Perjalanan kedua Daniah dan Aran adalah mengunjungi rumah Aran.
Rumah yang ia dapatkan dari pinjaman bank, yang sudah ia cicil bertahun-tahun. Karena ingin melunasi piutang rumah itulah takdir buruknya dengan Sekretaris Han dimulai. Kalau diingat-ingat sekarang Aran menganggapnya rumah keberuntungan.
Ibu sudah menunggu di depan rumah dengan aura berkobar-kobar. Entah apa yang dia pikirkan. Aran memang memberi pemberitahuan melalui pesan kalau dia akan pulang, tapi tidak mengatakan dengan siapa.
Ada angin yang menerbangkan ujung baju longgar yang dia pakai.
Agak jauh dari tempatnya berdiri ada sebuah sapu panjang. Bersandar di tembok. Sepertinya sengaja ia letakan di sana
Ibu pikir aku akan datang dengan calon menantunya apa.
Wajah ibu Aran yang kaku berubah melunak saat tahu yang datang bersama anaknya siapa. Tadinya wanita itu menduga, kalau yang akan datang bersama anaknya adalah laki-laki itu. Cih, laki-laki yang tidak ingin ia sebut namanya karena sampai hari ini sebagai orangtua dia masih merasa kesal. Gara-gara dia, impian hidup anaknya berantakan. Mereka pun harus terpisah cukup lama tanpa kabar. Ibu Aran menanti hari di mana dia bertemu secara langsung dengan Sekretaris Han.
Dia akan memaki-maki dulu. Baru menyuruhnya duduk. Sebuah skenario sudah dia rancang, tapi dasar anaknya. Yang ditunggu-tunggu tidak muncul juga batang hidungnya membawa laki-laki yang katanya disukainya itu.
“Ibu, aku kangen ibu.” Aran menghambur memeluk ibunya. Menguyel-nguyel kepala di dada ibunya, sambil cium pipi kanan dan kiri ibunya. “Aku kangen.” Ibu Aran pun melakukan hal yang sama, cium pipi anaknya dan menepuk punggung anaknya berkali-kali.
Plak!
“Ibu!” Mulai deh.
“Bocah nakal, aktifkan hpmu kenapa!” Menjewer telinga anaknya. “Kami khawatir padamu tahu, ayahmu, adik-adikmu.”
“Ia maaf, maaf. Habis ibu kadang kirim pesan tidak tahu waktu. Aww, aww. Ia ampun yang mulia, hamba akan membalas pesan Anda.”
Daniah tertawa sambil mendekat, menjabat tangan ibu Aran. Mengusap tangan wanita paruh baya yang tetap terlihat cantik itu. Istri yang bahagia dan merasa dicintai, selalu akan bertambah cantik setiap harinya. Melihat kedekatan ibu dan Aran, hubungan ibu dan anak yang selalu akan menjadi bagian dari kerinduannya.
Ibu terbelalak saat matanya tertuju pada perut buncit Daniah. Pakaian warna coklat muda itu menunjukan perut besar Daniah.
“Ya Tuhan Nona, Anda sedang hamil ya?” Langsung melupakan anaknya, berjalan sambil menggandeng tangan Daniah, menyentuh perut Daniah, membelainya pelan.
Ibu, ibu katanya kangen padaku. Yang dipeluk-peluk malah Nona.
Aran berjalan di belakang keduanya, melirik sapu yang bersandar. Saat ibu dan nona sudah masuk di ambilnya sapu, dilemparkan ke halaman tempat bunga-bunga Ayah tumbuh tinggi.
Memang dia mau memukul siapa? Pacarku? Enak saja? Eh jangan-jangan ibu menyiapkannya untukku tadi.
Bergidik ngeri. Lalu masuk ke dalam rumah.
Duduk, duduk, Daniah langsung mendapatkan perlakuan istimewa bak ibu hamil pada umumnya. Ditepuk-tepuk kursi untuk duduk.
Ibu hamil memang enak, selalu mendapat perlakuan spesial di mana pun berada.
“Saya buatkan minum sebentar ya.” Ibu mau bangun dari duduk. Tapi Aran mencegahnya.
“Biar aku yang ambilkan, ibu temani Nona Daniah saja.” Karena tujuannya hari ini pulang memang untuk mengantar nona.
Aran sudah berjalan cepat menuju dapur. Jangan sampai ibunya memberi makanan atau minuman aneh-aneh untuk nona. Pertanggungjawaban yang harus ia lakukan akan berat nanti. Dia kan harus melaporkan makanan dan minuman apa yang dikonsumsi nona sepanjang hari ini.
Tring sebuah pesan nada khusus untuk Han. Aran meletakan gelasnya.
