7. Dia Yang Tidak Disebut Namanya

Kehidupan malam di kota belum padam.  Bahkan ada geliat perekonomian yang baru dimulai saat temaran senja mulai memenuhi bumi. Contoh sederhana warung-warung tenda di sepanjang jalan. Lampu-lampu jalan pengganti matahari, membuat alam tak pernah tertidur.

Sebuah mobil berhenti di sebuah tepian jalan. Sekretaris Han selepas pulang membereskan semua pekerjaannya. Terkadang, setelah mengantar Tuan Saga kembali ke rumah, dia akan kembali ke kantor. Mengurus ini dan itu. Membaca laporan yang tertunda. Dia menurunkan kaca mobilnya saat seorang pedagang terlihat mendorong gerobak kayu sederhana semakin mendekati mobilnya.

Kepulan asap terlihat dari gerobaknya di bawah temaran lampu jalan. Ada beberapa mobil yang melaju. Berkejaran dengan waktu dan lelah.

Han membunyikan klakson, pedagang itu paham lalu mendorong gerobaknya semakin cepat. Wajahnya sudah sumringah. Sudah selarut ini kacang rebus jualannya belum habis separuh.  Dia dalam perjalanan pulang ke rumah.

“Ia Tuan.” Dia mendekat ke mobil yang kacanya sedikit terbuka. Mata tuanya tidak melihat dengan jelas orang yang ada di dalam. Lampu mobil pun tidak dinyalakan.

“Bungkus semuanya yang tersisa Pak, bagi dalam beberapa plastik.”

“Eh, semua Tuan, semua jualan saya.” Menunjuk tumpukan jualannya yang masih agak menggunung.  Tidak mendengar bantahan dari pembelinya, pedagang itu bergegas kembali ke gerobaknya. Sambil sibuk menimbang, dia melihat ke arah mobil sesekali. Takut itu cuma mimpi. Mobil masih ada di sana. Dia sedang bersyukur, mulutnya bergetar tanpa suara. Padahal tadi sudah pasrah dan memilih pulang karena hari semakin larut, dan kesehatannya pun sedang agak buruk.

Dia tergopoh membawa plastik-plastik dalam dekapan tangannya, langkahnya mendekati mobil.

“Taruh di kursi belakang Pak.” Terdengar suara kunci pintu mobil terbuka. Bapak pedagang melakukan apa yang diminta tanpa banyak bicara. Dia kembali ke gerobaknya, karena masih ada bungkusan yang tidak terbawa. Setelah selesai dia menutup pintu dengan perlahan. Dari dalam mobil terulur tangan dan lembaran uang. “Pulang dan istirahatlah, ini sudah larut malam.”

Bapak pedagang itu bahkan belum menghitung uangnya, tapi melihat lembaran uang di tangannya sudah membuatnya gemetar. Saat dia mau mendekat dan berterimakasih serta melihat dengan jelas siapa pembeli dagangannya di dalam mobil, suara mesin mobil sudah berbunyi. Sekretaris Han melajukan kendaraannya. Tanpa ingin meninggalkan jejak kebaikannya.

Saat ia melirik kaca spion pria tua pedagang itu sujud syukur di jalan beraspal.

Ya Tuhan terimakasih, terimakasih, apa dia malaikat yang engkau kirimkan padaku.

Tangannya menengadah ke langit malam. Bibirnya mengucap syukur. Uang beras yang diminta istrinya tadi pagi dan  uang spp anaknya yang sebentar lagi menempuh ujian, Tuhan turunkan dengan cara tidak disangka.

Siapa pun engkau semoga Tuhan melindungimu.

Doa lelaki tua itu mendorong gerobaknya dengan penuh semangat kembali ke rumah.

...***...

Sekretaris Han menutup pintu mobilnya dengan keras.  Masih ada satu mobil dan beberapa motor terparkir. Area parkir khusus pegawai restoran. Lampu masih menyala di semua sudut,  namun di pintu sudah ada tanda close menghadap keluar.  Papan menu spesial hari ini juga sudah masuk ke dalam restoran. Han mendorong pintu.

