Karena Niah aku bahkan melakukan hal seperti ini.
Duduk sambil memperhatikan apa yang dilakukan Pak Mun. Membongkar bungkusan plastik. Menggantinya ke dalam mangkuk kaca. Memanaskan makanan. Tapi anehnya dia menikmati itu sebagai perwujudan cinta pada istrinya.
Sudah mendengar Han mengatakan kalau dia sudah mengecek satu persatu makanan yang tidak tahu dilihat dari sudut mana dibilang enak dan mengiurkan. Tuan muda makanan itu tentang selera, yang satu rasa bilang enak itu baru mi instan namanya. Ya, kamu nggak pernah tahu nikmatnya mi instan si.
Masih dengan serius mengikuti setiap gerakan tangan Pak Mun. Sampai dia merampungkan semua tindakan yang diperlukan. Dengan penuh kehati-hatian, Pak Mun melakukan setiap tugasnya tanpa cela.
Kuah berwarna merah diangkat Saga pakai sendok, ia tusuk-tusuk benda putih berbentuk persegi panjang dengan garpu, terasa kenyal. Dia sudah menaruhnya di depan mulut tapi dia letakan lagi. Tidak tercium aroma cabe. Diambilnya brosur makanan yang tadi diserahkan Han. Sekali lagi mencocokan nama-nama masakan.
Pak Mun mau mengangkat nampan.
“Apa Anda mau mencicipinya Tuan Muda?” karena melihat kecemasan di mata Tuannya. Belum rela kalau itu dibawa pada nona.
“Bawakan potongan buah. Berikan itu padaku.” Pak Mun menyerahkan nampan akhirnya. Saga membawanya meninggalkan dapur menaiki tangga menuju kamar. Sementara Pak Mun memanggil koki baru yang bertugas menyiapkan semua makanan nona untuk menyiapkan buah seperti yang diminta Tuan Saga.
Melihat Saga masuk ke dalam kamar membawa nampan, Daniah yang sedang duduk bersandar langsung bertepuk tangan girang. Sejak siang tadi dia sudah menunggu-nunggu.
“Duduk!” Tidak mengizinkan Daniah yang mau beranjak. “Kau menungguku.”
Tidak, aku menunggu makanan yang kamu bawa. Haha.
Tidak usah cari masalah, Daniah tersenyum cerah.
“Sayang, tentu saja, terimakasih ya.” Kepulan asap tipis yang melayang ke udara, menggoda lidah untuk mencicipinya. Adegan drama yang tadi dia tonton mulai berkelebat. Caranya makan, caranya berdecak, mengusap tisyu di mulut. Huaaa, benar-benar menggoda ibu hamil. Bayangan Daniah, dia mau mencicipi yang mana dulu ya.
Aku mau makan semua.
“Makanlah!” Mencium pipi kiri Daniah setelah meletakan nampan. “Aku mandi dulu.”
Pandangan Daniah langsung tertuju pada mangkuk pertama. Daniah meraih sendok. Tunjuk-tunjuk makanan mana yang mau dia makan dulu.
Sepertinya yang ini enak, yang itu juga.
Terngiang-ngiang lagi ketika artis wanita yang dia tonton dramanya tadi makan sambil meniup kepulan asap. Bahkan sampai bibirnya maju-maju. Lepp, sruput, huahh. Daniah bahkan sampai menelan ludah tadi saking tergiurnya.
“Semua ya, pokoknya semua.” Sambil mengirimkan foto-foto sebagai lampiran. “Jangan lupa yang ini dan yang itu.”
Saat Saga memprotes banyaknya menu yang dia pilih Daniah menjawab.
“Ada kamu sayang yang menghabiskannya.”
Aaaaaa, seharusnya aku tidak minta dibelikan sebanyak ini.
Entah kenapa semua ekspektasi yang ada di kepalanya langsung ambyar saat lidahnya mulai merasai. Dulu dia pernah makan ini. Tunjuknya pada gorengan sosis dan keju beralut tepung kentang. Rasanya enak, kok sekarang begini ya rasanya. Lidahnya mengecap rasa yang berbeda. Padahal sama persis dengan ingatannya kalau dia pernah memakannya dulu. Sebelum hamil.
Dokter, kenapa ya ada makanan yang dulu saya suka sekali, bahkan kalau tiap hari makan saya tidak masalah. Tapi, semenjak hamil rasanya setiap makanan itu jadi berbeda rasanya seperti dalam ingatan saya.
Keluhan yang sebenarnya sering dijumpai saat masa kehamilan seorang wanita.Tidak ada yang aneh. Citarasa makanan berubah dulu sebelum hamil dan sekarang mengalami perubahan.
