Pada akhirnya hanya kamar milik Tuan Saga yang dilihat Daniah seharian ini. Mereka menghabiskan hampir separuh siang. Dalam dunia mereka sendiri.
Saat sore hari menjemput, kemudian dilanjutkan dengan makan malam. Lengkap dengan hidangan khusus untuknya. Rasa yang tidak berbeda di lidah Daniah. Keberadaaan Pak Mun yang selalu mengerjakan segala sesuatunya dengan sempurna. Sudah menjadi jawaban kalau makanan yang ada memang dimasak oleh koki yang biasanya.
Mungkin ini kali pertama kalinya, meja yang mereka duduki sekarang menjadi tempat makan bersama. Selama ini Han jauh lebih senang duduk di meja di dapur, ketika menikmati segelas susu hangatnya.
Daniah mendengar Pak Mun meminta izin pergi ke suatu tempat sebelum kembali ke rumah utama. Namun Daniah tidak mendengar dengan jelas tempat yang ingin dituju Pak Mun. Lagi-lagi, sepertinya dia memang tak tahu apa-apa tentang Pak Mun. Tubuh yang sudah makan asam manisnya kehidupan bersama Tuan Saga itu. Yang ia tahu, Pak Mun hanyalah sebatas Pak Mun. Penanggung jawab rumah tangga di rumah utama.
Wajah Aran yang merona tanpa alasan yang jelas. Saat disenggol-senggol dia malah lari ke dapur. Gadis itu tidak berani menerima tawaran Daniah untuk ikut makan malam di meja yang sama dengan mereka. Setelah mengobrol sebentar dan mengantar kepergian Aran pulang, akhirnya Daniah dan Saga kembali masuk ke dalam kamar.
Atmosfer yang tercipta saat siang dan waktu malam di ruangan yang sama namun sungguh berbeda. Pendar lampu yang entah bagaimana tidak terlalu terang namun juga tidak redup adanya. Suasana hangat dan nyaman menyelimuti mereka.
Di balik jendela kaca di luar sana, terhampar kelip-kelip lampu yang bercampur dengan gelapnya malam. Menjadi pemandangan malam yang menakjubkan. Seperti langit malam yang akan selalu menjadi obat rasa lelah buat manusia yang memandangnya. Melihat lampu-lampu dan bangunan yang mengecil dilihat dari ketinggian, hati rasanya sudah diselimuti dengan aura bahagia.
“Kau duduk dengan nyaman?” Bahu Daniah bersandar pada dada bidang Saga. Tangannya menyentuh lutut laki-laki itu yang tertekuk menyangga tubuhnya. Sementara Saga bersandar di tembok pembatas kaca jendela satu dengan yang lainnya. Mereka duduk sambil menikmati pemandangan malam di pinggir jendela kaca. Selimut lembut dan tebal menjadi alas duduk. Sekretaris Han sudah menyiapkan semuanya dengan sempurna seperti biasanya. Daniah menepuk kaki suaminya, menjawab kalau dia duduk dengan nyaman. Sepertinya bayi dalam perutnya pun demikian. Gerakan seirama debaran jantungnya terasa berkedut-kedut riang.
“ Sayang.”
“Hemm.” Menciumi rambut yang tepat ada di depan bibirnya. Lagi, lagi dan lagi. Turun sampai ke telinga Daniah. Ditonton bintang di langit yang mengedipkan cahayanya di kejauhan.
“Kau tidak melihat tadi,” Menurunkan tangan Saga dari area kesukaannya untuk menyentuh perutnya yang terus bergerak. “Sepertinya ada yang aneh dengan Aran. Wajahnya memerah, saat aku tanya dia demam atau tidak dia semakin malu.” Berhenti sebentar, ada kelap kelip di kejauhan yang mengudara di angkasa. Sepertinya pesawat. “Jangan-jangan Sekretaris Han sudah melakukan sesuatu padanya.” Bagaimana menjelaskannya ya gumam Daniah sudah gemas dengan ujung pikiran di kepalanya, tapi susah memilih kata-kata.
“Han.”