“Maaf Tuan, kami sudah tutup.” Eh, wajah pelayan yang menyapa pias. “Maaf Tuan saya tidak melihat kalau Anda yang datang.” Mundur beberapa langkah.

Sekretaris Han yang tidak menunjukan reaksi apa-apa sudah membuatnya takut.

“Kau sudah datang.” Seseorang turun dari tangga menyelamatkan pelayan wanita.  Boss tempat ini, Brian. Pemilik sekaligus koki utama restoran yang hanya memasak khusus untuk orang tertentu saja. Dia mendekat ke arah Han, sambil mengisyaratkan karyawannya pergi dengan tangannya. “Jangan hiraukan dia.” Dengan bahasa bibir bicara.

Sekretaris Han menunjuk seorang pelayan laki-laki yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya, membereskan kursi dan meja. Memberinya kunci mobil dengan tangan kiri.

Mereka sudah paham maksudnya.

“Kau membawa apa hari ini?” Brian merangkul tangan. Yang ditanya tidak memberi jawaban, hanya berjalan menuju dapur. “ Selesaikan pekerjaan kalian setelah itu kalian bisa pulang. Bawa saja yang dibawa Han semua,” ujarnya pada karyawannya.

“Baik bos.”

Lalu dia menyusul Sekretaris Han yang sudah menghilang dari pandangan.

Sementara tiga karyawan berjalan menuju tempat parkir. Satu pelayan laki-laki, duanya perempuan.

“Kali ini dia membawa apa ya, beruntung sekali pedagang yang bertemu dengannya malam-malam begini.” Celotehnya. Sambil memegang kunci mobil dengan hati-hati. Memperlakukannya sama berharganya dengan hp keluaran terbaru yang dibelinya seminggu lalu.

“Ia, mana udaranya agak dingin lagi malam ini.” Pelayan wanita mengusap tangannya saat semilir angin menyentuh lembut pori-pori kulitnya. “Kalau aku melihat dia seperti ini, aku jadi merasa dia laki-laki yang hangat kepribadiannya.” Lanjutnya.

Dalam hati dia ragu sebenarnya. Menyebut dia sebagai laki-laki berhati hangat.

“Tapi aku tetep takut padanya. Hiks.” Mengingat kejadian buruk yang pernah terjadi. Pelayan wanita yang tadi menyapa saat Sekretaris Han masuk ke dalam restoran.“ Dia pernah melempar sekotak tisyu ke wajahku, karena aku lupa meletakan tisyu di meja makan Tuan Saga saat makan siang.” Kalau saat itu bos tidak membelanya,  habislah riwayatnya. “Itu kan hari pertamaku naik pangkat bisa melayani makan siang Tuan Saga. Tapi dia sama sekali tidak memberikan sedikit pun toleransi.”

Walaupun bos membelaku di depan dia, tapi bos memarahiku habis-habisan di belakang. Tapi setidaknya aku tidak di lempar apa pun. Hanya kata-kata yang berloncatan dari mulutnya.

Kata-kata Sekretaris Han, sorot matanya saat itu seumur hidup tidak akan pernah dia lupakan.

“Kau tahu kan, kalau berhubungan dengan Tuan Saga, kesalahan sekecil apa pun tidak akan dia biarkan.” Merinding takut. “Bos saja sangat berhati-hati kalau berhubungan dengan Tuan Saga.” Semua makanan yang terhidang di meja Tuan Saga m adalah hasil masakan bos m mereka. Dari persiapan bahan sampai memasak semua dia lakukan. Para pelayan di restoran tahu itu, bagaimana hati-hatinya bos mereka, walaupun hanya sekedar menaburkan daun bawang atau bawang goreng di atas makanan.