“Dimana?”
Cieee, ciee kangen ya, nanya-nanya.
Ingin sebenarnya mengirim pesan itu. Walaupun sebenarnya yang ingin diketahui Han pastilah keberadaan nona dan bukan dirinya.
“Sedang di rumah mertua Anda Tuan, apa mau saya sampaikan salam untuk ibu saya. Nona sedang mengobrol bahagia dengan ibu saya.?” stiker hati berderet.
Hah! Dia tidak membalas. Setelah terlihat tanda pesan terbaca.
Bukan Aran kalau dia menyerah. Beberapa pesan kembali dia kirimkan, tapi tetap saja tidak ada balasan dari Sekretaris Han.
Huaaa, untung sayang aku sama kamu tuan sekretaris.
Aran muncul dari dapur, dengan segelas air putih. Sudah melihat ibu dan nonanya mengobrol akrab. Memang ya, kalau sama-sama sudah mengalami akan beda ceritanya. Ibu terlihat luwes ketika bercerita tentang kehamilan. Nona Daniah pun memancarkan aura yang cuma dimiliki ibu hamil. Tidak tahu sudah sampai mana cerita ibunya.
“Anak-anak saya beda-beda semua Nona. Ini yang satu ini yang paling menyusahkan.”
“Aku.” Aran menunjuk dirinya, lalu duduk di lantai bersandar pada kaki ibunya. “Ibu bilang aku anak pertama, jadi wajar nyusahin. Haha. Kata ibu anak pertama lagi membuka jalan jadi nyusahin dikit nggak papa Nona.”
Ibu mengusap-usap kepala anak perempuannya.
“Kalau sudah sebesar ini sering-sering diajakin ngobrol.” Menyentuh perut Daniah. “Nanti bantu ibumu melahirkan ya nak,cari jalan keluarmu sendiri.”
Ah, benar, Daniah pun mendapat anjuran yang sama dari dokter. Membentuk ikatan batin antara ibu dan anak sejak dalam kandungan.
“Memang dia tahu Bu?” Aran menimpali.
“Bayi dalam perut itu lebih cerdas daripada kamu tahu.”
“Dih, memang aku kenapa?”
“Kamu yang menolak perjodohan dengan laki-laki baik-baik malah bilang sudah pacaran dengan orang yang sudah membuatmu kehilangan pekerjaanmu apa itu tidak bodoh namanya.” Mulai deh lagi.
“Ibu.”
Ibu berdecak sambil terus geleng kepala.
“Nona Daniah, tolong nasehati Aran supaya melepaskan semua ilusinya itu. Dia dan sekretaris itu.” Ibu Aran menunjukan ekspresi yang serius, lalu melihat ke arah anaknya. “Ibu tahu walaupun sekarang kau mendapatkan uang jauh lebih banyak, tapi kau tetap merindukan pekerjaanmu yang dulu kan. Pekerjaan yang hilang karena laki-laki yang kamu sukai itu.”
Perkataan ibu mengobrak abrik hati Aran. Ya, dia tidak mau mengakuinya di depan Nona Daniah. Yang sepertinya sedikit terkejut dan merasa bersalah. Kenapa ibu peka begini si dengan perasaan anaknya. Padahal Aran belum berkeluh kesah tentang kegundahan hatinya. Tapi ibunya bahkan sudah tahu sebelum dia bercerita.
“Ibu sudahlah, jangan dibahas di depan Nona.” Sekali lagi Aran ingin merubah suasana,karena terlihat nonanya merasa tidak nyaman.
Tapi ibu benar-benar menggantungkan sebuah harapan, berharap jika bicara dengan Nona Daniah, anaknya bisa kembali menemukan jalannya menuju impiannya lagi.
“Impiannya dari dulu kan jadi reporter TV Nona.” Menunjuk kening Aran. “Kau bahkan sudah membuat target kau bisa jadi pembaca berita suatu hari nanti kan. Tapi karena laki-laki itu.”
“Ibu itu bukan salah Sekretaris Han, berapa kali si aku musti menjelaskan.”
Semua itu berawal dari dirinya yang tergiur dengan iming-iming imbalan sejumlah uang. Ya, dia memang belum punya kesempatan untuk menjelaskan pada ibunya secara detail. Entahlah, karena tidak mau orangtuanya merasa terbebani. Apalagi kalau tahu dia melakukannya untuk melunasi rumah yang mereka tempati sekarang.
“Bukannya mereka sama sekali tidak cocok ya Nona, Laki-laki itu dan Aran.”
“Tapi mereka serasi kok bu.”
Ibu Aran mendelik, sementara Aran terpingkal mendengarnya.