Ada yang keluar dari ruang ganti baju sambil berdecak. Aroma segar langsung menyeruak dari tubuhnya. Apalagi dengan rambut yang sedikit basah dia goyangkan dengan tangan. Sepertinya sengaja tidak mengancingkan tiga kancing bajunya.
Dia mirip sekali dengan aktor yang aku tonton tadi. Ups.
Menutup mulut rapat sebagai rahasia yang akan ia bawa sampai mati. Atau dia tidak akan boleh nonton drama lagi.
Tuan Saga jadi terlihat seksi.
“Kau menikmatinya.” Menarik pelan baju tidak terkancing. Kepala Daniah refleks mengangguk sementara matanya masih tertuju di tempat yang sama. “Bukan tubuhku tapi makanannya.”
Daniah langsung melengos. Meraba tengkuknya malu.
Dasar! Mentang-mentang makin ganteng kalau habis mandi. Aaaa, aku sudah berapa kali si kena terus. Ketahuan memelototinya kalau dia habis mandi.
“Kau bahkan tidak memakan lebih dari separuh.” Melihat makanan di atas meja. Tidak terlihat berkurang dari saat dia tinggalkan tadi.
Daniah menutup mulutnya malu, mendorong nampan menjauhinya.
“Sayang, aku sudah kenyang.”
Telunjuk Saga menyentuh dagu Daniah.
“Bibirmu saja masih kering.” Mengusapnya dengan ibu jari. “ Kau bahkan belum mencobanya kan?” Masih diusapkan jarinya. Berulang kali di bibir.
“Sudah sedikit.” Ia sudah sedikit, sumpah, Daniah memang sudah mencicipinya sedikit-sedikit semuanya. Tapi karena rasanya berbeda dengan seperti yang dia khayalkan. Otaknya memerintahkan perut untuk merasa kenyang. Menahan tangan untuk menyentuh sendok.
“Buka mulutmu. ” Tangan Saga sudah meraih belakang kepala Daniah. Membuat gadis itu mendongak. “Aku akan tahu kau makan atau tidak.”
“Hemm, hem.”
Apa-apaan ini, kenapa malah aku yang merasa dikerjain.
Daniah memukul bahu kuat-kuat agar Saga melepaskannya. Nafasnya sudah naik turun. Tendangan di perutnya menguat. Seirama dengan debaran jantungnya. Saga menghentikan gerakan lidah dan bibirnya. Melepaskan tangan lalu tertawa senang seperti biasa.
“Kenapa minta dibelikan semua itu.” Masih mengusap-usap bibir, ingin menciumnya lagi. Daniah buru-buru memindahkan tangan ke perutnya. Berkedut-kedut. “Kenapa?” menempelkan telinga di perut Daniah. “ Mau ayahmu ini mencium ibumu lagi?”
Kenapa sepertinya dia sudah mulai pintar membalikan keadaan ya.
Daniah sedang berfikir kalau dia sedang dibodohi.
“Sayang, sayang.” Menahan bibir yang sudah mau mendekat. “Tadi aku nonton drama. Mereka makan ini, ini dan ini.” Menunjuk satu persatu makanan di nampan. "Kayaknya enak banget .”
Kayaknya dalam bayanganku.
“Sekarang kamu coba juga ya?”
Tidak mau menunggu jawaban Saga, langsung menyodorkan ke depan mulut. Dia tempel-tempelkan ke bibir yang masih rapat merekat. Daniah menggoyangkan kepala cemberut karena Saga tidak mau membuka mulutnya.
“Cih.”
Terbuka juga mulut Saga, walaupun wajahnya masam. Daniah langsung menyuapinya dengan yang ini, yang itu, satunya lagi tanpa berhenti. Mata Saga sudah melotot, dia mengunyah dengan suara keras. Menunjukan kalau dia sama sekali tidak menikmati.
“Ena kan sayang?” menyuapi lagi sebelum mengudara protes. Dijawab dengan mengunyah lebih keras dan mata semakin membesar tidak suka.
Sumpah! Kalau tidak sedang hamil habislah aku mengerjainya begini. Lihat matanya yang sudah mau melumatku itu.
“Sudah cukup!” berteriak ketika apa yang ada di mulutnya berhasil dia telan dengan susah payah. Jangan tanya cita rasa makanan di lidahnya. Kalau tidak mau membuatnya murka.
“Maaf.” Dengan wajah tertunduk lalu menjatuhkan sendoknya. Daniah menunjukan wajah sedih. “Kan tidak boleh membuang makanan sayang. Demi bayi kita juga supaya pandai bersyukur nantinya.”
“Pintar sekali kamu bicara.”
Dia tahu aku sedang mengarang ya?
Suara Pak Mun terdengar kemudian ketukan pintu menyusul. Lalu terbuka. Pak Mun membawa buah segar dalam piring.