Bos mereka yang selalu memuji kebaikan Tuan Saga kapan pun dia punya kesempatan.

Sampai di area parkir. Kunci mobil terbuka, satu memeriksa kursi depan yang lain membuka pintu belakang. Menemukan setumpuk plastik di sana.

“Huaaa, kacang rebus.” Menempelkan tangan ke bungkusan plastik. “Masih hangat,” ujarnya sambil mengeluarkan semua bungkusan, membagi sama rata untuk dibawa bertiga.  “Apa dia membeli semua dagangan pedagangnya ya.”

"Benar deh, andai bukan dia aku pasti terpesona kebaikannya yang seperti ini." Satu pelayan wanita.

"Aku tetap takut padanya, tapi aku menghormati sisi kebaikannya ini. Ah, andai bukan dia." Pelayan yang trauma dilempar kotak tisyu.

Dia yang namaya tidak pernah mereka sebutkan, tapi kalau sedang membicarakan dia, semua paham maksudnya siapa.

Sambil masuk sudah cemal cemil mencoba. Kacangnya manis dan besar-besar. Namun rasa gurih dari garam juga tetap terasa. Perpaduan asin dan manis dari kacang yang berkualitas membuat lidah m mereka tidak berhenti mengunyah.

Bukannya pulang, para pelayan melingkar di sebuah meja sambil mengobrol ini dan itu. Kacang rebus bertebaran. Kulit kacang menumpuk. Beberapa botol minuman dingin sesuai selera masing-masing sudah habis sebagian. Obrolan tentang ini dan itu. Membicarakan mimpi atau target menikah.

Tiba-tiba seseorang diantara mereka berbisik pelan. Sambil melihat pintu dapur dari kejauhan. Tempat bos dan dia, orang yang ingin ia bicarakan. Salah satu temannya menutup mulutnya.

" Gila Ya! Kau mau membicarakan dia. Orangnya ada di sini. Kau mau mati." Yang lain sepakat. Jangan libatkan kami, begitu makna anggukan kepala. Yang dibekap mulutnya berontak minta dilepaskan.

Dia menggelengkan kepala kuat kalau tidak mau membahas dia. Hah! menghela nafas saat perputaran udara kembali normal.

“Bukan dia, ya walaupun masih berhubungan sama dia." Yang lain masih mengangkat bahu sedikit diliputi cemas. "Ih, dibilang bukan kok. Ingat tidak, waktu dia membawa salad buah. Aku kan pamer foto saladnya di sosial media. Tutup salad buahnya yang ada no teleponnya itu lho.” Menyebutkan nama merk salad buah yang dimaksud.

“Ah,ia, ia aku ingat. Enak itu saladnya.” Sambil mulut terus mengunyah seirama gerakan tangan mengupas kacang. “Kenapa dengan saladnya?"

“Karena aku pasang foto yang ada no hp pedagangnya, followerku pada heboh kan, terus katanya mereka pada menghubungi itu no telpon buat pesan,  ibu-ibu yang jualan itu ternyata. Nah katanya sekarang laris banget dia. Udah gitu dia nggak perlu jualan sampai malem lagi.”

“Serius.” The power sosial media yang terkadang susah dimengerti. "Secara tidak langsung ini gara-gara dia kan?" Menunjuk pintu dapur.

Yang lain mengiyakan. Kebaikan Sekretaris yang tidak meninggalkan jejak.

“Lihat ini.” Mengeluarkan hp, menunjukan akun sosial media sebuah akun dengan follower puluhan ribu. Lalu mencari-cari sebuah video milik sebuah akun food vloger. “ Ibu penjual salad itu sekarang jualan dari rumah aja.”

Sebuah video ibu-ibu penjual salad buah diputar.

