Kehidupan malam di kota belum padam. Bahkan ada geliat perekonomian yang baru dimulai saat temaran senja mulai memenuhi bumi. Contoh sederhana warung-warung tenda di sepanjang jalan. Lampu-lampu jalan pengganti matahari, membuat alam tak pernah tertidur.
Sebuah mobil berhenti di sebuah tepian jalan. Sekretaris Han selepas pulang membereskan semua pekerjaannya. Terkadang, setelah mengantar Tuan Saga kembali ke rumah, dia akan kembali ke kantor. Mengurus ini dan itu. Membaca laporan yang tertunda. Dia menurunkan kaca mobilnya saat seorang pedagang terlihat mendorong gerobak kayu sederhana semakin mendekati mobilnya.
Kepulan asap terlihat dari gerobaknya di bawah temaran lampu jalan. Ada beberapa mobil yang melaju. Berkejaran dengan waktu dan lelah.
Han membunyikan klakson, pedagang itu paham lalu mendorong gerobaknya semakin cepat. Wajahnya sudah sumringah. Sudah selarut ini kacang rebus jualannya belum habis separuh. Dia dalam perjalanan pulang ke rumah.
“Ia Tuan.” Dia mendekat ke mobil yang kacanya sedikit terbuka. Mata tuanya tidak melihat dengan jelas orang yang ada di dalam. Lampu mobil pun tidak dinyalakan.
“Bungkus semuanya yang tersisa Pak, bagi dalam beberapa plastik.”
“Eh, semua Tuan, semua jualan saya.” Menunjuk tumpukan jualannya yang masih agak menggunung. Tidak mendengar bantahan dari pembelinya, pedagang itu bergegas kembali ke gerobaknya. Sambil sibuk menimbang, dia melihat ke arah mobil sesekali. Takut itu cuma mimpi. Mobil masih ada di sana. Dia sedang bersyukur, mulutnya bergetar tanpa suara. Padahal tadi sudah pasrah dan memilih pulang karena hari semakin larut, dan kesehatannya pun sedang agak buruk.
Dia tergopoh membawa plastik-plastik dalam dekapan tangannya, langkahnya mendekati mobil.
“Taruh di kursi belakang Pak.” Terdengar suara kunci pintu mobil terbuka. Bapak pedagang melakukan apa yang diminta tanpa banyak bicara. Dia kembali ke gerobaknya, karena masih ada bungkusan yang tidak terbawa. Setelah selesai dia menutup pintu dengan perlahan. Dari dalam mobil terulur tangan dan lembaran uang. “Pulang dan istirahatlah, ini sudah larut malam.”
Bapak pedagang itu bahkan belum menghitung uangnya, tapi melihat lembaran uang di tangannya sudah membuatnya gemetar. Saat dia mau mendekat dan berterimakasih serta melihat dengan jelas siapa pembeli dagangannya di dalam mobil, suara mesin mobil sudah berbunyi. Sekretaris Han melajukan kendaraannya. Tanpa ingin meninggalkan jejak kebaikannya.
Saat ia melirik kaca spion pria tua pedagang itu sujud syukur di jalan beraspal.
Ya Tuhan terimakasih, terimakasih, apa dia malaikat yang engkau kirimkan padaku.
Tangannya menengadah ke langit malam. Bibirnya mengucap syukur. Uang beras yang diminta istrinya tadi pagi dan uang spp anaknya yang sebentar lagi menempuh ujian, Tuhan turunkan dengan cara tidak disangka.
Siapa pun engkau semoga Tuhan melindungimu.
Doa lelaki tua itu mendorong gerobaknya dengan penuh semangat kembali ke rumah.
...***...
Sekretaris Han menutup pintu mobilnya dengan keras. Masih ada satu mobil dan beberapa motor terparkir. Area parkir khusus pegawai restoran. Lampu masih menyala di semua sudut, namun di pintu sudah ada tanda close menghadap keluar. Papan menu spesial hari ini juga sudah masuk ke dalam restoran. Han mendorong pintu.
“Maaf Tuan, kami sudah tutup.” Eh, wajah pelayan yang menyapa pias. “Maaf Tuan saya tidak melihat kalau Anda yang datang.” Mundur beberapa langkah.
Sekretaris Han yang tidak menunjukan reaksi apa-apa sudah membuatnya takut.
“Kau sudah datang.” Seseorang turun dari tangga menyelamatkan pelayan wanita. Boss tempat ini, Brian. Pemilik sekaligus koki utama restoran yang hanya memasak khusus untuk orang tertentu saja. Dia mendekat ke arah Han, sambil mengisyaratkan karyawannya pergi dengan tangannya. “Jangan hiraukan dia.” Dengan bahasa bibir bicara.