“Ah ibu sudahlah. Aku akan membawa calon menantu ibu nanti. Kalau ibu sudah bertemu dengannya pasti ibu akan jatuh hati padanya.”
“Ibu akan memukulnya dengan sapu dulu. Baru ibu puas.”
Ketiga wanita itu tergelak bersamaan. Saat ibu mengupas apel untuk dinikmati kedua gadis di depannya dia masih.sibuk bicara tentang Sekretaris Han. Mungkin saja orang yang dibicarakan di sana sedang tersedak.
Bersambung
***
“ Terimakasih ya Aran, aku sedikit banyak merasa lega setelah bicara
dengan ibumu.”
Rasa sakitnya adalah nikmat yang harus dilewati untuk menjadi ibu.
Percayalah dan yakinlah, bahwa Tuhan sudah memilih nona dari sekian banyak
wanita yang memimpikan untuk menjadi ibu karena Tuhan melihat Anda mampu.
Sakitnya melahirkan mungkin tidak bisa saya pilihkan kata yang tepat
untuk mewakilkannya, karena rasanyaa memang sulit digambarkan. Punggung
berdenyut dengan frekuensi yang tetap. Seperti meremas kesadaran kita. Kalau kita di posisi itu hanya kepasrahan yang ada. Tapi ibu yakin Nona pasti bisa melewatinya.
Saya juga kalau dikasih sama Tuhan masih mau. Hehe. Kalau tidak ingat dengan umur. Anak-anak sudah besar rindu dengan tingkah-tingkah lucu mereka. melahirkan itu sakit, sakit tapi ya tetep nggak kapok. Begitulah ibu Aran menuturkan ceritanya.
Walaupun terberst dalam hati Daniah apa dia akan mampu ya, namun sekuat
tenaga dia membuang jauh pikiran buruk apa pun itu yang datang. Perasaan leganya. Memang senang ya rasanya bisa bercerita apa pun pada ibu.
Tapi ibu tiriku dan ibu Tuan Saga.
Masih ada jarak yang mungkin sulit mendekatkan mereka. Hingga Daniah memilih mencari ibu yang lain yang menerima tangannya dengan hangat.
“ Nona.”
Lamunan Daniah berlarian menjauh.
“ Ia.”
“ Ucapan ibu saya jangan disimpan di dalam hati ya, ya memang menjadi
reporter TV adalah impian saya, tapi saya benar-benar senang kok bekerja pada
Nona.”
Ah, benar sekali. Berbeda dengan Lella yang Daniah merasa sayang kalau
potensinya terkubur karena harus ada di sampingnya, Daniah tidak pernah
menyadari kalau Aran pun punya pekerjaan hebat di masa lalunya.
“ Aran, kalau kau ingin mengejar impianmu aku tidak akan menahanmu. Kau
punya pekerjaan keren di masa lalu, yang aku sendiri mungkin tidak pernah
memimpikannya. Jadi, kalau kau mau aku bisa meminta Tuan Saga membatalkan semua
kontrak kerjamu.”
“ Nona bukan begitu, sungguh saya merasa sangat beruntung bisa bekerja
pada Nona.”
“ Aku juga senang kok bisa bersamamu, tapi duniamu jauh lebih luas jika
kau keluar dari rumah utama. Apa ini karena Han, karena laki-laki yang kau
sukai kau jadi bertahan disampingku.”
" Tidak Nona, saya sungguh senang bisa bekerja dengan Nona."
" Hehe, aku tahu kok. Tapi kalau kau mendapatkan pekerjaan di tempat yang jauh lebih baik, bukannya kau bisa sedikit sombong pada Sekretaris Han nantinya. Jadi bukan hanya kau yang mengejarnya, tapi dia juga jadi tergila-gila padamu."
Huaaaa, aku menantikan hari itu tiba. Han yang mengejar-ngejar cinta reporter TV Arandita.
Membayangkan saja sudah sangat menarik.
Aran melihat jalanan masih dengan segalaa kebimbangan. Disatu sisi
seperti impiannya melambai-lambai. Dan dengan bantuan Nona Daniah di sampingnya ini
seperti kembali terbuka jalan menuju ke sana. Tapi, melepas yang sudah ia raih
sekarang untuk sesuatu yang belum pasti. Aaaaa, ia bingung.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Erni Fitriana
koplak aran.
..gadis unik...tn han..klo anda lama merespon...taruhan dokter harun akan majuuuuuu mengejar rasa anindita
2025-01-24
1
Sweet Girl
pede habis... mertua anda
2024-01-16
5
Sweet Girl
bwahahahaha bikin gesek Han...
2024-01-16
2