Waktu itu ada yang memborong salad buah saya malam-malam. Saya nggak tahu wajahnya karena dia tidak turun dari mobil. Tapi dia memberi uang banyak sekali. Sambil mengatakan "Malam hari berbahaya, pakailah uang ini untuk modal berjualan di tempat yang lebih baik." Lalu dia pergi begitu saja. saat itu saya berfikir kalau mungkin dia malaikat. Namun jika dia manusia, semoga Tuhan selalu melindunginya.

“Huaaaa, dia keren sekali ya. Kalau dia bukan dia yang kita kenal. ” Eh, sebenarnya dia ingin memuji-muji kebaikan Sekretaris Han, tapi dilain sisi mereka tahu betapa menakutkannya laki-laki itu.

“Aku mau komen kalau aku kenal sama dia bu. Tapi.” Memegang lehernya. “Nyawaku cuma satu, dan nyaliku sebesar biji cabe juga.”

Semua tertawa tahu artinya.

“Pokoknya walaupun menakutkan dia itu sebenarnya baik.”

“Asalkan kau tidak melakukan kesalahan yang berhubungan dengan Tuan Saga.”

“Asalkan kau tidak lupa meletakan tisyu di meja makan Tuan Saga.”

“Asalkan kau tidak jatuh cinta padanya.”

Dan begitulah mereka, merasa l bangga, hormat sekaligus takut yang dominan pada Sekretaris Han. Laki-laki yang mereka lihat selalu tampak tidak bergeming, dalam diam mengamati semua keadaan. Marah, jika sekecil apa pun kesalahan yang berhubungan dengan Tuan Saga. Namun, ada bagian dari hatinya yang tidak terjangkau nalar mereka. Ruang hangat perduli pada sesama dengan caranya sendiri. Walaupun dia tidak dikenali. Sekalipun orang lain tidak tahu hal baik yang ia lakukan. Karena ia melakukannya tanpa meninggalkan jejak. Orang-orang seperti mereka yang beruntung tahu sekalipun tidak berani menyebutkannya. Karena membicarakan dia, tak boleh sampai terucap namanya.