Sekretaris Han menunjuk seorang pelayan laki-laki yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya, membereskan kursi dan meja. Memberinya kunci mobil dengan tangan kiri.
Mereka sudah paham maksudnya.
“Kau membawa apa hari ini?” Brian merangkul tangan. Yang ditanya tidak memberi jawaban, hanya berjalan menuju dapur. “ Selesaikan pekerjaan kalian setelah itu kalian bisa pulang. Bawa saja yang dibawa Han semua,” ujarnya pada karyawannya.
“Baik bos.”
Lalu dia menyusul Sekretaris Han yang sudah menghilang dari pandangan.
Sementara tiga karyawan berjalan menuju tempat parkir. Satu pelayan laki-laki, duanya perempuan.
“Kali ini dia membawa apa ya, beruntung sekali pedagang yang bertemu dengannya malam-malam begini.” Celotehnya. Sambil memegang kunci mobil dengan hati-hati. Memperlakukannya sama berharganya dengan hp keluaran terbaru yang dibelinya seminggu lalu.
“Ia, mana udaranya agak dingin lagi malam ini.” Pelayan wanita mengusap tangannya saat semilir angin menyentuh lembut pori-pori kulitnya. “Kalau aku melihat dia seperti ini, aku jadi merasa dia laki-laki yang hangat kepribadiannya.” Lanjutnya.
Dalam hati dia ragu sebenarnya. Menyebut dia sebagai laki-laki berhati hangat.
“Tapi aku tetep takut padanya. Hiks.” Mengingat kejadian buruk yang pernah terjadi. Pelayan wanita yang tadi menyapa saat Sekretaris Han masuk ke dalam restoran.“ Dia pernah melempar sekotak tisyu ke wajahku, karena aku lupa meletakan tisyu di meja makan Tuan Saga saat makan siang.” Kalau saat itu bos tidak membelanya, habislah riwayatnya. “Itu kan hari pertamaku naik pangkat bisa melayani makan siang Tuan Saga. Tapi dia sama sekali tidak memberikan sedikit pun toleransi.”
Walaupun bos membelaku di depan dia, tapi bos memarahiku habis-habisan di belakang. Tapi setidaknya aku tidak di lempar apa pun. Hanya kata-kata yang berloncatan dari mulutnya.
Kata-kata Sekretaris Han, sorot matanya saat itu seumur hidup tidak akan pernah dia lupakan.
“Kau tahu kan, kalau berhubungan dengan Tuan Saga, kesalahan sekecil apa pun tidak akan dia biarkan.” Merinding takut. “Bos saja sangat berhati-hati kalau berhubungan dengan Tuan Saga.” Semua makanan yang terhidang di meja Tuan Saga m adalah hasil masakan bos m mereka. Dari persiapan bahan sampai memasak semua dia lakukan. Para pelayan di restoran tahu itu, bagaimana hati-hatinya bos mereka, walaupun hanya sekedar menaburkan daun bawang atau bawang goreng di atas makanan.
Bos mereka yang selalu memuji kebaikan Tuan Saga kapan pun dia punya kesempatan.
Sampai di area parkir. Kunci mobil terbuka, satu memeriksa kursi depan yang lain membuka pintu belakang. Menemukan setumpuk plastik di sana.
“Huaaa, kacang rebus.” Menempelkan tangan ke bungkusan plastik. “Masih hangat,” ujarnya sambil mengeluarkan semua bungkusan, membagi sama rata untuk dibawa bertiga. “Apa dia membeli semua dagangan pedagangnya ya.”
"Benar deh, andai bukan dia aku pasti terpesona kebaikannya yang seperti ini." Satu pelayan wanita.
"Aku tetap takut padanya, tapi aku menghormati sisi kebaikannya ini. Ah, andai bukan dia." Pelayan yang trauma dilempar kotak tisyu.
Dia yang namaya tidak pernah mereka sebutkan, tapi kalau sedang membicarakan dia, semua paham maksudnya siapa.
Sambil masuk sudah cemal cemil mencoba. Kacangnya manis dan besar-besar. Namun rasa gurih dari garam juga tetap terasa. Perpaduan asin dan manis dari kacang yang berkualitas membuat lidah m mereka tidak berhenti mengunyah.
Bukannya pulang, para pelayan melingkar di sebuah meja sambil mengobrol ini dan itu. Kacang rebus bertebaran. Kulit kacang menumpuk. Beberapa botol minuman dingin sesuai selera masing-masing sudah habis sebagian. Obrolan tentang ini dan itu. Membicarakan mimpi atau target menikah.