“Kau tadi nonton drama dengan siapa?” Meraih rambut Daniah.
“Aran.”
Pak Mun meletakan piring buah di meja.
“Panggil dia Pak.”
Eh, kenapa dengan Aran?
Pak Mun menganggukkan kepala lalu meninggalkan ruangan. Daniah mulai terserang panik. Apa Tuan Saga mau membalasnya melalui Aran. Hei, memang dia salah apa.
“Sayang, kenapa memanggil Aran. Dia tidak salah apa-apa.” Mulai berfikir kalau dia sudah menjejali mulut Saga tadi dengan keterlaluan. Tapi lucu si, melihat wajah suaminya yang kesal tapi tidak bisa marah sehingga dia lupa diri.
“Memang dia melakukan apa tadi?” Malah bertanya.
“Eh, maksudnya? Pokoknya dia cuma menemaniku menonton saja. Dia tidak salah apa-apa. Maaf aku sudah sembarangan memaksamu makan. Tapi itu karena aku nggak mau buang-buang makanan, sumpah itu saja.” Mulai mengarang alasan. Saga masih tidak bergeming. “Ia, ia aku mengaku, aku senang melihat wajahmu yang marah tapi mengemaskan itu.” Menggigit jari sambil melihat ke sudut kamar.
Eh, dia tidak bereaksi. Dia benar-benar marah ya.
Pak Mun sudah kembali dengan Aran yang terlihat cemas berdiri di belakangnya. Daniah yang belum selesai menjelaskan mulai dilanda kepanikan lagi. Kalau hanya berhubungan dengan dirinya, dia akan mudah lepas kalaupun dia melakukan kesalahan. Tapi kalau sudah melibatkan Aran, Daniah takut semua akan berujung kesalahpahaman yang merugikan Aran.
“Sayang.”
“Tadi, kau bilang yang penting makanan ini habis, kau senang kan.”
“Ia, ia. Aku akan senang kalau ini habis. Kan tidak boleh buang-buang makanan.” Tidak merubah jawaban supaya tidak menimbulkan masalah baru.
“Kau!” melihat ke arah Aran yang berdiri di samping Pak Mun. “Kau menonton drama tadi bersama Niah?”
“Ia Tuan.”
Kenapa aku ada di sini. Sedang menjerit, karena di perintahkan mengikuti Pak Mun tanpa penjelasan. Kakinya lemas tadi karena langkahnya menuju kamar Tuan Saga.
Apa aku salah karena menemani nona menonton.
Saga mendorong nampan. “Niah, kau mau ini habis kan, tapi tidak harus aku yang menghabiskannya kan?”
Daniah menganggukkan kepala.pasrah karena takut Aran menanggung akibatnya.
“Kau bisa melakukannya?”
Apa! Apa yang bisa aku lakukan!
Aran belum menjawab. Daniah pun belum berhasil menerjemahkan keinginan Saga.
“Kalau begitu duduklah.” Bicara dengan nada sedikit ramah. Membuat kedua gadis itu tampak menghela nafas lega. Saga menunjuk sofa. Ragu-ragu Aran berjalan dan duduk, bernafas pelan takut menimbulkan suara. Sedang perang batin jiwa gadis itu. Mendaftar kesalahan apa yang sebenarnya sudah dia lakukan. “Makanlah, seperti dalam drama yang ditonton Niah.”
Daniah ataupun Aran sedang mencerna perintah.
“Makanlah sampai istriku ingin merebut makananmu.”
Aran melihat Daniah yang terlihat sama bingungnya. Makan seperti dalam drama. Ingatan langsung berloncatan menuju siang tadi. Saat dia dan nona menonton drama sambil berteriak ingin makan seperti yang ada dalam drama. Sepertinya semua makanan yang ada di drama tadi ada di depannya sekarang.
Apa maksudnya aku di suruh makan seperti di drama sampai membuat nona ingin merebut makananku, karena tergoda dengan cara makanku. Seperti kami yang meneteskan liur tadi. Buat perintah yang jelas kenapa si Tuan Saga. Membuat orang bingung.
Sudah tahu harus melakukan apa. Aran mengambil suapan pertamanya. Sambil melihat Daniah. Makan lagi, lagi. Glek. Seruput. Tusuk lagi, kunyah lagi. Huahhhh, keluar ekspresi seperti yang ia tonton tadi. Makan lagi. Saat matanya bersitatap dengan Saga dia jadi susah menelan dan tidak fokus. Akhirnya dia mencari pelarian pandangan mata. Mengunyah lagi sambil membayangkan adegan dalam drama.
“Hup, enak.” Memasukan sepotong kiwi ke mulut Daniah yang sedang takjub karena pandainya Aran berakting memperagakan adegan tadi siang. Dia jadi benar-benar ingin merebut mangkuk Aran.