Bersambung

Terpopuler

Comments

Exselyn Jelita

Exselyn Jelita

so sweet banget 🥰🥰🥰😭terhura aq

2025-02-05

2

Isma Izza

Isma Izza

diadiadiaaaa beruntungnya aran di cintai sm dia

2024-06-23

5

Nunik Handayani

Nunik Handayani

Han aku padamu 🫶🥰

2024-03-04

3

lihat semua
Episodes
1 1. Pengenalan Karakter
2 2. Kisah Dimulai
3 3. Pendidikan Penerus Keluarga
4 4. Calon Keponakan
5 5. Keinginan Daniah
6 6. Gara-Gara Nonton Drama
7 7. Dia Yang Tidak Disebut Namanya
8 8. Ditakuti Tapi Juga Dicintai
9 9. Impian Arandita
10 10. Perasaan Dokter Harun
11 11. Harapan Seorang Ibu
12 12. Amera Dan Arandita
13 13. Lamaran Tiba-Tiba
14 14. Ikut Aku Ke Kamar
15 15. Ruang Kerja Sekretaris Han
16 16. Menginap (Part 1)
17 17. Menginap (Part 2)
18 18. Hidup Normal
19 19. Kecemasan Tuan Saga
20 20. Pertemuan Sangat Penting
21 21. Anak yang Mirip Daniah
22 22. Si Jenius Antarna Group
23 23. Selamat Pagi
24 24. Pristiwa Tak Terduga (Part 1)
25 25. Pristiwa Tidak Terduga (Part 2)
26 26. Dipecat
27 27. Kuliah Panjang Bersama Amera
28 28. Daniah Di Dalam Kamar
29 29. Aran Pergi
30 30. Kesalahan Han (Part 1)
31 31. Kesalahan Han (Part 2)
32 32. Sesuka itu Kau padanya?
33 33. Hidup Baru Arandita Dimulai
34 34. Surat Panggilan Kerja
35 35. Ketulusan
36 36. Karena Sekretaris Han
37 37. Hari persalinan Daniah
38 38. Menuju konfrensi Pers
39 39. Pertemuan Han dan Aran Kembali
40 40. Konfrensi Pers
41 41. Panggilan Kakak (Part 1)
42 42. Panggilan Kakak (Part 2)
43 43. Nama Tuan Putri
44 44. Erina Menangis
45 45. Perasaan firman Untuk Aran
46 46. Makan Malam
47 47. Ibu
48 48. Boleh Aku Menciummu?
49 49. Semua Orang Tahu (Part 1)
50 50. Semua Orang Tahu (Part 2)
51 51. Pertengkaran Kecil
52 52. Mendua Dengan Amera
53 53. Pengakuan Cinta Firman
54 54. Kedatangan Tidak Terduga Han
55 55. Hadiah Untuk Ibu
56 56. Permohonan Maaf
57 57. Hadiah Indah Dari Tuhan
58 58. Pertemuan Firman Dan Sekretaris Han
59 59. Kebaikan Hati Sekretaris Han
60 60. Izin Dari Saga
61 61. Kompaknya Haze dan Sofia (Part 1)
62 62. Kompaknya Haze Dan Sofia (Part 2)
63 63. Bertemu Tuan Saga Dan Daniah (Part 1)
64 64. Bertemu Tuan Saga Dan Daniah (Part 2)
65 65. Calon Penerus Keluarga (Part 1)
66 66. Calon Penerus Keluarga (Part 2)
67 67. Pesona Aran
68 68. Rahasia Terkuak
69 69. Memajukan Hari Pernikahan
70 70. Alasan.
71 71. Firman Sudah Move On
72 72. Tiga Dara Cantik Rumah Utama
73 73. Mempelai Laki-laki
74 74. Mempelai Perempuan
75 75. Final Episode (Janji Pernikahan)
76 76. Spesial Episode (Kejadian Di Pesta)
77 77. Spesial Episode (Malam Pertama)
78 78. Spesial Episode (Malamnya Saga Dan Daniah)
79 79. Spesial Episode (Malam Pertama Yang Tertunda)
80 80. Spesial Episode (Hari Pertama Setelah Menikah)
81 81. Bonus (Grup Chat)
82 82. Epilog (Janji Pernikahan)
83 Terimakasih ^_^
84 LAS Versi Cetak
85 TMTM Musim Spesial
86 83. Setelah Pertengkaran.
87 84. Pindah Tugas Firman
88 85. Hadiah Mobil
89 86. Tidak Pantas
90 87. Rekan Baru
91 88. Main Ke Rumah Erina
92 89. Pamer Kemampuan
93 90. Reka Ulang Adegan
94 91. Sok Kecakepan
95 92. Tendangan Maut
96 93. Masalah selesai
97 97. Pertemuan Di RS
98 98. Tidak Sengaja Curhat
99 99. Pagi Yang Mendung
100 100. Kamu Hamil?
101 101. Final Episode
102 102. Spesial Episode
103 103. Spesial Episode
104 104. Terimakasih
105 Promo Novel
106 Novel Keluarga Franz Fernandez
Episodes

