Bersamaan dengan obrolan para karyawan restoran di dalam dapur sekarang. Tempat para koki mendedikasikan hidup mereka. Di sebuah restoran, tempat ini adalah bagian paling berharga.
Sekretaris Han yang namanya tidak disebutkan tidak terlalu perduli sebenarnya, kalau dia yang dibicarakan. Selama tidak membawa nama Tuan Saga.
Suasana dapur yang tenang tanpa suara menyambut mereka. Padahal siang sampai jam makan malam tempat ini sudah seperti tempat perang. Ada teriakan tentang masakan, makian juga ada terkadang, percikan api yang membakar minyak, asisten dapur yang ke sana kemari membantu para koki. Aroma daging yang terbakar. Namun sekarang, tidak ada setetes pun minyak yang membekas. Seperti kebaikan Sekretaris Han yang tidak meninggalkan jejak.
“Mau makan buah apa?”
Han menarik kursi lalu duduk. Tangannya bertopang di meja. Dia tidak mengiyakan, menolak atau menyebutkan buah yang dia inginkan. Membuat Brian berinisiatif sendiri. Mengambil kiwi, nanas dan stroberi di tempat penyimpanan buah. Memotongnya cepat lalu menghidangkan di depan Sekretaris Han.
“Mau makan apa?” tanyanya tentang menu utama. “Kau bilang tuan muda kembali lebih awal, kau pasti belum makan malam kan?’
“Buatkan saja sesuatu yang pedas.” Makan buah satu persatu dengan garpu. Asam manis buah menyegarkan mulut dan tenggorokannya. Memunculkan rasa lapar. Han mengeluarkan hpnya dari saku jas. Sambil menghabiskan buah di piring dia sedang menyelesaikan jadwal harian Nona Daniah.
“Sudah lama aku tidak membuat mi pedas.” Mengatakan pada dirinya sendiri. Brian meninggalkan Han yang sedang menghabiskan buah. Dia mulai dengan mengambil semua bahan yang dibutuhkan dari ruang pendingin. Gerakannya tangannya teratur. Mencuci, memotong, mengiris. Bahkan sampai percikan api menyambar minyak. Sementara Han mengikuti dengan pandangan matanya sesekali, dengan alasan yang cuma dia yang tahu. Dia menikmati setiap hal yang dilakukan laki-laki di hadapannya ini.
Memasak masih menjadi hal misterius baginya.
Nyala api berpijar saat cipratan minyak mengenai api lagi. Sudah tercium aroma menyeruak, segar dan juga pedas menggoda selera. Han sudah menghabiskan potongan terakhir buah di piringnya ketika Brian mulai memindahkan mi ke dalam mangkuk. Tiga buah udang goreng ia letakan di atas mangkuk sebagai pelengkap.
“Makanlah.”
“Terimakasih.”
Setelah membersihkan sisa memasaknya, Brian menarik kursi, duduk di samping Han. Memperhatikan Han yang menikmati dan makan dengan lahap. Malam sudah hampir menuju peraduan, kalau tidak makan malam bersama Tuan Saga, laki-laki di depannya ini memang sering melalaikan waktu makan.
“Kau sudah bekerja keras Han. Makanlah yang banyak.” Menepuk pelan punggung. “Kemarin, hari ini dan besok. Kami percaya kau sudah bekerja keras dan melakukan yang terbaik untuk tuan muda.” Usia Brian lebih tua dari Han. Namun dia selalu menghormati laki-laki yang masih diam mendengarnya bicara sambil makan itu. Dia, ayahnya dan orang-orang yang berdiri di belakang tuan muda menghormatinya. Bukan hanya karena tuan besar yang memilihnya, bukan karena paman ayahnya. Tapi karena dia memang pantas untuk dihormati.
Sekretaris Han bekerja keras untuk mendapat pengakuan dari semua orang.
Brian tertawa kecil, Han masih fokus makan tidak perduli seperti biasanya. Tapi dia mendengarkan, walaupun tidak menimpali. Brian pun sudah terbiasa, dia meneruskan bicara tanpa diminta.
“Kita ini lucu ya terkadang, saat masih anak-anak kita iri melihat orangtua kita yang jauh lebih perhatian dan sayang pada tuan muda. Tapi di satu sisi kita juga berebut perhatian tuan muda, dan melakukan apa pun yang dia inginkan.”