Apa si maksudnya! Sampai hari ini aku kadang masih bingung dengan apa yang kau katakan Tuan Saga.
Dan seperti yang sudah di duga, tidak ada kalimat selanjutnya yang diucapkan Saga, setelah nama Han.
“Apa dia sudah melakukan sesuatu pada Aran?”Berargumen lagi saat Saga jauh lebih tertarik dengan rambut dan lehernya.
“Dia tidak akan menghancurkan kehormatan wanita yang dia sukai.” Jawaban singkat namun bisa menunjukan sekelas apa kepribadian Han. Ya, laki-laki terhormat tidak akan menghancurkan kehormatan wanita yang ia cintai. Untuk sebuah kenikmatan yang bisa diukur dalam detakan jarum jam.
Tapi, bagaimana kalau Aran yang menerjang duluan, melihat dari sikapnya yang kadang suka memprovokasi. Haha, Aran maaf, aku tidak berfikir aneh-aneh padamu kok. Pikiranku keceplosan barusan.
Skandal Sekretaris Han dengan wanita. Ah, bahkan Daniah tak pernah mendengar cerita apa pun yang berhubungan wanita dalam setiap cerita Tuan Saga mengenai Sekretaris Han. Sekalipun itu ibunya.
Memang banyak hal yang tidak dia ketahui. Jangankan Han bahkan suaminya sekalipun, masih banyak tirai masa lalu yang belum sepenuhnya tersibak. Saat dia ingin bertanya, Saga meraih tangannya. Lalu menempelkan kedua tangan mereka di dinding kaca. Menggerakkannya ke kanan dan ke kiri.
Membuat fokus Daniah teralihkan, beberapa hal yang tadi sudah membuatnya penasaran menguap begitu saja.
“Niah.” Menggoyangkan tangan mereka yang terkait. “Aku pernah duduk di sini sendirian.”
Apa ini, dia mau cerita tentang siapa. Kenapa tiba-tiba!
“Saat dia pergi meninggalkanku,” ujar Saga pelan.
Helena, apa dia mau menceritakan tentang Helena. Rasa tidak nyaman di hati Daniah terkalahkan oleh penasarannya. Untuk pertama kalinya Saga memulai pembicaraan mengenai Helena, walaupun nama itu tidak terucap di bibirnya. Apa kabarnya ya pelukis itu, tidak ada jejak yang tertinggal tentangnya. Gadis itu seperti hilang ditelan bumi. Daniah bahkan tidak akan mengingatnya kalau sekarang Saga tidak memulainya.
“Kalau kau keberatan aku tidak akan melanjutkan.”
Grep, tangan Saga diraihnya. Bagaimana mungkin dia melewatkan cerita sepenting ini. Dia sedikit cemburu, tapi jauh lebih besar penasaran. Karena Saga tidak mungkin memulai membicarakan gadis itu untuk menorehkan luka di hatinya.
“Lanjutkan sayang, aku tidak apa-apa.”
Sebelum memulai, sebuah sentuhan bibir lembut membekas di bahu Daniah. Baju tidur tipisnya memang sama sekali tidak berfungsi sebagai baju. Tadi dia sempat tercengang, karena Pak Mun bisa-bisanya kepikiran membawakannya baju tidur.
“Aku duduk di sini sambil melihat pemandangan yang seperti kita lihat sekarang,” Mencium kepala istrinya untuk kesekian kalinya. “Bedanya hari itu,” Saga terdiam, seperti sedang mengumpulkan gambaran dalam kenangannya. Daniah pun menarik nafas penuh ketegangan menunggu. “Han berlutut dan memohon padaku, agar aku memberinya perintah untuk membawa gadis itu kembali.”
Hening.
Daniah sekarang sedang berusaha mereka ulang kejadian hari itu. Luka lebar yang terbuka kembali di hati Tuan Saga karena ditinggalkan seseorang yang dicintainya. Seberapa besar hatinya terluka saat itu ya. Kepercayaan dan cinta tulus yang dikhianati.
Helena.
Tapi tunggu, kenapa dia membicarakan mantan pacarnya sambil cium-cium begini si. Daniah pasrah saja dengan kelakuan tangan dan bibir Saga yang tidak bisa di cegah.
