keluar. Daniah juga tersenyum sopan saat dia pergi.
“Ada yang mau aku tanyakan secara pribadi pada dokter. Aku malu kalau ada kalian. Hehe.” Bangun dari duduk lalu mendorong Aran untuk keluar ruangan. “Dokter Harun juga keluar ya.”
Yang diusir benar-benar terlihat tidak rela, tapi akhirnya membawa tubuh mereka ke luar ruangan.
“Nona mau bertanya apa ya, sampai mengusir kita semua.” Aran dan Dokter Harun sudah duduk sambil melihat ke arah pintu. Berusaha berspekulasi, tapi tidak berhasil menerka apa pun itu. Semakin membuatnya merasa depresi.
Aran menyandarkan kepala ke dinding.
“Aran, mau minum kopi?” Ada mesin minuman di luar sana. Setidaknya bisa mengusir canggung yang tiba-tiba tercipta di antara mereka berdua.
“Dokter jangan aneh-aneh ya. Kalau Tuan Saga atau Sekretaris Han tiba-tiba muncul dan saya tidak ada di samping nona, habislah saya.”
Cukup sudah kejadian sebelum-sebelumnya.
“Haha,…” Tertawa tapi membenarkan semua yang dikatakan Aran, akhirnya dia duduk lagi. Ikut melihat ke pintu, seperti berusaha mengetahui apa pun yang terjadi di sana.
Tetap tidak terdengar apa pun. Dokter Harun sedang batuk berdehem, sedang berusaha mengumpulkan kata untuk memulai pembicaraan. Walaupun Aran terbilang ramah, namun dia bisa merasakan kadar ketertarikan Aran padanya sangat rendah. Jadi,kalau tidak dimulai duluan dia merasa Aran pun tidak akan terpancing bicara.
“Aran, apa kau benar-benar berkencan dengan Han,” bertanya mengalihkan pandangan.
Apa-apaan pertanyaan Anda dokter, terus terang sekali.
“Dokter, kenapa Anda penasaran sekali dengan saya si? Anda tidak menyukai saya kan?” Gadis yang jauh lebih blak-blakan ada di depanmu dokter. Pertanyaan Aran sampai membuat Harun terkesiap kaget.
Krik, krik, angin lewat di antara mereka.
“Kau ini benar-benar menarik ya? Kalau aku bilang aku suka padamu bagaimana coba. Apa kau akan membalas perasaanku?” Melirik sebentar gadis di sebelahnya.
Arandita, semua yang ada padanya terlihat biasa, penampilan, garis wajah, mungkin hanya rambut bergelombang yang mirip dengan Daniah yang membuatnya terlihat berbeda. Namun karena dia selalu mengikat keseluruhan rambut berbeda dengan cara mengikat rambut Daniah, membuat persamaan itu tidak terlalu mencolok.
Aran terlihat jauh lebih terbuka dan berani, berbeda dengan Daniah yang selalu berhati-hati kalau bersikap. Begitulah di mata Harun.
Ya, ya, siapa yang tidak akan berhati-hati kalau menghadapi Saga.
Harun melirik Aran lagi, tapi ada sesuatu dari gadis ini yang sampai membuat pandangannya tidak bisa teralihkan. Dia penasaran sekaligus berusaha memilikinya.
“Dokter.”
“Ia.” Menoleh bersemangat.
“Apa Dokter tertarik kepada saya karena saya menyukai Sekretaris Han?”
Deg, sebuah kenyataan yang tidak bisa di tolak Harun memanahnya. Ya, itulah salah satu alasan gadis di sampingnya ini menarik baginya. Bagaimana bisa dia mengaku kalau dia menyukai Han. Lebih-lebih saat manusia sedingin.kutub itu pun tidak membantahnya. Seakan membuat penilaiannya pada Aran langsung meningkat drastis.
Dia gadis menarik yang berbeda dengan yang lainnya.
