Hari-hari terus berlalu. Perut Daniah semakin membesar. Jadwal rutin senam hamil yang mendatangkan professional sudah dilakukan. Masalah malas makan sudah semakin berkurang jika Saga meluangkan waktu untuk menemani. Tapi untuk pergi ke luar rumah, izin itu masih sangat sulit keluar. Kecuali di akhir pekan bersama Saga, Daniah menghabiskan hari-harinya hanya di rumah utama.
Gedung Antarna Group.
Saga menjatuhkan tubuh di sofa, menatap kesal jejak nafas orang-orang yang baru saja keluar dari ruangannya. Padahal pagi tadi susana hatinya cukup baik. Langsung menguap mendengar penjelasan bertele-tele orang-orang yang baru keluar dari ruangannya.
“Awasi mereka.”
“Baik Tuan Muda.”
“Apa karena istrinya dekat dengan ibu aku akan membiarkannya.”
Ketegasan Saga berhubungan dengan pekerjaan tidak perlu dipertanyakan lagi. Apalagi jika melibatkan keselamatan nyawa banyak orang.
Dia menyandarkan kepala di sofa. Menunjuk sofa yang lain supaya Sekretaris Han duduk.
“Apa yang kau dapatkan?”
Terjemahan pertanyaan Saga, Normalkah kalau sampai sekarang istrinya masih ngidam yang aneh-aneh.
Han bahkan sudah muak ketika membahas tentang teori ngidam. Karena kondisi Nona Daniah unik dan berbeda dari biasanya. Hingga semua teori yang dia temukan termentahkan begitu saja.
Normalkah ngidamnya nona?
Ini sudah masuk bulan ke tuju, tapi nona masih ngidam juga. Kenapa?
Apa inti dari ngidamnya wanita itu cuma membuat suaminya susah saja?
Mau mengetes cinta suami, lakukan saat kamu ngidam?
Dia sama sekali belum menemukan jawaban yang pasti, yang bisa dia laporkan pada Saga dengan penuh kebanggaan. Karena semakin dia berusahaa menemukan jawaban, semakin rumit saja penjelasan yang ia dapatkan.
Karena intinya, ngidam itu adalah kondisi terserah si ibu. Mau berlangsung cuma di tiga bulan pertama atau berrlanjut sampai melahirkan. Semua terserah si ibu. Ya, karena kondisi calon ibu berbeda-beda.
“Membingungkan, kadang dia nempel-nempel padaku. Kadang dia mengusirku. Ibu bilang dia dulu tidak begitu saat mengandungku.” Sesi curhat dengan ibunya bahkan dia lakukan.
“Yang pasti Itu memang kondisi hormonal ibu hamil. Bersabarlah Tuan Muda.”
“Aku kurang sabar apa lagi.” Berteriak sambil menggoyangkan tangan memukul udara. “Kau tahu kemarin dia mengusirku dari tempat tidur, dia bilang sesak bernafas. Tapi kau tahu apa.” Melihat Han seperti sudah ingin melampiaskan kemarahan. “ Tengah malam dia membangunkanku, mengatakan aku jahat kenapa tidak menemaninya tidur.” Mengingat kejadian saat itu sungguh mengesalkan. Wajah Daniah yang sedih sambil memegang perutnya, tidak bisa membuat Saga marah. “Aku ingin berteriak padanya kalau kau yang mengusirku dari tempat tidur.”
Tapi tentu saja itu tidak akan dia lakukan.
Baiklah aku hanya perlu bersabarkan. Aku ingin lihat sehebat apa kau tumbuh nanti. Calon penerus Antarna Group.
Saga tidak perduli, dia laki-laki atau perempuan. Membayangkan untuk yang kedua kali dia sama sekali tidak pernah berfikir untuk itu.
"Niah bersemangat sekali mau menjodohkan kalian."
"Tuan Muda, sudah berulang kali saya katakan, setelah Anda hidup dengan baik, saya akan mulai memikirkan hidup saya."
