Terjadi sejarah baru hari ini dalam hidup seorang Sekretaris Han.
“Duduk di sana dan jangan menggangguku. Cukup bernafas dan jangan bicara apa pun.”
Aran hanya mengangguk-angguk sambil menganga melihat ruang kerja Han. Ruang kerja yang merangkap perpustakaan. Dia berdiri dengan bola mata berbinar-binar, tempat ini bahkan sebesar perpustakaan nasional. Deretan rak buku dengan pelindung kaca berderet rapi. Bahkan ada tangga kecil melingkar menuju sebuah lantai lain di dalam ruangan ini. Ada sebuah pintu di samping rak buku yang ada di lantai atas itu.
Luar biasa! tidak ini gila! Semua yang dia punya dalam ruangan ini adalah impian dalam hidupku. Gila!
Dalam pandangan Aran ruangan kerja ini berkelap-kelip memancarkan pijaran yang indah di matanya.
“Tuan.”
“Tutup mulutmu!”
Cih, terserahlah, ada banyak hal indah yang bisa kulihat di sini selain wajahmu.
Aran mulai berjalan mendekat ke arah rak buku. Sementara Han menuju meja kerjanya. Menyalakan komputer yang ada di depannya.
Aran menyentuh lemari kaca yang menyimpan buku. Di wajahnya terlihat jelas dia ingin menyentuh buku-buku berharga itu. Diliriknya pemiliknya, sudah terlihat serius membaca kertas dan mencocokan dengan apa yang dia lihat di layar komputer.
Rahasia Antarna Group ada di sana. Tapi itu tidak jauh menarik bagi Aran ketimbang isi lemari kaca yang ada di depannya.
“Tuan.”
Han melihat Aran sambil berdecak. Gadis itu masih berdiri di rak buku yang tidak jauh dari mejanya.
“Hehe, sebentar saja. Apa saya boleh melihat buku-buku Anda.” Memohon, seperti bocah yang haus dan penasaran melihat mainan baru di hadapannya.
“Bersihkan tanganmu dan pastikan kembalikan ke tempatnya.”
Aran lompat-lompat girang sambil mengusap-usap kedua tangan ke bajunya berulang kali. Lalu dia tunjukan ke wajah Han tapi tidak berani mendekat ke meja. Dia usap lagi. Dia tunjukan lagi. Han melengos tidak menjawab dianggap sebagai persetujuan.
Aran menyentuh rak buku dengan kaca sebagai pelindung benda berharga yang ada di dalamnya. Hanya perasaannya atau memang suhu ruangan ini diatur dengan sedemikian rupa untuk menjaga kondisi buku. Bahkan standar kualitas udara setara dengan perpustakaan negara. Dia tidak berhenti untuk berdecak kagum. Satu persatu Aran melihat, Tenggelam dalam dunia yang menakjubkan baginya. Dia mencintai buku sama halnya dengan kecintaannya menulis. Semua koleksi bukunya tersimpan rapi di lemari kamar di rumah orangtuanya. Sebuah lemari kaca pengobat lelah dari semua aktifitas pekerjaannya.
Aran sampai di sebuah lemari kaca. Dia sudah tidak melihat Sekretaris Han karena tertutup rak yang lainnya.
“Ya Tuhan, Tuan Anda sungguh luar biasa.” Masih menempelkan wajah di depan kaca. Buku yang ada di dalam lemari kaca adalah buku tentang sejarah penerbitan dan media yang ada di dunia. Di perpustakaan di stasiun TV tempatnya dulu bekerja saja tidak selengkap ini. Untuk membaca buku-buku langka perlu izin khusus dari atasannya. Aran menemukan hal yang membuat jiwanya seakan kembali hidup dan bergelora dengan semangat. Dia mengoceh lagi dengan suara keras. Tentang nama-nama orang yang ia kagumi, tertera jelas di sampul depan.
“Tutup mulutmu atau aku akan mengusirmu.” Sebuah suara menghardik ocehannya.
“Maafkan saya Tuan, saya terlalu bersemangat. Silahkan lanjutkan pekerjaan Anda lagi. Saya akan diam.” Langsung menutup mulut rapat karena sepertinya mendengar Han sedang bicara dengan orang lain.
Benar saja. Seraut wajah yang tampak di layar sedang menunjukan reaksi penasaran sekaligus keterkejutannya.