Eh, aku makan apa barusan.
Tersadar setelah beberapa kali suap. Saga menyuapinya lagi dan lagi. Enak. Sambil melihat Aran makan.dengan nikmat menjadi stimulus kelenjar diperutnya untuk merasakan kenikmatan juga. Buah berikutnya yang disuapkan Saga terasa semakin nikmat.
“Terakhir, ambil sendiri,” ujar Saga pelan sambil menarik rambut Daniah agar melihat ke arahnya.
Daniah menoleh, stroberi ada di mulut Saga.
Apa-apaan dia.
Mulut Saga maju menyodorkan stroberi yang dia gigit. Daniah sampai kaget saat melihat piring, benar buahnya habis. Tidak terasa dia bisa makan sebanyak itu. Malu-malu dia mendekatkan mulut. Hup! Bibirnya yang dilumat sementara stroberi masuk ke dalam mulut Saga.
“Enak kan, apa pun makanannya asalkan kau makan denganku semuanya pasti enak. Jadi.” Meraih tangan Daniah. “Bisakah hanya makan yang disarankan ahli gizi dan dimasak koki yang aku pilih khusus untukmu.” Sebenarnya alasan khususnya karena Saga tidak mau dijejali atau menghabiskan makanan yang diminta Daniah.
Apa ini, kenapa jadi aku yang terpojok begini.
“Jawab.”
“Tapi aku kan cuma pengen tadi.”
“Tapi kau tidak memakannya kan?”
“Tapi aku kan ingin melihatmu memakannya.”
“Jadi ini cuma mau mengerjaiku?”
Huaaa, apa ini akhir batas toleransinya.
"Niah, selama ini kau tidak ngidam hanya untuk membantahku ya?"
Wuaahaha, mana aku berani melakukan itu Tuan Saga. Naluri mengerjaimu itu muncul sendiri.
Mulai menunjukan mimik wajah polos dan imutnya. Mendekatkan tubuh. Menggeser tubuh lagi sampai kaki mereka menempel. Menautkan tangan. Cium-cium sana sini. Tersenyum. Bahkan mengecup bibir berkali-kali diselingi tawa menggoda.
"Tubuhmu benar-benar sedang mengaku dosa ya?"
Saga memberi isyarat pada Pak Mun dan Aran meninggalkan kamar. Pak Mun wajahnya datar tanpa ekspresi melihat ke Arah yang lain langsung mengangguk. Tapi Aran, benar-benar seperti sedang melihat visual karakter novelnya ada di depan mata. Masih sempat berbalik saat.ada di depan pintu. Tidak rela untuk pergi.
Setelah mereka keluar, Saga tersenyum licik sambil melepas lagi satu kancing bajunya.
"Karena kau tidak berselera dengan makanan-makanan itu, mau menikmati yang ini." Mengusap dadanya sambil tertawa. "Niah, sepertinya sekarang aku tahu bagaimana memuaskan ngidammu kalau berhubungan dengan makanan."
"Apa?" Mulai takut dengan senyum senang suaminya. Benarkan, dia melihat Saga melepas semua kancing bajunya.
"Kalau aku tidak bisa memenuhi keinginan ngidammu, aku akan merelakan tubuhku untuk menebusnya." Srett, menarik sampai semua lengan dan bahunya tersibak. "Hukum aku, nikmati tubuhku sepuasmu."
Apa-apaan dia!
"Hiks, aku bahkan merelakan tubuhku, tapi kau tidak berterimakasih." Menyentuh perut Daniah.
Kenapa jadi aku yang aneh si, lagian siapa yang mau menikmati tubuhmu.
"Terimakasih sayang, aku sudah kenyang sayang. Sekarang pakai bajumu lagi ya." Menarik baju Saga agar menutupi area yang sedari tadi dilihatnya.
"Padahal aku mendengarmu menelan ludah beberapa kali lho." Membuat Daniah tidak bisa berkutik.
Tuan Muda, kenapa malah aku yang jadinya dikerjai.
Untuk urusan ngidam makanan sepertinya selama mandi tadi Saga mendapat pencerahan.( Ngidamnya ibu hamil bukan hanya tentang makanan tuan muda. Wkwkw)
Bersambung.........
epilog :
Aran berjalan kembali ke kamarnya sambil berfikir serius "Jadi, aku dipanggil cuma buat makan?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Ahmad Fauzi
nikah, kalo aku jadi istri tuan saga,,akan aku makan habis si tuan saga 😂😂
2024-06-21
5
Maryani Yani
kebayang caraa maakan aran smpaai daniah ngiler
2024-04-17
1
Sweet Girl
Enakan... Ndak usah keluar duit mahal mahal, sudah bisa menikmati makanan yg ada di Drakor.
2024-01-16
8