Kau pasti melihatku kebingungan kan, kadang aku senang kadang aku kesal.
"Jadi,bisakah Anda melarang Nona untuk melakukan apa pun itu." Tidak mau membayangkan apa pun itu. Rencana yang sedang dibuat Nona Daniah.
"Kau gila ya, tidur di sofa saja aku lakukan demi dia sekarang." Artinya dia akan melakukan apapun yang Daniah mau. Termasuk mendukung perjodohan atau apalah itu namanya.
Mungkin benar, kalau Saga sedang mendapatkan sedikit pembalasan atas sikapnya pada ibu calon anaknya. Bagaimana saat-saat pertama pernikahan dia memperlakukan istrinya. Saat Daniah tidak punya hak untuk mengatakan tidak pada apa yang ia ucapkan.
...***...
Senja muncul juga. Saatnya kembali ke rumah utama. Angin sejuk menyentuh ujung rambut.
Mereka keluar dari mobil. Pak Mun mendekat. Han mengambil sesuatu dari kursi belakang. Dua buah tas.
“Pak Mun akan menyiapkan semuanya, Anda tinggal membawanya pada nona.” Mau menyerahkan tas ke tangan Pak Mun. Namun Saga menyambarnya.
“Berikan padaku, dia kan minta padaku. Aku kan suami siaga.”
Padahal saya juga yang mengantri tadi.
Han mengeluarkan sebuah lembaran brosur dari saku jasnya. Brosur yang ia ambil di meja kedai penjual tadi.
“ Kenapa semuanya warna merah begitu.” Saga menunjuk gambar-gambar makanan yang sebagian tertulis menggunakan bahasa asing.
“Yang ini kue beras. Warna kuahnya merah, tapi saya.sudah memastikan kalau rasanya tidak pedas. Semua ini bisa dimakan nona, saya sudah memeriksa semuanya.”
“Han, kau sedang bercanda?”
Memprotes nama menu makanan, sejak kapan beras itu wujudnya begitu. Bukankah beras itu nasi yang belum dimasak. Begitu kira-kira yang sedang di protesnya.
“Itu memang sebutannya di negaranya sana Tuan.” Suka-suka negara yang punya makananlah mau memberi nama apa.
Han menjelaskan menu-menu yang ada di bawahnya lagi. Sesuai apa yang diminta Daniah tadi. Bahkan lokasi tempat beli saja sudah ditentukan.
“Dan juga.”
“Apa!” Kesal.
“Kalau nona meminta Tuan Muda untuk makan, rasanya tidak terlalu aneh, jadi cobalah untuk mencicipinya barang sesuap dua suap,untuk membuat nona senang.” Saga melihat brosur makanan yang sama sekali bukan seleranya itu. “Lakukanlah demi bayi dalam perut nona.” Sekretaris Han bicara lagi.
“Kenapa aku musti melakukannya buat dia, aku melakukannya karena Niah. Karena istriku yang minta. Minggir.” Mengusir dengan kata-katanya. Sudah beberapa langkah dia berbalik lagi, menyambar brosur makanan. Sambil berjalan masuk dia sedang mengingat-ingat nama makanan pesanan istrinya.
Merinding, saat membayangkan dia harus ikut memakannya juga. Karena selama ini memang begitu. Daniah pasti memaksa Saga mencicipi makanan-makanan yang sebelumnya sama sekali belum pernah masuk ke dalam mulutnya.
...***...
Aran muncul entah dari mana setelah Tuan Saga menghilang. Masuk ke dalam mobil segera tanpa permisi. Saat Han masih memegang pintu mobil.
“Keluar, aku masih banyak pekerjaan”
“Sebentar kenapa si, aku kan ingin melihat pacarku sebentar saja.” Mode tidak tahu malu Aran.