“Siapa dia Han? Kau sedang di ruang kerjamu kan? Dinding membosankan yang selalu kulihat di belakangmu itu pasti ruang kerjamu kan?” Matanya nyala berapi-api penuh rasa ingin tahu.
Tidak ada satu pun perempuan yang pernah masuk ke dalam ruang kerja Sekretaris Han. Hanya pelayan laki-laki yang sudah berada di level tertentu yang bisa masuk ke sana. Dokumen berharga milik Antarna Group tersimpan dalam lemari khusus di ruangan itu.
“Tutup mulutmu!”
Dia hobi sekali menyuruh orang menutup mulut. Aran masih sempat-sempatnya mendengar. Tapi kemudian dunianya sudah teralihkan dengan buku yang dibacanya.
“Siapa dia Han!” Laki-laki di sebrang sana akhirnya merengek. “Kau belum menikah kan!” Protesnya seperti rengekan bocah lima tahun. ”Aku bahkaan tidak boleh pulang melihat tuan muda menikah, kau bahkan sudah menikah juga! Eh.” Dia terlihat berfikir sendiri saat ocehannya tidak ditanggapi. “Tapi Dokter Harun tidak mengatakan kau sudah menikah." Sumber gosip utama tidak mengatakan apa pun. " Siapa dia Han?”
“Setelah serah terima resmi dilakukan kembalilah. Tuan muda sudah mengizinkanmu kembali.”
“Hei tunggu, jawab pertanyaanku. Suara siapa gadis yang ada di ruang kerjanmu?”
Klik…. Sambungan terputus. Orang yang jauh ada di luar negri sana sedang mengumpat dan memaki.
Han melirik ke arah lemari-lemari kaca. Dia tidak menemukan sosok yang dia cari. Suaranya pun sama sekali tidak terdengar. Saat dia mau bangun, suara gadis itu terdengar memenuhi ruangan.
“Tuan, menurut Anda saya dan buku-buku ini jauh lebih berharga siapa?”
Kurang kerjaan, memang kau mau mendengar jawaban apa.
Han melanjutkan pekerjaannya.
“Tuan, kalau tidak mau menjawab berarti Tuan memilih saya yang lebih berharga ya?” Memancing lagi. Tapi umpan yang dilemparkan Aran sama sekali tidak ditangkap Han. Laki-laki itu masih fokus dengan pekerjaannya. “Hore, berarti saya jauh lebih berharga ya. Haha, terimakasih Tuan.”
Sedang mendelik karena benar-benar tidak mendapat reaksi apa pun, akhirnya dia meneruskan membaca. Seharusnya kau mengintip Aran, Han sedang tersenyum di balik layar komputernya mendengar ocehanmu. Aran duduk sambil meluruskan kaki di lantai, bukannya membawa buku-buku ke sofa. Di atas kakinya tergeletak dua judul buku lagi.
“Tuan apa boleh saya membawa pulang buku-buku ini, saya pinjam kok.”
Hening, seperti malam yang sunyi.
Huaaa, dasar, dia bahkan tidak menjawab sama sekali.
Kehabisan kata-kata membuatnya memilih fokus membaca buku di tangannya. Sambil berharap buku yang ada di kakinya bisa ia bawa pulang untuk dibaca di kamarnya. Hah!Tapi dia tidak berani berharap lebih. Tidak ada suara sama sekali dari arah meja kerja Sekretaris Han.
Mereka berdua tenggelam dalam dunia mereka masing-masing. Sesekali Aran mengeja keras tanpa sadar. Namun, tetap tidak ada reaksi dari kubu sebelahnya.
Setelah separuh buku Aran merubah posisi. Masih menyandar di rak kaca. Membalik halaman bukunya.
“Tuan, saat menemani nona ke dokter saya bertemu Dokter Harun.” Mulai lagi memprovokasi istirahat dari membaca.
Masih hening.
Eh, kok lemari bukunya bergetar.
Aran menempelkan punggungnya lagi. Merasakan getaran kecil, tapi dia meneruskan membalik halaman buku sambil berfikir kata-kata apa yang ingin ia ucapkan. Sungguh dia sedang berusaha keras untuk mendapat perhatian Han.
“Tuan tahu tidak, hehe, Dokter Harun menyatakan perasaannya pada saya lho.” Suaranya dia buat agar terdengar segirang mungkin.
Eh, kenapa lemari bukunya semakin bergetar. Ini tidak sedang gempa bumi kan. Huaaa, bukannya aku ada di lantai gedung tertinggi.