Rasa penasaran itu semakin menjadi saat Amera menanyakan apa Han benar-benar berkencan dengan Aran.
“Hemm, tidak juga si.”
“Haha, ternyata benar kan. Saya sudah menduganya.” Aran terdengar tidak merasa sakit hati walaupun mendapati kenyataan itu. “Kalau seperti itu bukan cinta atau suka dokter namanya, Anda hanya penasaran saja sama saya. “
Dia sudah menduganya sejak awal, kalau ketertarikan yang ditunjukan Dokter Harun padanya, karena dia menyukai Sekretaris Han. Apa dokter Harun maupun Han sedang mempertaruhkan harga diri kejombloan mereka. Apa salah satu akan terusik kalau satunya mendapat pasangan.
“Benar kan Anda tidak bisa membantahnya.”
Haha, gadis ini benar-benar luar biasa, aku kalah telak dan tidak bisa menjawabnya. Apa Han juga begitu ya di hadapannya.
Dokter Harun sedang berusaha keluar dari situasi yang ujungnya memojokkannya.
“Aran, kalau aku boleh tahu, kenapa kau bisa suka pada Han? Apa si yang kau suka darinya?” Selamat, batinnya. Dia tidak mau mengakui kalau rasa tertariknya memang berawal dari itu. “Apa jangan-jangan kau bekerja untuk Daniah karena ingin mengejar Han?”
Orang yang tidak tahu apa-apa sedang sok tahu. Harun menghela nafas kuat, kalau itu alasannya sebaiknya gadis di hadapannya ini menyerah. Han sangat benci melihat orang yang bekerja tanpa dedikasi dan keseriusan. Apalagi bekerja untuk Daniah yang dianggap Han sebagai sumber kebahagiaan Saga.
“Kenapa diam saja? Aku benar ya? Jadi, kau bekerja untuk Daniah karena ingin mendekati Han.” Sok tahu semakin menjadi-jadi.
“Tidak begitu Dokter, saya bekerja untuk nona karena Sekretaris Han yang membawa saya. Itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan perasaan saya padanya.”
Penasaran, penasaran memuncak.
“Jadi kenapa donk, aku kan penasaran.”
Karena Han yang diketahui Aran selama ini, pastilah Han yang ditangkap media dan publik.
“Apa karena dia cukup tampan, kalau hanya itu aku tidak kalah darinya.” Menyentuh dagunya. "Aku juga tampan." Tertawa saat melihat Aran yang mengiyakan dengan terpaksa. “Aku punya pekerjaan yang terlihat lebih keren darinya.” Menunjuk name tag nama sekaligus posisinya di rumah sakit. Ya, walaupun secara level, statusnya masih di bawah Han. Tapi orang akan melihat kalau dia pasti jauh lebih keren.
“Dokter.” Sekarang Aran memiringkan tubuh, mata mereka bertatapan. “Sama seperti kalian yang mengenal Sekretaris Han, aku juga mengetahui sedikit banyak hal yang tidak diketahui publik tentang dia.”
“Apa? Tidak mungkin.”
“Hehe, benar kan, bagaimana dia tidak menarik kalau dia punya kepribadian seperti itu.”
Harun bangun dari duduk, berdecak. Sepertinya mendapat suntikan keras di ujung bahunya, sejauh apa gadis di hadapannya ini mengenal Han. Apa hubungannya memang sedekat itu. Sampai dia tahu kalau Han punya pribadi hangat di luar yang ia tunjukan selama ini.
“Siapa kau sebenarnya Arandita, bagaimana bisa kau mengenal Han, apa sebelum bekerja pada nona kau sudah mengenal Han?”
“Rahasia. Hehe.”
Wahh, wahh, kau punya bakat untuk di sukai dan membuat orang penasaran ya.