Updated 106 Episodes

1
1. Pengenalan Karakter
2
2. Kisah Dimulai
3
3. Pendidikan Penerus Keluarga
4
4. Calon Keponakan
5
5. Keinginan Daniah
6
6. Gara-Gara Nonton Drama
7
7. Dia Yang Tidak Disebut Namanya
8
8. Ditakuti Tapi Juga Dicintai
9
9. Impian Arandita
10
10. Perasaan Dokter Harun
11
11. Harapan Seorang Ibu
12
12. Amera Dan Arandita
13
13. Lamaran Tiba-Tiba
14
14. Ikut Aku Ke Kamar
15
15. Ruang Kerja Sekretaris Han
16
16. Menginap (Part 1)
17
17. Menginap (Part 2)
18
18. Hidup Normal
19
19. Kecemasan Tuan Saga
20
20. Pertemuan Sangat Penting
21
21. Anak yang Mirip Daniah
22
22. Si Jenius Antarna Group
23
23. Selamat Pagi
24
24. Pristiwa Tak Terduga (Part 1)
25
25. Pristiwa Tidak Terduga (Part 2)
26
26. Dipecat
27
27. Kuliah Panjang Bersama Amera
28
28. Daniah Di Dalam Kamar
29
29. Aran Pergi
30
30. Kesalahan Han (Part 1)
31
31. Kesalahan Han (Part 2)
32
32. Sesuka itu Kau padanya?
33
33. Hidup Baru Arandita Dimulai
34
34. Surat Panggilan Kerja
35
35. Ketulusan
36
36. Karena Sekretaris Han
37
37. Hari persalinan Daniah
38
38. Menuju konfrensi Pers
39
39. Pertemuan Han dan Aran Kembali
40
40. Konfrensi Pers
41
41. Panggilan Kakak (Part 1)
42
42. Panggilan Kakak (Part 2)
43
43. Nama Tuan Putri
44
44. Erina Menangis
45
45. Perasaan firman Untuk Aran
46
46. Makan Malam
47
47. Ibu
48
48. Boleh Aku Menciummu?
49
49. Semua Orang Tahu (Part 1)
50
50. Semua Orang Tahu (Part 2)
51
51. Pertengkaran Kecil
52
52. Mendua Dengan Amera
53
53. Pengakuan Cinta Firman
54
54. Kedatangan Tidak Terduga Han
55
55. Hadiah Untuk Ibu
56
56. Permohonan Maaf
57
57. Hadiah Indah Dari Tuhan
58
58. Pertemuan Firman Dan Sekretaris Han
59
59. Kebaikan Hati Sekretaris Han
60
60. Izin Dari Saga
61
61. Kompaknya Haze dan Sofia (Part 1)
62
62. Kompaknya Haze Dan Sofia (Part 2)
63
63. Bertemu Tuan Saga Dan Daniah (Part 1)
64
64. Bertemu Tuan Saga Dan Daniah (Part 2)
65
65. Calon Penerus Keluarga (Part 1)
66
66. Calon Penerus Keluarga (Part 2)
67
67. Pesona Aran
68
68. Rahasia Terkuak
69
69. Memajukan Hari Pernikahan
70
70. Alasan.
71
71. Firman Sudah Move On
72
72. Tiga Dara Cantik Rumah Utama
73
73. Mempelai Laki-laki
74
74. Mempelai Perempuan
75
75. Final Episode (Janji Pernikahan)
76
76. Spesial Episode (Kejadian Di Pesta)
77
77. Spesial Episode (Malam Pertama)
78
78. Spesial Episode (Malamnya Saga Dan Daniah)
79
79. Spesial Episode (Malam Pertama Yang Tertunda)
80
80. Spesial Episode (Hari Pertama Setelah Menikah)
81
81. Bonus (Grup Chat)
82
82. Epilog (Janji Pernikahan)
83
Terimakasih ^_^
84
LAS Versi Cetak
85
TMTM Musim Spesial
86
83. Setelah Pertengkaran.
87
84. Pindah Tugas Firman
88
85. Hadiah Mobil
89
86. Tidak Pantas
90
87. Rekan Baru
91
88. Main Ke Rumah Erina
92
89. Pamer Kemampuan
93
90. Reka Ulang Adegan
94
91. Sok Kecakepan
95
92. Tendangan Maut
96
93. Masalah selesai
97
97. Pertemuan Di RS
98
98. Tidak Sengaja Curhat
99
99. Pagi Yang Mendung
100
100. Kamu Hamil?
101
101. Final Episode
102
102. Spesial Episode
103
103. Spesial Episode
104
104. Terimakasih
105
Promo Novel
106
Novel Keluarga Franz Fernandez

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!