Mereka melewati masa kanak-kanak bersama, dengan jarak perbedaan usia. Kematangan diri dan kedewasaan.
Han menyelesaikan suapan terakhirnya. Kebiasaan Brian saat dia makan, bicara semaunya walaupun tidak diladeni.
“Apa kau juga begitu saat istrimu hamil?” Tidak meladeni yang dikatakan Brian, menanyakan topik baru. Meneguk air dalam tiga tegukan. Perutnya sudah hangat dan lebih nyaman sekarang. Brian adalah ayah dari dua orang anak. Jarak usia kedua anaknya hanya terpaut satu tahun.
“Tentang ngidamnya nona ya?” Berfikir sejenak. “Setiap ibu hamil berbeda. Saat hamil anak pertama sama kedua juga istri berbeda sikapnya. Yang pertama dulu parah banget. Setiap jam 12 malam selalu minta dipotongin buah, macam-macam buah. Setelah selesai dipotong dan aku kembali ke kamar, tahu-tahu istriku tidur tanpa dosa.” Kisah ini bisa ia ceritakan dengan tertawa sekarang. Tapi jujur, pada saat itu dia jengkel juga. “Dia melakukannya tidak sekali dua kali, tapi anehnya walaupun aku tahu kalau dia tidur setelah aku masuk kamar, aku tetap memotong buah seperti yang dia minta.”
“Hah!” Mendesah tidak percaya. Bukannya itu bodoh namanya, sudah dikerjai berkali-kali masih dilakukan juga.
“Itulah kekuatan cinta. Haha.” Menepuk bahu Han keras. “ Seperti kau yang bisa melakukan apa saja untuk tuan muda.”
Benarkah, ketika orang lain melihatnya bisa melakukan apa pun untuk Tuan Saga, bahkan terbilang diluar batas normal. Namun, baginya itulah janjinya, itu kewajibannya, dia senang dan bangga melakukannya.
“Mungkin memang benar, momen kehamilan adalah cara alamiah istri untuk minta bermanja kepada suami. Nanti kau juga merasakannya. Eh, bagaimana gadis itu, pemilik cincin yang kau bawa-bawa itu.”
Calon pemilik cincin yang pernah di bawa Sekretaris Han makan malam, yang hampir dibicarakan Dokter Harun selama seminggu. Brian tidak mendengar kabarnya lagi. Apakah hubungan mereka berlanjut, atau berhenti di tengah jalan.
“Aku sudah menyimpan cincin itu, setelah nona melahirkan aku akan memikirkannya lagi.”
Baru beberapa hari yang lalu Sekretaris Han memutuskannya, menaruh masa depannya lagi. Mengurung keinginan pribadinya. Sebelum calon pewaris Antarna Group lahir ke dunia.
“Sayang sekali ya, padahal tuan muda juga menantikannya.” Dia tahu kalau Han tidak suka digurui jika berurusan dengan pengabdiannya pada Antarna Group dan Tuan Saga. Oleh siapapun, bahkan Brian pun tidak akan berani melewati batas itu. “Dulu saat aku minta izin untuk menikah pada tuan muda, dia mengatakan padaku. Suatu hari nanti, aku pun harus siap untuk melepaskan Han. Saat itu aku tidak punya jawaban apa pun, jadi aku hanya diam.” Melihat Han yang meraih minumannya. “Tapi, aku tahu, sama halnya kau yang menyayangi tuan muda, begitu pula dia yang ingin melihatmu bahagia.”
“Aku akan memikirkannya lagi setelah anak nona lahir.” Sama sekali tidak merubah pendirian. Bukan Han namanya kalau semudah itu goyah.
“Bersikap baiklah pada gadis itu. Kalau kau memang menyukainya.” Tercipta suasana serius di antara mereka. Seperti kakak berpengalaman yang sedang memberikan nasehat tentang cinta. “Karena terkadang, wanita yang sudah berpaling akan susah menengok lagi.”
Sekretaris Han menatap gelas kosong di hadapannya. Telunjuknya memutar di bibir gelas. Dia berharap perasaan cinta di antara mereka seperti lingkaran ini. Tidak akan terputus selama apa pun mereka menunggu.
“Nona memang keren ya.” Mengganti suasana suram yang tiba-tiba tercipta.
“Kenapa? Karena berhasil membuat tuan muda.kelimpungan. Kau tahu Kak, akulah yang paling dibuat susah dengan ngidamnya nona.”