Han tergelak, panggilan pacar itu benar-benar menggelitik baginya. Han masih tetap mempertahankan sikap acuhnya bahkan sampai hari ini. Tidak menolak, namun juga tidak mengiyakan.
“Sepertinya kau makin tidak tahu malu ya.”
“Haha, akan aku anggap itu pujian.” Berdehem pelan sambil mengeluarkan hp kerjanya. Dia sudah menuliskan banyak catatan kerjanya. Mau melaporkan tugasnya. “ Saya hanya mau melaporkan seperti yang Anda minta Tuan Han.” Memberi tekanan tegas saat memanggil Han.
“Kirimkan saja ke nomorku.”
“Aku ingin melaporkannya langsung. Supaya ada kesempatan untuk bicara dengan Anda.”
Sebenarnya kau ini perempuan bukan si, kenapa sifatmu berbeda sekali dengan Nona Daniah. Cuma rambut kalian yang sama.
Tapi sekali lagi, tanpa mengatakannya terlihat kalau Sekretaris Han sama sekali tidak menolak keberadaan Aran.
“Ada beberapa hal yang ingin nona lalukan. Yang pasti nona ingin pergi keluar rumah.” Melihat ke arah Han sesekali.
“Teruskan.”
Aaa, artinya dia senang bersamaku kan.
“Nona ingin melihat matahari terbit di Danau hijau, pulang ke rumah orangtuanya, sudah lama dia tidak bertemu Raksa. Yang ketiga, nona ingin pergi ke rumah Saya.”
Han langsung menyeringai.
“Sungguh Tuan, saya tidak mungkin berbohong atas nama Nona Daniah.”
Han menunggu penjelasan.
“Sebenarnya nona ingin mendengar cerita tentang melahirkan pada ibu yang benar-benar sudah mengalami, bukan hanya yang dia lihat dari video. Hubungannya dengan Nyonya katanya tidak terlalu dekat, jadi nona merasa sungkan.”
“Memangnya nona dekat dengan ibumu.”
“Haha, ibuku kan calon mertua Anda Tuan, ibuku itu orang baik hati yang mudah akrab dengan siapapun. Ya sepertinya menurun pada saya. Jadi nona ingin bertemu dengan ibu saya. Nona kan pernah sekali bertemu dengan ibu saya.” Mengoceh, mengoceh supaya Han terpancing menanyakan tentang ibunya.
Sia-sia.
“Teruskan.”
Cemberut tapi melanjutkan. Menggeser catatan.
"Nona ingin double date.”
“Apa lagi itu.”
“Kencan ganda Tuan, kencan berempat dengan pasangan masing-masing. Nona sangat bersemangat, saya juga.”
“Kenapa kau bersemangat, memang siapa yang mau mengajakmu.”
Aran tertawa, sambil menarik ujung Jas Sekretaris Han.
“Nona ingin double date dengan kita. Tuan Saga dan Nona Daniah, Saya dan Anda.” Menutup muka malu-malu tapi girang.
“Keluar!”
Reaksi yang sudah dibayangkan Aran. Dasar menyebalkan. Tapi dia tidak bisa membantah lagi, karena laporannya juga sudah selesai.
Aran masih berdiri di depan pintu.
“Saya menantikan double datenya Tuan, jadi bersiaplah.” Seperti sebelumnya langsung lari setelah memprovokasi.
Hah! kenapa dia makin hari makin lucu begitu.
Han menggoyangkan kepalanya. Sebelum penerus keluarga Antarna Group lahir, masih jauh dari dia memikirkan perasaanya sendiri.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Virgo Girl
Gemesin banget duo HanAra 😃😃
2025-01-17
1
☠ᵏᵋᶜᶟ🏘⃝Aⁿᵘ𝖖𝖎𝖑𝖑𝐀⃝🥀ˢ⍣⃟ₛ
🤣🤣🤣 calon bini kau han 🤣🤣
2024-12-18
3
🍒 Chi Chi 🍒
keluar kan nyawamu
2024-10-05
1