Cinta dan pengabdian Sekretaris Han yang tanpa syarat. Hatinya merinding. Mungkin perasaan sayang Han seperti cintanya pada Raksa, ingin melindungi, ingin selalu melihat adik kecilnya itu tersenyum saat mengikuti langkah kakinya.
Mungkin seperti itulah Tuan Saga bagi Sekretaris Han.
“Tapi hari itu aku hanya diam dan menatap lampu-lampu di luar sana.” Tunjuknya pada kelap-kelip bertaburan diantara kegelapan. “ Benar, kau ingin mendengarnya? Apa kau merasa nyaman saat aku mengatakan tentang wanita itu.” Lagi-lagi tidak menyebutkan nama siapa yang dia maksud.
Helena.
“Sedikit si, kan wajar kalau aku cemburu saat suamiku menyebut-nyebut tentang mantan pacarnya.” Sedang berusaha menunjukan sisi yang sebenarnya memang ingin dilihat Saga.
“Maaf.” Lagi-lagi menjatuhkan kepala di bahu Daniah dengan lunglai.
Eh, dia ini kenapa si. Tiba-tiba.
Daniah bisa merasakan saat kepala Saga jatuh di bahunya. Saat laki-laki itu mengusapkan kepala dan mempererat dekapan tangannya.
“Aku mengatakannya karena ingin menunjukan bahwa aku bahagia bersamamu sekarang. Aku bahagia bisa bersamamu di kamar ini sekarang.” Sejujurnya saat dalam perjalanan tadi terbersit keraguan di hatinya. Saga takut dengan perasaannya sendiri. Karena di rumah Han tersimpan masa lalunya bersama Helena. Namun saat dia menghabiskan seharian ini bersama Daniah, di kamar penuh luka. Dia semakin yakin bahwa wanita yang ada dalam pelukannya saat ini adalah penyelamat hidupnya.
“Sayang.”
Dia benar-benar pandai sekali mengobrak abrik perasaan seseorang batin Daniah. Kalimat barusan yang terucap membuatnya berbunga senang. Bahwa masa lalu akan tertinggal di belakang, karena seperti itulah seharusnya. Bahwa Helena yang menorehkan luka. Dan dia adalah obatnya yang membuat Tuan Saga bahagia.
Kecupan lembut mampir di leher Daniah. “Terimakasih karena kau tidak menyerah dan lari meninggalkanku.”
Mengharapkan cinta Tuan Saga yang mustahil untuk diraih, selalu membuat Daniah ingin lari. Itu dulu. Saat kontrak pernikahannya menjadi serpihan dia pun semakin yakin bahwa laki-laki yang akan menjadi ayah dari anaknya ini adalah belahan jiwa yang ditakdirkan Tuhan untuknya.
Suasana ruangan ikut melarutkan hati mereka berdua. Cinta yang ada di antara mereka terikat dengan kuat.
“Sayang apa kau dulu menangis waktu Helen pergi.” Mendongakkan kepala,bibirnya langsung terdiam karena pertemuan bibir mereka. Daniah gelagapan memiringkan tubuh dan menarik nafas.
“Ahhh, sudah kubilang jangan pernah menyebut namanya.”
“Haha, ia, maaf”
Dih sensitifnya ini orang.
"Sayang, kalau begitu bolehkah aku seperti orang normal lainnya."
"Jangan mulai lagi."
Dasar! dia bisa menebak apa yang aku inginkan.
"Dengarkan aku dulu, sama halnya aku yang percaya padamu. Kalau dia hanyalah masa lalu mu, aku ingin kau juga begitu." Kesempatan emas yang mungkin tidak akan datang dua kali bagi Daniah kalau dia sampai melewatkannya. "Lihatlah, bukan hanya cinta kita, tapi dia juga mengikat kita." Meletakan tangan yang terkait ke perut. "Aku tidak akan lari kemanapun sayang, jadi bisakah aku beraktifitas di luar rumah seperti wanita normal lainnya."
"Ahhh, kenapa kau selalu mulai lagi dengan pembahasan yang sudah selesai ini."