"Dokter jangan terlalu banyak mencari tahu, bisa memperpendek umurmu. Haha." Aran menutup gelak tawanya, saat mengutip kalimat pamungkas Sekretaris Han kalau jiwa sok mau tahunya muncul.
Keduanya sama-sama tertawa saat membayangkan wajah Sekretaris Han saat mengatakan kalimat andalan untuk menutup mulut orang lain.
Aran bangun dari duduk, merapatkan telinga ke pintu. Tidak terdengar suara apa pun. Dia akhirnya kembali ke tempat duduknya.
“Dokter kenapa Anda tidak mengejar Nona Amera saja, dia juga kan suka pada Sekretaris Han.” Sedang menyelam sambil minum air. Berharap saingannya bisa menghilang tanpa dia berusaha.
“Apa? Amera. Bagi kami Jen, Sofia dan Amera itu cuma bocah. Apalagi buat Han.” Menggelengkan kepala kuat.
“Tapi Nona Amera sangat cantik, dia juga pekerja keras dan berbakat.” Aran menimpali lagi, sebenarnya mau menabur umpan. Siapa tahu laki-laki dihadapannya menangkap.
“Memang benar, tapi tetap saja dia masih bocah. Kau tahu dia sudah nembak Han. Tapi, kenapa dia tidak pernah menyatakan cinta padaku ya. Huaaa, memang apa hebatnya Han daripada aku coba.” Menunjuk-nunjuk dadanya kesal.
Dokter Harun masih mengoceh ini dan itu tentang kelebihannya di bandingkan Han. Aran hanya tergelak menimpali. Karena baginya kelebihan Sekretaris Han itu tidak terhitung. Diamnya saja sudah bisa membuat orang tergila-gila padanya. Orang yang jatuh cinta memang begitu adanya.
Harun baru berhenti berceloteh saat pintu ruang pemeriksaan terbuka.
Epilog
Kejadian setelah Dokter Harun dan Aran keluar dari ruangan.
Di ruang konsultasi, Daniah menoleh malu-malu memastikan pintu tertutup rapat. Dokter wanita yang duduk di depannya sudah tegang. Khawatir apa pun pertanyaan nona di depannya tidak bisa dia jawab dengan memuaskan.
"Dokter." ragu-ragu Daniah bicara.
"Ia Nona, silahkan tanyakan yang ingin Anda tahu."
Masih terdiam, sampai dokter wanita itu meremas jemari di bawah meja geram. Karena dia jadi ikut tegang dan berspekulasi. Kalau saja dokter seniornya masih ada, dia bisa berbagi kecemasan.
"Dokter..."
Ia Nona, katakan, jangan membuat saya takut.
Dokter wanita itu tahu, dia sedang mempertaruhkan posisinya di rumah sakit ini.
"Berapa kali frekuensi hubungan suami istri yang aman saat seorang ibu sudah hamil besar seperti saya."
Dokter wanita itu melorot dari tempat duduknya. Apa-apaan pertanyaan itu pikirnya. Tapi yang membuatnya membetulkan posisi duduknya sambil senyum-senyum adalah saat melihat gurat malu dari rona wajah nona di hadapannya. Yang masih terlihat jelas walaupun ia tutupi dengan jemarinya. Apalagi saat ia malu-malu tersenyum sambil menurunkan tangan.
Ya Tuhan, kalau Anda menunjukan mimik wajah seperti itu pada Tuan Saga, aku yakin setiap malam.
Dia ingin tergelak dengan pikiran liarnya, kemudian mulai berdehem menjelaskan. Wajah Daniah semakin memerah karena malu.
bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Erni Fitriana
😀😀😀😀😀dokter harun..coba pindah ..bertransformasi ke dunia nyata banyak yg mau sama dokter🤭🤭🤭🤭
2025-01-24
1
Borahe 🍉🧡
kamunya pecicilan Han si Cool boy
2024-05-12
3
Sweet Girl
Kebanyakan bicara, jadi pendek umurnya.
2024-01-16
3