Brian tergelak lebar. Ya, tentu saja dia tahu.
Brian sedang membongkar kenangannya saat pertama kali bertemu dengan Nona Daniah. Hari itu saat pertama kalinya dia mendengar informasi kalau Tuan Saga akan bertemu dengan calon istrinya. Hari itu setelah sekian lama, semenjak kepergian wanita itu yang tanpa kabar. Tuan Saga akan membuka hatinya pada wanita lain. Brian menyiapkan semua menu masakan spesial yang di sukai tuan muda. Walaupun ayahnya mengatakan ini adalah pernikahan yang mendadak. Karena dia sendiri tidak mengenal berasal dari keluarga mana calon istri tuan muda.
“Kau masih ingat pertemuan pertama tuan muda dan nona?” Han mengiyakan. Hari penandatanganan kontrak pernikahan. Dia masih mengingat jelas semua kejadian hari itu. “Setelah kau dan tuan muda pergi, aku mau membereskan meja,” Lagi-lagi berniat bicara panjang lebar. “Namun saat aku membuka pintu sedikit aku mendengar nona menangis sambil tersungkur duduk di lantai.”
Tangis sesenggukan dan ketidakberdayaan. Bayangan pernikahan yang membahagiakan langsung menguap di kepala Brian. Dia tidak tahu rencana apa yang sedang dibuat Tuan Saga, namun dia menerka, kalau gadis yang sedang menangis sendirian itu bukan dipilih Tuan Saga karena dicintai olehnya. Ya gadis itu jauh sekali dari Helena. Saat itu pun dia mengakui itu. Namun ada hal yang menarik, ketika Nona Daniah menangis sekalipun dia tidak mendengar gadis itu memaki siapa pun.
“Selama 10 menit aku berdiri di depan pintu. Membiarkannya menangis.”
“Apa yang terjadi selanjutnya?”
Han tidak pernah memikirkannya, toh dia memang tidak perduli pada nona saat itu. Wanita yang tangannya gemetar namun bisa bicara dengan tersenyum dan percaya diri. Saat itu pun dia tidak terlalu menyukai nona, karena memprediksi calon istri Tuan Saga itu akan menyusahkannya.
“Saat aku mengetuk pintu minta izin untuk masuk, tangisnya langsung berhenti. Dia membelakangiku menghapus semua jejak kesedihan di wajahnya.” Dia gadis yang tegar Batin Brian. “Lalu nona menanyakan, apakah dia bisa membungkus semua makanan, karena Tuan Saga memintanya untuk membawanya pulang.”
Hari itu Brian memasak ulang semua makanan yang dibawa Daniah pulang, sambil mendoakan demi kebahagiaan mereka berdua. Brian melihat dari cara bicaranya gadis itu terlihat baik, mungkin seiring berjalannya waktu semua bisa berubah nanti.
“Melihat sekarang bagaimana hubungan tuan muda dan nona sepertinya aku harus banyak bersyukur karena salah satu doaku dikabulkan Tuhan.”
Saat itu tidak ada yang menduga, kalau Saga akan jatuh cinta pada istrinya. Melupakan Helena, gadis yang sudah bersamanya dua tahun lamanya.
“Karena itulah aku bilang nona itu keren. Apalagi sampai membuat tuan muda kelimpungan selama hamil ini. Semoga anak yang dilahirkannya sehat selalu nanti.”
Benar sekali, bagi Han sendiri perjuangan Nona Daniah untuk bertahan pantas untuk mendapatkan pujian. Dari gadis yang tidak dicintai, menjadi istri yang paling berharga bagi Tuan Saga.
“Ah ya, koki untuk nona di ganti ya? Seharian dia menangis di kantorku kemarin memintaku memohon pada ayah supaya masih bisa bekerja di rumah utama. Hah! Aku saja tidak dia beri kesempatan bekerja di rumah utama.” Bangun dari duduk, saat melihat jam di tangan waktu ternyata cepat sekali berputar. Membereskan mangkuk dan gelas.
Brian membersihkan sisa air ditangannya, menyapu dapurnya dengan pandangan bangga.