Bergerak bangun, menjatuhkan buku saat melihat seseorang sedang berdiri di dekat ujung rak buku. Dengan tangan menempel di bagian sisi lemari. Aran terduduk lagi.
Sejak kapan dia di sana! Tunggu apa dia sengaja menggoyang lemari. Bagaimana kalau lemarinya roboh Tuan!
Han Masih berdiri, dengan mimik wajah yang entah memikirkan apa.
“Kau suka?”
“Haha, apa?” Tangan Aran menahan getaran lemari buku. “Ah Dokter Harun yang menyatakan perasaannya.” Menutup wajah malu dengan buku lalu melirik wajah dingin yang sama sekali tidak bergeming itu.
Apa kau cemburu! Ia, bilang cemburu sekarang. Bilang kau cinta padaku. Ayo bilang.
“Tentu saja saya senang, dia bilang saya cantik dan membuat hatinya bergetar.” Meneruskan bicara karena tidak ada reaksi lanjutan.
Bohong! Itu bohong!
Tapi bodo amat pikir Aran, tujuannya memang memanas-manasi hati sedingin air yang dibekukan dalam kulkas itu…
“Dokter Harun bahkan mengatakan rambut saya indah lho, dia juga menunggu jawaban saya. Bagaimana ini Tuan.” Melirik sedikit.
Tunggu, bagaimana kalau lemari buku ini ambrukkk!!!
“Hebat sekali kau ya!” Suara Han dingin terdengar, bahkan bisa memecahkan bongkahan es. Membuat nyali Aran menciut. Ia mundur dua langkah. Menyesal dengan ucapannya, walaupun memprovokasi tapi sumpah, dia sudah menyaring kata-katanya tadi.
“Tuan tunggu!” Menjerit saat melihat Han mengambil langkah mendekatinya. Panik. Karena melihat aura kesal di sana. “Maaf, saya cuma bercanda Tuan.”
Habislah aku!
“Aku melebih-lebihkan, Dokter Harun memang menyatakan perasaannya tapi tidak pernah bilang saya cantik dan mempesona. Ampun!” Aran duduk meringkuk melindungi wajahnya. Eh.
“Hadiah untuk kerja kerasmu.” Kau sudah membuat hati Sekretaris Han bergetar Arandita.
Aran duduk ambruk bersandar ke lemari buku lagi. Baru saja ada bibir lembut menempel di keningnya. Beberapa detik sampai dia berhasil menguasai kesadarannya. Laki-laki yang sudah menciumnya berbalik, berjalan tanpa dosa meninggalkannya yang limbung sesaat.
Dia bilang apa tadi?
Masih menyentuh kening dengan wajah langsung merona.
...***...
Di balik pintu ruang kerjanya. Han menyandarkan kepala, bahkan membenturkannya dengan suara sedikit keras.
Aku pasti sudah gila, bagaimana bisa aku mencium keningnya. Bagaimana dia bisa mengemaskan begitu. Bagaimana aku bisa terprovokasi.
Tadi, Han berdiri cukup lama di samping rak buku. Saat Aran mengoceh tentang isi buku yang dia baca. Tentang dia mempraktekan teori meliput berita. Baik ilmu dari buku yang ia baca atau yang ia dapat waktu kuliahnya dulu. Wajahnya berbinar. Cahaya di ruang kerja yang sudah di buat sempurna sebagai penerangan kalah dari pijaran kebahagiaan wajahnya saat itu. Terlihat sekali seseorang yang merindukan dunia yang ia cintai, yang saat ini hanya bisa ia lihat dari selembar kertas.
Aku bahkan melihat wajahnya bersinar. Tidak, aku melihat bunga di sekelilingnya. Gila!
Begitulah wanita, wahai Sekretaris Han. Dia akan terlihat cantik saat dia jatuh cinta. Dia juga akan mekar dan mempesona saat merasa dicintai. Jauh lebih berarti dari itu, wanita akan bersinar saat dia merasa bangga karena bisa melakukan apa yang disukai.
Apa dia merindukan pekerjaannya ya.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Exselyn Jelita
pengen jga ....🥰🥰🥰☺️☺️☺️Han AQ padamu.... lope lope sekebon cabe merah
2025-02-06
2
Tamao Mirai
haan... tak perlu kta kata.. .. hahha
2025-03-05
1
Erni Fitriana
tembaklah han....supaya aran gak nebak nebak sendirian🤪
2025-01-25
1