Tiba-tiba seseorang diantara mereka berbisik pelan. Sambil melihat pintu dapur dari kejauhan. Tempat bos dan dia, orang yang ingin ia bicarakan. Salah satu temannya menutup mulutnya.
" Gila Ya! Kau mau membicarakan dia. Orangnya ada di sini. Kau mau mati." Yang lain sepakat. Jangan libatkan kami, begitu makna anggukan kepala. Yang dibekap mulutnya berontak minta dilepaskan.
Dia menggelengkan kepala kuat kalau tidak mau membahas dia. Hah! menghela nafas saat perputaran udara kembali normal.
“Bukan dia, ya walaupun masih berhubungan sama dia." Yang lain masih mengangkat bahu sedikit diliputi cemas. "Ih, dibilang bukan kok. Ingat tidak, waktu dia membawa salad buah. Aku kan pamer foto saladnya di sosial media. Tutup salad buahnya yang ada no teleponnya itu lho.” Menyebutkan nama merk salad buah yang dimaksud.
“Ah,ia, ia aku ingat. Enak itu saladnya.” Sambil mulut terus mengunyah seirama gerakan tangan mengupas kacang. “Kenapa dengan saladnya?"
“Karena aku pasang foto yang ada no hp pedagangnya, followerku pada heboh kan, terus katanya mereka pada menghubungi itu no telpon buat pesan, ibu-ibu yang jualan itu ternyata. Nah katanya sekarang laris banget dia. Udah gitu dia nggak perlu jualan sampai malem lagi.”
“Serius.” The power sosial media yang terkadang susah dimengerti. "Secara tidak langsung ini gara-gara dia kan?" Menunjuk pintu dapur.
Yang lain mengiyakan. Kebaikan Sekretaris yang tidak meninggalkan jejak.
“Lihat ini.” Mengeluarkan hp, menunjukan akun sosial media sebuah akun dengan follower puluhan ribu. Lalu mencari-cari sebuah video milik sebuah akun food vloger. “ Ibu penjual salad itu sekarang jualan dari rumah aja.”
Sebuah video ibu-ibu penjual salad buah diputar.
Waktu itu ada yang memborong salad buah saya malam-malam. Saya nggak tahu wajahnya karena dia tidak turun dari mobil. Tapi dia memberi uang banyak sekali. Sambil mengatakan "Malam hari berbahaya, pakailah uang ini untuk modal berjualan di tempat yang lebih baik." Lalu dia pergi begitu saja. saat itu saya berfikir kalau mungkin dia malaikat. Namun jika dia manusia, semoga Tuhan selalu melindunginya.
“Huaaaa, dia keren sekali ya. Kalau dia bukan dia yang kita kenal. ” Eh, sebenarnya dia ingin memuji-muji kebaikan Sekretaris Han, tapi dilain sisi mereka tahu betapa menakutkannya laki-laki itu.
“Aku mau komen kalau aku kenal sama dia bu. Tapi.” Memegang lehernya. “Nyawaku cuma satu, dan nyaliku sebesar biji cabe juga.”
Semua tertawa tahu artinya.
“Pokoknya walaupun menakutkan dia itu sebenarnya baik.”
“Asalkan kau tidak melakukan kesalahan yang berhubungan dengan Tuan Saga.”
“Asalkan kau tidak lupa meletakan tisyu di meja makan Tuan Saga.”
“Asalkan kau tidak jatuh cinta padanya.”
Dan begitulah mereka, merasa l bangga, hormat sekaligus takut yang dominan pada Sekretaris Han. Laki-laki yang mereka lihat selalu tampak tidak bergeming, dalam diam mengamati semua keadaan. Marah, jika sekecil apa pun kesalahan yang berhubungan dengan Tuan Saga. Namun, ada bagian dari hatinya yang tidak terjangkau nalar mereka. Ruang hangat perduli pada sesama dengan caranya sendiri. Walaupun dia tidak dikenali. Sekalipun orang lain tidak tahu hal baik yang ia lakukan. Karena ia melakukannya tanpa meninggalkan jejak. Orang-orang seperti mereka yang beruntung tahu sekalipun tidak berani menyebutkannya. Karena membicarakan dia, tak boleh sampai terucap namanya.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Exselyn Jelita
so sweet banget 🥰🥰🥰😭terhura aq
2025-02-05
2
Isma Izza
diadiadiaaaa beruntungnya aran di cintai sm dia
2024-06-23
5
Nunik Handayani
Han aku padamu 🫶🥰
2024-03-04
3