Restoran ini adalah hadiah dari Tuan Saga atas kelulusannya setelah diakui talenta memasaknya di sebuah sekolah terkemuka di luar negri. Tadinya dia kembali dengan penuh kebanggaan untuk bekerja di rumah utama. Tapi ayahnya memicingkan mata sambil berkata, kau belum pantas memasak untuk tuan muda. Tapi dia sekarang punya tempat ini, sesekali memasak makan siang dan makan malam untuk Tuan Saga. Sebatas itulah impian dan kebanggaannya.
Tuan Saga yang dicintai oleh semua orang termasuk dirinya.
“Bawa anak-anakmu pergi, Pak Mun pasti merindukan mereka. Untuk saat-saat ini, aku yakin dia belum bisa keluar dari rumah utama.” Han bangun sekali lagi tidak menggubris yang dibicarakan Brian. Tanggung jawab mengurus orang-orang di rumah utama adalah pekerjaan Pak Mun. Kecuali ada beberapa kasus yang harus membuat Han campur tangan.
Malam semakin larut, dia pun ingin pulang ke umah. Minum segelas susu hangat, mandi lalu terlelap.
Brian masih berceloteh tentang perkembangan anak-anaknya sambil mereka keluar dari dapur. Diceritakan dengan cara yang berbeda. Membicarakan anak selalu ada aura bahagia di dalamnya.
“Kalian belum pada pulang?” melihat karyawannya yang masih duduk melingkar sambil tergelak karena obrolan mereka. “Kamu bawa kacang?” Melihat kulit kacang yang berserak.
Semua orang berdiri. Ada yang melemparkan kacang yang masih dia pegang. Mengunyah cepat sisa gigitan. Seseorang pelayan mendekat. Menyerahkan kunci mobil. Dia masih berdiri di tempatnya, ragu-ragu, ingin mengatakan sesuatu.
“Apa?” Han
“Terimakasih kacang rebusnya Tuan, kami semua menikmatinya. Semoga Tuhan selalu melindungi Anda.” Menundukkan kepala, mengumpulkan keberanian untuk berterimakasih.
“Apa si kalian ini, jadi kalian menunggu Han untuk mengatakan itu.” Menepuk punggung karyawannya. "Dia juga tahu kok kalian berterimakasih. Ia kan?" beralih pandangan pada Han. Berharap laki-laki itu mengatakan sepatah kata saja.
“Pulang dan istirahatlah, kalian sudah bekerja keras.”
Bukan hanya pelayan laki-laki di depannya yang langsung berdegub hatinya, semua karyawan restoran yang sedang berdiri di kejauhan langsung menggenggam tangan di dada. Terharu.
“Terimakasih Tuan.” Ucap mereka semua bersamaan.
“Apa-apaan si kalian, kalau Han yang bilang kalian semua langsung berdebar-debar ya." Membaca keharuan dan kebanggaan di mata karyawannya. "Aku memuji kalian setiap hari reaksi kalian biasa saja.”
Ribut menanggapi bos mereka.
“Aku pulang Kak.” Tidak menggubris keluhan Brian.
“Baiklah, istirahatlah. Sampai jumpa besok.”
“Hemm.”
Langkah kaki Han berjalan diiringi tatapan semua orang.
Dia baik sebenarnya.
Aku dipuji dia, membuat hatiku berdebar-debar.
Apa ini saatnya aku melupakan kalo pernah di lempar tisyu.
Aku akan bekerja keras lagi.
Dia memang keren.
Beraneka rupa apa yang dipikirkan karyawan restoran.
Semoga kau segera menjemput kebahagiaanmu sendiri. Brian
Sedikit orang yang mengenal Han dengan cara yang berbeda dari orang pada umumnya. Walaupun terbesit takut dengan sikap dingin Sekretaris Han, namun di satu sisi mereka bahagia mengetahui rahasia kebaikan hatinya.
Bersambung
Note :
Alhamdulillah update 3 episode, walaupun cuma 3 tapi aku buat setiap part panjang ya, semoga mengobati kerinduan kalian.
Masih mengurai satu persatu karakter, silahkan nikmati setiap alurnya.
Terimakasih banyak untuk cinta dan dukungan kalian semua ^_^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Wani Ihwani
tor, pertama aku baca TmTm cerita Han di satu kan sama saga pas baca kedu x nya cerita Han di pisah aku sempat kecewa, rupa nya Han ada di sini🙏🙏
2024-07-14
1
Ahmad Fauzi
baru ngeh...hhh
2024-06-21
2
Ragil Saputri
ternyata oh ternyata...Brian anaknya PK Mun to
2024-06-06
3