"Apa kau masih tidak percaya padaku?" Senjata keras kepala tidak akan mempan, jadi dia memakai wajah sedihnya.
"Aku percaya padamu, tapi aku tidak percaya dengan laki-laki di luar sana yang akan melirikmu."
Haha, kau pikir aku dewi kecantikan. Sampai membuat orang terpesona.
Daniah memutar tubuhnya, saat ini pandangan mereka bertemu.
"Kau mau apa?" Saga tahu kalau istrinya mau melakukan serangan.
"Ya, ya. Boleh ya." Muah, muah. Pipi kanan dan kiri. " Boleh ya." Muahhh. Bahkan gadis itu mulai membekaskan cap merah di leher Saga. "Aku tidak akan kemana-mana sayang, paling hanya pergi ke ruko, jalan-jalan dan pergi berbelanja. Aku ingin menyiapkan perlengkapan bayi kita." Bola matanya mengerjap, memohon.
"Pak Mun akan mengurus semuanya."
"Aaaaa tidak mau. Aku mau menyiapkan sendiri. Aku mohon."
"Aku harap anak kita nanti tidak mirip denganmu."
"Aaaa, kenapa. Aku kan imut dan menggemaskan." Muah, muah. Saga sampai tergelak menerima serbuan kecupan dari bibir Daniah.
Karena kalau anak kita mirip denganmu, pasti hatiku akan melemah menghadapinya. Sedangkan dia adalah calon pewaris Antarna Group.
"Ya sayang ya. Aku mohon."
"Baiklah, tapi jangan membuatku khawatir. Satu kesalahan saja, aku tidak akan memaafkannya. Sekalipun kau memohon."
Hah! apa maksudnya? Aran.
"Tentu saja tidak akan terjadi apa-apa. Aran selalu menjagaku dengan baik." Entah kenapa Daniah agak berdebar ketika mengatakannya. Seperti ada sesuatu yang tidak nyaman. Namun dia mengesampingkan itu semua.
"Baguslah."
"Terimakasih ya sayang." Melingkarkan tangan memeluk Saga. " Terimakasih juga sudah menceritakan kenangan kamar ini padaku."
Menjadi bahagia karena mencintai dan merasa di cintai itulah yang dirasakan Daniah sekarang.
"Tapi, aku benar-benar penasaran, apa hari itu kau menangis?" Saga mengeram jengkel apalagi saat Daniah tertawa dengan gaya mengejek.
Saga menurunkan kakinya, lalu tubuhnya. Mengangkat tubuh Daniah dengan kedua tangan. Pelan ia turunkan. Sekarang keduanya berdiri saling berhadapan, mata mereka bertemu satu sama lain. Tatapan hangat dan lembut seorang suami pada wanita yang ia cintai.
“Kau mau melihatnya?”
“Apa?”
“Bagaimana hatiku saat gadis itu pergi?”
Hah! Memang bagaimana caranya aku tahu.
“Keluarlah! Buka pintu itu, kau akan lihat Han menunjukan raut wajah yang belum pernah kau lihat sebelumnya.”
Apa!
Daniah berpaling melihat ke arah pintu. Mengeryit tidak percaya. Tidak mungkin batinnya.
“Kenapa? tidak percaya?”
“Tidak mungkin, sayang, apa kau mau bilang Han sedang berdiri di depan pintu karena cemas kau mengingat kejadian saat itu?”
Memang dia tidak punya kerjaan melakukan hal yang tidak masuk akal begitu! Protes Daniah melalui tatapan matanya.
"Mau bertaruh?"
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Erni Fitriana
hubungan han-saga..saga-han lebih kental dari darah golongan 0😁😁😁😁
2025-01-25
1
Rafalia Azen
daniah kamu pintar bikin stempel kepemilikan,,,,,aku dh nikh 15thn ga bisa bisa pdhl pingin bikin stempel di leher suamiku tetap GK merah 😅ajarin dong mbak Niah😅😅😅
2024-12-16
0
Rosaa
Aaaahhhh ko aku sedih baca part ini
2024-08-05
2